
"Kiara," Papanya memanggil
"Iya Pa," jawab Kiara menghampiri Papanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Dari mana saja?"
"Ini kan hari libur, ya jalan-jalan lah Pa," jawab Kiara sambil mendudukan tubuhnya di sofa.
"Siapa dia?"
Kiara mengernyit sambil memandang pada Papanya. "Maksud Papa?"
"Laki-laki yang mengantarmu pulang?"
"O, Di -- dia teman aku Pa."
"Kenapa nggak di ajak masuk dan kenalin ke Papa?"
"Dia lagi buru-buru. Lain kali akan aku kenalin ke Papa. Kiara ke kamar dulu mau istirahat."
"Janji?"
"Hm'm," angguk Kiara. Lalu ia pun masuk ke kamarnya.
Akhirnya Kiara bisa bernafas dengan lega setelah sampai di kamarnya. Pertanyaan dari Papanya tadi hampir membuat jantungnya copot. Jika ia mengajak Ricky untuk menemui Papanya lantas ia akan memperkenalkan Ricky sebagai siapa? Bagaimana jika Papanya mengira Ricky adalah teman dekatnya dan memaksa Ricky untuk melamar dirinya. Sementara hubungannya dengan Ricky saja belum jelas. Mana mungkin juga ia mengatakan pada Papanya bahwa ia sedang dalam masa pendekatan berdasarkan perjanjian. Lagi pula belum tentu Ricky bersedia untuk menemui Papanya. Apa lagi hari ini pria cuek itu baru saja marah-marah padanya.
Kiara memeriksa ponselnya dan melihat ada, banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari pria itu. Walau kelak Ricky akan menolaknya, tapi ia tetap tidak bisa menerima laki-laki itu. Mungkin ia akan kembali ke London dan bekerja di sana.
Sementara Usman mulai merasa lega. Karena sepertinya Putrinya tersebut sudah mulai bisa melupakan rasa sakit hatinya karena pengkhianatan mantan kekasihnya dulu. Ia berharap dalam waktu dekat ini bisa melihat Putri bungsunya itu menikah.
-
-
-
Dimas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil sesekali ia melirik pada istrinya yang tampak diam dari tadi. Ia tau apa yang menjadikan pikiran istrinya tersebut. Dalam setahun lebih usia pernikahan mereka Fitri mengalami 2 kali keguguran karena kondisi kandungan Fitri yang memang sangat lemah.
__ADS_1
"Ayo, kita sudah sampai," ucap Dimas mengajak Fitri turun dari mobil.
Fitri yang terlihat melamun dari tadi tidak sadar kalau mobil suaminya sudah berhenti tepat di halaman rumahnya. Dimas selalu mengajak Fitri untuk mengunjungi mertuanya itu di akhir pekan. Meski Fitri tidak memintanya secara langsung, tapi sebagai suami ia harus memahami. Apa lagi mertuanya itu kini hanya tinggal sendiri di rumah itu. Ketika pindah dari rumah orangtuanya, Dimas sudah pernah mengajak pak Edy untuk tinggal bersama mereka, namun mertuanya itu menolak dengan alasan masih betah berkebun. Selain itu pak Edy juga mengatakan bingung kalau harus tinggal bersama anak menantunya yang serba mengandalkan jasa pembantu, bisa-bisa dia jadi orang sakit tutur pak Edy menolak. Dia cukup bahagia bisa di jenguk di setiap akhir pekan, selain itu ia juga masih bisa menghubungi Fitri lewat telpon.
Pak Edy sudah sangat hapal suara mobil dari menantunya tersebut. Ia keluar untuk menyambut anak dan menantunya sambil membetulkan simpul sarungnya.
"Assalamua'laikum."
"Wa'alaikumsalam...," sahut pak Edy seraya tersenyum.
Lalu Fitri dan Dimas bergantian menyalami pak Edy.
"Ayo masuk," ajak pak Edy pada keduanya.
Fitri langsung masuk ke dapur, sementara Dimas duduk di ruang tamu sambil mengobrol dengan pak Edy. Setelah membuatkan kopi untuk Ayah dan suaminya Fitri kembali ke dapur untuk memasak. Di dapur banyak sayuran yang sepertinya baru di petik oleh ayahnya.
