Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 25


__ADS_3

Flashback on - beberapa tahun yang lalu.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya pasangan suami istri yang sedang menunggui proses lahiran dari putri sulungnya, yang tak lain adalah orangtua dari Raisa.


"Bayi nya selamat tapi maaf, saya tidak bisa menyelamatkan ibu nya," jawab dokter yang menangani.


"Bagaimana bisa dok!?"


"Sebenarnya saya sudah memberitahukan masalah ini sebelumnya, dan pasien sendiri sudah tau resikonya. Saya pikir pasien sudah membicarakan hal ini pada keluarganya."


"Apa ada keluarga pasien yang bernama Raisa?" Tanya salah satu suster rumah sakit.


"Ada, tapi dia masih dalam perjalanan, sebentar lagi akan datang," jawab ibu Raisa. "Oh, itu dia!" Ucapnya ketika melihat Raisa sudah datang dengan masih memakai seragam sekolahnya.


"Gimana keadaan mbak Ranti?" Tanya Raisa pada ibunya.


"Mbak kamu...," dia tidak bisa melanjutkan ucapannya lalu menangis.


Raisa masih bingung apa yang terjadi sebenarnya.


"Mbak yang bernama Raisa?" Tanya suster tadi.


"Iya sus...."


"Silahkan ikut saya," Suster membawa Raisa ke ruangan dimana Ranti terlihat berbaring lemah disana dengan beberapa alat bantu yang menempel di tubuhnya.


"Ra..., mbak gak punya banyak waktu lagi," ucap Ranti ketika Raisa melihat sudah berdiri di samping tempatnya berbaring.


Raisa mendekatkan jaraknya sedikit membungkuk agar ia bisa dengan jelas mengetahui apa yang di ucapkan kakaknya. "Mbak ngomong apa, mbak harus kuat demi anak dan suami mbak."


"Tolong kamu kabulkan keinginan mbak yang terakhir...."


"Mbak..., jangan ngomong gitu, gak baik."


"Berjanjilah."


"Iya, Raisa janji."


"Kamu tau mas Irwan itu di besarkan di panti asuhan dan dia gak punya siapa-siapa selain mbak, dan mbak tau dia sangat menginginkan seorang anak, jadi tolong rawat anak dan suami mbak kalau mbak udah gak ada."


"Kenapa mbak ngomong begitu, mbak akan baik-baik aja dan kita akan bersama lagi."


"Selama ini mbak gak pernah minta apa pun dari kamu, jadi tolong kabulkan keinginan mbak yang terakhir, mbak mohon...."


"Iya mbak, aku janji."


"Kamu adalah adik mbak, dan mbak hanya percaya sama kamu."


Itu adalah obrolan terakhir antara kakak beradik itu.


Sejak saat itu Raisa benar-benar belajar menjadi seorang ibu meskipun ia juga harus belajar sebagai murid karena ia juga masih harus sekolah.


Di akhir pekan pun rutinitasnya masih sama, yaitu mengurus bayi. Tapi ia sangat tulus melakukannya dan ia bahagia bisa melihat bayi mungil itu tumbuh di dalam asuhannya, meskipun semua itu tak luput juga dari bantuan kedua orangtuanya.


Tiba lah pada masa kelulusan sekolah, Raisa menunggu di bawah pohon untuk bertemu dengan seseorang yang sudah membuat janji dengannya.


"Maaf, kamu harus menunggu lama," ujar seseorang yang ditunggu yang tak lain adalah Herman.


"Iya, aku ngerti kamu pasti sibuk mengabadikan moment kelulusan dengan para fans kamu," balas Raisa.


"Baguslah kalau kamu cemburu."


"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Raisa.


"Aku juga, tapi kamu aja duluan," jawab Herman memberi kesempatan pada Raisa.


"Aku gak jadi kuliah."


"Kenapa? Kita kan udah janji buat kuliah sama-sama dan mengambil jurusan yang sama juga."


"Aku akan menikah!"

__ADS_1


Herman bagai tersambar petir saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita yang sangat ia cintai selama ini, hanya saja ia belum pernah menyatakan nya.


