
...***Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍...
...Terimakasih🤗***...
Setelah berhasil mendapatkan pohon mangga muda, Dimas pun segera menghubungi Bara.
Bara akhirnya bisa tersenyum lega saat menerima pesan dari Dimas melalui ponselnya.
Setelah janjian di tempat awal mereka bertemu, Dimas menyerahkan kantongan berisi buah mangga tersebut.
"Makasih banget bro, loe emang bener-bener temen gue," ucap Bara senang.
"Ntar aja makasih nya, kalo loe udah gue undang ke acara kawinan gue.Sekalian dah tu, loe ucapin selamet," Balas Dimas seraya tersenyum.
"Gue juga ikut andil dalam ngedapetin tuh buah mangga," celetuk Adit yang bersender di sisi mobil.
"Iya gue tau. Makasih banget!"
"Makasih doang!?"
Bara menghampiri Adit seraya merogoh saku celananya. "Nih gue ada sedikit rasa ucapan terimakasih buat loe," lalu Bara meletakkan beberapa buah permen di tangan Adit. Permen hasil kembalian saat ia membeli minuman di warung.
Tak ayal membuat Ricky dan Dimas terpingkal melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
Bara dan juga Ricky akhirnya pulang ke rumah.Sementara Dimas mengantar Adit pulang ke kostan nya.
Ricky berjalan menuju ke kamarnya. Setelah mandi dan mengganti pakaian nya ia langsung menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah berteriak.
Setelah meletakkan mangga yang ia bawa di atas meja, Bara bergegas menuju kamar demi memberitahukan Raisa bahwa ia telah berhasil mendapatkan mangga tersebut.
Sesampai di kamar, ia menghampiri Raisa yang tampak terlelap di bawah selimut. Ia tidak sampai hati jika harus membangunkannya. Akhirnya ia beranjak untuk mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.
Raisa membuka matanya,perlahan ia duduk dan bersandar di tempat tidur. Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. "Dia udah pulang," Batinnya.
Tidak lama Bara keluar dari kamar mandi. Melihat Riasa yang sudah terbangun dari tidur, ia pun segera menghampirnya.
"Sayang, aku udah bawakan buah mangga seperti yang kamu minta."
"Makasih..., tapi kayaknya aku udah gak pengen lagi deh."
Bara terkejut, lalu kemudian mengusap kasar wajahnya. Ia tidak tau harus bagaimana menjelaskan betapa bersusah payahnya ia hingga harus meminta bantuan para sahabatnya demi mendapatkan buah mangga itu.
"Sayang..., kamu yakin gak mau nyoba dulu buat makan buah mangga nya? Entar Baby kita ileran lho...."
"Iya, nanti aku cobain buah mangganya. Tapi kita makan nya sama-sama ya, kamu mau kan?"
"Hmm..., iya aku mau," Bara menyanggupi meski ia tidak suka dengan mangga muda tersebut. Namun ia berharap Raisa akan melupakan nya.
Sementara di tempat lain.Dimas terus membayangkan gadis cantik pemilik pohon mangga yang berhasil mencuri hatinya.
Flash back on
"Maaf, kami ingin bertemu pemilik pohon mangga ini.Apa mbak bisa membantu kami?" Ucap Dimas.
"Saya sendiri pemilik pohon mangga ini," ucap gadis tersebut.
"Begini mbak, temen istri saya lagi ngidam pengen makan mangga muda. Kita udah keliling buat nyari sampe akhirnya nemu pohon mangga di mari," jelas Adit.
Karena Dimas sudah tidak mampu lagi berbicara.Ia bisa melihat wajah Dimas yang begitu sangat terpesona dengan sosok dari pemilik pohon mangga tersebut.
"Kalau begitu silahkan Abang ambil sendiri, saya masuk dulu."
"Mm.. mbak! Gimana cara ngambilnya!?" Teriak Adit saat gadis tersebut masuk kedalam rumah lalu menghilang di balik pintu.
