
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Di restoran semua berjalan lancar seperti yang di harapkan. Bukan hanya Bara, tetapi Nina pun tidak kalah lihai nya dalam menyampaikan materi yang singkat, padat dan jelas sehingga mudah di pahami oleh klien. Selain itu tidak membuang banyak waktu bagi klien nya maupun mereka sendiri.
Bara mulai bernafas lega karena tidak sia-sia usaha nya dalam seminggu ini bisa menandatangani beberapa kontrak kerjasama yang kelak akan memulihkan kondisi perusahaan nya.
"Terimakasih Nina, kerja mu hari ini sangat bagus," ucap Bara saat menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di halaman kantor.
"Sama-sama pak, itu sudah menjadi tugas saya," balasnya dengan perasaan senang karena untuk pertama kalinya ia mendapat pujian dari atasan nya.
"Turunlah, aku masih ada urusan." perintah Bara.
Nina pun keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangan kerjanya meskipun hatinya sangat kepo kemana tujuan atasan nya tersebut.
Bara sudah membulatkan niatnya untuk mengutarakan isi hatinya. Ia tidak ingin kalah cepat mengingat ia punya saingan yang cukup berat menurutnya.
Bagaimana tidak, saingan nya tersebut sudah melamar secara langsung sementara ia hanya menjadi pengagum rahasia selama ini.
Kemungkinan aku akan semakin sibuk dengan urusan kantor, jika aku tidak mencobanya sekarang maka aku tidak akan punya kesempatan lagi.
Meskipun di tolak, setidaknya dia tau tentang perasaan ku.
Bara sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Ia menghentikan mobilnya begitu sudah sampai di tempat yang di tuju. Ia melangkah dengan keyakinan menaiki teras dan mulai menekan bel di sisi pintu. Ia tau kalau Raisa akan ada di rumah sebelum Ricky pulang kuliah, sebab itu ia mencuri kesempatan di sela-sela waktu itu.
"Bara...?" Raisa sedikit terkejut tidak biasanya Bara datang di jam seperti ini dan bahkan masih memakai pakaian kantornya.
"saya mau mengembalikan ini."
Bara menyerahkan handuk tempo hari.
"Oo, kenapa kamu harus repot-repot seperti ini," ujar Raisa seraya mengambil handuk dari tangan Bara.
"Selain itu ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."
"Mengenai apa? Ya sudah, kita duduk sana saja,'' Usul Raisa sambil menuju bangku yang ada di teras. Bara pun mengikuti langkah Raisa dan mengambil posisi berhadapan.
"Bicaralah," Raisa pun mempersilakan Bara untuk berbicara.
Bara tampak tertunduk dan diam sesaat, meskipun ia punya keberanian tapi tetap saja ia merasa gugup.
__ADS_1
"Kamu ada masalah, bicaralah...?" Raisa mengulangi kalimat nya dan kali ini ia menatap fokus ke Bara.
Sepertinya ada masalah serius.
Batin nya.
"Benar..., ada masalah," sahut Bara pelan namun Raisa masih dapat mendengar.
"Masalah apa?" Raisa mencoba tenang menanyai meskipun ia juga penasaran.
"Masalah nya adalah aku selalu memikirkan orang yang saat ini berada di hadapan ku." jawab Bara tegas kali ini, Ia mengangkat wajah nya memandang ke arah Raisa.
Raisa terkejut dan sedikit bingung mengartikan kalimat tersebut.
"Aku SUKA sama tante," ucap Bara memperjelas kata-kata nya.
Raisa syok mendengar, namun sekuat tenaga ia mencoba tetap tenang.
Apa bocah ini sedang mabuk?
pikirnya.
"Sebentar, kamu tunggu disini," tanpa menunggu jawaban, Raisa masuk kedalam lalu tidak lama ia kembali dengan segelas air putih dingin.
Tanpa pikir panjang Bara pun menghabiskan isi gelas tersebut.
"Tumben loe kemari jam segini?"
Bara tersentak ketika ada yang menepuk pundaknya dari balakang.
