Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 21


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Bara melajukan mobilnya membelah kemacetan jalan. Sesekali ia mengumpat saat harus berhenti di lampu merah.


Setelah sampai di tempat tujuan ia menghentikan mobilnya lalu keluar dengan langkah yang terburu-buru.


Bara masuk ke toko dan langsung menuju ruangan Raisa, ia menyapukan pandangan nya tapi tidak melihat orang yang di carinya disana.


Mereka yang ada disana hanya terdiam melihat aksi Bara tersebut.


"Mbak Raisa sudah dua hari gak datang ke toko," ucap Rina mewakili yang lainnya.


"Kemana dia?" Tanya Bara semakin panik, karena no ponsel Raisa juga sedang tidak aktif saat di hubungi.


"Mungkin lagi sakit, masalah nya kemarin mbak Raisa emang kelihatan kurang sehat," timpal Nia.


Tanpa pikir panjang Bara segera pergi dan mengendarai mobil nya menuju Rumah Raisa.


Di perjalanan ia menepikan mobilnya. "Ricky pasti lagi ada di rumah nungguin nyokapnya," gumamnya."Gue harus nyari alesan."


Tiba-tiba ia teringat Adit. Tanpa pikir panjang ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghubungi Adit.


"Iya, kenapa?"


"Lama banget loe!" Sahut Bara begitu mendengar suara Adit.


"Gue lagi di kelas tadi, ada apaan sih!?"


"Ricky masuk gak?"


"Nggak, dia nungguin nyokapnya lagi sakit, emang kenapa?"


"Loe udah nyari tau yang gue bilang kemarin kan?"


"Udah, loe tenang aja."


"Oke kalo gitu loe gue jemput sekarang, loe tunggu di depan, gak pake lama. Awas kalo sampe gue dateng loe gak ada disana!" Kemudian Bara memutuskan panggilan.


"Eet dah, nie orang kenapa sih, kebiasaan banget. Bukannya terimakasih udah di tolongin malah pake ngancem lagi!" Adit mengumpat.


Bara menghentikan mobilnya di depan kampus dimana Adit sudah menunggunya disana.


"Apaan sih loe? Ganggu banget, satu jam lagi gue ada kelas tambahan!" Sungut Adit begitu di dalam mobil.


"Tumben loe rajin," cibir Bara sambil mengemudikan mobilnya.


"Hari ini ada kelasnya Bu Vita, dosen favorit gue," sahut Adit tampak kesal sambil memandang ke luar jendela mobil.


"Gimana, apa aja yang di sukai calon bini gue?" Tanya Bara tanpa mempedulikan perasaan Adit.


Adit hanya bisa berdecak melihat kelakuan Bara yang sudah kasmaran tingkat akut.


"Ricky bilang nyokapnya gak suka makan daging kecuali daging ayam, nyokapnya suka sayur sama buahan, terus nyokap nya juga gak suka tahu, tapi sukanya tempe," jelas Adit.


"Itu doang?"


"Ada, Ricky bilang nyokapnya juga suka martabak, tapi bukan martabak manis, karena nyokap nya gak suka makanan manis." ungkap Adit. "Oh iya, gue juga udah tau tempat langganan martabaknya tante Raisa, nie...," Adit memperlihatkan layar ponselnya ke Bara.


"Oke, gue tau," ucap Bara setelah melihat lokasi tempat penjual martabak tersebut.


"Dan satu lagi, tante Raisa gak bisa makan yang pedas-pedas, paham loe?" Tambahan Adit.


"Ok gue ngerti, tapi gimana caranya Ricky bisa ngasi tau loe semua? Loe gak ngejebak gue lagi, kan?"


"Loe gak usah pikirin gimana cara kerja gue, loe tinggal nikmatin hasilnya aja. Tapi inget semua ada harganya."

__ADS_1


"Iya iya gue tau! urusan duit aja loe!"


"Siapa bilang gue mau duit," sahut Adit tersenyum penuh misteri.


"Jangan bilang loe minta di beliin gedung!" Dengus Bara.


"Loe bakal tau nanti," kekeh Adit. "Kita ngapain kesini?" Tanya nya ketika Bara menghentikan mobilnya di depan toko buah.


"Loe tunggu bentar," jawab Bara seraya keluar dari mobil. Tidak lama ia kembali membawa beberapa macam buah-buahan yang di belinya di toko tersebut.


"Tumben loe baik bener tanpa gue harus minta," kata Adit.


"Enak aja, ini buat calon bini gue, kan dia lagi sakit."


"Terus kenapa loe bawa-bawa gue segala? Kan loe yang mau nengokin!?"


"Aneh kalo cuma gue yang nengok, makanya gue ngajakin loe! Dan loe udah tau kan harus ngapain disana!?"


"Gila loe! Kenapa gak ngomong dari tadi!?" Adit kaget karena belum punya ide untuk misinya.


