Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 22


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Raisa tersenyum ramah menyapa para pegawainya yang pagi itu sudah tampak sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing.


"Mbak, ini tadi ada kiriman," ujar Nia sambil menyerahkan sebuah paketan.


"Siapa pengirimnya," tanya Raisa seraya menyambut paketan tersebut.


"Nggak tau, tapi alamat tujuan nya udah bener," jawab Nia lalu kembali pada pekerjaannya.


Raisa membuka paketan tersebut setelah sampai di ruangan nya. Ia bersandar di kursinya sambil menarik nafas dalam. "Ini gak bisa di biarain," gumamnya sambil kembali membaca secarik kertas dari dalam paketan tersebut.


"*Gunakan HP ini dan segera hubungi aku, atau aku yang akan datang kesana dan memohon di depan pegawai kamu"


 


"Bara*"


 


Raisa memasang SIM card nya lalu mengikuti isi pesan dari secarik kertas yang sudah ia ketahui siapa pengirimnya.


"Terimakasih, terlambat beberapa menit lagi maka aku akan pergi kesana," ucap Bara ketika menyambut panggilan dari Raisa.


"Kamu gak bosan begini terus?" Balas Raisa.


"Maaf jika aku harus menjawab bahwa sebenarnya aku bosan, makanya buruan kita nikah biar gak ngumpet kayak gini."


"Kamu ngomong apa sih? Kita kan emang gak ada hubungan apa-apa! Buat apa kamu berfikir sejauh itu!?"


"Buat masa depan kita."


"Temui aku jam 3 sore, jika terlambat aku nggak punya waktu buat nunggu!" Jelas Raisa.


"Oke, apa pun untuk kamu akan aku lakukan."


Bara tersenyum ceria saat keluar dari ruangnya sambil berjalan menuju lift.


Beberapa karyawan nya memperhatikan gerak-gerik atasannya yang akhir-akhir ini terlihat sangat bahagia.


Bara mengemudikan mobilnya setelah melirik sekilas jam tangannya. Ketika melewati toko bunga ia berniat untuk membelinya, tapi ia bingung bunga yang mana yang di sukai Raisa, jadi ia membeli setiap tangkai bunga dengan warna yang berbeda lalu meminta penjaga toko mengemasnya dengan sangat cantik.


Ia sudah membayangkan bagaimana pertemuan nya sore itu dengan Raisa.


Bara menghentikan mobilnya, lalu berjalan memasuki toko yang agak sepi, dan hanya Nia yang tampak sedang berberes disana.


Raisa sengaja memulangkan pegawainya nya dan menutup toko lebih awal hari itu.


Bara tersenyum sambil memasuki ruangan dimana Raisa sedang terlihat duduk di belakang meja kerjanya. "Untukmu," ucapnya sambil memberikan buket bunga yang telah ia beli saat di perjalanan menuju toko. "Aku gak tau kamu sukanya bunga warna apa, jadi aku membeli semua warna."


Raisa tersenyum getir ketika menerima bunga itu. "Duduklah."


"Sebutkan saja bunga apa yang kamu suka, aku akan membawakan nya setiap hari."


"Itu tidak perlu."


"Tapi bagi ku itu perlu, dan aku akan melakukan apa yang menurut ku perlu," balas Bara dengan tatapan lembut.


"Baik, aku juga akan melakukan apa yang menurut ku perlu. Tolong akhiri semuanya sampai disini." ucap Raisa menyodorkan ponsel yang tadi di kirim Bara untuknya.


"Kenapa, Kamu gak suka ponselnya? Yaudah, kamu mau yang seperti apa, nanti aku akan kirim kan lagi?"


"Bukan itu masalahnya."


"Lalu?"

__ADS_1


"Dengarkan aku." Raisa menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku sudah memberi kesempatan sama kamu untuk membuktikan bahwa kamu layak untuk menjadi pendamping yang bertanggung jawab, tapi..., menurut ku kamu belum bisa melakukan hal itu, dan...maaf, aku mau kamu berhenti."


