
Di saat beberapa rekannya sedang menikmati istirahat makan malamnya, Nia masih tampak sibuk dengan pekerjaannya. Ia sengaja membiarkan teman-temannya yang lain lebih dulu mengambil jatah istirahat agar ia bisa mekan bareng Adit.
Setelah rekan-rekannya itu selesai dan melanjutkan pekerjaannya kini giliran Nia yang beristirahat sejenak untuk mengisi perutnya. Ia duduk di samping Adit yang juga sedang beristirahat sambil menikmati makan malamnya. Sudah tak ada lagi rasa sungkan pada pria yang beberapa waktu lalu selalu membuatnya ilfil tersebut. Meski terkadang ucapan Adit masih suka seenaknya, tapi setidaknya mereka sudah tidak adu mulut seperti dulu lagi.
"Kenapa loe bisa datang lebih awal, bukannya loe tadi siang harusnya pergi ke toko tante Raisa?" Tanya Adit.
"Kebetulan selama dua hari ke depan toko tersebut akan di renovasi, dan semua pegawai di liburkan. Jadi setelah dari kampus aku langsung kesini aja," jawab Nia.
Mendengar jawaban Nia Adit hanya Mengangguk sambil melanjutkan makan malamnya. Entah kenapa ada rasa yang berbeda saat ia bersebelahan dengan Nia. Ada desiran halus di hatinya dan ia sendiri merasa aneh dengan perasaan itu. Perasaan yang tidak seperti biasanya. Tiba-tiba ia merasa harus sangat berhati-hati dalam bersikap dan mengucapkan kata-kata.
Nia pun tiba-tiba merasa ada sebuah kecanggungan antara dirinya dan Adit. "Ada apa ini?" Batinnya. Melihat Adit yang tampak lebih santai dari biasanya membuat Nia merasa bahwa bukan Adit yang berada di sampingnya saat ini. Melainkan orang lain.
-
-
-
Adit yang selalu raib setelah usai jam kuliah berakhir tersebut membuat Ricky merasa kehilangan. Tidak biasanya Adit menghilang tanpa kabar seperti itu. Bahkan tak jarang Adit tidak mengangkat telpon darinya. Pesan yang ia kirim pun selalu telat mendapatkan balasan. Ia agak khawatir dengan keadaan Adit. Pasalnya akhir-akhir ini ia perhatikan sahabatnya itu sudah tidak pernah lagi mendatanginya ke rumah. Ia menduga-duga, mungkin kah sahabatnya itu sedang ada masalah. Tapi selama ini ia sudah sangat mengenal Adit dengan baik. Adit bukanlah orang yang sungkan untuk memberitahukan masalahnya.
Siang itu Ricky menghampiri Adit yang tampak buru-buru hendak menaiki motornya.
"Dit! Loe buru-buru amat. Selama ini loe kemana aja? Kalo ada masalah coba cerita ke gue, barangkali gue bisa bantu."
"Loe tenang aja, gue nggak kenapa-kenapa koq. Maaf, gue cabut dulu," ucap Adit, lalu memasang helmnya.
"Loe yakin? Terus kenapa loe udah gak pernah lagi ke datang ke rumah gue?"
"Sekarang gue kerja," jawab Adit lalu meninggalkan Ricky yang masih terbengong di sana.
__ADS_1
"Kerja? Adit kerja!?"
Sebelum benar-benar kehilangan jejak Adit, Ricky langsung memacu motornya untuk mengikuti sahabatnya itu. Ricky penasaran dengan pekerjaan yang di maksud Adit. Ia agak khawatir kalau-kalau Adit bergaul dengan orang-orang yang salah dan melakukan pekerjaan yang salah pula.
Ia menghentikan motornya ketika melihat Adit memarkirkan motornya lalu masuk ke sebuah cafe tempatnya bekerja.
Ricky merasa lega lalu ia pun berbalik arah setelah memastikan kalau dugaannya itu salah. Ia merasa lega sekaligus salut dengan keputusan sahabatnya itu. Meski ia agak kecewa karena Adit tidak berterus terang padanya.
