Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 46


__ADS_3

...***Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍...


...Terimakasih🤗***...


Sejak mengetahui Raisa sedang hamil, Bara lebih over protektif terhadap kegiatan Raisa sehari-hari. Ia juga lebih sering menghabiskan waktunya dengan bekerja dari rumah demi menemani Raisa yang sedikit lebih manja dari biasanya.


Raisa juga lebih mengurangi kegiatan nya demi menjaga janin yang ada di kandungan nya.


"Sayang..., kamu cariin aku mangga ya? Aku pengen banget," pinta Raisa.


"Iya, sebentar ya sayang.Aku selesaikan ini dulu," Bara masih fokus mengetik sesuatu di laptopnya.


Setelah beberapa saat ia mematikan laptop nya dan menghampiri Raisa yang


sedang rebahan di tempat tidur.


"Kamu mau apa lagi? Biar sekalian aku beliin?"


"Aku cuman mau mangga...."


"Ya sudah, aku beliin dulu yah? Gak ada yang lain?"


"Nggak. Dan mangganya bukan di beli, tapi yang langsung di petik dari pohon dan mangganya harus yang masih muda."


"Baik lah, aku akan usahin buat kamu dan calon baby kita."


Laluu Bara pun pergi untuk memenuhi keinginan istrinya itu.


Tujuannya adalah pergi ke rumah orangtuanya mengingat pohon mangga yang ada di taman belakang tersebut.


Tidak lama ia pun sampai di sana.


"Kamu sendiri aja? Raisa gak ikut?" Tanya Mala.


"Nggak ma, Bara kesini cuman mau metik mangga buat Raisa."


Mala tersenyum mendengar ucapan Bara. Namun lebih tepatnya senyuman Mala tersebut seperti sedang mengolok.


"Metik mangga darimana?"


Tanpa menjawab Bara langsung buru-buru pergi ke taman belakang rumahnya. Sesampai di sana ia menyapukan pandangannya ke setiap sudut taman tersebut namun ia tidak melihat pohon mangga yang ia maksud.


"Kamu nyari apa?" Tanya Mala yang telah mengikuti Bara ke taman belakang.


"Pohon mangga ma. Koq nggak ada?"


"Pohon mangga itu emang udah lama gak ada, kenapa kamu baru nyadarnya sekarang?" Mala menjawab seraya berbalik dan masuk ke dalam.


Bara mengekor dari belakang dengan pikiran yang mulai panik. Ia teringat Raisa yang sudah menunggu nya di rumah.


"Ma..., Raisa lagi pengen makan mangga muda. Bara harus cari kemana lagi?"


"Ya mana mama tau, kamu itu kan suaminya, ya tanggung jawab kamu buat memenuhi keinginan istri kamu."


"Tapi kan Raisa juga lagi mengandung cucu mama."


"Mama tau, tapi kamu itu kan seorang suami, jadi harus nya kamu yang lebih bertanggung jawab atas istri kamu."


"Ya sudah, Bara balik dulu."


Bara kembali pulang tanpa membawa mangga yang di inginkan Raisa.


"Sayang, kamu udah dapet buah mangga nya?" Tanya Raisa dengan wajah berseri penuh harap.

__ADS_1


"Nggak dapet...,pohon mangganya udah nggak ada."


"Yah...," wajah Raisa yang tadi tampak berseri kini menjadi murung. Tampak matanya mulai berkaca kaca.


Bara meraih tubuh Raisa ke dalam pelukannya. "Iya iya, aku bakal cariin kamu mangga mudanya.Kamu jangan sedih yah?"


Bara pun kembali berniat mencari buah mangga tersebut meski ia sendiri belum tau kemana ia akan mencarinya.


"Buru-buru banget! Kemana loe?" Tanya Ricky yang kebetulan sudah pulang dari kampus.


"Nyari mangga muda," jawab singkat Bara.


"Mangga muda? Loe yakin!?"


"Seratus persen yakin! Demi nyokap loe!" Sahut Bara seraya meneruskan langakahnya.


"Emang loe mau nyari kemana?"


"Gue juga belom tau, tapi gue harus tetep usaha.Takutnya adek loe ileran!"


"Kenapa gak tanya Adit aja!? Kan depan kostan dia ada pohon mangga tuh!?"


Bara menghentikan langkahnya lalu berbalik. "Bener juga, gue telepon dulu deh!" Bara mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Adit.


"Tumben loe neleponin gue? Biasanya kalo ada maunya aja!?"Sahut Adit langsung menyerang dengan pertanyaan yang cukup telak bagi Bara.


"Emang gue ada perlu, kalo nggak ngapain gue telepoin loe!? Gue masih normal"


"Buruan!"


"Pohon mangga yang di depan kostan loe apa kabarnya?"


"Pohon mangga!? I --- iya sehat, alhamdulillah. Tapi gue khawatir loe yang gak sehat nih!" Terdengar gelak tawa Adit.


"Gue serius! Bini gue pengen makan mangga muda, barangkali pohon mangga yang di depan kostan loe itu lagi berbuah."


"Eeh, ngaco ada batasnya juga! Gue nanya serius!"


"Sumpah! Gue gak boong, pemilik kostan sendiri yang ngomong! Awalnya gue juga gak percaya tapi akhirnya gue yakin saat ada anak kost sebelah yang bun**ng karena sering nongkrong di bawah pohon mangga ntu!" Jelas Adit.