"Apa aku melakukan kesalahan?"


"Kamu gak salah apa-apa," Raisa segera mengalihkan pandangannya, ia takut tidak bisa menolak lagi jika Bara memohon.


"Jadi kenapa aku harus berhenti?"


"Aku kan udah bilang, kamu belum layak untuk di jadikan seseorang yang bisa bertanggung jawab, dan jangan pernah menanyakan alasannya! Karena aku lah yang berhak menentukan!" Jelas Raisa dengan sedikit penekanan.


Maaf aku harus mengatakan ini, aku lah yang sebenarnya tidak layak untukmu!!


"Pergilah, jangan datang kesini lagi, dan jangan pernah datang ke rumah!"


"Tapi --- "


"Aku mohon, atau aku yang akan berlutut agar kamu pergi dari sini!?" Ucap Raisa dengan suara yang mulai bergetar.


Bara akhirnya beranjak dan pergi dari ruangan itu dengan mata yang terlihat sedikit memerah.


Seiring dengan kepergian Bara yang menghilang dari balik tembok, buliran bening pun menetes di pipi halus Raisa.


Maaf....


Aku hanya tidak ingin menjadi lebih tidak tau diri lagi!!


Setelah sampai di kamarnya, Raisa menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan tangisnya pun pecah disana.


Bara tidak pulang ke rumah tapi lebih memilih pergi ke apartemen nya, ia tidak ingin pulang dalam keadaan kacau. Sesampai nya disana, ia meninju tembok kamarnya beberapa kali hingga tangannya berdarah, setelah merasa puas ia pun masuk ke kamar mandi dan berdiri di bawah guyuran shower. Air di lantai kamar mandi sedikit memerah karena bercampur dengan darah yang keluar dari lukanya.


Beberapa saat ia pun keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya. Ia merebahkan badannya di tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarnya.


Bara melihat layar ponselnya lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari Adit.


"Loe dimana?"


"Suara loe kenapa? Kayak gak semangat gitu!?" Tanya si penelepon yang ternyata adalah Adit. "Loe sakit? Wah, jangan bilang kalo loe yang udah ambil alih demamnya tante Raisa kemarin?" Ledek Adit.


"Semua udah berakhir," ucap Bara lalu mengakhiri panggilan.


"Apanya yang berakhir?? Bar! Kebiasaan banget maen matiin aja!"


Bara membuka pintu apartemen nya, di lihat nya Adit sudah berdiri disana. "Ngapain loe kesini?"


"Mestinya gue yang nanya, loe kenapa?" Sahut Adit sambil mengekor di belakang Bara lalu ikut duduk di sofa. "Bar, tangan loe kenapa!?" Adit kaget saat melihat luka di tangan Bara. "Loe abis ninju muka Badak!?"


"Gue di tolak!" Jawab Bara seraya bersandar di sofa dengan tatapan kosong.


"Yaudah, loe yang kuat deh." Adit Sambil menepuk pelan pundak Bara. "Tapi...,masa iya loe di tolak? Perasaan loe gak kurang apa-apa."


"Tapi kenyataan nya gue di tolak, dan lebih parahnya lagi gue gak boleh lagi dateng ke rumahnya."


"Yang penting kan loe udah nyatain cinta loe, masalah di terima atau ditolak ya emang udah resikonya. Tapi perasaan kemarin lancar-lancar aja, buktinya tante Raisa gak keberatan loe ada di kamarnya."


"Gue juga gak ngerti, tiba-tiba aja gue di suruh buat berhenti nemuin dia di saat gue udah yakin banget bisa dapetin!"


"Tunggu, emang tante Raisa ngomong apa ke loe sebagai bukti penolakan dia?"


"Jadi gue harus siaran ulang saat detik-detik gue di tolak!? Gak penting banget loe!"