Acara memasaknya selesai bertepatan dengan suara adzan maghrib yang berkumandang. Mereka pun sholat maghrib berjamaah lalu setelah itu Fitri pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang tadi di masaknya.
Usai makan malam, Dimas menghampiri Fitri yang masih saja tampak murung.
"Lalu bagaimana dengan Mama sama Papa? Meski mereka bilang tidak mempermasalahkannya, tapi aku tau sebenarnya mereka sangat menginginkan cucu dari kita Mas. Mas juga pasti sudah tau itu," jawab Fitri sendu.
Dimas hanya bisa menghela nafasnya tidak tau harus seperti apa lagi untuk membujuk istrinya itu agar tidak terlalu memikirkan masalah anak. Meski ia juga sangat menginginkannya tapi ia juga masih bisa bersabar jika mereka belum waktunya untuk di berikan kepercayaan untuk memilikinya.
-
-
-
Raisa menggendong Aya sambil menenteng bekal yang di bawanya untuk Bara. Ia sengaja ingin memberikan kejutan untuk suaminya itu tanpa memberitahukan kedatangannya. Beberapa karyawan tampak membungkuk saat berpapasan dengannya. Raisa membalas dengan senyuman meski sebenarnya ia agak risih dengan sikap para karyawan tersebut.
Tiba di ruangan Bara Raisa langsung masuk dan menurunkan Aya dari gendongannya. Aya langsung berlari menghampiri Papanya yang terlihat duduk di kursi kerjanya.
"Hati-hati sayang," ucap Bara yang langsung meraih tubuh putrinya. Sambil menggendong Aya, Bara beranjak dari duduknya menghampiri Raisa yang sudah duduk di sofa.
"Kenapa nggak ngabarin kalau mau datang kesini?"
__ADS_1
"Kalau aku kasi kabar berarti bukan kejutan namanya," sahut Raisa seraya membuka bekal makan siang yang di bawanya.
"Aya main dulu ya," ucap Bara seraya menurunkan Putrinya lalu memberikan pulpen dan kertas kosong. "Lain kali akan Papa sediakan mainan untuk Aya." Bara sambil mengusap kepala Putrinya yang sedang asik mencoret-coret.
"Jangan berlebihan, kita nggak setiap hari kesini," ucap Raisa.
"Selamat siang, maaf mengganggu," ucap Nina yang datang ke ruangan Bara dengan membawa beberapa dokumen yang harus di tanda tangani.
"Tidak apa-apa, silahkan." Bara memeriksa kembali dokumen tersebut sebelum akhirnya ia membubuhkan tanda tanda tangannya di sana.
"Auw, aduh!" Nina terpekik karena kaget saat Aya tiba-tiba mencoret-coret pergelangan kakinya yang mulus itu dengan sebuah pulpen.
Mungkin di kira kertas kali ya, saking putihnya kebangetan๐๐
"Sayang, kamu udah buat kaki tante jadi kotor," ucap Raisa seraya meraih tubuh putrinya. "Maaf, ya?"
"E i iya Bu, gak apa-apa. Nanti bisa saya bersihkan," jawab Nina sambil menahan rasa dongkolnya. Setelah urusannya selesai ia pun langsung pergi meninggalkan ruangan atasannya itu lalu menuju ke toilet untuk membersihkan coretan yang ada di pergelangan kakinya.
"Udah, gak apa-apa, ayo suapin lagi," titah Bara pada istrinya.
"Tapi aku nggak enak sama sekretaris kamu," ucap Raisa seraya memandang wajah polos Putrinya yang kini beralih ke pangkuan Bara.
"Nanti aku tambahin gajinya sebagai kompensasi," jawab Bara seenaknya.
Tidak ingin berdebat lebih lama lagi akhirnya Raisa kembali menyuapi suaminya yang masih saja manja meski mereka sudah memiliki anak.
Setelah usai acara suap-suapan itu Raisa langsung pamit untuk pulang karena khawatir jika ia lengah lagi dalam menjaga Putrinya tersebut. Karena saat ini Ayara memang sedang aktif-aktifnya.
-
-
-
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya ๐๐
Love you all๐๐
__ADS_1