
Ricky setengah berlari sambil keluar masuk kamarnya tampak mencari sesuatu. "Ma..., mama liat kunci motor Ricky gak? O iya, mama kan udah pergi!" Sambil berbicara sendiri mengingat mamanya sudah pergi setengah jam yang lalu. "Gue pake kunci cadangan aja dah," lalu ia pergi kekamarnya dan memeriksa setiap laci.
"Perasaan gue simpen di sini deh, apa mama yang nyimpen?"
Ricky sangat berhati-hati saat memeriksa, setiap barang yang ia pegang ia letakkan seperti semula, karena mamanya tidak suka jika ada sedikit saja barang-barang yang bergeser dari tempatnya. Semua sudah ia periksa kecuali laci dari meja rias mamanya.
Ia membuka laci tersebut meski tak yakin kunci motor cadangannya ada disana. Ia membuka satu persatu laci tersebut. "Ketemu," ucapnya saat melihat barang yang ia cari dari tadi. Karena terburu-buru ia menjatuhkan beberapa barang. Ia memunguti beberapa barang yang tercecer, matanya tertuju pada sebuah buku nikah, ia tidak pernah melihat benda itu sebelumnya jadi ia penasaran untuk membukanya. Tidak ada yang aneh dengan buku nikah itu, ia tau kalau itu milik mama dan papanya.
Raisa terkejut melihat Ricky tiba-tiba sudah ada di ruangan nya. "Ricky,, tumben kamu kesini, ada apa?"
Ricky tidak menjawab, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya.
"Ricky nemuin ini."
Keringat dingin mengucur tatkala Raisa melihat barang-barang itu berada di tangan Ricky.
"Ricky..., kamu... ?" Tenggorokan nya seakan tercekat.
"Kenapa mama nyembunyiin hal sebesar ini dari Ricky!?"
"Ricky..., mama bisa jelasin --- "
"Ricky kecewa sama mama!" Setelah melayangkan barang tersebut ke atas meja ia keluar dan pergi dengan motor nya.
Adit terlihat sudah rapi menunggu di bawah pohon mangga depan kostan, tempat favorit nya jika sedang menunggu seseorang.
"Dateng juga loe," ucapnya ketika melihat kedatangan Ricky. "Muka loe kenapa? berem banget.
"Kita masuk dulu, entar gue jelasin."
Adit tidak membantah, ia hanya mengikuti saja apa yang di ucapkan Ricky. Jika memilih, ia lebih berani berdebat dengan Bara ketimbang dengan Ricky. Meskipun Ricky terlihat polos tapi ia jauh lebih menakutkan saat sedang marah.
Adit duduk di sebelah Ricky yang tampak diam tanpa sepatah kata pun. "Loe kenapa sih, dari tadi diem aja? Kalo loe gak ngomong mana gue tau masala loe apaan, gue mana bisa baca pikiran loe."
"Gue ternyata bukan anak kandung dari bokap sama nyokap gue."
"Whattt...!? Loe gak lagi becanda kan!?"
"Ngapain gue becanda pake bawa-bawa nama orangtua segala!?"
"I.. iya...sorry, gue kaget aja. Emang loe tau dari mana kalo loe bukan anak kandung mereka?"
"Gue kayak nemu buku pernikahan gitu di laci nyokap gue, dan tahun pernikahannya dua tahun di atas tahun kelahiran gue."
"Koq bisa!? Apa jangan-jangan nyokap loe...,eh...,tapi gak mungkin juga, bokap loe kan...," Adit hampir keceplosan.
"Gue bisa terima kalo emang gue bukan anak kandung, tapi gue gak ngerti kenapa mereka dengan sengaja menutupinya?"
"Tapi yang gue liat perlakuan mereka gak berbeda samasekali, apa lagi nyokap loe kayak ngejagain loe banget!"
Meskipun ucapan Adit ada benarnya, tapi hatinya masih tidak bisa menerima.
Selama ini Raisa lah yang mengurus semuanya, dari sekolah hingga kuliah, Ricky hanya tau beres saja tanpa harus mengurus ***** bengek persyaratan masuk. Ricky mulai mengerti kenapa selama ini mamanya tidak pernah mau merayakan ulang tahun atau anniversary saat papanya masih ada.
__ADS_1
Pantesan aja nyokap Ricky masih keliatan muda banget, cantiknya aja kebangetan kayak gak masuk akal. Wajar aja Bara klepek-klepek!
Adit terus saja membatin.
"Rick, kalo loe bukan anak kandung terus kenapa loe ada kemiripan sama nyokap loe? Tanya Adit. "Itu menurut gue shii...."
"Mana gue tau, gue gak kepikiran kesitu, dan... kenapa semua masalah bisa beruntun kayak gini,," Ricky terlihat sangat frustasi.
"Hahh, emang loe punya masalah apa lagi? Udah kayak film aja hidup loe."
"Bara nyatain CINTA sama nyokap gue dan di hadapan gue sendiri!"
"Apaa...!!? Berarti loe udah tau!?" Adit terlonjak.
"Maksud loe!? Jadi loe sebenernya udah tau juga? Bisa-bisanya loe nyembunyiin hal ini juga dari gue! Gue kecewa sama loe!"
"Bukan begitu, gue juga bingung harus ngomong apa ke loe! Rick..., Ricky!" Adit mencoba ingin menjelaskan namun Ricky sudah lebih dulu meninggalkan ruang kost nya.
Dimas menatap heran di depan pintu saat melihat Adit yang berteriak memanggil Ricky yang tampak sedang marah.
Ricky menyalakan motornya lalu pergi dari sana tanpa mempedulikan Adit yang berteriak memanggilnya.
