Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 18


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


"Bara..., kamu gak ngumpul sama teman-teman kamu, kenapa kamu disini?" Raisa bingung tidak tau harus bicara apa selain kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Karena aku ingin disini."


"Baiklah," Raisa mengambil jalan untuk melewati Bara yang berdiri di hadapan nya.


Bara tidak ingin melewatkan kesempatan nya kali ini. "Tunggu, aku belum selesai bicara," cegahnya sambil menahan lengan Raisa.


"Bara, kamu ini kenapa? Dari kemarin kamu selau bersikap aneh," ucap Raisa khawatir jika ada yang melihat kejadian itu.


"Di dalam cinta tidak ada yang aneh," ungkap Bara dengan suara bergetar dan masih memegang lengan Raisa.


"Ba... baik, duduk lah dulu," ucap Raisa berupaya tenang dan mengajak Bara untuk berbicara baik baik sambil menuju ke sofa ruang tamu. "Ada masalah apa sebenarnya?" Tanya Raisa setelah mereka sudah duduk di sofa tersebut.


Bara menunduk dengan siku yang bertumpu di lutut, sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan nya.


*Dengan cara apa lagi agar dia mengerti!?


Sepertinya dia masih menganggapku tidak sadar!


Batinnya.


"Nggak ada masalah apa-apa, selain itu juga aku bicara dalam keadaan sadar, dan..., maukah kamu menikah denganku?"


Raisa diam sejenak sekedar memberikan waktu pada dirinya sendiri untuk menghirup udara, karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.


Berulang kali ia menarik nafas dan menghembuskan nya namun tidak membuat hatinya tenang.


"Bara..., kamu tau kan aku ini ibu dari teman kamu? Kamu dan Ricky itu udah bersahabat lama, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?"


"Aku juga gak tau kenapa, dan jika aku tau kejadian nya bisa seperti ini, aku gak akan mau bersahabat dengan Ricky, setidaknya aku gak akan bertemu kamu dan jatuh cinta...."


Raisa tidak tau harus bagaimana menangkis ucapan Bara. Ia hanya bisa terdiam dengan perasaan yang bergemuruh, bahkan ia tak kuasa memandang wajah Bara yang menatap dalam ke arahnya.


Bahkan bocah ini berani bicara AKU KAMU


"Bara...,mungkin itu hanya perasaan sesaat saja, aku tau pria seusia kamu ini masih labil dan belum bisa menentukan perasaan yang sebenarnya. Kamu itu masih muda, perjalanan pun masih panjang, kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dan seusia denganmu," akhirnya Raisa bisa berbicara setelah cukup menguasai dirinya.


"Jika boleh memilih, maka aku ingin mencintai wanita yang Seumuran denganku, tapi sayangnya itu tidak pernah terjadi, sebelum aku jatuh cinta tidak ada yang memberi tahukan harus dengan siapa aku boleh jatuh cinta."


"Tapi maaf, aku tidak bisa melakukan hal yang sama untuk mu."

__ADS_1


"Kenapa? Apa karena aku teman Ricky atau karena aku jauh lebih muda sehingga kamu meragukanku?" Bara coba mendekat ingin memegang tangan Raisa, namun Raisa segera menariknya.


Astaga, ada apa dengan bocah ini!??


jangan sampai aku tergoda, karena jujur saja bocah ini sangat tampan 🙄


astaga, apa yang ku pikirkan😅


"Aku mungkin tidak akan bisa jadi ayah buat Ricky, tapi aku bisa jadi teman yang baik."


Bara pantang menyerah, ibarat kata sudah kepalang basah mending mandi sekalian batinnya.


"A...aku sedikit pusing, aku mau istirahat," Raisa pun beranjak ingin segera pergi dari sana.


"Aku yakin kamu juga belum memberikan jawaban pada orang yang bernama Herman itu! Tolong beri aku kesempatan juga untuk membuktikan bahwa aku layak dan mampu bertanggung jawab!"


Apa bocah ini juga memata-matai ku??


Raisa tidak mempedulikan ucapan Bara barusan, ia pergi meninggalkan ruangan dan masuk ke kamarnya hingga pagi.


