Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 52


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Hujan yang cukup deras membuat Nia dan Adit ikut terjebak di dalam lingkaran kebucinan Dimas.


Setelah menunggu selama hampir 2 jam, akhirnya nya hujan pun berhenti.


Karena sebelumnya Adit menumpang mobil Dimas dan kini terpaksa ia menumpang motor Nia.


"Loe yang yang bawa motor ya?" Ucap Nia seraya menyerahkan kunci motornya ke Adit.


"Ya iyalah..., mana mau cowok jantan kayak gue gini di boncengin sama cewek," jawab Adit lalu mengambil kunci tersebut.


Kruukk...kruuk...


Perut Nia berbunyi. Cuaca dingin membuat cacing cacing di perutnya lebih aktif.


"Kenapa berenti disini, bukannya kostan loe masih jauh ya?" Tanya Nia ketika Adit menepikan motornya.


"Ya mau makanlah..., emang loe gak laper?" Sahut Adit sambil berjalan ke arah penjual bakso yang tidak jauh dari tempat mereka memarkirkan motor.


Setelah memesan bakso mereka berdua pun duduk menunggu hingga pesanan mereka siap.


Karena merasa sudah sangat lapar Nia pun buru buru menyuap bakso tersebut ke mulutnya. "Aaa...!"


"Bakso masih panas main embat aja...," ucap Adit yang melihat Nia mengipas ngipas mulutnya dengan tangannya.


"Pelan pelan atuh neng...," ucap abang penjual bakso seraya memberikan air putih untuk Nia.


"Gak tau nih bang...,harap maklum. Nie cewek baru aja mampir ke bumi. Jadi mana tau kalo kuah bakso panas bisa buat mulut terbakar," ucap Adit.


"Ya karena gue kan udah lapar banget...," Nia pun meletakan gelas minumnya lalu melanjutkan makannya lagi.


"Gue tau loe lapar...,orang perut loe bunyinya ngalahin suara klakson motor."


Nia tidak mempedulikan ucapan Adit. Ia hanya berfokus pada bakso yang ada di hadapannya.


"Eh loe kalo makan jangan belepotan kayak anak kecil," ucap Adit seraya membersihkan sisa makanan di bibir Nia dengan jarinya.


Ciieee....,


Harusnya...aku yang disana...🎶🎶🤭


Sontak perlakuan Adit tersebut membuat mereka berdua jadi salah tingkah.


"E, e...soryy, maksud gue...."


"Makasih...," ucap Nia. Lalu ia kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan pulang. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Baik Adit maupun Nia hanya diam dengan pikiran nya masing masing.


"Makasih atas tumpangannya," ucap Adit begitu sampai di kostannya.


"Harusnya gue yang bilang makasih ke loe karena loe udah traktir gue makan bakso."


"Ya udah, anggap aja kita impas," jawab Adit seraya berbalik ingin segera sampai di kostannya. Karena jujur saja, matanya sudah amat sangat mengantuk. Di tambah cuaca yang lumayan dingin malam itu membuatnya sangat merindukan tempat tidurnya.


"Selamat malam..., dan selamat beristirahat," ucap Nia lalu menjalankan motornya.


Tentu saja Adit masih bisa mendengar apa yang di katakan Nia barusan.


"S*al...!!!"


Adit mengumpat atas kebodohan yang telah ia lakukan. "Semoga dia gak mikir macem macem tentang gue," ia terus berucap pada dirinya sendiri.


Di tempat lain ada Nia yang tersenyum senyum sendiri di dalam kamarnya.


Bagaimana tidak orang yang tak jarang adu mulut dengannya tiba-tiba saja bersikap manis padanya.


"Aku yakin jika sesungguhnya dia itu lelaki yang peduli dan sangat bertanggung jawab. Hanya saja egonya masih terlalu tinggi," Nia membatin seraya tak hentinya tersenyum.


Ia merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal di tempat tidur. Malam yang cukup dingin membuatnya lebih cepat terlelap.


...***...


Dimas memantapkan niatnya untuk melanjutkan kembali langkahnya dalam mendapatkan hati Fitri gadis sederhana yang memotivasinya agar menjadi pria sejati yang sesungguhnya. Tentu saja kali ini ia akan berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain.


