Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 45


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya👍...


Acara makan malam pun telah usai. Tari dan Mala pun pamit untuk pulang. Sebelum pergi ia sempat mengusap perut Raisa yang masih terlihat rata. "Jaga baik-baik cucu mama ya," ucapnya.


"Iya ma...," jawab Raisa yang juga merasa bahagia karena ibu mertuanya sangat menyayangi calon cucunya tersebut.


"Rai, kita pulang dulu ya," pamit Tari seraya bercipika-cipiki.


Adit tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperhatikan Tari yang sedang berjalan menuju keluar hingga masuk ke dalam mobil.


"Dit, maksud loe ngomongin soal mbak Tari sama Ricky tadi apaan? Bisik Dimas.


"Kepo loe!" Sahut Adit.


"Loe gitu amat! Lama-lama kalian mulai gak asik!"


"Bos Dimas ngambek!" Kekeh Ricky. "Pura-pura gak tau lagi loe! Kemaren kita liat koq loe nyamperin mbak Tari waktu mobilnya mogok."


"Terus kenapa loe pada gak nolongin!?"


"Kita mau nolongin, tapi loe keburu dateng, ya kita langsung cabut aja," jelas Ricky.


"Kebangetan loe!"


"Tapi loe senengkan nolongin mbak Tari!?" Adit pun menimpali.


"Seneng apaan! Gue kebetulan aja lewat! Tapi kalo gue liat-liat mbak Tari lumayan juga sih."


"Hehe, silahkan kalian bersaing, gue mules," ucap Ricky, lalu masuk ke dalam.


Mules setelah makan adalah salah satu ciri khas Ricky wkwkwk.


Karena Ricky terlalu lama di kamar mandi akhirnya Dimas pamit pulang setelah sebelumnya mengucapkan selamat untuk yang kesekian kalinya pada Bara.


Setelah membantu Raisa untuk membereskan sedikit kekacauan di dapur Nia pun pamit pulang.


"Ini udah malem banget lho, apa sebaiknya kamu di anterin aja?" Ucap Raisa menawarkan bantuan.


"Nggak perlu mbak, lagian Nia bawa motor sendiri."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya. Terimakasih udah bantu-bantu mbak disini."


"Iya mbak, sama-sama."


Raisa pun mengantarkan Nia sampai di teras.


"Hati-hati," Pesan Raisa lagi.


"Iya mbak!" Sahut Nia."Waduh! Ban motor aku kempes lagi!"


"Ada apa?" Tanya Raisa seraya menghampiri dan ikut memperhatikan ban motor yang kempes di bagian roda belakang.


"Ini mbak, motor aku ban nya kempes," jawab Nia terlihat mulai panik. Apa lagi hari sudah makin larut malam.


"Kamu gak usah khawatir, biar di antar sama Ricky aja."


"Gak usah mbak, biar Nia naik ojek aja."


"Gak apa, biar Ricky yang anterin," Raisa bersikeras dan akhirnya Nia pun mengalah.

__ADS_1


Kebetulan Ricky sudah selesai dengan panggilan alamnya. Ia kembali menemui Adit yang masih nongkrong di teras.


"Rick, tolong kamu anterin Nia pulang dulu, kasian ban motor Nia kempes," titah Raisa.


"Iya deh," Ricky beranjak. Dan tiba-tiba saja ide muncul di kepalanya. "Aduuh..., Ma, Ricky mules."


Ricky pun buru-buru masuk ke dalam. Setelah di toilet ia mengirim pesan ke Bara mengenai rencananya.


Cukup lama Ricky mengurung diri di kamar mandi, hingga akhirnya Raisa memutuskan masuk ke dalam untuk memeriksanya.


Raisa menghampiri Bara yang sedang sibuk dengan laptop nya di ruang tengah. "Sayang, kmu lagi sibuk gak?"


"Kan kamu liat sendiri sayang, ada banyak laporan dalam minggu ini yang belum sempat aku periksa," tanpa menoleh Bara asik mengetik di laptop nya. "Emangnya kenapa? Kamu udah gak sabar? Kan dokter udah bilang klo kita jangan sering-sering dulu," sambungnya seraya tersenyum melirik ke arah Raisa yang berdiri di hadapannya.


"Kamu tuh ngomong apa sih!? Aku tuh serius!"


"Ya sudah,kamu ngomong aja sekarang," Bara meraih tubuh Raisa hingga duduk di pangkuannya.


"Nia gak bisa pulang, ban motor dia kempes, kamu bisa tolong anterin gak?"


