
Sejak memiliki buah hati, Bara selalu ingin pulang cepat agar bisa segera menggendong dan bermain dengan putri kecilnya itu.
"Hai bidadari kecil Papa...," ucap Bara menghampiri putri kecilnya yang tampak nyenyak dalam tidurnya. Seakan tau Papanya sudah pulang bayi itu menggeliat memberi respon bahwa ia telah menyambut kedatangan Papanya.
Ponsel Bara berbunyi tanda ada sebuah pesan yang masuk. Ia mengambil ponselnya dari saku lalu melihat pesan tersebut. Ternyata Dimas yang mengirim pesan, ia juga mengirimkan foto-foto kemesraan mereka saat sedang berbulan madu.
"Sayang..., kamu udah pulang?" Tanya Raisa yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang terlihat masih basah. Sungguh suatu godaan bagi Bara.
"Iya, aku rindu putri kecil kita," jawabnya seraya menghampiri dan menarik Raisa ke dalam pelukannya lalu ia mengecup lembut kening istrinya. "Aku juga rindu kamu."
"Sebaiknya kamu mandi dulu," ucap Raisa seraya menjauh dari dekapan Bara. Ia hanya tidak ingin jika suaminya itu menjadi tak terkendali jika berlama-lama dekat dengannya. Dan ia tak tega jika nanti melihat wajah memelas suaminya.
"Beri aku semangat," ucap Bara seperti biasanya. Sepertinya pemberian semangat ini menjadi hal yang wajib bagi dirinya dan menjadi keharusan juga bagi Raisa. Raisa pun mengikuti kemauan suaminya memberikan semangat dengan sebuah kecupan.
"Sayaang...," ucap Bara mulai memelas.
"Udah sana mandi...." Sambil Raisa mendorong punggung Bara agar segera masuk ke kamar mandi. Setelah ia berhasil membuat Bara masuk ke kamar mandi lalu ia menutup pintu kamar mandi tersebut.
-
-
-
Seminggu berbulan madu di Bali akhirnya Dimas dan Fitri pun kembali. Terlihat wajah kebahagiaan dari keduanya.
"Kenapa kalian udah pulang, harusnya kan kalian bisa lebih lama lagi?" Ucap Rosma yang menyambut anak dan menantunya.
"Menantu Mama yang pengen cepat-cepat pulang," sahut Dimas.
Fitri hanya tersenyum saja mendengar jawaban Dimas. Memang ia yang meminta agar segera kembali. Selain rindu dengan Ayahnya ia juga rindu dengan kedua mertuanya yang kini ia anggap sebagai orangtuanya sendiri.
Fitri dan Dimas beristirahat sebentar dari rasa lelah setelah beberapa jam menempuh perjalanan pulang. Mereka terbangun saat mendengar suara ketukan pintu.
"Ayo makan dulu, kalian pasti sudah lapar," teriak Rosma dari luar.
Lalu Fitri membangunkan Dimas yang masih tertidur. "Mas, ayo bangun. Kita makan dulu, Fitri udah lapar nih."
Sebenarnya Dimas enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya, namun mendengar Fitri mengucapkan kata lapar ia pun merasa tidak tega. Setelah membasuh muka di kamar mandi mereka pun menuju meja makan. Ternyata di sana juga ada Kiara dan Papanya.
__ADS_1
"Om Usman, apa kabar?" sapa Dimas.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana, bulan madunya lancar?"
Dimas dan Fitri hanya tersipu malu mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Setelah usai acara makan bersama mereka pun berkumpul di ruang tengah. Sementara Fitri menuju ke dapur,
lama tidak berkutat di dapur membuat Fitri ingin menyibukan dirinya dengan membuat beberapa cemilan untuk mereka.
"Sebentar," pamit Usman, ia mengambil sesuatu dari mobilnya lalu kembali. "Ayo kita mulai."
"Ayo," sahut Wijaya sambil berdiri dan mengajak Usman pergi ke taman yang ada di samping rumahnya.
Dimas penasaran lalu mengikuti kedua sahabat yang tak lagi muda itu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan.
Sesampainya di taman Dimas seakan tak percaya kalau Papanya ternyata pandai bermain catur.
