
Hatinya bagai tertusuk ribuan jarum ketika mendengar ledekan Adit dan Dimas, yang ternyata wanita tersebut adalah cinta monyetnya Ricky semasa sekolah. Niat yang dengan susah payah ia bangkitkan untuk pergi ke ruangan itu kini ia urungkan. Ia berbalik memantapkan langkahnya untuk kembali pulang. Ia berniat akan mempercepat keberangkatannya ke London.
Ricky yang sedari tadi terus menatap ke arah daun pintu, tak luput dari perhatian Adit.
"Loe nungguin dosen cantik,kan?" Tanya Adit melirik Ricky dengan tatapan jahilnya.
"Mau gue panggilin, aja?" Timpal Dimas menanyai sambil memperlihatkan ponsel yang ia pegang.
"Nggak perlu. Biar ini jadi kejutan," jawab Ricky tersenyum dengan wajah yang sangat terlihat tidak sabar.
"Ciee..., yang akhirnya terpapar virus bucin," ledek Adit.
Ponsel Dimas berdering, ia pamit keluar untuk menjawab panggilan tersebut. Saat keluar dari pintu tanpa sengaja ia melihat Kiara yang kemudian menghilang di balik tembok rumah sakit. Ia menduga-duga apa benar wanita yang sempat di lihatnya tadi benar-benar Kiara.
Ia melanjutkan kembali niatnya untuk menyambut panggilan ketika ponselnya kembali berdering.
Raisa dan Bara meninggalkan Ricky di rumah sakit, membiarkan Ricky yang masih mengobrol dengan teman-temannya. Lila mantan Ricky pun sudah pulang sejak tadi.Tinggal mereka bertiga yang masih betah. Entah apa yang mereka bicarakan, hingga terdengar sesekali suara tawa dari ruangan VVIP tersebut.
Dimas memeriksa layar ponselnya, lalu melihat pesan terakhir yang ia kirimkan pada Kiara. Hanya ada balasan pesan terakhir Kiara yang mengatakan ia akan segera menjenguk Ricky. Namun sampai saat ini Kiara belum datang juga. Ia tidak ingin melewatkan momen langka tentang percintaan sahabatnya tersebut. Sebab itulah ia rela tidak kembali ke kantor.
Ia pergi keluar ruangan, berupaya untuk menghubungi Kiara kembali. Beberapa kali ia menghubungi namun hanya terdengar suara wanita dari mesin penjawab saja yang terdengar. Kemudian ia beralih mencari kontak Papa dan menghubungi kontak tersebut.
"Selamat siang, Om Apa kabar?" Sapa Dimas, mengawali ketika panggilannya mendapat sambutan dari orang yang ia telepon.
"Alhamdulillah, Om baik. Bagaimana kabar kamu dan keluarga kamu?"
"Alhamdulillah baik, Om. Apa, Kiara nya ada?" Tanya Dimas kemudian.
"Kiara sedang bersiap-siap untuk penerbangannya nanti sore."
"Apa!? Maksudnya, Kiara akan pergi? Pergi kemana?"
"Kiara memutuskan untuk mempercepat keberangkatannya ke London pada hari ini. Mungkin sebentar lagi dia akan pergi ke bandara," jelas Usman.
"Baik, Om. Terimakasih." Bara mematikan ponselnya lalu bergegas masuk ke dalam menemui Ricky yang masih berbincang dengan Adit.
"Rick, tadi gue barusan dapat kabar dari Om Usman. Katanya Kiara sedang bersiap untuk pergi ke London. Mungkin saat ini ia sedang menuju bandara."
Bukan hanya Ricky yang terkejut, Adit pun tak kalah terkejutnya mendengar keberangkatan Kiara yang sangat tiba-tiba itu.
"Anterin gue ke bandara, sekarang," pinta Ricky.
"Loe, yakin?" Tanya Dimas. Tidak mungkin rasanya meminta perawat untuk melepaskan jarum dan botol infus yang baru saja di ganti.
__ADS_1
Di hatinya Ricky berkata tidak ingin lagi kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Ia memandang botol infus yang membantunya untuk mendapatkan cairan tersebut.
