
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membacaš Terimakasihš¤...
Sepanjang perjalanan pulang Raisa hanya diam seraya menatap keluar melalui jendela mobil.
Bara sendiri tidak tau harus berbuat apa, ia tidak berani menyela kebisuan Raisa sejak tadi.
Bara menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di halaman rumah.
Raisa segera keluar dari mobil, dengan langkah cepat ia masuk ke dalam rumah.
"Sayang! Dengerin aku dulu!" Bara mengejar Raisa yang sudah lebih dulu masuk ke kamar. "Sayang, kamu salah paham!"
"Oh, jadi aku yang salah paham!? Suaminya pergi ke club ketemu sama cewek lain dan aku yang salah paham!?"
"Bukan begitu sayang, aku sendiri gak sengaja ketemu sama Nesi, dia yang ngajak kenalan, aku gak enak buat nolak karena situasinya ---"
"Apa!? Gak sengaja!? Tapi kamu sampe hafal namanya! Gimana kalo dia ngajak kamu nikah!? Apa kamu pasrah juga!? Baru dua hari aku tinggal dan kamu udah berani pergi ke club dan kenalan sama cewek lain!?"
"Sayang..., ini semua karena Adit, dia yang ngajak aku sama Ricky buat pergi ke ulang tahun temennya, dan aku gak tau kalo ternyata pestanya di adakan di sebuah club!"
"Jadi kamu ngajak Ricky juga!? Kamu tuh bener-bener yah! Ternyata aku udah salah mempercayakan Ricky sama kamu! Dan bisa-bisanya kamu nyalahin orang lain buat nutupin kesalahan kamu sendiri!"
"Sayang..., aku gak boong. Adit yang ngajak aku sama Ricky buat pergi!"
"Tapi kamu kan bukan anak kecil yang bisa di ajak pergi kemana aja! Harusnya kamu bisa menolak! Aku bener-bener bingung yah sama kamu!" Raisa mulai berkaca-kaca.
"Ya, aku minta maaf sayang."
"Tinggalin aku sendiri!"
"Sayang ---"
"Kamu denger gak!?" Teriak Raisa dengan menahan air mata kekecewaannya.
Dengan penuh penyesalan Bara akhirnya melangkah pergi. Raisa menutup pintu kamar lalu menguncinya.
Bara hanya bisa termenung di sofa ruang tengah seraya menyesali kecerobohannya.
Saking lelahnya berpikir, sampai-sampai ia tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa.
"Bar, Bara! Ricky menepuk-nepuk pundak Bara. "Loe kenapa tiduran disini!?"
"Eh loe Rick," Bara membuka matanya seraya memposisikan duduknya. "Auww!"
"Loe kenapa!?" Tanya Ricky melihat Bara yang sedang memegangi pinggangnya.
"Pinggang gue sakit! Kayaknya kelamaan duduk," jawab Bara sambil meringis menahan sakit pada pinggangnya.
"Lagian loe kenapa pake tiduran sambil duduk segala!?" Kekeh Ricky.
"Nyokap loe udah tau, dan dia marah banget! Makanya gue sampe tiduran di sini!"
"Apaan? Gue gak ngerti!?" Tanya Ricky yang sudah mengambil posisi duduk di samping Bara.
"Nyokap loe udah tau kalo kita pergi ke ulang tahun temen Adit yang di adain di club kemarin!" Jelas Bara dengan nada kesal.
Ricky terlonjak kaget. "Koq bisa!? Siapa yang ngebocorin!?"
__ADS_1
Bara pun kembali menjelaskan kejadian di mall siang itu.
"Jadi nyokap udah tau dong kalo gue ikutan kesana!? Loe kenapa mesti nyebut gue juga sih!?" Sesal Ricky.
"Karena loe saksi bahwa gue bener-bener gak ngapa-ngapain di sana! Dan soal cewek yang ngajak kenalan waktu itu kan loe tau sendiri gimana situasinya!"
"Iya juga shi! Ini semua karena kebodohan kita nerima ajakan Adit!"
"Rick, loe bantuin gue deh buat ngejelasin ini semua ke nyokap loe," pinta Bara memohon.
"Jangan kan buat nolongin loe, gue sendiri aja gak tau nasib gue bakal gimana!" Decak Ricky. "Ya udah, gue mau ke dapur dulu mau masak, gue laper dari tadi belom makan!" Ucap Ricky seraya beranjak dari duduknya.
"Emang loe bisa masak!?" Tanya Bara kaget karena setahunya Ricky sangat lah manja hingga membuat teh pun belum pernah.
"Loe ngeremehin gue banget! Ya bisa lah kalo sekedar nyeduh mi instan doang!"
"Kirain!" Karena juga merasa lapar, akhirnya Bara mengikuti langkah Ricky yang menuju ke dapur.
"Ini lemari kenapa gak ada isinya?" Ucap Ricky seraya menengok lemari penyimpanan bahan makanan. "Bukannya loe bilang abis belanja sama nyokap!?"
"Oiya gue lupa! Barang-barang nya masih ada di mobil!" Ujar Bara sambil menepuk jidatnya."Loe bantu gue deh!"
Setelah mengeluarkan barang belanjaan dari dalam dalam mobil, mereka malah semakin kebingungan harus memasak apa dengan bahan-bahan dapur tersebut.
"Loe bisa masak?" Tanya Ricky.
"Bisa, tapi perlu waktu...."
"Kelamaan! Gue mau nyeduh mi instan aja, kalo loe mau sekalian gue buatin!"
"Iya deh!"
"Rick, gue mau nanya, boleh gak!" Tanya Bara dengan nada ragu.
"Tumben pake izin segala? Emang loe mau nanya apaan?" Balas Ricky di sela suapan nya.