"Ini gue yang o*n apa loe yang kelewat pinter boong sih. Emang ada pohon mangga yang bisa bikin bun**ng!?"


"Ya itu dugaan gue aja, selebihnya terserah loe mau mau percaya apa kagak."


"Ya loe tolongin gue dah, barangkali ada orang yang punya pohon mangga lagi berbuah!"


"Loe nyusahin tau gak! Bikin enak sendiri giliran bini ngidam nyusahin orang!"


"Eeh, loe gak w*r*s!? Ngapain juga gue bikin ngajakin loe!?"


"Iya iya, gue tolongin dah! Lama-lama loe kayak bapak-bapak cerewet!"Adit lalu mematikan ponselnya.


"Gimana?" Tanya Ricky.


"Pohon mangga nya nggak berbuah, tapi Adit bakal bantu buat nyariin."


"Apa sebaiknya kita susulin aja kesana," usul Ricky.


Dan akhirnya mereka pun pergi ke kostan Adit.


Sesampainya disana mereka berdua menemui Adit yang ternyata sedang nongkrong di bawah pohon mangga jantan tersebut.


"Gue barusan keliling, tapi gak nemu pohon mangga yang lagi berbuah.Kayaknya loe salah jadwal nih! Harusnya loe bikin pas pohon mangga juga pada kawin, jadi sama-sama dah tuh, sama-sama berbuah!"

__ADS_1


"Gue, kan cuman ngikutin kemauan nyokap gue biar cepet-cepet punya cucu."


"Cih! Tanpa nyokap loe minta pun loe bakal giat bikin, kan!?"


"Iya juga sih...."


"Gimana kalo kita keliling aja dulu, barangkali ketemu," usul Ricky.


Adit dan Bara pun menyetujui ide Ricky tersebut. Bara mengemudikan mobilnya perlahan sementara Ricky dan Adit membantu memperhatikan setiap sisi jalan dan pekarangan rumah warga yang telah di lewati. Mereka juga berkeliling di beberapa komplek perumahan namun belum menemukan pohon mangga yang berbuah.


Hingga mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan membeli minuman di pinggir jalan.


"Coba loe hubungin Dimas dulu deh, barangkali dia punya tetangga yang punya pohon mangga yang lagi berbuah," saran Adit setelah meminum setengah air dari dalam botolnya.


"Bener juga. Ya udah, gue telepon dulu."


Bara menghubungi Dimas. Setelah berbicara sebentar Bara mematikan ponselnya dan memasukannya kembali ke saku celananya.


Setelah beberapa saat Dimas pun datang ke tempat dimana para sahabatnya sudah menunggu.


"Gue udah nyatronin ke rumah para tetangga gue, tapi gak ada pohon mangga, adanya pohon kembang,"jelas Dimas."Kenapa harus dari pohon? Kenapa gak beli aja?"


Bara menoleh ke arah Ricky seakan meminta pendapat.


"Tapi kan beda yang baru di petik sama yang di jual, biasanya kalo orang lagi ngidam harus banget ngikutin yang dia pengen," sahut Adit.


"Cih! Kayak loe pernah ngidam aja," balas Dimas.


"Gue emang kagak pernah ngidam! Tapi sodara sepupu gue kan ada yang berkeluarga dan dia juga ngidam mangga muda."


"Loe bisa aja beli, tapi loe yakinin dulu nih anak tiri loe gak bakal ngadu ke nyokap nya," kekeh Dimas.


"Gue sih setuju-setuju aja, tapi masalahnya kalo nyokap sampe tau sebaiknya loe jangan bawa-bawa nama gue lagi deh! Gue gak bisa nolongin!" Jawab Ricky. "Gue udah kapok boong sama nyokap, gak pernah berhasil."


"Ya udah, mending kita cari lagi aja, gue gak mau kalo sampe nyokap loe tau, bisa-bisa gue yang puasa!" Tukas Bara.


Akhirnya mereka berpencar mencari keberadaan pohon mangga yang sedang berbuah.


Puas berkeliling akhirnya Adit melihat sebuah rumah yang memiliki pohon mangga yang sedang berbuah.


"Stop Dim! Udah ketemu pohon mangganya!" Ucap Adit setengah berteriak yang sontak membuat Dimas ngerem mendadak.


"Loe jangan ngagetin bisa gak!? Kalo kita nabrak gimana!?"


"Pohon mangganya udah ketemu!" Ucap Adit seraya menunjuk pohon mangga yang sedang berbuah.


Dimas segera mengikuti arah yang di tunjuk Adit. "Oiya, loe bener, ayo kita samperin yang punya pohon mangga," ucap Dimas seraya menepikan mobilnya.


Mereka berdua menghampiri rumah yang mereka yakini adalah rumah pemilik pohon mangga tersebut.


"Permisi...!" Dimas seraya mengetuk pintu rumah.


Berkali-kali mereka mengetuk secara bergantian namun tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam.


"Maaf, abang-abang ini siapa ya? Dan ada perlu apa?"


Dimas dan Adit sontak berbalik.


Seorang wanita cantik dengan penampilan sederhana dan sedang menenteng sebuah keranjang belanjaan di tangannya kini telah berdiri disana.


Sekian dulu, Author hampir koma 😴


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁Bila berkenan😚...


__ADS_2