Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 82


__ADS_3

Kiara menemui Papanya yang sudah menunggu ruang tengah setelah sebelumnya mengatakan ingin berbicara dengannya.


"Ada apa, Pa?" Sambil mendudukan tubuhnya di sofa.


"Bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Arfan?" Tanya Usman sambil melepas kacamatanya dan meletakannya di atas meja.


"Maksud Papa?" Kiara tidak mengerti hubungan yang di maksud.


"Papa rasa hubungan kalian ada baiknya jika di resmikan saja. Papa ingin kalian segera menikah."


Kiara terdiam sejenak. Bagaimana mungkin dia menikah dengan Arfan, sementara ada laki-laki lain yang sudah mengisi hatinya. Kedekatannya dengan Arfan selama ini hanya karena rasa sakitnya untuk membalas perlakuan Ricky semata. Dia tidak menampik jika di katakan ia hanya menjadikan Arfan sebagai pelampiasannya semata. Tapi hubungannya dengan Arfan juga sampai saat ini hanya sebatas teman saja. Meski ia tau Arfan menaruh hati padanya, tapi belum ada ikatan resmi selain hubungan pertemanan.


"Pa...,aku dan Arfan itu hanya berteman saja. Tidak ada hubungan apa-apa. Bagaimana bisa Papa menyuruh kami menikah."


"Apa kamu bersedia menikah jika Arfan mencintaimu?"


Kiara menghela nafas dengan pertanyaan Papanya yang menjebak. Ia tau Arfan menyukainya, tapi hatinya masih belum berpaling sedikit pun dari laki-laki yang kini belum sadarkan diri di sebuah ruang rumah sakit.


"Tapi..., aku nggak cinta sama Arfa. Aku hanya menganggap dia sebagai teman. Tidak lebih."


"Lalu siapa yang kamu cintai? Apa laki-laki yang pernah mengabaikanmu yang kini terbaring di rumah sakit itu?" Perkataan Papanya begitu menohok bagi Kiara. Ia teringat bagaimana pertemuan terakhirnya dengan Ricky sebelum ia mengalami kecelakaan.


"Pa...."


"Apa kamu mau menunggu laki-laki itu sadar dari koma? Itu pun kalau dia masih mengingat kamu. Kalau pun dia sadar, Papa yakin dia tidak mungkin bisa membahagiakan kamu dengan keadaannya yang mungkin tidak akan sama seperti saat sebelum dia mengalami kecelakaan. Untuk apa membuang-buang waktu kamu. Pikirkan usiamu saat ini, pikirkan Papa," jelas Usman panjang lebar.


Kiara tertunduk dengan air mata yang mulai menetes. Memang sampai saat ini ia masih sangat mencintai Ricky. Tapi di sisi lain ia juga ingin membahagiakan Papanya. Ia harus memilih antara mengorbankan perasaannya terhadap laki-laki yang di cintanya atau menuruti kemauan Papanya.


-

__ADS_1


-


-


Pagi itu sudah beberapa kali Raisa bolak balik ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Sejak Ricky masuk rumah sakit dan belum sadarkan diri, ia memang kurang memperhatikan kesehatannya. Karena terlalu fokus memikirkan keadaan Ricky, sampai-sampai ia lupa untuk menjaga kesehatannya sendiri. Untuk makan saja bahkan suaminya yang selalu mengingatkan. Beruntung Bara selalu berhasil membujuk dengan menjadikan putri mereka sebagai senjata ampuh untuk membujuk Raisa agar tetap menjaga kesehatannya. Tapi semalam ia kurang tidur setelah pulang dari rumah sakit.


"Sayang...,ada apa?" Melihat istrinya yang keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat pucat pagi itu Bara buru-buru menghampiri.


"Mungkin masuk angin," jawab Raisa menuju kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana.


"Ayo, kita menemui dokter. Aku nggak mau ada apa-apa dengan kesehatan kamu."


"Aku nggak kenapa-kenapa, ini hanya masuk angin biasa saja. Mungkin sebentar lagi sembuh. Tolong suruh nik Jur sediakan teh hangat dan bawa kemari," pinta Raisa.


Bara menurut dan langsung pergi. Namun ia sendiri yang membuatkan teh hangat yang di inginkan istrinya tersebut.


