Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 72


__ADS_3

Setelah semua selesai dan menata semua makanan itu di meja, Raisa memanggil Ricky dan Bara untuk makan siang bersama.


Mereka makan sambil sesekali mengobrol. Sementara Ricky lebih banyak diam dan hanya menjawab jika di tanya.


"Bang, loe dingin amat kayak kulkas dua pintu," bisik Bara pada Ricky yang tetap fokus pada piring yang ada di hadapannya.


-


-


-


Sore itu Kiara pulang ke rumahnya . Ia terkejut melihat Arfan dan Papanya yang sedang mengobrol di ruang tamu. Dengan berat Kiara menghampiri Papanya yang memanggilnya untuk menemani Arfan berbicara. Sementara Papanya masuk ke dalam.


"Apa kamu ada acara? Aku ingin mengajak kamu makan malam?" Tanya Arfan.


"Nggak ada, tapi aku lelah seharian ini. Aku mau istirahat," jawab Kiara malas.


"Hanya sekedar makan malam," bujuk Arfan memohon.


Andai Ricky yang memintanya seperti itu, pasti dengan senang hati ia akan menerimanya. Namun nyatanya ia hanya bisa berharap.


Karena tidak enak selalu menolak ajakan Arfan, akhirnya Kiara menyetujui permintaannya kali ini. "Baik, tapi hanya makan malam setelah itu antar aku pulang," ucap Kiara.


"Ok, sesuai keinginanmu Nona," jawab Arfan terlihat senang.


Setelah mandi dan sedikit berdandan Kiara langsung turun ke bawah menemui Arfan yang sudah menunggunya. Sebelum pergi ia lebih dulu berpamitan dengan Papanya.


"Mau makan di mana?" Tanya Arfan saat sudah berada di dalam mobil.


"Terserah," jawab singkat Kiara dengan tetap memandang lurus ke depan. Andai Ricky yang bertanya seperti itu batinnya.


Beberapa saat mereka sudah sampai di sebuah restoran. Kemudian seorang pelayan restoran menghampiri dan menanyakan pesanan mereka. Pelayan itu pun pergi setelah mencatat semua pesanan tamunya.


Banyak pertanyaan dari Arfan namun hanya di jawab singkat dan seperlunya saja oleh Kiara.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Arfan.


"Silahkan," jawab Kiara sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya.

__ADS_1


"Siapa laki-laki yang bersama mu waktu itu? Sepertinya kalian sangat dekat."


"Bukan urusanmu. Kita kesini untuk makan malam, bukan membahas tentang orang lain."


"Ok, sorry." Tidak ingin merusak momen acara makan malam tersebut, akhirnya Arfan memilih untuk menyudahi saja pertanyaannya meski sebenarnya ia masih sangat penasaran. Melihat dari sikap Kiara saat itu ia sangat yakin kalau Kiara memiliki perasaan pada pria yang sedang bersamanya tempo hari.


Tidak ingin berlama-lama bersama Arfan akhirnya Kiara memilih untuk segera minta di antar pulang saja lagi pula ia ingin segera beristirahat mengingat besok ia harus kembali bekerja.


Ketika hendak masuk ke dalam mobil tanpa sengaja ia melihat Ricky yang juga sedang berada di parkiran yang sama dengan jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Kiara pun langsung menghampiri Ricky. "Ricky?"


Ricky menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya. Namun ia berubah acuh saat mengetahui kalau malam itu Kiara sedang bersama seorang laki-laki. Ia sempat melirik sekilas dan mengingat bahwa laki-laki itu juga yang ketemu waktu di mall tempo hari.


"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Kiara.


"Aku menghadiri undangan salah satu teman kantor ku. Kamu sendiri ngapain?" Tanya Ricky kembali sambil melirik ke arah Arfan yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari tempat mereka berbicara.


"A -- aku sedang makan malam dengan -- "


"Tidak perlu di jelaskan, aku sudah tau." Ricky memotong perkataan Kiara sambil berlalu pergi dari hadapan Kiara.


Ricky tidak mempedulikan teriakan Kiara yang memanggilnya.