"Kamu adalah satu-satunya teman yang mau bertahan sejak kepergian kakak ku, jadi aku mau kamu datang saat aku menikah nanti," Tambah Raisa membuyarkan lamunan Herman.


"Ba --- baik, aku akan datang, tapi dengan siapa kamu menikah?" Tanya Herman karena selama ini hanya dialah pria yang paling dekat dengan Raisa sebab tidak ada pria yang berani mendekatinya mengingat ayah Raisa yang sangat galak. Dan ia cukup beruntung bisa berteman karena ayah Raisa berteman baik dengan ayahnya.


"Aku akan menikah dengan Mas Irwan."


"Apa!? Maksud kamu, mas Irwan suami dari almarhumah mbak Ranti!?"


Raisa hanya mengangguk. "Orangtua ku ingin kami segera menikah, ini juga permintaan terakhir dari mbak Ranti, dan aku udah janji untuk memenuhinya. Kamu pasti datang kan?" Tanya Raisa memastikan.


"Akan aku usahakan," sahut Herman dengan perasaan perih.


"Hanya ada akad nantinya, acaranya pun hanya di hadiri keluarga terdekat saja, semua sangat terburu-buru karena kami harus segera menikah sebelum Ricky bisa memahami semuanya."


Herman menarik nafas berat menahan gejolak di dadanya. Dengan susah payah ia mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya tapi kini semua sia-sia.


"Boleh aku minta hadiah pernikahan ku sekarang?" Tanya Raisa


"Kamu mau apa?" Tanya Herman kembali.


"Aku mungkin tidak bisa mewujudkannya, tapi kamu pasti bisa, jadilah pengacara handal seperti yang kita impikan."


Herman mengangguk sembari tersenyum demi menguatkan dirinya sendiri.


"Janji?"


"Aku janji," Balas Herman.


"Oiya kamu mau bicara apa?" Tanya Raisa.


"Tidak ada, aku lupa mungkin nanti saja."


"Baik, tepati janjimu mungkin kelak aku akan memerlukan seorang pengacara," ucap Raisa seraya tersenyum dan pergi dari sana.


Setelah hadir di acara pernikahan waktu itu, Herman tidak pernah lagi bertemu dengan Raisa, dan ia pun sibuk mengejar cita-citanya.


Ricky terdiam setelah mendengar cerita Herman.


"Raisa memang tidak melahirkan mu, tapi apa yang dia lakukan selama ini tidak pernah kurang dari seorang ibu kandung, di saat wanita seumurannya pergi berlibur dan mengahabiskan waktu, dia malah mengurus seorang bayi. Di saat teman-temannya melanjutkan kuliah, dia malah memutuskan untuk menikah dan mengubur cita-citanya, lagi-lagi demi bayi! Bayi yang kini sudah dewasa dan sedang menanyakan keberadaan orangtua kandungnya," Herman merasa puas telah menceritakan semuanya. "Sebenarnya tidak ada salahnya kamu menanyakan tentang ini, tapi cara kamu itulah yang salah, kamu bisa bertanya baik-baik tanpa menyakiti perasaan mama kamu dan membuatnya khawatir seperti ini."


Ricky hanya diam tertunduk menyesali perbuatannya.


"O iya, saya lupa memberikan kiriman dari mama kamu," Herman meletakkannya di meja sofa.


Ricky melihat ke arah benda tersebut, itu adalah vitamin, dan mamanya akan memberikan vitamin tersebut jika ia mengalami hal yang sama seperti yang dia alami barusan. Ia sadar tidak bisa terlalu kelelahan, dan itu sudah bawaannya sejak kecil.


Sekarang om yang mau bertanya, siapa orangtua kamu?" Tanya Herman.


Ricky tidak menjawab, tanpa pikir panjang ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut.Yang ia pikirkan adalah ingin menemui mamanya dan meminta maaf. Ia terhenti ketika menyadari tidak mengantongi kunci motornya. Sebelum ia kembali Herman sudah berdiri di teras sambil menyerahkan kunci motornya. "Ini, berhati-hatilah," pesan Herman.


"Terimakasih," ucap Ricky, sebelum menaiki motornya ia berbalik. "Apa Om menyukai Mama?" Tanya nya.


