
...***Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dukungannya sebelum membaca👍...
...Terimakasih🤗***...
Dimas berdiri di depan rumah Fitri. Dengan sedikit keraguan ia berusaha memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut.
"S*al! Kenapa gue dateng kesini, gue sendiri aja belom tau harus ngomong apaan!"
Tidak lama pintu pun terbuka. Dimas semakin gugup tatkala yang membukakan pintu adalah laki-laki paruh baya dengan wajah yang terlihat kurang ramah. Ia bisa menduga kalau yang berdiri di hadapannya saat ini adalah orangtua dari Fitri.
"Ada perlu apa?"
"Mm... sa --- saya, mau...---
"Siapa yah?" Terdengar seseorang dari dalam yang di yakini Dimas adalah suara dari wanita idaman nya.
"Ada tamu, tapi di tanya malah bengong."
Fitri menengok ke luar untuk melihat siapa tamu yang di maksud."Bang Dimas?"
"Kamu kenal?"
"Iya yah, dia yang kemarin manjat pohon mangga buat ngambilin mangga muda untuk istri teman nya yang lagi ngidam," jelas Fitri.
"Ya sudah, ayah mau siap-siap dulu buat menghadiri acara di tempat tetangga. Jangan lama-lama nerima tamunya," pesan ayah Fitri seraya masuk ke dalam rumah.
"Abang ada perlu apa? Apa mangga nya kurang?" Tanya Fitri.
"Ng --- nggak. Mm...---
"Kalau sudah selesai nerima tamunya buruan kamu siap-siap sekarang, kita sudah terlambat," terdengar kembali suara ayah Fitri dari dalam rumah.
"Maaf bang, Fitri gak bisa lama-lama. Sebaiknya abang katakan tujuan abang datang kesini."
"Mungkin lain kali, aja. Lagian saya juga lupa. Oiya panggil Dimas aja."
"Tapi sepertinya abang lebih tua dari Fitri, kan gak sopan."
"Ehm, ya sudah, kalo kamu maunya seperti itu, saya pamit pulang dulu. Maaf sudah mengganggu."
Fitri buru-buru masuk ke dalam karena ayahnya kembali memanggil.
"Gila! Bokapnya galak amat! Dan kenapa juga gue bisa gak berkutik di depan dia. Sial*n!" Sambil mengemudikan mobilnya Dimas memaki dirinya sendiri yang tak berdaya di hadapan seorang gadis sederhana seperti Fitri.
...***...
Sore hari Dimas bergegas meninggalkan ruang kerjanya dan mengemudikan mobilnya ke kostan Adit.
Tiba disana tanpa basa basi ia mengutarakan niatnya untuk meminta pertolongan dari Adit.
"Woyy..., bangun! Loe tidur mulu!"
"Apaan sih loe!? Maen nyelonong aja!" Sahut Adit yang terbangun akibat ulah Dimas.
"Ini udah sore..., gak baek tiduran."
"Gue juga baru bisa istirahat, abis ngerjain tugas banyak banget!" Ucap Adit dengan suara malasnya. "Lagian ada angin apa loe ke sini!?"
__ADS_1
"Gue minta bantuan loe buat ngedeketin Fitri."
"Terus setelah itu loe mau PHP'in anak orang gitu?" Cibir Adit, dengan posisi nya yang masih tiduran membelakangi Dimas yang ikut duduk di tepi tempat tidur. Ia ingat benar bagaimana kelakuan Dimas jaman sekolah dulu yang sering mematahkan hati wanita.
"Kali ini nggak, gue berani sumpah!"
"Sorry banget, sumpah loe gak bisa gue percaya, gue gak mau ikut nanggung dosa."
"Gue buktiin, kali ini gue bakal naek pelaminan!"
Adit berbalik menghadap ke arah Dimas."Ok gue percaya.Tapi apa yang membuat loe bener-bener yakin buat mutusin pilihan ke cewek pemilik pohon mangga itu?"
"Namanya Fitri...," ralat Dimas.
"Hehe, gue kan emang gak tau tuh cewek namanya siapa, kan yang kenalan loe!"
"Dia wanita pertama yang buat gue bener-bener jatuh hati."
"Yang pertama buat loe jatuh hati pada hari itu kan? Hari berikutnya beda lagi," Adit terus saja mencibir setiap ucapan Dimas.
"Gue serius Dit! Dia berbeda dari semua cewek yang pernah gue temuin."
"Apa karena dia punya pohon mangga?"
"Bukan, tapi ya...itu salah satunya juga. Kan loe sendiri yang bilang, gue harus nikah sama pemilik pohon mangga biar gak ribet kayak si Bara," lalu mereka berdua pun terpingkal.