"Sayang..., bukannya tadi aku menyuruh agar bik Jur saja yang mengantatkan." Raisa mengubah posisinya dengan bersandar.


"Nggak apa-apa, kalau hanya membuat teh, aku masih bisa melakukannya untuk kamu," jawab Bara seraya memberika teh yang di bawanya.


"Apa kamu juga yang membuatnya?" Tanya Raisa seraya menyambut teh dari tangan Bara lalu meminumnya.


"Hmm." Bara mengangguk pelan seraya tersenyum melihat Raisa tampak menikmati teh buatannya.


"Terimakasih sudah melakukan banyak hal untuk ku selama ini. Andai saja...-- " Raisa tidak melanjutkan ucapannya, tampak bulir bening kembali menghiasi kelopak matanya.


Bara langsung merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. "Ssstt..., jangan buat dirimu semakin tertekan seperti ini. Percayalah, kita bisa melewati semua ini. Minggu depan kita akan membawa Ricky ke Singapura untuk melanjutkan perawatannya di sana. Aku juga sudah bicara dengan dokter yang menangani Ricky, katanya dia memiliki seorang teman di sana yang mungkin bisa membantu kita untuk menyembuhkan Ricky," jelas Bara seraya mengusap punggung istrinya yang terguncang.


"Hari ini sebaiknya kamu di rumah saja, jangan ke rumah sakit dulu. Aku akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaanku dulu, karena minggu depan kita akan pergi untuk membawa Ricky. Dan aku tidak ingin kalau kamu sampai sakit," nasehat Bara.

__ADS_1


Raisa mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya karena memang saat ini ia merasa tidak enak badan dan kepalanya juga terasa agak pusing.


Setelah merasa jauh lebih baik, esoknya Raisa pergi ke rumah sakit. Ia menemui dokter dan tidak pernah bosan bertanya mengenai keadaan putranya.


Baru saja ia keluar dari ruangan tersebut tiba-tiba ia merasa sangat pusing dan kepalanya terasa sangat berat. Sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh ke lantai rumah sakit tersebut beruntung ada yang langsung menahan tubuhnya dari arah belakang. Ia tidak tau pasti siapa yang menolongnya, tapi suara orang tersebut terdengar seperti suara suaminya.


Raisa yang mulai tersadar dari pingsannya perlahan membuka matanya sambil mengedarkan pandangannya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa dirinya kini sedang berada di salah satu ruangan rumah sakit. Karena sebelumnya ia memang sudah berada di sana sebelum ia pingsan.


"Sayang..., jangan banyak bergerak dulu," ucap Bara saat melihat Raisa yang hendak bangkit.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir," jawab Raisa sambil memijit kepalanya yang masih terasa agak pusing.


"Mulai sekarang kamu harus benar-benar memperhatikan kesehatan kamu dan calon bayi kita yang ada di sini." Sambil memegang perut rata istrinya.


"Apa!?"


"Kamu sedang hamil, sayang...," ucap Bara lagi.


Bak di hantam bongkahan batu besar rasanya mendengar kalau ternyata kini ia hamil. Belum habis ujian yang kini di jalaninya karena harus melihat putranya yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Tapi kini ia malah hamil. Bukan tidak mensyukuri, hanya saja ia merasa waktunya sangat lah tidak tepat dengan keadaannya saat ini. Terlalu sibuk memikirkan keadaan Ricky, sampai-sampai ia lupa untuk meminum pil kontrasepsinya.


"Hiks hiks hiks...." Raisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Di dalam hati ia memaki dirinya sendiri.


"Sayang, kenapa menangis?" Bara memeluk tubuh istrinya yang masih duduk di atas ranjang rumah sakit.


"Kenapa ini harus terjadi, sementara aku belum siap." Raisa semakin terisak menyesali kelalaiannya.


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Ini anugerah yang di berikan untuk kita. Kita patut bersyukur masih di beri kepercayaan untuk memiliki seorang anak lagi, meski dengan keadaan kita seperti ini," jelas Bara berupaya menenangkan.


Masih merasa tidak bisa menerima Raisa terus menangis di pelukan suaminya. Ia berhenti saat salah satu perawat masuk ke ruangan itu. Ia menghapus jejak air matanya dan memperhatikan suaminya yang berbicara dengan perawat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2