
Tingkah Dimas tak luput dari perhatian Mamanya yang selama ini diam-diam selalu mengamati. Hingga suatu pagi pada saat sarapan di meja makan Rosma menanyai anaknya itu.
"Mama perhatiin belakangan ini kamu sering uring-uringan. Tapi kata Papa di Perusahaan nggak ada masalah yang cukup serius. Ada apa sebenarnya...?"
"Nggak ada apa-apa Ma..., Dimas hanya sedikit ada masalah saja. Ini masalah Dimas," ucap Dimas seraya memakan sarapannya.
"Apa ini masalah yang berhubungan dengan calon menantu Mama?"
"Uhuukk uhuukk...!!"
Rosma memberikan gelas berisi air putih ke Dimas. "Jadi benar?" Tanya Rosma setelah Dimas berhenti dari tersedaknya.
Dimas hanya mengusap gusar wajahnya lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Ia benar-benar frustasi jika mengingat masalahnya yang belum terpecahkan. "Nanti jika sudah saat nya Mama akan tau. Dimas berangkat ke kerja dulu," ucapnya seraya berpamitan.
"Ya sudah, hati-hati."
Di perjalanan menuju ke kantor ponselnya berbunyi, setelah di lihat ternyata Adit yang menelepon.
"Ya ada apa?"
"Gue denger loe perlu orang buat belajar main catur?"
"Iya, tapi gue tau kalo loe juga gak bisa main catur,kan?"
"Tapi gue punya teman yang jago main catur," ucap Adit. "Gimana?"
"Ok, kapan gue bisa mulai?" Tanya Dimas.
"Gue kasi loe no kontak dia aja, biar kalian bisa atur sendiri."
Setelah menutup panggilan tersebut Adit pun langsung mengirimi Dimas no kontak temannya yang akan mengajari Dimas bermain catur.
Dimas memarkirkan mobilnya setelah sampai di perusahaannya. Ada sedikit harapan yang mulai membuatnya kembali bersemangat.
-
-
-
Jadwal belajar bermain catur pun sudah di tentukan. Sudah seminggu ini Dimas belajar namun tidak sedikit pun ia memahami permainan tersebut.
__ADS_1
"Seminggu lagi deh..., kalo dalam seminggu itu loe belum bisa juga gue cariin lagi guru catur yang bisa buat loe jago main catur," tutur Adit.
Dimas yang merasa terdesak hanya menyetujui saja karena ia juga tidak bisa berbuat banyak.
Seminggu berlalu, tapi Dimas belum mengalami kemajuan samasekali. Akhirnya Adit berinisiatif untuk mencarikan lagi orang yang bisa mengajari sahabatnya itu bermain catur.
"Bermain catur adalah permainan yang menggunakan otak, setiap orang memiliki kadar otak yang berbeda-beda. Meski kamu bisa bermain catur, tapi belum tentu kamu sama hebatnya dengan lawan mu nantinya. Apa lagi kamu bermain hanya karena ingin sesuatu, sementara lawanmu adalah orang yang memang hobi bermain catur. Aku hanya memberikan nasehat saja, selebihnya kamu yang menentukan."
Itulah yang di katakan orang yang mengajari Dimas bermain catur. Dan dia adalah orang yang kesekian yang mengajari Dimas.
Dimas makin terlihat frustasi saja, di tambah pemandangan yang membuatnya semakin merasa terpojok sore itu. Di lihatnya Pak Edy sedang asik bermain catur di teras rumahnya bersama seorang pria. Di lihat dari penampilannya pria tersebut terlihat lebih muda darinya.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam...," sahut Pak Edy dan pria yang menjadi lawannya bermain catur tersebut.
"Nak Dimas, mari sini," ajak Pak Edy. "Perkenalkan ini Nak Arief, dia lawan bermain catur yang sepadan, dari tadi Bapak belum bisa ngalahin dia."
Ucapan Pak Edy semakin membuat Dimas putus asa saja.
"Selamat sore Bang Dimas," ucap Arief. Dimas hanya membalas dengan senyuman saja lalu duduk di salah satu bangku kosong.