"Udah, biar gue manjat aja," ujar Dimas menyanggupi. "Yang penting kita udah dapet ijin dari yang punya pohon."
__ADS_1
"Terserah loe aja deh."
Setelah melepaskan jas kantornya, Dimas menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. "Loe pegangin dulu nih," titahnya kepada Adit seraya memberikan jas beserta dasi yang sudah ia lepaskan.
"Untung sebelumnya gue udah ada pengalaman manjat tembok sekolah," gumam Dimas sambil memulai aksi memanjatnya.
Setelah merasa cukup dengan beberapa tangkai buah mangga yang berhasil ia petik, ia pun turun dari pohon. Namun rupanya ada seekor semut yang menempel dan menggigit lengannya. Sontak Dimas mengaduh kesakitan.
"Loe kenapa!?"Adit ikut kaget seraya menghampiri Dimas yang sedang mengusap-usap lengannya.
"Gue di gigit semut!"
"Alaaah..., lebay loe ah! Semut doang, kirain apaan!"
"Sumpah,ini sakit banget!" Balas Dimas dan masih mengusap lengannya yang tampak memerah.
"Ya udah gak usah manja loe, ini gimana caranya kita bawa mangga-mangga ini?"
"Ini bang."
Adit dan Dimas menoleh ke arah suara tersebut.
"Terimakasih," ucap Adit seraya menyambut kantongan yang di berikan gadis pemilik pohon mangga. Lalu Adit segera memasukan mangga-mangga tersebut.
"Ini bang, olesin dulu lengan abang yang di gigit semut tadi," seraya memberikan salep pada Dimas.
"Terimakasih, tapi nggak perlu ini hanya gigitan semut, mungkin sebentar lagi juga gak bakal sakit lagi."
"Saya tau bang, itu pasti sakit banget. Kalo gak di olesin salep ini, bisa-bisa besoknya lengan abang jadi bengkak."
"Udah, loe obatin aja dulu, tapi maaf gue gak bisa bantu, sebab tangan gue kotor abis mungutin buah mangga barusan."
Ucap Adit sambil mengerlingkan matanya ke Dimas.
"Gue tunggu loe di mobil!"
"Sini biar saya bantu."
"Terimakasih,"ucap Dimas. "Oiya, nama kamu siapa?" Akhirnya Dimas memberanikan diri untuk bertanya.
"Nama saya fitri," menatap sekilas seraya tersenyum."Nama Abang sendiri siapa?"
"Panggil Dimas saja."
"Udah bang. Ini abang bawa aja salep nya, nanti di rumah di olesin lagi."
"Terimakasih. Oiya ini...."
"Nggak perlu bang, saya ikhlas ngasi buah mangganya. Sampai kan salam saya buat istri teman Abang."
Dimas memasukan kembali dompet yang sempat ia keluarkan dari saku celananya. "Sekali lagi terimakasih," ucap Dimas lalu berpamitan.
"Gimana, sukses nggak?" Tanya Adit saat Dimas mulai menjalankan mobilnya.
Melihat pancaran dari wajah Dimas, Adit pun sudah bisa mengetahui jawabannya.
"Bakal ada yang nyusulin Bara nih kayaknya," ucap Adit dengan senyum jahilnya. "Tapi loe tenang aja, loe gak perlu repot-repot nyari buah mangga lagi kalo bini loe ngidam. Kan udah punya pohon mangga sendiri tuh," kekeh Adit.
"Loe mikir jauh banget! Pake ngebayangin udah ngidam aja!"
"Gue tau..., loe udah jatuh cinta pada pandangan pertama, kan!?" "
"Ngomong-ngomong loe udah dapet no kontak dia belom?" Tanya Adit.
"Nggak perlu, yang penting kan gue udah tau rumah dia."
__ADS_1
Ngapain no kontak klo bisa langsung ngelamar ya kaannn...🤭
Flashback off
...***...
