Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 74


__ADS_3

"Ayo," ajak Arfan pada Kiara yang masih berdiri mematung.


Kiara tersadar lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Terimakasih sudah menemaniku hari ini," ucap Kiara pada Arfan.


Arfan mengangguk seraya tersenyum. "Iya, aku juga senang bisa menemani kamu jalan-jalan. Kalau begitu aku pamit pulang dulu."


Setelah Arfan pulang Kiara pun masuk ke dalam rumahnya.


"Non Kiara tadi ada yang Nyariin Non," ucap pembantunya yang tadi membuka kan pintu untuk Ricky.


Kiara terdiam sejenak. Ia yakin pasti Ricky yang di maksud oleh pembantunya.


"Dia bilang apa bik?"


"Nggak ada sih, Non. Dia hanya menanyakan Non Kiara terus Bibik bilang aja Non sedang keluar nyari angin."


Kiara hanya mengangguk saja mendengar penjelasan pembantunya. Kemudian ia pergi ke kamarnya.


Selama ini Ricky biasanya hanya mengantarnya sampai di depan rumah. Untuk pertama kalinya Ricky datang ke rumahnya dan mencarinya. Apakah Ricky ingin menyampaikan permintaan maafnya lagi? Entahlah, Kiara hanya bisa menduga-duga.


Sepanjang jalan menuju pulang Ricky masih terbayang bagaimana Kiara tertawa lepas saat berada di samping Arfan.


Apa Kiara benar-benar sudah berhenti untuk mengejarnya? Lalu bagaimana dengan waktu yang masih tersisa? Pertanyaan-pertanyaan bodoh itu kini bermunculan di kepala Ricky. Ia seakan melupakan perkataannya sendiri yang menginginkan agar Kiara berhenti untuk mengejarnya.


-


-


-


Adit mencari-cari keberadaan Nia di sebuah taman di dekat kantor tempatnya bekerja. Sebelumnya Nia menghubunginya dan mengatakan ingin bertemu secepatnya di tempat itu. Mungkin ada hal penting yang ingin di bicarakan. Akhirnya ia menangkap sosok kekasihnya itu yang sedang duduk di salah satu bangku taman dan terlihat sangat gelisah.

__ADS_1


Nia langsung menghampiri Adit dan memeluknya ketika melihat pria yang di cintainya itu datang. Isak tangis terdengar seiring dengan guncangan yang terlihat dari punggungnya.


Adit membalas pelukan Nia yang terisak di pelukannya seraya mengusap lembut punggung kekasihnya itu.


"Ada apa? Kenapa menangis seperti ini?" Tanya Adit seraya mengangkat wajah nia dengan kedua tangannya. Terlihat air mata masih mengaliri wajah Nia. "Kalau kamu menangis seperti ini aku jadi bingung."


Kemudian Adit mengajak Nia untuk duduk menuju bangku taman tempat Nia menunggunya tadi.


Nia berusaha menghentikan tangisnya dan mulai menceritakan tentang ibunya yang sakit-sakitan di kampung. Sampai akhirnya ibunya meminta di kabulkan keinginannya untuk melihat anak bungsunya menikah sebelum ia tiada. Anak bungsu yang di maksud tak lain adalah dia sendiri.


Adit diam sejenak memikirkan ucapan Nia. Sebagai lelaki ia faham maksud Nia untuk membicarakan masalah itu dengannya.


Kemudian ia tersenyum memandang pada Nia yang juga diam menunggu keputusan darinya.


"Lalu apa yang membuat kamu menangis sampai seperti ini?" Tanya Adit sambil mengusap sisa air mata di wajah Nia. "Memangnya kamu nggak mau kalau kita menikah?"


Nia menengadah menatap Adit untuk mencari keseriusan di wajah kekasihnya itu. "Apa kamu siap?"


"Ketika aku memutuskan untuk memasangkan cincin ini di jarimu, aku sudah siap. Hanya saja aku menunggu waktu yang tepat. Dan sepertinya inilah waktu yang tepat untuk kita segera menikah," ucap Adit dengan memegang tangan Nia.