Adit menatap dengan memberi isyarat, pada Dimas yang masih tampak berdiri bingung. Detik kemudian ia baru mengerti apa maksud sahabatnya tersebut.
Seiring Ricky yang melonjak dari tempat tidurnya, Dimas langsung menyambar botol infus tersebut dan menyeimbangkan langakahnya dengan Ricky. Sementara Adit sudah berjalan lebih dulu menunggu mereka di mobil. Beberapa orang yang melihat aksi ketiga orang ini hanya memandang heran.
Di mobil Adit sudah menunggu di belakang kemudi. Ricky sempat teringat kembali dengan kecelakaan yang di alaminya. Namun ia lawan rasa trauma tersebut meski tubuhnya sempat bergetar.
''Ready?" Ucap Adit seraya bergaya bak pembalap profesional.
"Buruan...,jangan banyak gaya, loe!" Sahut Ricky yang merasa gemas dengan kelakuan Adit.
"Lama, loe!" Celetuk Dimas yang duduk di di samping Ricky, sambil memegangi botol infus yang terhubung ke jarum infus yang menancap di punggung tangan Ricky.
"Iya...iya. Baru juga sembuh dari koma, udah mencak-mencak aja, loe!" Adit mendengus seraya menjalankan mobil milik Dimas yang mereka gunakan untuk mengejar Kiara. Padahal ia hampir kehilangan selera makannya waktu sahabatnya itu belum sadar dari koma. Jangan kan tertawa, tersenyum kecil saja ia hampir tidak bisa.
"Cepat dikit lah, loe lemot amat." Ricky tak henti-hentinya berucap karena menurutnya Adit terlalu pelan membawa mobil. Ia seakan melupakan kalau ia baru saja mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Bahkan jarum dan selang infus yang masih menancap di punggung tangannya saja tidak ia sadari.
"Loe kalau mau koma lagi, jangan ngajak-ngajak kita. Gimana nasib bini gue yang lagi bunting, kalau gue kenapa-kenapa," sungut Adit.
"Iya, gue juga gak mau koma. Fitri juga lagi hamil," sahut Dimas menimpali.
"Dit...Dit..., itu mobilnya Kiara!" Seru Dimas sambil menunjuk mobil yang ada di hadapan mereka. Lalu mobil tersebut berhenti karena memang sudah sampai di bandara. Adit menghentikan mobil mereka tepat di belakang mobil yang di tumpangi Kiara.Terlihat Kiara keluar dari mobil dengan seorang supir yang mengantarkannya. Supir tersebut sedang mengeluarkan koper dari dalam bagasi.
"Kiara!" Panggil Ricky.
Kiara menoleh ke arah sumber suara yang sangat di kenalnya. Namun ia belum yakin dengan pemilik suara tersebut. Ia membuka kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancungnya.
Ricky?
Ia membuang pandangannya lalu hendak melanjutkan langkahnya. Kemudian ia berhenti ketika Ricky kembali memanggil namanya.
"Kiara, maafin aku. Tolong jangan pergi," ucap Ricky memohon. "Aku tau aku sudah salah, telah banyak menyakitimu, mengabaikan perasaanmu yang tulus. Aku juga sudah mendapatkan hukuman atas kesalahanku. Tapi tuhan tetap tidak ingin menghapusmu dari ingatanku. Kiara Maharani, AKU MENCINTAIMU."
Masih dengan posisi yang sama, Kiara dengan jelas mendengar apa yang Ricky ucapkan. Ingin rasanya ia berbalik lalu memeluk tubuh pria yang sangat di cintainya. Tapi rasa sakitnya saat melihat ke akraban Ricky dan wanita yang sempat ia lihat di rumah sakit tadi, belum bisa ia lupakan.
Adit yang sejak tadi menunggu di dalam mobil, kemudian keluar. Ia berdiri dengan posisi bersandar di body mobil. "Udah, mending kita balik aja. Ngapain buang-buang waktu. Minta maaf udah, koma juga udah, bahkan sekarang loe juga udah kabur dari rumah sakit. Terima aja kenyataan kalo kalian emang gak jodoh!" Dengan santainya Adit berucap.
