
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍Terimakasih🤗...
Untuk beberapa hari ke depan Raisa harus berjauhan dengan Bara karena ada urusan di luar kota yang tidak bisa di wakilkan oleh siapa pun.
Untuk mengusir rasa kesepian nya akhirnya Raisa pergi ke Toko kuenya.
"Eh mbak Raisa, apa kabar?" Sambut Rina.
"Mbak baik.Gimana dengan kalian semua?"
"Alhamdulillah, kita semua baik-baik juga mbak." sahut para pegawainya dengan suka cita.
Raisa pun masuk ke ruangannya yang hampir dua bulan ini tidak ia kunjungi. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menatapi keadaan ruangannya tersebut.
Tiba-tiba ia kembali teringat awal mula di mana Bara pernah menemui nya untuk pertama kali dan ia sempat memarahi Bara waktu itu.
"Hm... dia ngapain yah? Aku telepon deh," Raisa mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya."Tapi jam segini dia pasti lagi sibuk.Nanti aja deh," Ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas nya.
Jika biasanya Bara yang selalu lebih dulu menanyakan kabar,tapi kini keadaan berbalik. Raisa pun jadi lebih manja dari biasanya.
"Mbak, di luar ada pelanggan yang mau ketemu sama mbak," ucap Nia memberitahukan.
Raisa tersadar dari lamunan nya. Ialu ia pun beranjak dan pergi menemui pelanggan yang di maksud.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Raisa dengan ramah kepada pelanggan yang sudah tidak asing itu.
"Selamat siang. Saya mau pesan kue yang seperti biasa."
"Baik, tunggu sebentar," Raisa pun menyanggupi.
Ia sudah paham kue yang di maksud pelanggannya tersebut. Meski terkadang ia juga merasa heran kenapa pelanggannya itu bisa membeli kue ulang tahun sampai dua atau tiga kali dalam sebulan.
Lama tidak merias kue membuat Raisa membutuhkan sedikit waktu lebih untuk menyelesaikan nya.
"Maaf agak lama.Silahkan di lihat dulu," ucap Raisa seraya memperlihatkan kue yang sudah selesai di hias.
"Sepeetinya mbak kurang fokus. Harusnya letak cherry nya gak seperti ini," sambil menunjuk letak cherry yang menurutnya tidak seperti biasanya.
"Oh, maaf!" Raisa buru-buru membenarkan letak tatanan cherry tersebut.
"Yang bener aja, ini kan cuma letak cherry!
Dan, kenapa juga aku bisa sampai lupa!"
"Oiya, sepertinya kita belum berkenalan."
"Panggil Raisa saja."
"Saya udah tau nama mbak. Tapi mbak belum tau nama saya, kan?" Seraya mengulurkan tangannya. "Saya Raihan".
Raisa pun menyambut uluran tangan dari pelanggan nya yang kini baru ia ketahui namanya.
"Kayaknya saya bakal sakit nih kalo lama-lama mandangin mbak."
"Maaf, maksudnya?"
"Saya bakal terkena diabetes kalo terus-terusan liat senyum mbak. Abisnya manis banget."
Raisa mendelik kaget. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan pelanggan nya yang bernama Raihan itu.
"Mbak sadar gak kalo nama kita memiliki kemiripan?"
Raisa mengangkat kedua alisnya menatap ke arah Raihan.
"Mbak namanya Raisa, sementara saya Raihan. Kita punya tiga huruf depan yang sama loh mbak.Apa mungkin kita jodoh?"
"Saya udah punya suami!" Raisa mengalihkan pandangannya sambil buru-buru membereskan pesanan Raihan.
"Saya udah tau. Suami mbak yang cemburuan itu kan?"
"Dia suami saya."
"Mbak agak gemukan."
__ADS_1
Raisa menarik nafas kasar lalu menghempaskna nya. "Saya lagi hamil!" Ucapnya.
"Oo, selamat kalo gitu. Kalo anaknya cewek pasti bakal semanis mbak, dan kalo cowok pasti setampan saya."
"Maaf! Apa kita punya masalah!? Dari tadi kamu ngawur!" Raisa menatap kesal.
"Kita nggak ada masalah mbak, tapi kayaknya mbak yang lagi ada masalah.Saya perhatiin mbak dari tadi cemberut, dan sebetulnya saya cuma mau menghibur saja."
"Terimakasih, tapi lain kali jangan!"
"Kecuali mbak yang minta," Raihan memasang senyum imut di wajahnya.
"Raihan...."
"Eh, mbak bisa langsung ingat nama saya. Terimakasih mbak, jarang-jarang ada yang bisa langsung ingat nama saya. Bahkan mantan saya sendiri pun gak mau nyebut nama saya lho mbak."
"Ini, tolong bawa pergi dan cepat selesaikan semuanya," Raisa menyodorkan kue yang sudah di selesai di kemas.
"Bumil gak boleh marah-marah mbak, gak baik."
"Saya gak marah, tapi kamu yang dari tadi mancing emosi saya."
"Saya cuma menghibur mbak, tapi maaf kalo ternyata saya malah membuat mbak tidak nyaman dengan candaan saya. Dan tolong jangan benci saya." ucap Raihan memohon maaf.
"Iya. sudah saya maafkan. Terimakasih karena kamu sudah berniat menghibur. Saya tidak benci samasekali."
"Syukur lah, karena saya khawatir kalo sampai mbak benci, bisa-bisa anaknya mirip saya.Dan saya gak tau harus gimana ngejelasinnya nanti sama suami mbak. Karena jujur saja, saya masih perjaka." ucap Raihan seraya mengangkat dua jarinya.