"Berhubung loe udah ganggu waktu istirahat gue..., jadi loe harus tanggung jawab. Duit dulu sini, gue jadi laper dengerin curhat loe."
Tanpa protes Dimas pun mengeluarkan dompetnya lalu memberikan selembar uang seratus ribu ke Adit. Karena ia tau aturan apa yang harus ia penuhi jika meminta bantuan pada Adit.
Dimas merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menunggu kedatangan adit. "Busheet...! Nih kasur apek banget!"
Setelah beberapa saat Adit pun datang dengan membawa makanan yang di belinya.
"Ok, loe bisa lanjutin curhat loe," kata Adit sambil menikmati jajanan yang di belinya barusan.
...***...
Sore itu Adit pergi ke kostan Nia. Dan beberapa kali ia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban dari dalam.
"Oiya gue lupa! Dia jam segini pasti lagi di toko!"
Adit buru-buru menyalakan motornya dan menuju ke toko kue tempat Nia bekerja.
Disana ia melihat Nia yang sudah berada di atas motornya untuk pulang. Melihat Adit memotong jalan di hadapannya, Nia pun langsung menghentikan motornya.
"Sorry, gue ada perlu sama loe, sebentar."
"Ada apa?" Tanya Nia seraya melepaskan helmnya.
"Gue mau nagih bayaran atas pertolongan gue kemaren," jawab Adit tanpa basa-basi.
"Sebenernya loe tuh ikhlas gak sih nolongin gue!? Loe kan tau gue baru aja abis bayar perbaikan motor!"
"Gue gak minta duit, gue cuman mau loe nolongin gue."
"Oke, tapi apaan dulu nih?"
__ADS_1
"Gue mau loe jadi temen dari cewek yang bernama Fitri."
Nia tertegun hampir tidak bisa berkata-kata.Mendengar Adit menyebutkan nama seorang wanita entah kenapa ia merasakan ada yang sakit di sudut hatinya.
"Kali ini aja gue minta bantuan loe. Entar gue kasi tau cara kerjanya."
"Mm... i --- iya."
"Gue minta no kontak loe," ucap Adit, seraya mengeluarkan HP dari saku celananya. "Buruan, gue mana bisa baca pikiran loe kalo loe gak sebutin nomer nya!" ucap Adit membuyarkan lamunan Nia.
"I --- ini."
Saking gugupnya Nia malah memberikan HP nya ke Adit.
Adit pun mengambil alih HP tersebut dari genggaman Nia. Setelah mengetik no kontak dan melakukan panggilan singkat, ia mengembalikannya ke Nia dengan tatapan heran.
"Kesambet loe?"
Nia buru-buru mengenakan kembali helm nya lalu meyalakan motornya.
"Tuh orang kenapa?" Ucap Adit keheranan seraya memandangi kepergian Nia yang mulai menjauh meninggalkan halaman toko.
...***...
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya di luar kota, sore itu Bara pun kembali pulang pulang ke rumah.
Ia menyorot setiap ruangan mencari-cari keberadaan istrinya.
"Dia pasti di kamar," gumam nya.
Sampai di kamar ia memelankan langkahnya. Melihat pintu kamar mandi yang tertutup ia yakin bahwa Raisa sedang mandi.
Tidak lama Raisa pun keluar dari kamar mandi. Ia kaget saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari arah belakang.
"Sayang..., kamu tuh ya!" Raisa berdecak kesal.
"Kenapa, emang kamu gak kangen sama aku?"
"Tapi kamu ngagetin aku! Gimana kalo nanti ada apa-apa dengan calon anak kita!?"
"Aku gak akan biarin sesuatu terjadi pada calon anak kita," Bara memutar tubuh Raisa lalu ia berjongkok mendekatkan wajahnya di perut Raisa yang mulai terlihat membuncit. "Hai anak papa, kamu gak bandel kan selama papa gak ada?"
Raisa pun tersenyum mendengar perkataan Bara. "Gak koq sayang, dia ngerti kalo papa nya lagi nggak ada."
"Jadi maksud kamu dia suka bandel kalo ada aku aja ya?" Tanya Bara seraya menggoda dengan senyum nakalnya."Kamu sendiri gimana, kamu gak mau bandel juga?" Bara mulai mendekatkan wajahnya ke arah Raisa.
"Mending kamu mandi dulu," ucap Raisa seraya memasangkan handuk di leher Bara.
"Oke aku mandi dulu, setelah ini kita akan lanjutkan."
Sepertinya Raisa harus membayar lunas setelah Bara selesai dengan ritual mandinya.
...- 👍...
...- ❤...
...- 🎁 Bagi yang berkenan😚...
__ADS_1