
Hujan yang turun dengan sangat derasnya sore itu, membuat hembusan udara dingin semakin terasa ketika malam tiba.
Adit yang biasanya selalu bermalam minggu ke rumah Ricky mau tak mau mengurungkan niatnya malam itu.
Suasana dingin malam itu membuat cacing-cacing di perutnya sangat aktif meneriakan suara-suara.
Ia meraih kunci motor dan pergi mencari makanan yang cocok dengan tema malam itu.
Beberapa saat ia sudah sampai di tempat langganan baksonya. Ternyata sudah ada beberapa muda mudi yang juga nongkrong di sana. Setelah memesan bakso lalu Adit mencari tempat duduk. Beruntung ia masih mendapatkan tempat duduk karena pengunjung yang lumayan banyak malam itu.
Tidak lama bakso yang ia pesan datang dan ia pun segera menyantapnya untuk menenangkan perutnya yang sedari tadi terus berbunyi. Tiba-tiba ia teringat malam dengan suasana yang sama dimana ia makan bakso bersama Nia.
"Dia lagi ngapain ya?" Batinnya. Sampai saat ini ia belum bisa mengartikan hubungan mereka sebenarnya. Di katakan musuh tapi kenyataannya mereka pernah saling membantu satu sama lain. Jika di katakan teman pun tidak mungkin, karena mereka lebih sering ribut ketimbang akur nya.
"Ahh, kenapa gue malah mikirin dia!?" Umpat Adit dalam hati.
Setelah membayar baksonya ia pun pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kostan nya. Di tempat tidurnya yang lusuh itu ia berbaring dan kembali teringat pada Nia. Ada keinginan untuk menghubungi wanita yang sering adu mulut dengannya itu. Ia mengabaikan rasa gengsinya lalu meraih ponselnya dan mencari kontak Nia di sana.
Nia meraih ponselnya ketika mendengar nada pesan yang masuk. Ia hampir tidak percaya jika mendapatkan pesan dari lelaki yang sering adu mulut dengannya. Meski hanya sebuah ucapan terimakasih atas bantuan terakhirnya tempo hari tapi itu sudah sangat membuatnya merasa senang. Jujur saja ia mulai ada rasa simpati, meski Adit sering membuatnya kesal namun nyatanya Adit tidak pernah mengabaikan dirinya di saat ia sedang membutuhkan bantuan.
-
-
__ADS_1
-
Nia memarkirkan motor maticnya di sebuah fakultas yang akan menjadi tempatnya untuk melanjutkan kembali pendidikannya. Setelah sempat beberapa waktu ia cuti karena kendala biaya, kini ia kembali untuk menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda. Ia sengaja memilih fakultas tersebut karena jarak yang lumayan dekat dengan kostan nya dan juga tempat kerjanya. Setelah pulang kuliah ia akan pergi ke toko kue lalu sore hari hingga jam 10 malam ia bekerja di sebuah cafe. Mau tidak mau ia mengambil dua pekerjaan sakaligus dalam sehari untuk menyambung hidup dan biaya kuliahnya. Sudah sejak lulus dari sekolah ia merantau ke kota dengan maksud untuk melanjutkan pendidikannya. Namun, ia harus berhenti di tengah jalan ketika mendengar kabar bahwa Ayahnya telah meninggal dunia. Ia tidak mau membebani ibu dan kakak-kakaknya yang ada di kampung untuk membiayai kuliahnya, sebab itu ia memutuskan untuk menunda kuliahnya dan mencari uang dan menabung untuk biaya kuliahnya sendiri.
Seandainya saja toko kue milik Raisa buka hingga malam hari mungkin ia tidak perlu repot-repot untuk mencari pekerjaan tambahan. Sayang nya toko itu hanya buka pagi hingga sore hari saja.