Tingkah serta penampilan Dimas malam itu tak luput dari pengawasan kedua orangtuanya yang sedang bersantai di ruang tengah kala itu.


"Rapi banget, wangi lagi. Emang kamu mau pergi kemana?" Tanya ibunya.


"Ke rumah temen."


"Ya sudah..., hati hati di jalan."


Dimas pun masuk ke mobil dan mulai menyetir. Ia sudah menyusun kata kata untuk menjawab setiap pertanyaan ayah Fitri kelak. Sebisa mungkin ia mencari kalimat yang bijak agar lebih meyakinkan.


"Malam Om...," ucap Dimas pada ayah Fitri yang membukakan pintu.


"Ya, ada perlu apa?"


"Fitri nya ada Om?" Tanya Dimas sesopan mungkin.


"Ada perlu apa nyari Fitri malam malam begini...?" Tanya Ayah Fitri.


Sebenarnya beliau tidak marah, hanya nada bicaranya saja yang terdengar seperti orang yang sedang marah. Inilah yang membuat nyali Dimas menciut. Segala upaya yang telah ia persiapkan seakan sia-sia.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum...pak Edy."


"Wa'alaikumsallam," jawab pak Edy yang ternyata adalah nama dari ayah Fitri.


"Ada apa ini?" Tanya pak Edy saat melihat salah satu tetangganya datang dengan wajah yang terlihat panik.


"Ee --- kambing saya terlepas dan masuk ke kebun bapak. Saya khawatir akan merusak semua sayuran bapak nantinya. Saya sudah berusaha untuk menangkapnya tapi tidak berhasil."


"Masyaallah...," Pak Edy membenarkan simpul sarung yang ia kenakan sebelum akhirnya ia meminta Dimas untuk segera mengantarkannya ke kebun sayurnya. Tidak ketinggalan tetangga pak Edy pun juga ikut masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di kebun. Pak Edy dan tetangganya tadi berusaha untuk menangkap kambing yang terlepas. Ada beberapa tanaman yang sudah rusak oleh kambing tersebut.


Keadaan malam yang gelap membuat mereka cukup kesulitan. Hingga akhirnya Dimas berinisiatif membantu.


Kambing pun berhasil di tangkap oleh Dimas dengan resiko pakaiannya yang menjadi kotor serta aroma kambing yang melekat di pakaiannya tersebut.


Mereka pun kembali pulang dengan mengendarai mobil milik Dimas dengan penumpang tambahan. Kambing 🤦‍♀️🤦‍♀️


"Assalamua'laikum...."


"Wa'alaikumsallam...," sahut Fitri dari dalam rumah. "Ayah darimana, kenapa pakaian ayah jadi kotor begini? Kamu juga...?" Tanya Fitri sambil memperhatikan penampilan Dimas dan pak Edy yang terlihat kacau.


"Ayah baru saja nangkap kambing pak Mamad yang masuk ke kebun kita. Ayah mau bersih bersih dulu...," ucap pak Edy seraya masuk ke dalam rumah.


"Astaghfirullah...," ucap Fitri sambil menutup hidungnya.


🤭🤭


"Ya udah, aku sekalian pamit aja," ucap Dimas.


"Tapi kenapa ---


"Panjang ceritanya, lain kali aja aku jelasin," sahut Dimas. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam...," jawab Fitri.


Dimas masuk ke mobilnya lalu pergi meninggalkan halaman rumah Fitri.


"Hueekk! Pantes aja Fitri sampe nutupin hidungnya, ternyata aroma tubuh gue emang benar benar bau kambing. Untung gue tetap ganteng," ucapnya seraya berkaca melalui spion 😝


Dimas turun dari mobilnya lalu buru buru masuk ke dalam rumah. Tujuannya adalah segera mandi demi menghilangkan aroma kambing tersebut.


"Astaghfirullah....," ucap Rosma terkejut saat melihat keadaan anaknya.


😂😂😂


..._ 👍...

__ADS_1


..._ ❤...


..._ 🎁Bila berkenan😚...


__ADS_2