Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 69


__ADS_3

Ricky dan Adit sudah memiliki konsep untuk usaha mereka kelak. Sejak dulu Ricky sangat tertarik untuk memiliki bisnis perhotelan. Sementara Adit tertarik untuk membuka usaha dengan memiliki sebuah restoran. Selama lebih dari setahun ia bekerja di sebuah cafe membuatnya ingin mendirikan usaha serupa. Suatu kombinasi yang cocok bagi keduanya untuk memulai bisnis mereka bersama.


Sebelum memulai bisnis, mereka ingin bekerja terlebih dahulu untuk menambah pengalaman mereka sebelum memulai bisnis sendiri. Tidaklah mudah mendirikan sebuah bisnis. Yang berpengalaman saja masih bisa bisa mengalami jatuh bangun. Bara juga menghubungi beberapa rekannya untuk meminta bantuan menyiapkan posisi untuk mereka agar bisa belajar dan memahami bisnis yang akan mereka dirikan kelak. Namun, baik Ricky maupun Adit menolak bantuan tersebut dengan alasan mereka ingin mandiri. Ricky lebih memilih bekerja pada orang lain sementara Adit juga memilih untuk mencari pengalaman sendiri meski Dimas juga sempat menawarkan bantuan padanya. Mereka akan membangun bisnis tersebut setelah mereka merasa cukup dengan pengalaman yang mereka dapat kelak.


Seperti yang telah di janjikan oleh Raisa pada Bara bahwa ia akan ikut bersama suaminya kelak jika Ricky sudah menyelesaikan kuliahnya. Hari itu juga mereka pindah ke rumah yang sudah di sediakan Bara untuk anak dan istrinya. Rumah yang cukup besar dengan halaman yang begitu luas di lengkapi dengan taman dan kolam renang. Ada juga kolam ikan yang berada di tepi taman tersebut. Di bagian belakang rumah ada sebuah paviliun yang memang sengaja di buat untuk Ricky. Bara dan Raisa memang sudah sepakat untuk membuat Ricky mandiri secara perlahan namun tetap dalam pengawasan mereka mengingat Ricky memiliki kelemahan dalam segi kesehatan.


Meski berat rasanya untuk meninggalkan rumahnya yang lama namun ia juga tidak boleh egois karena selama ini Bara juga sudah cukup mengalah padanya dan kini gilirannya untuk memenuhi janjinya sebagai seorang istri. Namun Sesekali ia akan tetap pergi kesana untuk sekedar melihat keadaan rumahnya.


Bara juga sudah mempekerjakan orang lain untuk membantu bik Jur. Jadi tugas bik Jur hanya akan memasak dan berbelanja keperluan dapur. Untuk mencuci dan bersih-bersih rumah sudah orang yang akan melakukannya. Karena tidak mungkin membebani bik Jur dengan tugas bersih-bersih mengingat rumah yang mereka tempati saat ini lebih besar dari rumah mereka sebelumnya bahkan berkali-kali lipat. Raisa sempat protes karena Bara membawanya pindah ke rumah yang menurutnya terlalu besar untuk ukuran keluarga kecil mereka. Namun lagi-lagi Bara mengingatkan perjanjian mereka bahwa kelak ia akan mengikuti kemana pun suaminya akan membawanya.


Mala dan Tari tak ketinggalan untuk membantu acara pindahan tersebut. Mala menemani cucunya bermain sementara Tari membantu Raisa merapikan beberapa barang. Ia sempat pusing karena harus menyaksikan perdebatan antara suami istri hanya masalah figura foto pernikahan mereka. Bara ingin figura itu di letakan di ruang tamu mereka agar setiap tamu yang datang bisa melihat foto pernikahan mereka, sementara Raisa ingin agar figura tersebut di pajang di ruang tengah saja karena menurutnya sangat tidak cocok jika figura tersebut di pajang di ruang tamu. Dan akhirnya Bara yang tetap mengalah pada keputusan istrinya. Lalu mereka membawa figura yang satunya lagi untuk di pajang kamar tidur mereka. Saat berada di kamar tersebut Bara tampak bermanja-manja pada istrinya yang membuat Tari memandang geli pada adiknya itu.