"Yaileh, loe sensi amat. Maksud gue cara berbicara tante Raisa sama loe itu gimana...? Nih ya gue bilangin, kalo di film-film biasanya kalo cewek nolak cowok tapi gak berani menatap mata tuh cowok itu artinya dia CINTA tapi gak mau ngakuin. Nahh, tante Raisa gimana reaksi nya?"


Bara diam mengingat-ngingat. "Dia selalu menghindar, kayaknya dia benci banget sama gue, saat dia nyuruh gue pergi aja dia kayak mau nangis gitu," jelas Bara.


"Yapp! Gak salah lagi, tante Raisa sebenernya juga cinta sama loe, tapi dia gak mau ngakuin," ucap Adit sangat yakin.

__ADS_1


"Serius loe! Tapi kenapa dia kayak benci banget?"


"Bukan benci, tapi dia berusaha buat nutupin perasaan dia yang sebenernya."


"Apa karena aku temen anaknya!?" Tanya Bara dengan polos nya.


"Nahh...loe tau! Udah, mending loe obatin luka loe tuh, entar infeksi, gak lucu kalo sampe tangan loe di amputasi!"


Bara akhirnya mengobati lukanya di bantu oleh Adit.


Malamnya Bara sudah siap-siap untuk menemui Raisa di rumahnya, ia sudah siap dengan segala konsekuensinya.


Ia berhenti di tepi jalan rumah Raisa, hatinya memanas tatkala melihat Raisa yang keluar dari rumah bersama dengan Herman.


Bara keluar dari mobilnya lalu menghadang langkah Raisa yang ingin berjalan menuju Mobil Herman.


"Bara...,, Kamu...??" Raisa terkejut melihat Bara yang berdiri di hadapan nya.


"Ada yang mau aku bicarakan."


"Nggak bisa, aku sedang ada urusan!" Tolak Raisa mengambil langkah ke samping, tapi tangan Bara sudah lebih dulu memegang lengannya. "Bara kamu jangan kurang ajar!" Raisa mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Bara.


"Tolong jawab dengan jujur, apa kamu mencintai ku??"


"Bara!!"


"Jawab aja, apa kamu mencintai ku!?" Tanya Bara lagi.


"Nggak, nggak samasekali!" Sahut Raisa tidak berani memandang.


"Seperti nya kamu sudah mendapatkan jawabannya," ujar Herman ikut bersuara.


"Tapi dia belum menjawab dengan jujur." balas Bara. "Tatap mataku katakan kalo kamu nggak cinta sama aku!" Kali ini ia merangkup wajah Raisa.


Raisa hanya terdiam saat matanya menatap manik Bara. Herman pun bisa merasakan dari tatapan itu bahwa Raisa juga mencintai anak muda yang berdiri di hadapannya itu.


"Baik aku pergi, selesaikan lah urusan kalian," Herman berlalu tidak ingin membuat hatinya semakin cemburu.


"Ada apaan nie!?"


Raisa tergagap mengetahui Ricky sudah ada disana sambil bersedekap memandang kearah ia dan Bara.


"Ricky...."


"Gue cinta sama nyokap loe!" Ucap Bara dengan tegas.


"Oh, ternyata gue emang gak salah denger," kata Ricky yang sebenarnya sudah menguping sejak tadi. "Ma, ayo masuk," ucapnya.


"Gue yakin nyokap loe juga cinta sama gue --- "


Bukk!!


Ricky berbalik lalu memukul wajah Bara. "Sekali lagi loe buka mulut di hadapan nyokap gue, bakal gue ancurin muka loe!!" Ancam nya.


"Ricky...! Mama gak pernah ngajarin kamu buat mukul orang!"


"Tapi Ricky gak mukul orang, tanpa alasan."


"Bara lebih baik kamu pergi! Tolong...," Raisa memohon.


Bara masuk ke mobil nya sambil memegangi bekas pukulan Ricky di rahangnya


...👍...


...❤...

__ADS_1


...🎁Bila berkenan😚...


__ADS_2