
...Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Karena Dimas sudah tau akan kedatangan tamu Papanya hari itu ia sengaja buru-buru pergi agar tidak bertemu dengan teman Papanya tersebut.
"Dimas...!"
Dimas menoleh ketika namanya di panggil dan ia sudah tau siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Mamanya.
"Iya Ma...,"
"Kamu mau pergi kemana...? Kamu, kan tau hari ini temen Papa datang."
"Dimas ada sedikit urusan yang gak bisa di tunda."
"Urusan apa yang nggak bisa di tunda? Lagian, kan ini hari libur."
Sudah tidak ada lagi alasan bagi Dimas apa lagi ternyata teman Papanya tersebut sudah datang saat itu.
"Ini Istriku, dan ini anak ku yang bernama Dimas," ucap Wijaya memperkenalkan anak dan istrinya. "Dan ini adalah Usman, teman kuliah Papa yang Papa ceritain kemarin."
Dimas pun mengalami teman Papanya tersebut.
"Dan ini putriku, namanya Kiara," ucap Usman memperkenalkan putrinya.
"Wahh, cantik...," puji Rosma pada Kiara yang mengalaminya.
"Tante bisa aja," balas Kiara malu-malu.
Kiara memang sangat cantik, tapi Fitri tidak tergeserkan sedikit pun dari hati Dimas.
"Mari duduk dulu" ajak Wijaya pada kedua tamunya. Lalu mereka pun duduk di ruang tamu membicarakan banyak hal dari masa kuliah hingga memiliki anak dan istri.
Salah satu pelayan menghampiri Rosma dan memberitahukan sesuatu padanya.
"Sudah waktunya makan siang, ayo nanti saja di lanjutkan ngobrolnya kita makan dulu," ajak Rosma.
Mereka pun menuju meja makan untuk menyantap sajian yang sudah tersedia disana. Berbagi macam menu masakan yang terhidang. Mereka menyantap makan siang sambil sesekali ngobrol dan tertawa bersama. Kecuali Dimas yang sedari tadi hanya diam saja. Hanya sesekali ia menjawab jika di tanya. Pikirannya hanya tertuju pada seorang gadis ayu sederhana yang belakangan ini telah menghiasi hari-harinya.
Setelah usai makan siang Wijaya mengajak Usman ke taman di dekat kolam samping rumahnya.
"Sebentar, ada yang terlupakan," ucap Usman seraya beranjak dari duduknya dan pergi ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Tidak lama ia pun kembali.
"Ayo, kita mulai saja," ucap Wijaya bersemangat.
-
-
-
__ADS_1
Dimas mengemudikan mobilnya di jalan yang cukup ramai dengan beberapa titik kemacetan. Tidak ada pilihan baginya selain mengikuti kemauan mamanya agar ia mengajak Kaira berjalan-jalan.
"Kalau boleh tau kita pergi kemana?" Tanya Kaira pada Dimas yang hanya diam saja dari tadi.
Sementara Dimas juga bingung harus menjawab apa karena ia sendiri belum menemukan tempat untuk di tuju.
"Mau makan?" Tanya Dimas pada Kiara.
"Aku masih kenyang," jawab Kiara.
Saking bingung nya Dimas lupa bahwa mereka baru saja makan siang saat di rumah tadi.
"Biasanya kalau hari libur kamu kemana aja?" Tanya Kiara.
"Sejak bekerja di perusahaan Papa aku jarang keluar, hanya jika ada suatu keperluan saja."
"Nggak punya teman atau...?" Kaira menggantung ucapannya dan Dimas paham apa yang di maksud Kiara. Dan inilah waktu yang tepat baginya.
"Ya, aku punya beberapa teman masa sekolah yang sampai saat ini kami masih saling menghubungi. Dan untuk seseorang yang kamu maksud, saat ini aku masih berusaha meyakinkan orangtuanya," ungkap Dimas, dan ia benar-benar merasa lega setelah mengatakan itu.
"Kamu pasti sangat mencintai wanita itu."
"Sangat," jawab Dimas seraya tersenyum.
"Beruntung sekali wanita itu," Kiara ikut tersenyum ketika melihat wajah bahagia Dimas.