Acara pernikahan akan di laksanakan di kediaman Nia di kampung. Pernikahan yang di laksanakan dengan serba mendadak itu pun berlangsung dengan lancar dan khidmat. Meski hanya di laksanakan sederhana namun tidak mengurangi sedikit pun kebahagiaan yang mereka dapatkan hari itu.


Adit dan Nia bergantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi Adit duduk di tepi tempat tidur sambil mengecek ponselnya. Ia bahkan belum memberitahukan kepada para sahabatnya tentang pernikahanya yang sangat mendadak tersebut.


Mereka kembali setelah ibu Nia sudah agak membaik dari sakitnya. Nia ingin sekali membawa ibunya untuk ikut bersama mereka. Tapi mengingat ia harus kuliah dan juga bekerja akhirnya ia mengurungkan niatnya tersebut. Ia percaya pada kakak-kakaknya untuk menjaga ibunya. Ia juga berpesan pada kakak-kakaknya untuk segera menghubunginya jika ada masalah mengenai kesehatan ibu mereka.


"Kamu sudah menghubungi teman-taman kamu?" Tanya Nia memecah kebisuan suaminya yang hanya diam saja sejak tadi.


Adit menoleh pada wanita di sampingnya yang kini sudah resmi menjadi istrinya tersebut. Di raihnya tubuh itu ke dalam dekapannya. "Jangan khawatir, kita akan memberitahu mereka. Dan aku yakin mereka pasti akan mengerti." Lalu mengecup kening istrinya dengan sayang.


Beberapa saat angkutan umum yang mereka tumpangi pun berhenti. Mereka pun turun lalu setelah itu mencari taksi.


Karena sudah tidak memungkinkan untuk tinggal di kostan, akhirnya mereka mencari sebuah rumah kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka bekerja.

__ADS_1


Setelah bersih-bersih dan merapikan semua barang-barang mereka, malamnya Adit mencoba menghubungi teman-temannya dengan melakukan panggilan video.


Ia pun menceritakan kejadian awal bagaimana ia akhirnya bisa menikah.


"Gue ucapin selamat buat loe dan istri loe, semoga langgeng kayak pernikahan gue," ucap Bara sambil menyombongkan usia pernikahannya yang belum genap 3 tahun tersebut.


"Emang loe ingat udah berapa lama loe nikah?" Tanya Adit.


"Bukan masalah udah berapa lamanya yang gue bicarain, tapi maksud gue langgeng, lancar tanpa hambatan kayak hubungan gue...."


"Iya iya, gue do'ain juga biar tetap langgeng, lancar tanpa di bumbui perselingkuhan. Karena kalo loe sampe macem-macem, siap-siap aja dapet bogem mentah dari Ricky," sahut Adit terpingkal.


Sementara Dimas hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabat-sahabatnya tersebut.


Tidak lama Ricky juga ikut bergabung dalam panggilan video tersebut. Ia juga memberikan ucapan selamat pada Adit.


"Terus loe kapan?" Tanya Adit.


"Jangan kelamaan mikir Rick, ntar loe nyesel. Karier emang penting, tapi akan lebih baik jika kita punya karier dan juga pasangan hidup untuk berbagi suka duka. Gak lucu kalo loe sukses tapi pada akhirnya loe kesepian," kekeh Dimas.


"Jangan bilang loe mau nikah kalo udah sukses. Rezeki udah ada yang atur, Rick. Gimana kalo loe suksesnya udah tua? Gak lucu,kan ada aki-aki yang keluyuran nyari jodoh.'' Tak kalah konyol Adit pun menimpali.


"Bar, nasehatin tuh anak tiri loe, biar kita sebagai sahabat bisa merasa tenang," ujar Dimas.


Tak ingin menjadi bahan bullyan para sahabatnya, Ricky pun langsung pamit undur diri dari obrolan tersebut. Jujur saja akhir-akhir ini ia selalu teringat pada Kiara. Entah karena perasaan bersalahnya atau mungkin ada perasaan lain. Entahlah.


-


-


-


-

__ADS_1


**Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya,,


Love you all 😘😘**


__ADS_2