"Eh, Rick," Bara berusaha tersenyum dalam keterkejutannya.
"Udah lama loe? " Tanya Ricky ikut duduk di bangku teras bersebelahan dengan Bara setelah ia menyalami dan mencium punggung tangan Raisa. Itu sudah jadi kebiasaan nya sejak kecil, ia akan merasa berdosa jika tidak menyalami orangtua nya ketika datang dan pergi.
"Gak, baru koq," Bara tersenyum aneh. Untung nya Ricky tidak terlalu memperhatikan.
"Kalau begitu mama masuk dulu kalian silahkan mengobrol," Raisa pun masuk ke dalam.
Di dalam kamarnya Raisa bagaikan mendapatkan seribu teka teki yang memenuhi kepala nya.
Ia tidak percaya dan berpikir Bara hanya sedang mabuk atau mungkin stres karena pekerjaan yang menyebabkan ia ngelantur.
__ADS_1
Tapi aku tidak mencium bau alkohol.
Dan kenapa tatapan nya seperti orang yang sedang bersungguh-sungguh?
Dirinya tidak bisa berbohong, bahwa ada debaran yang kuat di dalam dirinya ketika menerima tatapan Bara. Ia tidak mengerti kenapa hatinya seakan tersentuh dengan kata-kata itu.
...***...
Raisa menutup tokonya dan mulai melangkah menapaki jalan yang mulai sepi karena memang sudah sore dan hari pun mulai gelap.
Hari ini banyak jadwal pengiriman yang lumayan menyita waktu, di tambah salah satu pegawainya yang mendadak izin karena sakit dan membuat pekerjaan sedikit tertunda.
Ia pun sudah memberi kabar pada Ricky melalui pesan sekedar memberi tau, agar Ricky tidak khawatir jika ia pulang agak sore.
Biasanya Nia yang mengantar dan menjemput nya, tapi karena ia masih ada sedikit pekerjaan jadi ia memerintah pegawainya pulang duluan.
Baru beberapa langkah ia meninggalkan tokonya, langkahnya di hadang oleh dua orang preman yang terlihat sangar dengan perawakan tinggi dan besar di sertai seringaian nya yang menakutkan menatap Raisa.
Raisa menatap kedua orang itu sambil memundurkan langkahnya. "Mau apa kalian?" Tanya Raisa dengan suara bergetar.
"Serahkan semua yang ada di dalam diri anda! Maksud saya serahkan barang-barang anda, cepat!" Ucap salah satu preman tersebut.
Sudah sangar pake salah ngomong lagi nih preman🤦♀️
Raisa bungkam,bahkan untuk bersuara saja ia tidak berdaya.
"Buruan! teriak nya lagi. "Apa anda tau siapa kami!? Kami adalah Premium yang paling di takuti di daerah sini!!" Bentak preman itu.
"Bukan Premium tapi Preman!! Protes rekan nya.
Raisa menggigil ketakutan. "Ini ambil saja semua, tapi biarkan saya pergi," sambil membuka tasnya dengan tangan gemetar.
Salah satu preman menarik paksa tas dari tangan Raisa, namun tiba-tiba ada seseorang yang menghentikan aksinya.
Buukkk...!
Orang itu mendaratkan pukulan nya di wajah preman tersebut. Melihat temannya mendapatkan pukulan, preman yang satunya lagi membalas dengan melancarkan tendangan nya di perut. terjadilah aksi saling pukul memukul antara dua preman dan orang tersebut.
Untung nya kedua preman itu segera kabur begitu mendengar Raisa yang berteriak meminta tolong.
Raisa menghampiri penolong tersebut ketika ke dua preman itu sudah pergi menjauh.
__ADS_1
"Bara kamu gak apa kan!?" Tanya Raisa menghampiri yang ternyata penolong tersebut adalah Bara. "Apa sebaiknya kita ke rumah sakit!?" Raisa semakin panik melihat ada darah yang keluar di sudut bibir Bara karena pukulan salah satu preman tadi.