Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 34


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Ricky menghampiri Raisa untuk berpamitan. "Ma, Ricky langsung berangkat aja."


"Kamu gak sarapan dulu? Kamu kan baru sembuh dari sakit."


"Ricky sarapan di kantin aja."


"Ya sudah kamu hati-hati bawa motornya," pesan Raisa.


Sebelum pergi, Ricky sempat melirik ke arah Bara yang terlihat duduk diam, antara jengkel dan salah tingkah.


"Jangan jajan sembarangan loe, entar kalo sakit ribet urusannya!" Ucap Bara.


Setelah memastikan Ricky sudah benar-benar pergi, Bara kembali menghampiri Raisa.


"Udah main-mainnya, entar yang ada malah kamu gak bakal pergi ke kantor!" Ucap Raisa mendahului.


"Emang kenapa kalo aku gak pergi ke kantor? Gak ada yang berani marah koq, lagian apa salahnya kalo aku libur sehari aja buat nemenin kamu?"


"Sebentar lagi aku juga siap-siap pergi ke toko," ujar Raisa seraya menahan tangan Bara yang mulai menggerayanginya.


"Kita libur aja yah? Hari ini kita fokus bikin adek buat Ricky," terus meraba tubuh Raisa dengan sentuhan mautnya.


Sentuhan maut berhasil, tanpa pikir panjang Bara segera membopong Raisa masuk ke kamar.


Untung Author lagi melek, jadi adegannya bisa Author sensor 🤭


...-----***-----...


Pagi ini Raisa menghubungi Nia agar menjemputnya, sementara Bara sudah pergi duluan karena ada rapat penting di perusahaan nya.


"Kamu nggak masuk kuliah?" Tanya Raisa yang melihat Ricky masih duduk di teras sambil mengutak-atik ponselnya.


"Ricky lagi nunggu Adit buat jemput."


"Emang motor kamu kenapa?"


"Bannya kempes, mau di bawa ke bengkel takut kesiangan, jadi Ricky minta jemput dulu sama Adit."


"Ya sudah, mama mandi dulu.Nanti kalo Nia udah dateng, kamu suruh tunggu aja sebentar," pesan Raisa.


Beberapa saat Nia pun datang dan menghentikan motornya di tepi halaman rumah tempat biasa ia menunggu Raisa. Tiba-tiba saja ada yang menabrak bagian belakang motornya.


Nia kaget bukan main, dan hampir terjatuh karena hilang keseimbangan.


"Eh! Liat-liat dong kalo nyetir, lecet nih motor gue!" Teriak Nia seraya turun dan memeriksa bagian belakang motornya.


"Eh, mbak, neng, tante, situ yang ngerem mendadak! Kenapa jadi nyalahin saya!" Sahut Adit.


Nia semakin bertambah kesal tatkala mengenali siapa yang menabrak motornya barusan. "Eh, loe juga kan yang nabrak gue di depan toko waktu itu!?"


"Oh, loe lagi!?" Balas Adit nyengir tanpa Dosa. "Baguslah kalo loe masih inget, orang ganteng kayak gue emang susah di lupain."


"Cih! Kepedean banget loe!" Nia menyibakkan sudut bibirnya seraya memutar bola matanya.


"Buktinya loe masih inget gue!"

__ADS_1


"Eh, denger ya, gue akan selalu ingat sama orang yang berbuat salah sama gue! Ngerti loe!?"


"Terserah loe!"


"Loe emang bener-bener ya! Udah salah tapi masih nyolot!"


"Loe yang mulai!"


"Ini ada apa yah, koq pada ribut?" Tanya Raisa menghampiri keduanya.


"Ini nie mbak, nabrak motor saya bukannya minta maaf malah nyolot!" Cerca Nia.


"Eh, kan loe yang ngerem mendadak!" Adit masih membela diri.


"Gue ngerem karena emang udah nyampe! Loe nya aja yang ugal-ugalan!"


"Kali ini gue yakin banget nie, loe abis makan kodok kan!? Ucap Adit.


"Udah udah, koq kalian jadi seperti anak kecil gini sih?" Ucap Raisa menengahi. "Kalian gak pa-pa kan? Gak ada yang terluka?"


Sementara Ricky hanya menyimak dari tadi.


"Ya jelas dia baik-baik aja lah mbak, kan dia yang nabrak!" Sambung Nia seraya memasang helmnya.


"Eh loe tengil banget!"


"Emang iya! Terus loe mau apa!?" Sahut Nia tidak mau kalah.


"Udah! Kalian gak malu bertengkar kayak anak kecil!?" Ujar Raisa berupaya menyudahi perdebatan keduanya.


Nia pun menjalankan motornya dengan membonceng Raisa menuju toko.


"Abisnya tuh cewek ngeselin! Tengil banget!"


"Sama tengilnya kayak loe. Buruan, udah telat nie!"


...-----***-----...


Nina mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan Bara. Seperti biasa ia membawa kan secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja.