Herman tersenyum. "Benar, tapi Mamamu hanya menganggap Om sebagai sahabatnya, tidak lebih."


"Bagaimana jika mama mempunyai perasaan yang sama?"


"Mamamu mencintai orang lain, dan sudah waktunya kamu membuatnya bahagia," balas Herman.


Ricky pun menyalakan motornya lalu meninggalkan halaman rumah Herman.


...-----***-----...


Tari memasuki toko sambil matanya menyapu seisi ruangan toko tersebut.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" Tanya Rina menyambut pelanggan dengan ramah.


"Saya mau membeli beberapa jenis kue yang ada disini, tapi sebelumnya saya ingin bertemu pemilik toko ini, apa benar namanya Raisa?"


"Oh iya benar, tapi mbak Raisa nya sedang keluar mungkin sebentar lagi datang, mbak bisa pilih jenis kuenya dulu biar saya siapkan."

__ADS_1


Setelah memilih beberapa jenis kue, Tari pun di persilahkan duduk di tempat yang memang sudah tersedia disana.


Beberapa saat Raisa kembali ke toko.


"Mbak, ada yang mau ketemu sama mbak," kata Rina memberitahukan.


"Siapa?"


"Gak tau. Mbak temui aja dulu barangkali mbak kenal.''


"Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Raisa dengan senyum ramah khas, nya.


Tari mengangkat wajahnya mendengar suara seseorang sedang menyapanya.


"Saya pemilik toko ini," sambil mengulurkan tangannya. "Raisa."


Tari menyambut uluran tangan Raisa. "Tari," jawabnya.


"Maaf jika menunggu lama."


Jika sebelumnya Tari sempat syok mendengar penjelasan Bara, maka kali ini pun ia sempat syok melihat wanita yang ada di hadapannya. Ia sempat berpikir kalau ia salah alamat, tapi ia tau itu tidak mungkin. Ia memperhatikan hingga tidak berkedip, bahkan ia merasa wanita yang ada di hadapannya tersebut jauh lebih muda darinya.


*Aku mengerti kenapa Bara sangat tergila-gila pada wanita ini.


Batin Tari.


"Baik, kami punya beberapa contoh desain kue, tapi jika anda menginginkan desain yang lain maka anda bisa mengirimkan nya lewat --- "


"Saya kesini ingin berbicara mengenai masalah yang lain," potong Tari.


"Maaf...?"


"Aku adalah kakak dari Bara."


"Oh, baik silahkan," Raisa terkejut, namun berusa tetap tenang.


"Aku tidak ingin bertele-tele jadi langsung aja, apa kamu mencintai Bara?"


Raisa tidak percaya akan mendapat pertanyaan seperti itu.


"Karena Bara sangat mencintai mu," timpal Tari sebelum Raisa sempat menjawab. "Jadi apa jawabanmu?" Tanya Tari lagi.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan seperti ini?"


"Harus, ini sangat penting bagi kelangsungan hidup saudara ku, jadi tolong jawab dengan jujur," Tari menatap dengan tegas.


Raisa diam sejenak, mendengar nama Bara saja bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat, padahal ia sedang berusaha melupakan nama itu.


"Jawabanku tidak."


"Baik, kini aku bisa menyimpulkan bahwa ternyata tidak ada gunanya Bara menyakiti dirinya sendiri demi wanita yang tidak mencintainya!" Tari beranjak dari duduknya. "Kalau begitu aku permisi, maaf telah membuang waktumu."


"Tunggu, bagaimana keadaan Bara?"


"Untuk apa kamu peduli, lagi pula kamu tidak mencintainya kan?" Tari berbalik memandang Raisa lalu melanjutkan langkahnya setelah sebelumnya membayar belanjaannya.


Aku tau kalian saling mencintai!


Batin Tari.


Yang satu tidak berani mengungkapkan meskipun sudah dewasa,


yang satunya lagi selalu bertindak bodoh meskipun lulusan luar negeri!!


Ckckck.


...👍...


...❤...


...🎁 Bila berkenan😚...

__ADS_1


__ADS_2