"Sejak kapan Papa bisa bermain catur?" Tanya Dimas.
"Sudah dari dulu, sebelum Papa menikah dengan Mama kamu," jawab Wijaya.
"Lalu kenapa waktu itu Papa nggak ajarin Dimas buat main catur?"
Flash back on
Setelah mendengarkan curhatan Putranya Wijaya kembali teringat masa mudanya kala ia harus berjuang mendapatkan hati kedua calon mertuanya. Dan kala itu ia bukan lah orang yang sukses seperti saat ini. Hingga suatu hari ia melihat Ayah dari Rosma yang sangat suka bermain catur. Ia mulai mendekati mertuanya itu dengan cara bertamu lalu mengajaknya bermain catur. Kepandaian bermain catur sendiri ia dapatkan dari sahabatnya, yaitu Usman. Sejak saat itu ia semakin dekat sampai akhirnya ia bisa menikah dengan istrinya. Tapi sejak ia menjadi orang yang sukses dan sangat sibuk, ia sudah tidak lagi memainkankan bidak-bidak itu. Beruntung ia bertemu kembali dengan sahabatnya dan ia pun mengundang sahabatnya itu ke rumah untuk melatih kembali kemampuannya dalam bermain catur.
Flash back off
Fitri sudah selesai dengan kegiatan memasaknya lalu ia pun membawa cemilan tersebut untuk di hidangkan.
"Sini biar aku saja," cegah Kiara saat Fitri ingin mengantarkan cemilan untuk Wijaya, Usman dan Dimas yang berada di taman.
"Terimakasih," ucap Fitri seraya memberikan piring cemilan tersebut.
Kiara pun berjalan menuju taman untuk mengantarkan cemilan buatan Fitri yang ia bawa. Selain itu ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Dimas. Setelah meletakan piring berisi cemilan tersebut di atas meja taman yang sudah tersedia disana, ia pun ikut duduk sambil melihat Papanya yang tengah fokus pada papan catur yang ada di hadapannya.
"Dimana Mama dan Fitri?" Tanya Dimas karena hanya Kaira yang datang ke taman itu.
__ADS_1
"Mereka ada di dalam," jawab Kiara.
"Ada apa?" Tanya Dimas pada Kiara yang terlihat agak gelisah dari tadi.
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Oh, silahkan," ucap Dimas.
Sebelum mulai berbicara Fitri melirik pada Papanya dan Papa Dimas yang sedang bermain catur.
"Ricky itu bagaimana orangnya?" Tanya Kaira terlihat gugup dan malu-malu.
Dimas yang di tanyai hanya mengernyit sambil memperhatikan tingkah Kaira yang tampak salah tingkah itu.
"Hm, Ricky itu baik, dan bahkan terlalu baik menurutku. Ada apa?"
"Aku hanya bertanya saja, karena yang aku lihat kalian sangat dekat."
"Oh, aku ngerti sekarang. Kamu mulai tertarik dengan anak mami itu,kan?"
"Anak mami?"
"Iya,dia itu sering kita panggil anak mami karena terlalu nurut dan manja," jelas Dimas. "Saking manjanya tuh anak belum pernah pacaran."
"Kamu nggak bercanda,kan? Waktu itu kita ke rumahnya, dan bukannya dia bilang baru habis kencan?"
"Oh iya, dia emang selalu kencan. Kamu nggak mau tau siapa teman kencannya?" Tanya Dimas sambil menahan tawanya.
Terlihat wajah kekecewaan Kiara saat Dimas akan mengatakan nama teman kencan Ricky. Untuk apa dia harus mendengar nama wanita yang akan membuat hatinya sakit batinnya. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Dimas.
Sepeninggal Kaira, Dimas tak dapat menahan tawanya dan ia pun langsung tergelak sambil membayangkan teman kencan Ricky yang tak lain adalah Adit.
-
-
-
**Hai haii, para readers, terimakasih udah berkenan mampir di karya Author yang masih banyak kurangnya ini karena Author juga masih tahap belajar dalam berkarya,, hehe...
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah meninggalkan jejak dukungannya berupa like/komen dan yang sudah menyumbangkan poin nya, terimakasih banget๐๐
Love you all๐๐**