
Di lihatnya Bara tengah duduk di sofa kamar mereka dengan ponsel di tangannya. Ia langsung masuk ke kamar mandi berendam dengan air hangat sebentar. Ia teringat ucapan suaminya bahwa saat ini putri kecil mereka juga membutuhkan perhatiannya. Maka sebisa mungkin ia akan menjaga kesehatannya demi putri kecil mereka.
Setelah Raisa selesai, gantian Bara yang masuk ke kamar mandi untuk memyegarkan dirinya.
Bebebrapa saat ia keluar dari kamar mandi. Setelah mengenakan pakaian santainya ia mendekati Raisa yang tampak duduk bersandar di kepala ranjang.
"Tidur lah, kamu pasti capek seharian ini. Aku juga sudah meminta untuk memberikan perawatan terbaik untuk Ricky." Sambil mengecup lembut kening istrinya Bara berucap. Ia berharap istrinya bisa sedikit merasa tenang.
Malam itu Dimas dan Adit juga memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing agar bisa beristirahat dan kembali esok. Tinggal Kiara yang masih ingin bertahan di sana. Mereka membiarkan Kiara sampai di mana betahnya ia menunggu.
Adit membawa segelas susu dan meletakannya di samping tempat tidur dimana Nia sedang berbaring di sana.
"Di minum dulu, kamu pasti masih lemes,kan?" Adit menanyai dengan penuh perhatian.
"Sedikit. Tapi aku gak apa-apa. Semoga Ricky baik-baik aja ya sayang." Nia turut prihatin atas kejadian yang menimpa sahabat suaminya itu. Selain itu Ricky juga adalah anak dari orang yang sudah memberinya pekerjaan di masa-masa sulitnya waktu itu. Ia juga merasa senang bisa membantu karena selama ini Raisa juga sudah sangat baik padanya.
Fitri menyambut kedatangan suaminya dengan segelas air putih di tangannya. Selama lebih setahun ini ia sudah sangat mempelajari kebiasaan suaminya dengan baik. Bara menerima gelas tersebut dan meminumnya sampai habis. Lalu di berikannya kembali gelas yang sudah kosong tadi pada istrinya yang masih setia berdiri di hadapannya.
Tidak ingin membuat suaminya semakin terbebani, Fitri membiarkan agar Dimas selesai mandi dan makan dulu barulah ia bertanya mengenai keadaan Ricky. Ia faham betul bagaimana persahabatan suaminya dengan beberapa temannya tersebut.
Ia membuka laci meja riasnya lalu mengambil sesuatu dari sana. Ia membawa benda itu ke hadapan suaminya yang tampak termenung setelah usai makan malam.
Dimas mengangakat wajahnya pada Fitri yang berdiri di hadapannya. "Ada apa?" Tanya nya.
"Lihatlah," ucap Fitri masih dengan posisi sama ia menyodorkan benda yang ada di tangannya.
Dimas menurut saja mengambil benda tersebut yang di ketahuinya bahwa benda tersebut adalah sebuah alat tes kehamilan. Ia sudah tidak asing lagi dengan benda itu karena sebelumnya Fitri juga pernah memperlihatkan benda tersebut sebelum akhirnya Fitri mengalami keguguran.
"Kamu ... -- "
Fitri mengangguk sebelum Dimas menyelesaikan kata-katanya. Lelah dan rasa tegang yang menggelayuti otaknya seharian ini sedikit berkurang dengan kabar gembira yang di berikan oleh istrinya.
"Kemari." Dimas merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya."Terimakasih sudah memberikan kabar bahagia ini." Sambil mengecup puncak kepala Fitri.
__ADS_1
"Iya, Mas. Terimakasih juga, Mas selama ini selalu menguatkan aku." Fitri sambil membalas pelukan suaminya.
"Bagaimana keadaan Ricky?" Tanya Fitri saat di lihatnya suaminya sudah tidak begitu tegang lagi.
Dimas menghela nafasnya, kembali teringat pada Ricky yang saat ini masih berjuang melawan masa kritisnya di sebuah ruangan rumah sakit.
"Dokter sudah melakukan tindakan operasi. Hanya tinggal menunggu dia sadar." Dimas tidak sanggup jika teringat bagaimana dokter menjelaskan keadaan Ricky saat di rumah sakit tadi.