"Mm..., apa nyokap loe pernah semarah ini juga sama almarhum bokap loe?''
"Gak pernah," jawab Ricky dan kembali melanjutkan suapannya.
Waduh!
Gue jadi nyesel! Harusnya gue gak nanya tadi!
Malam hari
"Sayang..., buka pintu nya, kamu belum makan dari tadi siang," ucap Bara seraya mengetuk pintu kamar. "Sayang...aku benar benar minta maaf, jangan buat aku khawatir...."
"Udah, percuma! Itu pintu gak bakal kebuka sampe besok pagi! Mending loe tidur di kamar gue dulu!" Saran Ricky.
"Loe harus nya bantuin gue dong, loe kan tau kejadian nya gimana," ucap Bara seraya mengekori langakah Ricky menuju ke kamarnya.
"Iya iya, entar gue pikirin dulu gimana caranya! Mending loe mandi, loe pake baju gue aja dulu!"
Bara pun masuk ke kamar mandi. Beberapa saat ia keluar sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk. "Rick, apa sebelum nya nyokap loe pernah ngurung diri di kamar kayak gini?'' Tanyanya seraya duduk di tepi tempat tidur menghampiri Ricky yang terlihat sibuk dengan laptop nya.
''Loe mau tau aja apa mau tau banget...?"
__ADS_1
"Gue serius!"
"Pernah."
"O ya? Terus masalah nya apaan!?" Bara pun serius mendengarkan.
"Gue ketauan bolos! Ya, sebenernya gue gak masalah shi kalo emang nyokap marahin gue, karena emang gue yang salah.Tapi masalah nya nyokap gak ngeluarin sepatah kata pun buat negur kesalahan gue, selama berhari-hari gue di diemin. Dan menurut gue itu lebih menyakitkan dari pada di omelin!''
''Loe serius!'' Sampe segitunya!?''
"Makanya waktu itu gue mastiin lagi ke loe, apa loe bener-bener yakin mau nikah sama nyokap gue! Loe bilang yakin banget, yaudah jadi loe terima aja kelebihan nyokap gue!'' Ucap Ricky seraya menutup laptop nya. ''Selama nyokap ngediemin gue, tuh pintu kamar cuma ke buka pas pagi doang pas nyokap mau pergi ke toko!'' Tambah Ricky.
''Kenapa dari awal loe gak ngomong?Tau gitu kita gak harus nerima ajakan Adit!''
"Loe gak nanya!'' Jawab Ricky seraya berjalan menuju kamar mandi. "Tapi loe tenang aja, semarah apa pun nyokap, dia akan tetap nyediain sarapan buat kita!''
Bara merebahkan tubuhnya yang terasa lemas saat mendengar penjelasan Ricky barusan.
Paginya Bara terbangun dan segera menuju ke kamar nya berharap mendapatkan maaf dari Raisa.
Benar saja, pintu tidak lagi terkunci tapi Raisa tidak ada di sana. Ia setengah berlari menuju ke dapur. ''Sayang, gimana keadaan kamu?'' Tanya nya menghampiri Raisa yang sedang menyiapkan sarapan.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik aja!'' Jawab Raisa ketus.
"Aku minta maaf."
''Kenapa!? Bukan nya kamu sendiri yang bilang kalo kamu gak salah!? Jadi kenapa minta maaf!?''
"Aku sadar, aku yang salah! Maafin aku," Bara memohon.
Raisa berjalan menuju ke kamar tanpa mempedulikan Bara yang memelas memohon maaf padanya. Setelah mengambil tasnya ia pun pergi ke toko dengan di jemput oleh Nia yang ternyata sudah menunggu nya di tepi halaman rumah.
"Rick, tolong bantu gue buat ngejelasin semua ke nyokap loe, gue bingung harus gimana lagi,'' ucap Bara kepada Ricky yang menuju meja makan.
''Iya deh, entar gue usahain,'' sahut Ricky meski ia sendiri belum yakin apakah ia bisa meluluhkan hati ibunya.
Sore itu pun Bara kembali berusaha membujuk dengan menjemput Raisa ke tokonya.
"Aku belum bisa pulang, kamu duluan aja,'' titah Raisa, yang memang kebetulan hari itu tokonya sedang mendapat banyak orderan.
''Aku tunggu kamu di sini,'' sahut Bara sambil menduduki bangku kosong di dekat Raisa.
sudah hampir dua jam Bara menunggu seraya memperhatikan Raisa yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia sebenarnya sudah sangat lelah tapi ia abaikan semua perasaan lelah itu demi mengganti semua kesalahannya.
Beberapa saat akhirnya Raisa pun selesai.
''Sayang, sebaiknya kamu nambah pegawai aja, jadi kamu gak harus setiap hari pergi ke toko,'' usul Bara saat tengah mengemudikan mobilnya.
''Gak perlu,'' sahut Raisa acuh.
"Aku hanya khawatir sama kesehatan kamu."
''Kamu khawatir sama aku apa karena kamu capek nungguin aku!? Aku kan udah bilang kamu gak perlu nunggu!"
"Bukan gitu, kalo aku capek nungguin kamu mana mungkin kita bisa sama-sama seperti ini," jelas Bara. "Sekarang kan ada aku, dan kamu gak harus bekerja sekeras dulu lagi."
"Aku pernah baca kata-kata bijak dari sosmed yang bunyinya, "WANITA HARUS PINTER-PINTER NYARI UANG SENDIRI. KARENA SUAMI HANYALAH TITIPAN. JIKA BUKAN TUHAN YANG AMBIL, MAKA PELAKOR YANG AMBIL!"
__ADS_1
Author nya aja ****yang**** keseringan nonton tik tok š¤£š¤£š¤£