"Tunggu," ucap Bara.


Nina pun berhenti dan berbalik. "Iya pak, ada apa?"


"Bawa kembali kopi itu, mulai sekarang kamu tidak perlu membuatkan kopi untukku," perintah Bara.


"Baik, lain kali akan saya suruh OB saja yang membuatkan," seraya mengambil kembali cangkir kopi tersebut.


"Bukan itu maksudku, tapi mulai hari ini aku sudah berhenti minum kopi."


"Kenapa?" Nina spontan bertanya.


"Turuti saja! Sebaiknya kamu saja yang minum kopi itu. Sepertinya kamu lah yang lebih membutuhkan," sahut Bara sambil melirik sekilas.


"Baik," Nina pun berlalu.


Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Bara langsung pulang ke rumah, ia benar-benar mengingat hari kesepakatannya dengan Adit.

__ADS_1


"Sayaang...,apa pekerjaan kamu udah selesai?" Tanya Raisa yang melihat Bara datang lebih cepat ke toko sore itu.


"Aku sengaja pulang lebih awal, biar cepat ketemu kamu," jawab Bara seraya mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Tapi aku belum bisa pulang, mungkin sebentar lagi," ujar Raisa yang masih tengah merias kue.


"Iya aku tau, nungguin kamu selama bertahun-tahun aja aku masih bisa sabar," keluar lah rayuan maut dari Bara😁


"Mbak, pelanggan yang pesan kue ulang tahun kemarin sudah datang dan menanyakan pesanan nya," ucap Nia dari balik pintu.


"Sebentar lagi selesai, suruh saja menunggu dulu,'' sahut Raisa dari dalam.


Setelah memastikan hasil pekerjaan nya, Raisa mengemas kue tersebut lalu melangkah ke arah pintu. "Sayang, tolong buakin pintunya, aku gak bisa," karena kedua tangannya tengah memegang kotak berisi kue.


"Kamu gak minta di bukain yang lainnya?" Goda Bara usai membukakan pintu.


Raisa mendelik menatap Bara. "Kita lagi di toko, gimana kalo ada yang denger?"


"Yaudah, kita pulang ke rumah aja," ujar Bara sambil mengiringi langkah Raisa.


Raisa membuka penutup kue dan memperlihatkan kue itu pada pelanggan nya. "Bagaimana, apa sudah sesuai?" Tanya Raisa memastikan.


"Ini bahkan jauh lebih baik, terimakasih sepertinya saya harus berlangganan disini," ucap pelanggan yang ternyata adalah seorang pria muda berpenampilan santai tersebut.


Bara mengawasi gerak-gerik pria itu dengan tatapan tidak suka, apalagi ketika pria itu juga sempat melirik ke arah Raisa dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Mas, lain kali matanya di jaga, jangan ngeliatin istri orang!" Akhirnya kata kata yang ia tahan meluncur dari mulutnya.


"Maaf, maksudnya situ nyuruh saya merem? Ini mata saya, ya suka-suka saya. Lagian kayaknya saya lebih muda dari situ, harusnya situ yang saya panggil Mas!" Sahut pria tersebut seraya berlalu pergi meninggalkan toko.


"Sayaang! Kamu tuh apa-apaan sih!? Kamu bisa bikin pelanggan kabur tau gak!?"


"Ayo pulang!" Ajak Bara sembari memegangi tangan Raisa.


"Aku ambil tas ku dulu!"


Setelah mengambil tasnya Raisa pun menuruti kemauan Bara untuk pulang ke rumah.


"Sayang...maaf, aku cuma gak rela aja cowok itu ngeliatin kamu!" Ucap Bara yang mulai gelisah tatkala Raisa tidak berbicara sepatah kata pun sejak pulang dari toko.


"Kalo aku yang gak rela kamu di liatin sama cewek lain gimana? Apa kamu mau mecatin semua karyawan cewek di perusahaan kamu!?" Sahut Raisa.


"Iya iya, aku yang salah, aku minta maaf," Bara berusaha mengalah mengingat rencananya nanti malam.


"Mulai besok kamu gak usah jemput aku lagi! Aku bisa pulang sendiri!"


"Sayaang... jangan gini dong, aku kan udah minta maaf."


Raisa tidak mempedulikan Bara yang terus mengikuti langkah nya demi mendapatkan maaf.


"Sayang, tangan kamu kenapa!?" Tanya Bara saat melihat pergelangan Raisa yang memerah. Warna kulit Raisa yang putih membuat warna merah tersebut menjadi sangat kontras.


"Kenapa kamu peduli!? Raisa menarik tangannya lalu buru-buru masuk ke kamar mandi. Ia bersandar di pintu kamar mandi tersebut sembari memandangi pergelangan tangan nya yang terlihat memerah akibat cekalan dari tangan Bara.


Ia tau Bara cemburu, tapi tidak pernah menyangka kalau bara akan menyakiti nya seperti ini.


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁Bila berkenan😚...


__ADS_2