"Aku lah yang beruntung."
"Hm, mungkin lain kali," jawab Dimas.
"Ok, kalau begitu perkenalkan aku pada teman-temanmu."
Tidak mungkin untuk menolak lagi maka Dimas mengabulkan keinginan Kiara kali ini. Beberapa saat Dimas menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Kaira dan Dimas turun dari mobil lalu menuju ke rumah tersebut. Sampai di depan pintu Dimas pun menekan bel. Tidak lama muncul seseorang yang membukakan pintu.
"Siapa sayang...?"
Terdengar seseorang dari dalam.
"Ini, ada Dimas dan...," Raisa tidak melanjutkan kata-katanya karena ia juga tidak kenal dengan wanita yang datang bersama Dimas.
"Hai Dim, apa kabar loe?" Tanya Bara saat tau sahabatnya yang datang.
"Gue baik..., oiya ini Kaira anak dari teman bokap gue," tutur Dimas seraya memperkenalkan Kaira pada Bara dan Raisa.
"Ayo masuk dulu," ajak Raisa pada tamunya tersebut. Dimas dan Kiara pun masuk dan duduk di ruangan tamu.
"Udah, biar aku aja yang ambilin minum buat mereka, kamu disini aja ya," cegah Bara pada istrinya ketika Raisa ingin pergi ke dapur.
Perhatian Bara pada Raisa menyita pandangan Kaira ketika melihat momen tersebut. Sementara Dimas ia sudah biasa melihat hal tersebut.
__ADS_1
Beberapa saat Bara sudah kembali dengan membawakan minuman untuk kedua tamunya.
"Maaf, jadi merepotkan," ucap Kiara.
"Gak apa, dia udah biasa," sahut Dimas seraya meletakan gelasnya yang sudah kosong di atas meja. "Kurang," ucapnya.
"Loe ambil sendiri aja sana," balas Bara seraya merangkul bahu istrinya.
Kiara merasa terhibur melihat keakraban Dimas dan Bara yang menurutnya terbilang uniq.
"Hmm..., kalau boleh tau sudah berapa bulan usia kehamilannya?" Tanya Kiara pada Raisa.
"Kalau tidak salah sudah memasuki bulan ke sembilan, kan sayang...?" Bara lebih dulu menjawab seraya ia mengelus perut istrinya. Raisa hanya mengangguk untuk membenarkan ucapan suaminya.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bersamaan ketika ada yang mengucapkan salam dari luar. Ternyata Ricky yang datang.
"Hai Dim...,udah lama?"
"Nggak juga. Loe pasti abis kencan ya?" Ledek Dimas.
"Nah tu loe udah tau. Yaudah, gue masuk dulu," ucap Ricky lalu pergi ke kamarnya.
Tidak lama Dimas dan Kiara pun pamit untuk pulang.
"Aku mau nanya sesuatu," ucap Kaira.
"silahkan," ujar Dimas.
"hmm, mereka saudara?"
"Siapa?" Tanya Dimas kembali karena tidak mengerti siapa yang di maksud Kiara.
"Bara dan Ricky?"
Sebelum Kiara menjadi salah paham akhirnya Dimas menjelaskan bagaimana hubungan kedua sahabatnya itu. Tidak bisa di hindari Kiara tampak syok mendengarnya namun itu adalah kenyataannya.
Dimas memaklumi jika reaksi Kiara seperti itu. Siapa pun mungkin akan bereaksi sama.
Setelah sampai di rumah Dimas, Kiara dan Papanya langsung berpamitan untuk pulang.
"Kenapa kalian nggak nginap aja dan besok baru pulang...?" Kata Wijaya.
"Aku mau nya juga begitu, tapi besok adalah hari pertama Kiara bekerja. Mungkin lain kali," ucap Usman.
"Nanti kalau ada waktu Kiara main aja kesini,"
"Iya tante, pasti."
__ADS_1
Setelah Kiara dan Papanya sudah pergi, Rosma mensejajari langkah Dimas yang akan menuju ke kamarnya. "Gimana tadi jalan-jalan nya. "
"Nggak gimana-gimana Ma...," jawab Dimas.