"Dasar bocah mesum," batin Tari. "Sini biar Mbak aja yang benerin," ucap Tari seraya mengambil alih pekerjaan kedua pasutri itu. Karena jika mereka yang mengerjakan sepertinya akan memerlukan waktu lebih lama karena lebih banyak dramanya.


"Makanya mbak Tari cari pasangan sana biar nggak ngiri ngeliatin kita berdua," ledek Bara seraya bergelayut di pundak istrinya.


Raisa pun langsung mencubit perut Bara dengan gemas karena sudah menggoda Tari.


Beberapa saat selesai sudah momen beres-beres tersebut. Raisa kemudian pergi ke paviliun untuk melihat keadaan Ricky. Ternyata Ricky sudah selesai membereskan barang-barangnya dan kini ia sedang berada di dapur untuk memasak. Raisa terkejut sekaligus merasa bahagia melihat perubahan di dalam diri Ricky. Ini sebuah kemajuan besar setelah sebelumnya ia sempat ragu pada kemandirian putranya.


"Eh Mama," Ricky terkejut ketika melihat Mamanya sudah berdiri di dapur sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Lanjut aja acara memasaknya, Mama cuma mau liat-liat sebentar," ucap Raisa seraya berjalan ke arah kulkas lalu ia membuka kulkas tersebut dan memeriksa isinya. Sepertinya Bara yang sudah menyiapkan semuanya. Ia melihat kulkas yang berisikan semua makanan yang di sukai Ricky di sana.


-


-


-


Sudah dua bulan lamanya setelah acara pindah rumah. Selama sebulan ini juga Kiara tampak dekat dengan Ricky meski mereka jarang bertemu karena sekarang Ricky juga sudah bekerja. Namun Kiara tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya yang hanya hitungan bulan itu. Ia selalu memperhatikan hal-hal kecil seperti mengingatkan Ricky untuk sarapan membawakan makan siang serta membelikan vitamin yang biasa di minum oleh Ricky. Selain dari Dimas ia juga mendapatkan bantuan dari Raisa yang banyak membocorkan kebiasaan-kebiasaan yang di lakukan Ricky.


"Aku hanya bisa membantu dalam hal seperti ini, selebihnya ada di tangan kamu," tutur Raisa pada Kiara yang lebih sering menghubunginya akhir-akhir ini. Sebenarnya ia juga merasa kasihan pada Kiara yang sudah sangat berjuang hingga sejauh ini. Namun kelak ia juga hanya bisa pasrah dengan apa yang akan di putuskan oleh Ricky.


Raisa sengaja memberikan kesempatan pada Kiara sebab itu lah ia sudah tidak terlalu mengurusi keperluan Ricky lagi.


Saat mereka sedang berjalan berdua tiba-tiba ada seorang pria yang datang lalu berbicara pada Kiara. Ricky menatap pria itu dari dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia dapat menyimpulkan bahwa pria itu bukanlah pria biasa.


"Ra, kamu kemana aja selama ini? Kenapa pesanku juga nggak pernah kamu balas?"


"Arfan?"


"Jadi namanya Arfan," Batin Ricky.

__ADS_1


"Dia siapa?" Tanya Arfan menoleh ke arah Ricky.


"Di...a, dia teman aku," jawab Kiara terbata. "Aku pergi dulu, sampai jumpa." Pamit Kiara lalu menyusul Ricky yang berjalan mendahuluinya.


"Ra, aku belum selesai bicara!" Ucap Arfan saat melihat Kiara menjauh dari hadapannya.


"Dia udah punya laki-laki lain tapi masih minta kesempatan buat dekat sama gue!" Umpat Ricky dalam hatinya.


Kiara masuk ke mobil menyusul Ricky yang sudah lebih dulu duduk di belakang kemudi.


"Udah kelar ngobrolnya?" Tanya Ricky dengan nada sinis.


"E...hm, sudah," jawab Kiara gugup karena tidak biasanya Ricky bersikap seperti itu. Meski Ricky terkesan terpaksa untuk pergi dengannya, tapi Ricky tidak pernah bicara kasar padanya seperti saat ini.


Ricky menjalankan mobilnya dan mengantar Kiara pulang ke rumahnya. Tanpa sengaja Usman melihat putrinya keluar dari mobil yang mengantarnya pulang.


-


-


-

__ADS_1


**Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya agar Author makin semangat menulisnya 😍😍


Love you all😘😘**


__ADS_2