Dimas hanya memperhatikan saja keduanya sedang bermain catur. Ia akui pria bernama Arief itu memang sangat hebat bermain catur, buktinya Pak Edy sempat terlihat kewalahan saat menghadapinya.
"Baru koq," sahut Dimas.
Fitri masuk ke dalam setelah beberapa saat ia kembali membawa secangkir kopi untuk Dimas.
"Silahkan di minum Bang, Ayah dan Arief sudah Fitri buatin tadi," ucap Fitri sambil menunjuk gelas kosong dengan ekor matanya.
Dimas hanya mengangguk saja. "Terimakasih."
Pak Edy tersenyum senang saat bisa mengalahkan Arief di permainan terakhir. Setelah itu Arief berpamitan untuk pulang karena hari sudah sangat sore. Begitu pun dengan Dimas, ia berpamitan setelah Arief meninggalkan rumah Pak Edy.
Malam hari setelah usai makan malam Dimas berniat ingin kembali ke kamarnya untuk memikirkan cara agar bagaimana permasalahannya bisa teratasi.
"Dim, Papa mau ada yang di bicarain sebentar," panggil Wijaya pada anaknya. Dimas pun menghampiri Papanya dan duduk di sofa bersebelahan dengan Papanya.
"Iya, Pa?"
"Mama kamu sempat bercerita ke Papa kalau akhir-akhir ini kamu terlihat seperti sedang ada masalah serius. Apa itu benar?" Tanya Wijaya sambil menatap serius pada Putranya.
__ADS_1
Dimas bingung harus menjawab apa, kalau pun ia tetap menyembunyikannya toh sudah kepalang terbaca oleh kedua orangtua nya juga tingkahnya saat ini.
Akhirnya Dimas menceritakan semua permasalahannya pada Papanya. Meski tidak ada komentar apa pun dari Papanya, setidaknya beban yang ada di hatinya sedikit berkurang.
Diamnya orangtua bukan berarti mereka tidak peduli, begitu pun juga kedua orangtua Dimas.
-
-
-
Sore itu Dimas pulang dari kantornya. Setelah hampir seharian ini ia bergelut dengan pekerjaannya ia pun ingin segera menyegarkan dirinya.
Setelah mandi dan berpakaian ia berniat ingin menemui Papanya di taman tempat biasa Papa dan Mamanya bersantai sore.
"Eh Dim, tumben udah pulang jam segini?" Tanya Rosma saat melihat anaknya sudah ada di rumah sore itu.
"Kebetulan hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan. Oiya, Papa kemana?"
"Papa lagi pergi ke rumah temannya. Mungkin sebentar lagi pulang."
Tidak lama Papanya Dimas pun datang dan bergabung bersama anak dan istrinya
"Wahh..., lagi ngomongin apa ini?" Tanya Wijaya.
"Papah yang kenapa...? Terlihat senang banget kelihatannya," ucap Rosma saat melihat kebahagiaan di wajah suaminya.
"Tadi Papah ketemu teman lama waktu di jalan, teman Papah waktu kuliah dulu. Besok ia dan putrinya akan datang kesini karena Papah yang undang," tutur Wijaya.
"Oh begitu...,baguslah kalo mereka mau datang kesini. Barangkali aja Putri teman Papah itu bisa cocok dengan anak kita," ucap Rosma sambil melirik pada Dimas.
"Ma..., Dimas nggak mau ya ada acara jodoh-jodohan, udah nggak jaman," sela Dimas.
"Tapi kamu, kan belum melihat seperti apa Putri dari teman Papa," ucap Wijaya.
"Ya kamu harus ketemu dulu, jangan langsung berpendapat tanpa melihat orangnya," Rosma menimpali.
Mendengar obrolan dari kedua orangtuanya Dimas pun beranjak dari sana karena ia menolak siapa pun sejak kehadiran Fitri di hatinya.
Ia berpikir Mama dan Papanya akan menjodohkan nya dengan Putri dari teman lama Papanya itu.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi gue harus bisa bersama Fitri. Bagaimana pun caranya," ucap Dimas di dalam hatinya.