
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Senyum selalu menghiasi wajah Bara semenjak cinta nya terbalaskan.
Bara tampak berlari-lari kecil menuruni anak tangga sambil terus memasang senyum di wajahnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Mala sambil memperhatikan penampilan putra nya.
"Biasa lah ma, ke tempat Ricky," jawab Bara.
"Oo...,kamu emang ke tempat Ricky, tapi tujuan kamu kayaknya nggak lagi pengen ketemu Ricky deh."
"Tuh mama udah tau, yaudah Bara pergi dulu."
"Jangan lama-lama! Kalian itu belum menikah, gak baik kalo sering ketemu!" Pesan Mala.
"Makanya mama harus cepat pulih biar bisa nikahin Raisa sama Bara!" Sahut Bara sambil terus melangkah keluar.
"Kamu tuh ya di bilangin orangtua!"
Dasar bocah g*la ja*da!"
Beberapa saat mengendarai mobilnya Bara sudah sampai di rumah Ricky alias rumah Raisa.
Bara menekan bel pintu dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Cih! Baru juga gue kasi lampu hijau, udah rajin aja loe," sambut Ricky yang membukakan pintu.
"Eh, loe ngomong baek-baek sama orangtua, entar loe kualat!" Balas Bara yang mengikuti langkah Ricky masuk ke dalam rumah dan ikut duduk di sofa ruang tamu meskipun Ricky belum mempersilahkan.
"Loe gak kepengen duduk di teras aja? Biasanya kan loe paling seneng duduk di sana."
"Eh, gue ini calon bokap loe, bukannya di ambilin minum malah di tawarin duduk di luar!"
"Yakin banget loe? Emang loe bener-bener mau jadi suami nyokap gue?"
"Loe gak percaya banget! Kalo aja nyokap gue gak lagi dalam masa pemulihan, gue udah nikahin nyokap loe! Udah buruan ambilin minum," jawab Bara sekaligus memerintah.
"Lain kali kalo loe kesini bawa minum dari rumah aja, nyusahin tau gak!?"
Tiba-tiba Raisa datang di tengah keributan keduanya. Bara berdiri dari duduknya saat melihat Raisa ada di hadapannya, perasaannya masih sama, seakan melihat bidadari. Sementara tingkah Bara tak luput dari pengawasan Ricky.
"Kamu kenapa berdiri? Duduk aja," ucap Raisa. "Kamu mau minum apa, Biar aku ambilkan?"
"Hausku hilang saat melihatmu," jawab Bara.
Raisa melotot tidak percaya Bara mengatakan itu di depan Ricky.
"Loe masih duduk di situ aja? Mending loe yang ambilin minum sana," perintah Bara pada Ricky.
"Ya nungguin nyokap gue lah disini, loe aja yang ambil minum sendiri," Sahut Ricky.
"Ini obrolan orang dewasa, anak-anak nggak boleh denger," ucap Bara.
Mendengar perdebatan keduanya akhirnya Raisa lah yang pergi ke dapur dan mengambil kan minum untuk Bara.
"Mm..., sebetulnya aku mau ngajak kamu keluar malam ini," ujar Bara setelah meletakkan gelas minumnya.
Raisa menoleh ke Ricky, sementara Ricky membuang pandangan nya sambil menarik sudut bibirnya.
"Gue tau, loe mau ikut juga kan?" Ucap Bara.
__ADS_1
"Ya nggak lah!" Jawab Ricky.
"Bara..., sebaiknya jangan, gak enak kalo sampai di liat orang, dan aku minta kamu jangan sering-sering kesini, gak baik," ujar Raisa.
Ricky tersenyum menang mendengar penuturan mamanya. Sementara Bara menatap jengkel ke arah Ricky. Untungnya HP Ricky berbunyi lalu ia pun menjauh dari sana untuk menjawab panggilan.
Siapa pun penelepon tersebut, Bara sangat berterimakasih di dalam hatinya. Tanpa membuang waktu ia pun mendekatkan jarak duduknya dengan Raisa.