Hampir semalaman Raisa tidak bisa tidur dan hanya mengurung diri di kamar, teriakan Ricky untuk berpamitan pun tidak ia pedulikan.


"Selamat siang mbak," Rina menyapa Raisa pagi itu, yang di sambut anggukan dari Raisa. "Mbak pucet banget, mbak sakit ya? Kalo lagi sakit sebaiknya mbak istirahat aja biar semua serahin ke kita aja."


"Nggak koq, kalian lanjutin aja kerjanya, Mbak masuk dulu ucap Raisa lalu memasuki ruangannya.


"Mbak, ayo saya anterin?" Ujar Nia yang sudah duduk di motor matic nya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil yang datang,


mereka menatap ke arah mobil yang berhenti di dekat mereka. Pengemudi tersebut keluar dari mobilnya berjalan ke arah mereka.


"Mbak, ini kan cowok yang waktu itu...."


"Jangan bahas sekarang, lebih baik kamu duluan aja," perintah Raisa.


"Iya mbak, duluan yah," pamit Nia sambil senyum-senyum mengingat dulu pria tersebut pernah datang dengan penampilan yang agak berantakan.


"Toko udah tutup, dan pesanan pun udah full," ucap Raisa ketika Bara sudah berdiri di hadapan nya.


"Aku kesini hanya ingin bertemu pemilik tokonya," balas Bara sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan menatapi wajah Raisa yang terlihat membuang pandangan nya.


"Mau apa lagi!?"

__ADS_1


"Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi pendamping yang layak."


"Kamu tuh ya, lama-lama makin gak sopan!"


"Apa aku salah jika aku mengutarakan perasaanku terhadap orang yang aku cintai!?"


"Kamu gak salah, tapi akulah yang salah karena telah membiarkan Ricky berteman denganmu!" Ucap Raisa sedikit meninggi karena menurut nya apa yang tindakan Bara tersebut sudah sangat keterlaluan. Lalu ia pun memgambil jalan agar pergi dari sana.


"Aku mohon beri aku kesempatan," Bara menghadang langkah Raisa dan menggenggam kedua tangan nya.


"Bara ini salah, tolong jangan seperti ini bagaimana jika ada yang melihat?" Raisa menyapukan pandangan nya khawatir ada yang memperhatikan mereka.


"Kenapa harus memikirkan orang lain, gak ada yang salah kan? Kita sama-sama sendiri jadi apa masalahnya!?" Bara semakin memegang erat tangan Raisa.


"Bara...."


"Aku mohon beri aku kesempatan," Bara bahkan berlutut dengan masih memegang kedua tangan Raisa.


"Ba... baik, berdiri lah nanti ada yang melihat," tidak ada pilihan lagi bagi Raisa selain mengiyakan agar Bara berhenti berlutut di hadapan nya.


"Janji? Mari aku antar."


"He'mm...," Raisa pun mengangguk tanda setuju.


Setelah membukakan pintu mobil untuk Raisa Bara pun membuka pintu arah kemudi dan duduk di belakang setir.


"Terimakasih...," ucapnya sambil memegang tangan Raisa yang duduk di sebelahnya, lalu di sambut dengan senyuman kaku oleh Raisa. Setelah itu Bara pun menyalakan mobil nya meninggal kan area toko.


Nia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan sambil mengendarai motornya.


"Astaga... astaga..., mimpi apa gue semalem sampai harus menyaksikan kejadian tadi!?" Ucap nya.


...Flashback on...


Nia tidak benar-benar pulang, ia sedikit penasaran dengan pria yang ternyata sering memesan kue dan bahkan sudah beberapa kali juga ia melihat pria tersebut mengantarkan Raisa. Dan anehnya Raisa selalu menjawab bahwa mereka hanya kebetulan bertemu.


Bagi Raisa mungkin kebetulan, tapi bagi wanita yang sensitif seperti Nia tidak mungkin ada kebetulan yang berulang setiap hari tanpa ada unsur kesengajaan.


Meskipun semua pegawai tau kalau Bara adalah teman Ricky, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Nia penasaran dan kepikiran untuk menguping pembicaraan keduanya.


...Flashback off...


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁 Bila berkenan😚...


__ADS_2