"Kenapa gak suruh Ricky aja sayang?"


"Ricky dari tadi gak keluar dari kamar mandi dan gak tau kapan dia selesai," jelas Raisa.


"Di luar kan ada Adit, kamu bisa minta tolong dia dulu.Lagian mereka satu arah kan?"


"Kamu bener juga, ya sudah aku keluar dulu," Raisa pun segera beranjak dari pangkuan suaminya dan melangkah keluar untuk meminta bantuan pada Adit.


"Dit, tante minta tolong ya buat anterin Nia pulang. Kasian, ini udah malem banget, bahaya kan kalo cewek pulang malem sendirian aja."


"Ee --- hmm, iya deh tante. Kebetulan saya juga mau pulang," ucap Adit berbohong. Padahal sebetulnya ia hanya tidak enak untuk menolak permintaan dari ibu sahabatnya tersebut.


...Huh! Kenapa mesti dia yang nganterin gue sih!? Batin Nia....


"Buruan!" Ucap Adit seraya menyalakan motornya.


Nia naik ke atas motor dengan wajah yang tidak kalah jutek. Hatinya terus memaki orang yang memberikan tumpangan secara terpaksa menurutnya.


"Buruan naik!"


"Udah dari tadi!" Jawab Nia ketus.


"Ngomong dong! Loe punya mulut kan!?"


"Gue punya mulut! Tapi kayaknya loe yang gak punya mata!"


"Berisik loe!"


"Loe yang mulai!"


...Percuma ngomong sama cewek tengil kayak loe! Gak ada gunanya!...


Adit pun mulai menjalankan motornya meninggalkan halaman rumah Ricky.


Sementara di kamarnya Ricky terpingkal membayangkan Adit dan Nia berada di satu motor yang sama.


..."Semoga aja mereka baik-baik aja dan selamat sampai tujuan,"...


Saat melewati jalan yang lumayan sepi, Nia mulai merapatkan posisi duduknya.

__ADS_1


Menyadari ketakutan Nia tersebut, akhirnya memunculkan ide dadakan di kepala Adit. Ia sengaja memelankan laju motornya hingga membuat Nia semakin mepet ke arahnya.


"Jangan kenceng-kenceng pegangannya, entar peliharaan gue bangun!"


Sontak membuat Nia terkejut dan melepaskan pegangannya. "Loe bawa peliharaan!?"


"Bukan urusan loe!"


"Loe pelihara anak kucing juga!?"


"Bukan, tapi singa!"


Akhirnya sampai juga Adit mengantarkan Nia ke kostannya.


"Jadi dia ngekost juga!" Batin Adit, karena tadinya ia berpikir Nia tinggal bersama orangtuanya.


"Terimakasih tumpangannya," ucap Nia seraya membuka helm dan memberikannya ke Adit.


"Terimakasih gak bikin motor gue jalan."


"Terus kamu mau nya apa?"


"Kamu bisanya apa?" Tanya balik Adit.


"Ya sudah," Nia membuka tas selempangnya seperti mencari sesuatu di dalamnya.


"Gak usah, gue tau loe pasti lagi kere kan!?" Ucap Adit yang hanya sedang menguji lawan debatnya itu.


"Apaan!? Orang gue lagi nyari kunci koq!" Nia menunjukkan kunci yang di pegangnya di hadapan Adit.


..."*Nie cewek lumayan juga buat di ajak bercand*a."...


Adit memandangi langkah Nia hingga menghilang di balik pintu kostannya.


Nia menutup pintu lalu bersandar dibalik pintu tersebut. "Apa dia bener-bener mastiin gue pulang dengan selamat yah!?" Nia bergumam sambil memegangi dadanya. "Kenapa gue jadi deg-degan gini!?"


Bara mematikan laptop nya lalu menyusul Raisa yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.


"Udah selesai?" Tanya Raisa yang duduk di depan meja riasnya seraya melirik Bara melalui cermin.


"Besok masih bisa di lanjutin," jawab Bara memeluk dari belakang. "Aku lagi pengen," bisiknya di telinga Raisa.


"Sayang, bukannya tadi kamu yang bilang kalo gak boleh dulu."


"Ihhh..., kamu sendiri kan yang bilang gak boleh sering-sering,"


"Tapi bukan berarti gak boleh kan?"


"Tapi ---"+


"Aku bakal pelan-pelan," potong Bara.


Perlahan tapi pasti, mata Author pun mulai tertutup.Dan...😴😴


...👍...


...❤...


...🎁Bila berkenan😚...

__ADS_1


__ADS_2