"Kita keluar sebentar yah?" Bujuknya pada Raisa.
"Nggak, aku gak enak di liat tetangga," tolak Raisa.
"Tapi dulu kamu bisa pergi sama orang yang bernama Herman itu!" Ucap Bara dengan ekspresi cemburu.
Raisa pun akhirnya mengalah. "Baik, bentar yah aku ganti baju dulu," ujarnya lalu pergi ke kamarnya.
Beberapa saat Raisa sudah keluar dengan balutan dressnya. Raisa terbilang wanita yang sangat feminin serta lemah lembut, dan itulah yang membuat Bara selalu mengagumi sosok Raisa.
"Ricky..., mama keluar dulu yah? Pesan Raisa.
"Loe baek-baek di rumah," ucap Bara menepuk bahu Ricky.
"Apaan shi loe!" Ricky menjauh dengan berjalan menuju bangku teras dan duduk disana sambil memainkan ponselnya.
Bara pun mengemudikan mobilnya dengan membawa pujaan hatinya di sampingnya.
"Woyy!" Tiba-tiba Adit mengagetkan Ricky dari belakang.
"Loe kebiasaan!" Ucap Ricky dengan wajah jengkel.
"Kan loe emang udah tau kebisaan gue, hehe...," kemudian Adit mengambil tempat duduk berhadapan dengan Ricky. "Muka loe gitu banget, bukannya loe harusnya seneng, kan bentar lagi loe bakal punya bokap tiri tajir?" Ledek Adit.
"Gue juga ngelakuinnya demi nyokap gue," sahut Ricky malas.
"Gue juga gak tau, tapi Bara bilang nunggu nyokapnya pulih dulu dari sakitnya."
"Bara ngomong gitu? Kapan?"
"Barusan."
"Hahh! Jadi Bara ada disini!?"
"Tadinya, tapi sekarang dia udah pergi sama nyokap gue."
"Busheet! Tuh orang ngegas banget!" Ucap Adit. "Gue pikir loe bakal enak di ajak keluar kalo udah ada yang jagain nyokap loe, ehh..., malah loe yang di suruh jaga rumah," kekeh Adit.
Setelah mengajak Raisa makan malam di sebuah restoran Bara pun mengantar Raisa pulang meskipun sebenarnya ia masih ingin lebih lama lagi mengajak Raisa jalan-jalan, tapi ia terpaksa mengikuti kemauan Raisa yang ingin segera mengantarnya pulang.
"Tunggu," ucap Bara menahan tangan Raisa saat ia ingin turun dari mobil.
"Ya?" Raisa menoleh ke arah Bara yang semakin mendekatkan wajahnya, hingga jarak mereka pun sudah sangat dekat, dan..., Raisa menahan dada bidang milik Bara. "Hentikan, kamu itu nggak sopan," ujar Raisa lalu membuka pintu mobil, tapi Bara kembali menahan lengannya.
"Tapi kan sebentar lagi kita mau menikah...," Bara merengek.
"Baru mau menikah, tapi belum menikah!" Tegas Raisa.
"Jadi aku boleh tidak sopan saat kita sudah menikah? Baik, bersiap-siaplah untuk menghadapi ketidaksopananku kelak."
...-----***-----...
Akibat kelakuan Bara yang seperti anak kecil dan terus saja merengek agar secepatnya minta di nikahkan, akhirnya Mala dan Tari pun memutuskan untuk mendatangi rumah Raisa dengan maksud ingin melamar secara resmi sekaligus menentukan tanggal pernikahan.
__ADS_1
Raisa terkejut tiba-tiba saja mendapat telepon dari Bara akan kedatangan orangtuanya siang itu. Raisa pun memutuskan untuk meninggalkan toko dan segera pulang ke rumah.
"Mama udah pulang?" Tanya Ricky merasa heran karena sebelumnya ia mendapat pesan bahwa mamanya akan pulang agak sore.