Usai makan malam Bara kembali membuka laptop nya untuk memeriksa hasil laporan yang sudah di kirim oleh sekretarisnya.
"Sayang, buka mulunya."
Bara menoleh ke arah Raisa yang duduk di samping nya dan sudah siap dengan semangkuk mangga muda beserta sambel rujak yang di buatnya.
"Ternyata dia inget! Mam*us gue"!
"Kamu aja yang makan, itu mangga kan emang aku cariin khusus buat kamu," Bara berusaha menolak secara halus.
"Iya aku tau, tapi aku pengennya makan mangga nya di temenin sama kamu.Kan kamu udah janji.Ayo buka mulutnya."
Demi keamanan dirinya, Bara akhirnya mengalah. Ia membuka mulutnya, dan sepotong mangga muda yang sudah berlumuran bumbu rujak itu masuk ke dalam mulut Bara. Ia membelalak kaget saat merasakan bumbu rujak itu terasa sangat pedas di lidahnya. Karena ia memang tidak biasa memakan makanan yang pedas.
"Udah sayang..., buat kamu aja," Bara berusaha menolak kembali saat Raisa berusaha menyuapinya lagi.
Raisa memakan potongan mangga yang tadi ia sodorkan ke Bara lalu ia kembali mengambil sepotong lagi dan berusaha menyuapi kembali. "Ayo, kamu lagi."
Bara akhirnya kembali membuka mulutnya, dan terus berualang hingga Raisa mengatakan ia tidak sanggup lagi untuk memakannya.
"Aku udah kenyang, kamu yang ngabisin ya?" Tanya Raisa dengan polosnya.
"Nggak, aku juga udah kenyang," Bara benar-benar sudah tidak tahan lagi saat merasakan lidahnya seperti terbakar.
Ia memeriksa isi kulkas lalu mengambil susu kemasan yang ada disana.Beberapa saat rasa pedas yang menempel di lidahnya mulai berangsur menghilang usai meminum susu tersebut.
Ia pikir penderitaan nya sudah berakhir, ternyata tidak. Saat tengah malam ia di serang mules hingga harus bolak balik ke kamar mandi.
"Apa semua pria beristri mengalami hal ini...," rintihnya saat sedang berada di kamar mandi.
Rasa sakitnya mulai berkurang saat mulai menjelang subuh.Ia baru ingin memejamkan matanya namun tiba-tiba Raisa sudah lebih dulu terbangun.
"Sayang, kamu udah bangun?" Tanya Raisa dengan wajah bahagianya tatkala mendapati sang suami sudah bangun terlebih dahulu.
"Bahkan aku belum tidur selama hampir semalaman ini!"
Raisa mendekat lalu memeluk Bara dari arah samping.
Jika saja ia tidak kehabisan tenaga akibat di dera oleh rasa mules tadi malam, mungkin ia sudah menghabisi Raisa saat itu juga.
"Sayang minum obat nya dulu," titah Raisa saat Bara sudah selesai dengan sarapannya. "Kenapa kamu gak coba buat ngebangunin aku kalo kamu lagi sakit?"
"Aku baik baik aja, hanya sedikit mules."
"Kamu istirahat aja, aku mau ke belakang dulu."
"Loe kenapa? Sakit?" Tanya Ricky keheranan saat melihat wajah Bara yang terlihat agak pucat pagi itu.
"Gue mules, dan semaleman gue gak bisa tidur karena harus bolak balik ke kamar mandi."
"Makanya loe jangan jajan sembarangan!" Ucap Ricky menirukan kalimat yang pernah di tujukan Bara untuknya.
"Tadi malem gue kebanyakan makan rujak kayaknya."
"Koq bisa loe yang makan? Yang ngidam kan nyokap, kenapa malah loe ikutan ngidam juga?"
"Gue cuman ngikutin kemauan nyokap loe!"
...👍...
__ADS_1
...❤...
...🎁 Bila berkenan😚...