"Eh, apa gue nggak salah lihat?" ucap Adit seraya berhenti dan kembali menoleh pada seseorang yang tadi sempat menarik perhatiannya. "Ah, mungkin gue salah lihat." Adit melanjutkan langkahnya untuk pergi menemui Ricky karena seseorang yang sempat ia lihat ternyata tidak ada di sana.
"Hai, udah lama?" Tanya Adit menghampiri Ricky yang sudah duduk di tempat biasa mereka nongkrong sebelum makul di mulai.
"Baru,koq. Ayo ke kantin gue tadi belum sarapan di rumah," ajak Ricky. Tanpa ba bi bu Adit langsung mengikuti langkah Ricky.
Saat berjalan menuju ke kantin tiba-tiba Adit menangkap sosok itu lagi, sosok Nia wanita yang sering adu mulut dengan nya. "Ah, ada apa dengan diri gue? Kenapa gue melihat si cewek cicak itu mana-mana?" Batinnya.
Setelah mendapatkan tempat duduk lalu kedua sahabat ini memanggil penjaga kantin dan memesan makanan.
Ricky melihat pada Adit dengan tatapan heran. "Maksud loe cewek siluman gtu...?"
"Bukan..., tapi yang gue maksud adalah Nia, pegawai di toko kue nyokap loe...."
"Oh, loe ngomong yang bener. Tuh orang ada namanya, kenapa pake loe bilang cicak segala. Emang loe ada ngeliat dia di kampus kita?"
"Gue belum tau pasti apa itu si cewek cicak apa bukan, tapi gue kayak ngeliat dia aja tadi," jelas Adit.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan loe --- "
"Gkgkgk..., gue nggak mungkin punya perasaan gimana-gimana sama tuh cewek."
"Hati-hati bucin loe...," cibir Ricky.
-
-
-
Setelah jam kuliahnya selesai Nia buru-buru keluar dari kelas dan menuju tempat di mana ia memarkirkan motornya. Ketika sedang mencari kunci motornya, tanpa sengaja ia telah menjatuhkan dompetnya dari dalam tas.
Saat akan menaiki motornya tanpa sengaja Adit melihat dompet Nia yang telah terjatuh tadi. Ia mengambil dompet itu lalu melihat KTP yang ada di dalam dompet tersebut. Setelah melihat nama dan foto yang ada di KTP itu akhirnya ia yakin kalau yang ia lihat tadi benar-benar Nia. "Berarti gue nggak salah lihat, si cewek cicak itu tadi memang ada di sini." Batinnya.
Adit langsung pulang menuju kostan nya dan ia berniat akan mengembalikan dompet tersebut di sore hari setelah jam pulang.
Sorenya Adit melajukan motornya menuju toko kue tempat Nia bekerja. Sampai di sana rupanya ia sedikit terlambat karena Nia sudah pergi dari sana dengan motornya. Adit buru-buru mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Nia, namun percuma Nia tidak mengangkat panggilannya tersebut mungkin ponselnya sedang di silent. Melihat Nia belum terlalu jauh Adit pun berniat untuk mengejar Nia dengan motornya.
Nia menghentikan motornya lalu masuk ke sebuah cafe tempat ia bekerja mencari uang tambahan. Setelah mengganti pakaian dengan seragam cafe tersebut ia pun mulai melakukan tugasnya.
"Apa dia juga bekerja di sini?" Batin Adit. Setelah menimbang-nimbang akhirnya ia memutuskan untuk kembali di malam hari saja sebelum cafe itu tutup.
__ADS_1
Setelah pengunjung mulai menyurut akhirnya Nia bisa beristirahat sebentar untuk makan malam. Ia juga menyempatkan untuk memeriksa ponselnya barangkali saja ibu atau kakaknya ada menghubunginya untuk menanyakan kabar. Ia mendelik ketika melihat panggilan tak terjawab dari Adit yang ia beri nama jangkrik di ponselnya.
"Ada perlu apa lagi dia ngubungin gue?" Batin Nia. Lalu ia pun menghubungi Adit melalui ponselnya.