Esoknya Ricky sengaja pergi ke cafe dimana Adit bekerja. Adit tampak terkejut melihat pengunjung cafe yang tak lain adalah sahabatnya itu.
"Dit, loe kenapa gak ngomong kalo loe bekerja di sini?" Tanya Ricky.
"Sorry, gue gak bermaksud buat ngerahasiain. Tapi gue gak mau loe syok begitu tau kalau gue udah dapat wahyu untuk menata hidup gue menjadi lebih baik dan lebih bermakna," tutur Adit mengeluarkan filosofinya. Lalu ia pun terkekeh dengan kata-katanya itu.
Melihat Adit yang masih bisa bercanda seperti itu Ricky sedikit merasa lega dan yakin bahwa sahabatnya itu tidak sedang dalam masalah. Namun untuk memastikan lagi ia pun menanyai Adit.
"Manusia mana yang nggak ada masalah? Semua punya masalah, tapi saat ini gue emang pengen mandiri aja," jelas Adit dengan percaya diri.
Ricky hampir tidak percaya kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah sahabatnya. Namun ia merasa senang dan sangat mendukung dengan keputusan Adit.
"Oiya, loe pesan apaan? Jangan bilang loe pengen numpang duduk doang?" Ucap Adit menanyai Ricky dan tak lepas dengan candaan mereka yang sudah mendarah daging itu.
"Baru juga loe bekerja jadi pelayan cafe udah lupa sama minuman yang biasa gue pesan, gimana kalo besok-besok loe jadi bupati," balas Ricky tak kalah sengit.
"Kalo besok gue jadi bupati, gue janji akan ngeluarin dana buat renovasi hati loe biar gak jomblo." Lalu kedua sahabat ini terkikik tanpa menghiraukan beberapa pengunjung yang melihat ke arah mereka.
"Ya udah loe tunggu sebentar, duduk yang anteng biar gue ambilin minuman buat loe," ucap Adit. Beberapa saat ia datang membawakan minuman yang di minta Ricky. "Loe nggak makan?" Tanya Adit seraya meletakan minuman di atas meja.
"Iya gue mau makan. Gratis,kan?"
__ADS_1
"Makan'nya gratis, sebelum pulang loe kudu bayar dulu," jawab Adit. Lagi-lagi kedua sahabat ini terkekeh dengan candaan mereka sendiri.
Setelah mengantarkan pesanan Ricky, Adit pun melanjutkan pekerjaannya untuk melayani pengunjung yang lain.
Sebelum pergi Ricky menghampiri Adit untuk berpamitan sekaligus ia memberikan rangkulan untuk menyemangati sahabatnya itu.
"Lain kali kalo loe kesini lagi sekalian ajak bu Kiara, karena menurut gue bu Kiara suka sama loe," ucap Adit seraya menepuk punggung Ricky.
"Ngaco loe!" Kesal Ricky.
"Masa loe gak ngerasa kalo lagi di pepetin sama cewek? Ganteng doang tapi gak peka, percuma. Emang sih bu Kiara sedikit lebih dewasa dari usia loe, tapi menurut gue gak terlihat samasekali koq kalau ada perbedaan usia di antara kalian. Udah gitu bu Kiara cantik dan seksi menurut gue," tutur Adit panjang lebar berharap sahabatnya itu mau melepas status jomblo permanennya.
"Bukannya kemarin loe yang pengen dapetin bu Kiara?" Sahut Ricky lalu berbalik meninggalkan Adit.
"Itu, kan dulu...,, sekarang tidak! Batin Adit. Entah sejak kapan ia sudah berhenti memikirkan wanita-wanita yang sering di jadikannya incaran untuk di dekati lalu di jadikan alat untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.
Tanpa sengaja Ricky melihat Nia yang ternyata juga bekerja di cafe yang sama dengan Adit. Ia kembali teringat filosofi Adit yang penuh makna tadi.
Giliran Ricky yang kini membatin. "Cih! Pantesan loe doyan bekerja di sini. Ternyata ada udang di balik batu! Pake bilang dapet wahyu segala!"
-
-
-
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungan'nya yaa,,
Terimakasih semua 😘😘
__ADS_1