Arfan semakin yakin kalau Kiara sangat mencintai laki-laki yang tidak menghiraukan panggilannya itu. Tidak ada gunanya mendekati wanita yang sudah memberikan hatinya untuk orang lain.


-


-


-


Setelah jam kelasnya berakhir, Kiara pergi menuju kantor Ricky untuk menjelaskan masalahnya tadi malam. Ketika tiba di halaman kantor ia melihat Ricky yang hendak masuk ke mobilnya dengan beberapa rekannya.


"Ricky!"


Mendengar suara itu ia sudah tau siapa yang memanggilnya. Karena ia sudah sangat hapal dengan suara Kiara. Kemudian ia berbalik. Kiara sudah berdiri di hadapannya.


"Bisa kita bicara?"

__ADS_1


"Apa tentang laki-laki yang bersamamu semalam? Sudahlah, akhiri saja semua ini. Mungkin dia laki-laki yang baik buat kamu. Kalian cocok koq."


Ucapan Ricky benar-benar menyayat hati Kiara. Ricky berkata seolah-olah tidak ada harapan lagi untuknya mendapatkan sebuah kesempatan itu.


"Bagaimana dengan janji kamu? Ini belum 6 bulan."


"Lupakan masalah perjanjian konyol itu, lagi pula kamu sudah menemukan laki-laki lain," ucap Ricky. Kemudian ia masuk ke dalam mobil di mana rekan-rekannya sudah menunggu.


"Tapi dia bukan siapa-siapa bagiku! Kita nggak ada hubungan apa-apa selain berteman!" Teriak Kiara dengan pilu. Kiara sambil berlari mengejar mobil yang di kendarai Ricky namun tiba-tiba dari arah lain ada mobil yang menghantam tubuhnya yang membuatnya terpental hingga jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Ricky dan rekannya yang belum terlalu jauh dan bisa melihat kejadian itu segera menghentikan mobilnya lalu mereka keluar dari dalam mobil. Ricky menghampiri Kiara yang terbaring di tepi jalan dengan tidak sadarkan diri. Ia mengangkat kepala Kiara lalu meletakannya di pangkuannya. "Kiara!" Sambil ia menepuk pelan pipi Kiara berharap wanita itu akan sadar. Ia bertambah panik saat tangannya memegang kepala Kiara yang banyak mengeluarkan darah. Lalu di bopongnya tubuh yang terkulai lemah itu untuk masuk ke dalam mobilnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Tiba di rumah sakit Ricky langsung memanggil perawat untuk meminta bantuan. Kiara langsung di bawa ke ruang IGD untuk segera di tangani.


Ricky menghubungi Dimas untuk meminta bantuan agar menghubungi orangtua Kiara.


Tidak lama Dimas dan Usman pun datang ke rumah sakit. Ricky tidak tau harus menjelaskan apa kepada Papanya Kiara. Menurutnya dialah orang yang patut di persalahkan atas kejadian yang menimpa Kiara saat ini.


"Bagaimana keadaan Kiara?" Tanya Dimas.


"A -- aku belum tau. Masih di tangani oleh dokter," jawab Ricky dengan suara bergetar menahan rasa takut dan penyesalan yang ada di dadanya.


Melihat Papanya Kiara yang terduduk lemah di kursi ruang tunggu, membuat


Ricky semakin mengutuk dirinya sendiri. Ada air mata yang menetes di wajah pria tua itu.


Beberapa saat Raisa dan Bara juga datang. Ricky langsung menghambur ke pelukan Mamanya seolah ingin menumpahkan semua beban yang mengganjal di hatinya.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Raisa sambil mengajak Ricky sedikit menjauh.


Ricky belum sanggup untuk menceritakan kejadian sebenarnya, yang ia inginkan saat ini hanyalah menangis di pangkuan Mamanya. Raisa mengusap punggung Ricky yang tampak terguncang. Ia tau ada sesuatu yang menimpa Putranya itu. Dengan sabar ia berusaha menenangkan agar Ricky mau berbicara dengannya.


-


-


-


**Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya,,

__ADS_1


Terimakasih 😘😘**


__ADS_2