"Sebentar lagi kita kedatangan tamu," jawab Raisa. "Kamu beresin dulu barang-barang kamu, gak enak kalo berantakan begini," ujar Raisa.
Ricky pun memberesi barang-barangnya yang merupakan tugas kuliahnya tersebut sambil di bantu oleh Adit yang memang kebetulan ada disana untuk mengerjakan tugas mereka bersama.
Tidak lama tamu yang di maksud pun datang, Raisa buru-buru menyambut kedatangan calon mertua dan iparnya tersebut, tidak ketinggalan Bara yang masuk paling belakangan, tadinya Raisa mengira hanya orangtua dan saudranya saja yang datang.
Sementara Ricky masih sibuk memberesi sisa lembaran kertas yang tercecer di lantai, saat Ricky ingin meninggalkan ruangan tiba-tiba ia mendengar ada yang memanggilnya.
"Ricky! Kamu Ricky kan?" Tanya Mala.
Ricky menoleh. "Iya."
"Kemari, kami juga harus bicara denganmu," ucap Mala.
"Gue balik deh," bisik Adit.
"Ajak temanmu sekalian," tambah Mala.
Ricky akhirnya ikut duduk di bagian sofa paling ujung di iringi oleh Adit, mereka sengaja mengambil tempat duduk paling ujung agar tidak mengganggu pembicaraan orang yang lebih tua di ruangan itu.
Obrolan pun di mulai dari mama Bara yang menanyakan atas kesiapan Raisa menikah dengan Bara, dan tidak lupa pula ia meminta persetujuan Ricky secara langsung.
Raisa menyerahkan semua pada keluarga termasuk tanggal pernikahan. Pada dasarnya meskipun ia pernah menikah, ia juga tidak tau cara mempersiapkan pernikahan layaknya pasangan pada umumnya karena dulu orangtuanya lah yang mempersiapkan pernikahannya, itupun hanya akad.
Tibalah pada akhir pembicaraan, dan kini giliran Mala yang ingin mengutarakan keinginannya. "Mm...begini, sebelumnya saya minta maaf," ucap Mala agak ragu.
Tari yang sudah tau niat ibu nya tersebut hanya bisa tersenyum.
Tari pun ikut membantu menyampaikan maksud ibunya. "Begini, mulai sekarang kamu panggil orangtua kami dengan sebutan mama juga yah?"
"O, iya," angguk Raisa seraya tersenyum.
"Dan mama ingin sekali punya cucu dari Bara," ucap Tari. "Kamu nggak keberatan kan?"
Raisa menanggapi dengan senyum lembutnya. "Tentu ada alasan untuk aku menolak jika memang aku di beri kepercayaan untuk mengandung cucu mama," jawab Raisa.
"Wah Rick, kayaknya loe bakal di telantarin," bisik Adit.
"Kamu nggak keberatan kan setelah menikah nanti kamu ikut program hamil?" Tanya Mala lagi. Sementara Tari terus tersenyum melihat tingkah ibunya.
"Iya, aku ngikut aja apa kata mama," ujar Raisa.
"Wahh..., loe emang bener-bener gak di anggap sama nyokap Bara," Adit berbisik lagi.
"Loe bisa diem gak!?" Sahut Ricky juga ikut berbisik.
Sementara Bara yang nampak diam dari tadi sebenarnya sudah tau apa yang menjadi dua orang itu bicarakan. Meskipun berbisik Bara masih dapat mendengar, karena jarak mereka bertiga memang berdekatan.
"Eh, sekali lagi loe ngomong gue bakal seret loe keluar!" Ancam Bara juga dan ikut berbisik.
Jadilah orang bertiga ini saling berbisik.
"Kalian koq bisik-bisik, ada apa!?" Tanya Mala hingga membut mereka bertiga terkejut.
"E.. mm, Ricky bilang mau punya adek secepatnya!" Jawab Adit spontan karena kaget.
...👍...
__ADS_1
...❤...
...🎁 Bila berkenan😚...