Kali ini Raisa benar-benar terhibur dengan candaan Raihan,dan ia bisa tersenyum lebar.
"Waduh! Kayak nya setelah dari sini saya harus benar-benar periksa kadar gula nih."
Raisa kembali melotot menatap ke arah Raihan yang berjalan menuju pintu.
"Jangan sering-sering melotot, gak baik buat bumil," Ucap Raihan sebelum benar-benar keluar dari sana.
Benar saja, ia merasa terhibur dengan candaan pelanggan nya itu.
Tanpa terasa waktu pun berlalu hingga tiba jam istirahat makan siang. Raisa buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bara.
Lagi-lagi Adit mengumpat saat ia harus berhenti di lampu merah. Cuaca yang cukup terik membutnya semakin merasa gerah dan keringat pun mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang cukup di kenal nya sedang berdiri di tepi jalan.
"Wah si cewek tengil tuh! Kayaknya motornya lagi mogok.Samperin gak ya?"
Adit menimbang-nimbang antara ingin membantu atau mengabaikan.
Ada pertarungan sengit antara pikiran dan hatinya.
"Sebagai manusia yang baik dan peduli terhadap sesama, gue akan samperin." ucapnya memutuskan.
Lampu hijau pun menyala. Adit melajukan motornya menuju tempat Nia yang berdiri kebingungan di dekat motornya.
"Motor loe kenapa?" Tanya Adit dengan sedikit menekan rasa gengsi nya.
"Gue juga gak tau, tiba-tiba aja mogok," jawab Nia seraya menyeka keringat di pelipisnya.
Adit berusaha membantu dengan mengecek beberapa bagian motor.
Setelah berupaya menyalakan motor tersebut Adit akhirnya harus menyerah juga.
"Kayaknya loe harus bawa motor loe rumah sakit nih!"
"Apa! Rumah sakit!? Kenapa gak di bawa ke bengkel aja!?"
"Nah tuh pinter!"
"Terus kenapa tadi loe suruh bawa ke rumah sakit!?"
"Gue cuman ngetes kecerdasan loe aja!"
"Apa! Loe becanda!?"
__ADS_1
"Nyadar juga loe akhirnya.Muka loe kusut banget dari tadi, senyum dikit napa!?"
Nia bersemu semu mendengar ucapan Adit barusan. Ini pertama kalinya Adit melontarkan kata-kata positif untuknya.
"Apa dia pengen gue senyum!? Gue gak salah dengerkan?"
"Buruan. Gak jauh dari sini ada bengkel!"
Mm... e --- iya."
"Udah, biar gue aja yang dorong, loe bawa motor gue," titah Adit.
"Tapi --- "
"Gue gak bisa selalu bersikap baik.Buruan!"
Nia akhirnya manut saja sebelum ia kembali melihat sisi lain dari Adit.
Beberapa saat mendorong motor akhirnya sampai juga di bengkel.Meski tidak terlalu jauh, namun cuaca yang cukup terik pada hari itu membuat Adit bermandikan keringat.
"Mimpi apa gue semalem, sampe gue mau dorongin motor si cewek tengil ini!"
"Ini minum dulu."
Adit mengambil botol air mineral yang di berikan Nia lalu menenggak setengah dari isi botol tersebut.
"Gak usah di liatin, gue emang ganteng," ucap Adit yang telah menangkap basah Nia yang sedang memandanginya.
"Iya,gue tau loe ganteng," puji Nia seraya tersenyum.
"Apa! Dia ngakuin kalo gue ganteng!? Kesambet setan apaan nih cewek!?"
Lagi-lagi Adit harus mengantarkan Nia pulang karena bengkel tersebut sedang sibuk untuk melayani para pelanggan yang sudah datang lebih dulu. Salah satu pekerja di bengkel itu mengatakan kalau motornya akan siap di jemput besok.
"Terimakasih udah mau nolongin dan ngantarin gue pulang," ucap Nia setelah turun dari motor Adit.
"Iya, gue terpaksa," ucap Adit tanpa menoleh.
Nia malah tersenyum. Entah kenapa ia merasa kalau Adit sebenarnya adalah sosok yang sangat peduli, hanya saja ia berusaha untuk terlihat acuh.
"Ada yang lupa gak!?"
Nia membalikkan badannya. "Maaf,aku pikir gratis," ucap Nia mengira Adit meminta bayaran darinya.
"Emang siapa yang minta bayaran? Loe juga gak bakal sanggup buat bayar gue mulai dari dorongin motor sampe nganterin loe pulang!"
"Terus apa?"
"Helm nya di copot dulu neng..., itu helm gue beli, kagak gratis!"
"Oh maaf!" Nia buru-buru melepaskan helm yang tadi ia gunakan lalu memberikannya ke Adit.
"Kalo abang-abang ojek nemu pelanggan kayak loe gini, mereka semua bakal bangkrut berjamaah! Apaan helm pake di bawa pulang!"
"Ya maaf, gue lupa."
"Apa, loe lupa? Sama mantan lupa gak!?"
"Gue lupa beneran..., tapi kalo mantan ---"
"Udah berapa lama loe putus dari mantan loe!?"
"Udah lama sih! Kenapa malah bahas mantan!?"
"Mantan loe yang udah lama aja loe masih inget! Ini helm baru beberapa menit loe pake bisa-bisanya loe lupa ngembaliin!"
"Ini hanya masalah helm! Kenapa malah jadi meleber gini!?"
Jawaban nya adalah...
karena Author lagi pengen aja memperpanjang dialog antara Adit dan Nia😅🤣
...- 👍...
__ADS_1
...- ❤...
...- 🎁 Bagi yang berkenan😚...