"Kita berdo'a saja, Mas." Fitri dapat merasakan bagaimana duka suaminya saat itu.
Tidak sedarah, tidak ada hubungan keluarga. Hanya hubungan yang terjalin karena sebuah permainan melalui aplikasi saja. Membuat mereka bertemu, dan saling mengajarkan keahlian masing-masing. Namun persahabatan tersebut telah mengajarkan mereka untuk saling peduli dan menyayangi layaknya keluarga. Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua terjadi atas ijin yang maha kuasa.
Fitri menggeliat di dalam pelukan Dimas yang tampak masih terpejam. Ia memperhatikan wajah suaminya yang masih terlelap. Kemudian ia berusaha mejauhkannya lengan kekar itu dari tubuhnya berniat ingin bangkit dari tempat tidur. Namun lengan kekar suaminya tersebut seperti sedang menahan tubuhnya. Ia tau Dimas sebenarnya sudah bangun tapi sedang berpura-pura tidur.
"Mas...," panggil Fitri.
"Hmm...," Dimas menjawab dengan bergumam.
"Aku akan ke kantor setelah mengantarmu ke rumah Mama." Masih dengan mata terpejam Dimas menjawab.
"Maksudnya, Mas?" Fitri tidak mengerti.
"Kita akan kembali tinggal bersama Mama dan Papa. Agar ada yang menjaga dan mengawasimu di sana. Aku juga bisa tenang saat bekerja."
Penjelasan Dimas cukup membuat Fitri mengerti. Mengalami dua kali keguguran sudah cukup menjadi pelajaran buat mereka.
Fitri sudah bersiap-siap mengemas beberapa barang yang hanya di perlukan saja. Karena di rumah mertuanya masih ada pakaian yang sengaja mereka tinggal sebab mereka juga masih sering bermalam di sana.
Dimas yang mulai bersikap lebih posesif pada istrinya. Tak henti-hentinya menasehati istrinya agar jangan terlalu kecapean mengingat istrinya tersebut tidak bisa diam meski sudah ada pembantu di rumah mereka. Fitri hanya diam saja mendengarkan ucapan suaminya yang memang benar adanya.
Dimas juga sudah memberi kabar pada Mamanya tentang kedatangan mereka yang akan tinggal untuk sementara waktu selama masa kehamilan istrinya. Tentu Rosma sangat bahagia begitu mendengar anak menantunya akan kembali ke rumahnya.
Ia menyambut kedatangan Dimas dan Fitri dengan suka cita. Apa lagi ia sudah mendengar dari Dimas kalau menantunya tersebut tengah mengandung cucunya. Rosma memeluk Fitri serta menciumi pipi menantunya.
__ADS_1
"Selamat ya sayang...." Ucapnya.
"Iya, Ma...."
"Dimas gak di kasi ucapan selamat juga Ma?" Gerutu Dimas karena Mamanya mengabaikan kehadirannya sejak tadi. Padahal ia datang bersama istrinya tapi Mamanya seakan tidak melihat bahwa ia juga ada di sana.
"Selamat buat kamu juga. Sebentar lagi kamu jadi Ayah," ucap Rosma pada putranya yang tampak merajuk. Fitri hanya tersenyum melirik ke arah suaminya.
-
-
-
Seminggu berlalu, hingga minggu berikutnya dan bahkan sudah sebulan. Tapi belum ada tanda-tanda Ricky akan sadar dari komanya.
Kecemasan Raisa semakin menjadi-jadi melihat putranya berbaring lemah dengan bantuan alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
Adit dan Dimas bergantian meluangkan waktu untuk sekedar melihat keadaan sahabatnya yang belum juga sadar sampai saat ini.
Bara sudah beberapa kali membicarakan masalah ini dengan dokter yang sudah menangani Ricky selama ini. Tapi sebelumnya dokter tersebut sudah pernah menjelaskan keadaan pasiennya tersebut.
Bara berinisiatif akan membawa Ricky ke Singapura jika dalam bulan berikutnya Ricky belum sadar juga. Bukan ia meragukan kemampuan rumah sakit tersebut, dengan apa yang di miliknya saat ini, ia hanya ingin berusaha semampunya untuk mengembalikan kesadaran Ricky saat ini.
-
-
-
**Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya ya...
Love you all 😘😘**
__ADS_1