"Buruan, masuk! Gue udah kepanasan!" Ajak Adit setengah memerintah. "Loe ganteng, loe pinter. Gue yakin, semua cewek yang pernah loe tolak, pasti masih setia nungguin loe." Tambahnya.
Kiara mengepalkan tangannya ketika mendengar apa yang di ucapkan Adit. Ingin rasanya ia memberi pelajaran pada Adit yang menurutnya berupaya mempengaruhi pikiran Ricky. Ingin rasanya ia segera berbalik dan berteriak "JANGAN" tapi ia masih berusaha mempertahankan harga dirinya. Harga diri yang dulu pernah ia jatuhkan di hadapan pria yang kini berbalik memohon cintanya.
Merasa permintaan maafnya tidak ada gunanya lagi, Ricky pun mendengarkan ucapan Adit untuk segera kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
Kiara berbalik menatap punggung Ricky yang kini sudah masuk ke dalam mobil.Rasa cinta dan ke tidak relaannya jauh lebih besar jika pria yang di cintainya itu di miliki wanita lain. Ia berlari mengejar mobil yang mulai bergerak tersebut. Sambil ia memanggil nama Ricky.
Melihat Kiara yang berlari ke arah mobil mereka, Ricky langsung menyuruh Adit untuk segera menghentikan mobilnya. Adit sudah tau hal itu akan terjadi, sebab itu lah ia sengaja membiarkan Kiara sedikit berolahraga dengan mengejar mobil mereka. Ricky yang masih teringat dengan kecelakaan yang menimpa Kiara, terlihat khawatir pada wanita yang kini sudah mengisi hatinya tersebut.
"Jangan berlari seperti itu, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, lagi," ucap Ricky seraya menyongsong tubuh Kiara yang berlari ke pelukannya.
"Berani-beraninya kamu mau ninggalin aku! Aku benci kamu! Hiks...hiks," Kiara menangis sambil memukuli dada Ricky.
Di dalam mobil, Adit tersenyum penuh kemenangan.
"Aku nggak akan ninggalin kamu. Dan berjanjilah, kamu juga jangan pernah ninggalin aku," pinta Ricky.
"Aku ninggalin kamu, karena tadi aku melihat kamu sedang bermesraan dengan seorang wanita, waktu di rumah sakit," ucap Kiara menambah alur cerita dengan menuduh Ricky bermesraan, karena sedang terbakar api cemburu.
"Apa!? Aku bermesraan? Dengan seorang wanita?" Ricky lupa kalau siang itu Lila, mantan cinta monyetnya juga menjenguknya.
"Aku dengar sendiri, teman-teman kamu yang gak tau diri ini, bilang kalau dulu kalian sepasang kekasih," jelas Kiara bersungut-sungut. Dimas yang sedang menjunjung botol infus, mendelik kaget saat mendengar dirinya ikut terseret dengan julukan teman gak tau diri.
Akhirnya Ricky mengerti siapa yang di maksud Kiara. "Dia bukan siapa-siapa aku.Itu hanya masa lalu yang tidak cukup berarti. Udah, jangan pernah pikirkan tentang orang lain lagi. Yang terpenting saat ini adalah hubungan kita," jelas Ricky sembari merangkup wajah Kiara dengan kedua tangannya.
"Hmm," angguk Kiara. Kemudian dua insan yang terpapar virus bucin ini berpelukan tanpa mempedulikan orang sekitarnya.
"Udah dulu pelukannya, ntar di lanjutin kalo udah halal. Gue pegel dari tadi," celetuk Dimas yang masih setia menjunjung tinggi botol infus di tangannya.
Kiara dan Ricky melepaskan pelukan mereka seraya tertawa menyaksikan penderitaan temannya, di atas kebahagiaan mereka.
Wkwkwk, kebalik ya....😂😂
...**END...
-
-
-
Terimakasih buat yang selalu dukung karya aku yang masih sangat amatiran ini. Dalam bentuk apa pun dukungan yang kalian berikan, aku ucapin terimakasih banyak 😘😘😘
Jika ada waktu, Author akan lanjutkan season berikutnya. Tapi belum tau, kapan bisa up'nya.
Terimakasih semua😘😘
Love you all 😍**
__ADS_1