"Ada apaan sebenernya, Ricky kayak lagi marah gitu? Apa jangan-jangan loe maksa Ricky buat pacaran yah?" Tanya Dimas.
"Apaan shi loe! Adit masuk kedalam yang di ikuti oleh Dimas. "Loe tumben kesini, ada apaan?" Tanya Adit dengan wajah kusutnya.
"Eh loe jangan pura-pura lupa, kalian kan yang ngajak gue weekend bareng? Gue udah satu jam lebih nungguin kayak kambing congek, gak taunya kalian maen ngambek-ngambekan di sini!"
"O iya gue lupa, sorry."
Mau tidak mau Adit bercerita mengenai masalah Ricky yang menemukan bukti bahwa ia bukan anak kandung dari orang tuanya.
"Terus masalah nya apaan, kenapa jadi kalian yang berantem?"
"Anggap aja masalah ini bonusnya, masalah intinya adalah Bara JATUH CINTA sama nyokap Ricky."
"Apaa!?"
Praak!
Tanpa sadar ponsel Dimas terjatuh dari genggaman seiring dengan keterkejutan nya. "Tanggung jawab loe, karena udah bikin HP gue kaget," ucap Dimas seraya memungut HP nya yang terlihat retak di bagian layar.
"Pusing gue!" Adit mengacak acak rambutnya.
"Kenapa jadi loe yang pusing?"
"Karena selama ini gue udah tau kalo Bara lagi ngejar-ngejar tante Raisa, dan gue juga yang udah nolongin Bara buat melancarkan aksi pendekatan nya."
"Ahaha..., jadi karena itu Ricky marah sama loe!?" Dimas terkekeh.
"Ricky gak tau kalo gue ikut dalam misi Bara, bahkan gue otaknya. Tapi jangan sampe dia tau, bisa-bisa dia tambah marah sama gue!"
"Makanya gue gak berani sering-sering ke rumah Ricky, godaan nya besar bro..., takutnya gue gak nahan, akhirnya kejadian juga sama Bara," ungkap Dimas.
__ADS_1
"Dan parahnya lagi, si Bara naksir nyokap nya Ricky tuh udah lama, dari kalian masih SMA!"
"Serius!? Lama juga ya? Pantesan aja Bara rajin bener ke rumah Ricky pake alesan ngajarin maen game segala!"
...-----***-----...
Raisa terduduk lemas membayangkan bagaimana nanti Ricky tidak akan menganggap nya lagi sebagai ibu. Mungkin ia tidak akan mendengar lagi Ricky menyebutnya dengan panggilan mama. Air mata membanjiri pipinya.
Ricky terus mengendarai motornya tanpa ada tujuan kemana ia akan pergi. Namun ia segera menepikan motornya ketika merasa kepalanya tiba-tiba pusing dan penglihatan nya mulai memudar.
Entah berapa lama ia pingsan, saat terbangun ia sudah berada di sebuah kamar yang tampak asing baginya.
Ia mengingat bagaimana ia bisa berada di tempat itu. "Siapa yang nolongin gue?" Gumamnya. Tidak lama ada seseorang yang masuk ke kamar itu,orang yang sangat ia kenal.
"Gimana keadaan kamu?"
"Bagaimana saya bisa ada di sini?" Tanya Ricky sambil memegangi kepala nya yang masih terasa sedikit pusing.
"Om yang bawa kamu kemari. Kebetulan om lewat di jalan itu, dan melihat kamu.Om juga udah hubungi mama kamu."
Ricky kembali merasakan sakit di hatinya ketika mengingat kenyataan bahwa dia bukan anak kandung ibu nya. "Apa om tau kalau ternyata Ricky bukan anak kandung? Tanya nya pada Herman.
Herman hanya menjawabnya dengan senyuman. "Om akan cerita, tapi kamu makan dulu, ayo," Ajak Herman menuju ruang makannya. Ricky tidak menolak samasekali yang ia pikirkan adalah ingin segera mengetahui identitas nya.
"Om cuma sendirian di rumah ini?" Tanya Ricky yang tidak melihat siapa pun dari tadi selain mereka berdua.
"Iya."
"Jadi ini semua Om yang masak?"
"Bukan, om hanya membayar orang untuk melakukan nya, termasuk bersih-bersih."
"Kenapa om gak nikah aja?" Tanya Ricky di sela-sela suapan nya.
"Ehmm...," Herman mengambil gelas berisi air putih lalu meminumnya.
"Maaf, kalo pertanyaan Ricky --- "
"Nggak, Om gak keberatan koq, Om hanya sedang menunggu seseorang yang tepat," jawab Herman sambil melanjutkan makannya.
Setelah usai makan Herman mengajak Ricky untuk bersantai di ruang tengah. Terlihat raut tidak sabar dari wajah Ricky. "Om tadi udah janji untuk bercerita."
"Baik apa yang ingin kamu ketahui?" Tanya Herman kembali.
"Om sudah lama mengenal keluarga kami, tolong ceritakan tentang siapa Ricky, dan siapa orangtua kandung Ricky, Om pasti tau kan?" Tanya Ricky tidak sabar.
"Setau saya orangtua kandung kamu adalah orang yang mengurus kamu saat ini."
"Aku pikir Om bisa membantu, ternyata om sama aja!" Ricky pun ingin beranjak karena merasa orang yang di harapkan untuk mengetahui kebenaran tersebut tidak mau memberikan informasi.
"Tunggu, saya belum selesai bicara. Duduklah," ucap Herman. "Saya hanya berusaha menjawab pertanyaan kamu, karena menurut saya memang seperti itu.Tapi saya akan menceritakan semuanya."
...👍...
__ADS_1
...❤...
...🎁 Bila berkenan😚...