"Gue udah hampir seminggu gak ketemu sama calon gue karena gue lagi ada pekerjaan di luar. Poselnya nya juga gak aktif jadi gimana caranya loe harus buat gue bisa nemuin dia tanpa sepengetahuan Ricky. Kalo loe gak bisa, gue akan batalin imbalannya!"


"Loe kebiasaan banget. Ya'udah entar gue pikirin," sahut Adit jengkel.


Bara menjalankan mobilnya, setelah beberapa saat ia kembali berhenti dan menepikan mobilnya di pinggir jalan atas permintaan Adit.


"Kenapa!?" Tanya Bara agak kesal.


"Duit loe sini," sahut Adit.


"Buat apaan!?"


"Buruan, gue udah dapet ide."


Bara menyerahkan uang lima puluh ribu ke Adit. "Cukup segini?"


"Buat apaan makanan kayak gitu? Loe mau buat calon bini gue tambah sakit!?" Tanya Bara.


"Buat calon bini loe kan udah ada, dan gue juga udah bilang ini cara kerja gue, loe tinggal nikmatin hasilnya. Buruan!"


Apa tadi gue udah ngakuin kalo tante Raisa sebagai calon bini Bara!?


Wahh...gawat, mulut gue jadi ikut-ikutan kayak si Bara, kualat gak yaa!?


Lama-lama gue bisa ikutan pe'ak!


Batin Adit.


Ricky buru-buru membuka pintu karena takut akan mengganggu tidur mamanya akibat bel pintu yang terus berbunyi.


"Loe nafsu banget bunyiin beli!" Ucap Ricky saat membukakan pintu. "Tumben barengan?" Tanyanya ketika melihat Bara juga ada disana.


"Bara tadi ke kampus pengen traktir kita, tapi loe gak masuk, kalo cuma berduaan gue takutnya loe cemburu jadi kita kesini deh," sahut Adit.


"Loe bawa apaan tuh?" Tanya Ricky melirik kantong bawaan Adit.


"Gue beli jajanan yang biasa kita beli. Kebetulan tadi kita lewat jadi gue beli aja sekalian buat loe juga."


"Lagi banyak duit nie kayaknya."


"Om gue kemarin mampir buat nengokin, jadi ya gitu deh," jawab Adit sambil masuk tanpa menunggu Ricky mempersilahkan. Sementara Bara tersenyum kecut mendengar ucapan Adit.


"Itu apaan?" Tanya Ricky.


"Ini gue tadi beli buah, katanya nyokap loe sakit jadi sekalian aja," Bara menyerahkan ke Ricky.

__ADS_1


"Ini banyak banget. Loe ngeborong semuanya!?


"Dia gak tau nyokap loe sukanya buah apa, jadi dia beli aja semua jenis buah!" Sahut Adit yang sudah menuju ke dapur tanpa sungkan.


"Repot-repot banget, tapi terimakasih deh, ayo masuk," ajak Ricky.


"Gue disini aja," ucap Bara menuju ke bangku teras.


"Yaudah, gue ke dalem dulu," Ricky pun pergi ke dapur menyusul Adit yang memindahkan jajanan nya ke dalam piring.


"Udah jadi tuan rumah aja loe!" Kata Ricky sambil meletakkan bawaan nya di atas meja.


"Hehe...,, gue tunggu loe di luar buat ngabisin ini semua," ucapnya sambil membawa piring di tangannya. "Bawa minumnya sekalian!"


Ricky tidak menjawab ia sudah faham dengan kelakuan Adit. Beberapa saat ia keluar membawa minuman untuk mereka bertiga.


"Loe beli banyak bener," ucapnya sambil meletakkan minuman di atas meja.


"Kita kan udah lama gak beli jajanan ini, jadi gue sengaja beli banyak, dan kebetulan gue laper hehe...."


"Laper apa doyan loe!?" Cibir Bara.


"Dua duanya sih...,eh loe mending ke belakang aja dulu, mumpung kita lagi disini, gak baik nahan-nahan," ucap Adit memberi isyarat ke Bara.


"Gue pinjem kamar mandi loe yah," ucap Bara ke Ricky.


"Kalo gue bilang enggak, emang loe bisa nahan? Udah buruan sana, entar keluar disini lagi!" Sahut Ricky lalu memasukkan makanan dengan potongan besar ke mulut nya hingga penuh. Kebetulan ia juga sedang lapar.


Bara masuk ke dalam langsung menuju di mana letak kamar Raisa berada karena sebelumnya ia sudah pernah menginap di rumah itu.


Ia berdiri di depan pintu kamar yang memang sudah terbuka karena Ricky memang tidak menutup pintu tersebut ketika keluar dari sana.


Tok tok tok!


Ia mengetuk perlahan sebelum akhirnya ia masuk ke kamar itu dan duduk di bangku samping tempat tidur sambil memandangi wajah Raisa yang sedang lelap dalam tidur nya.


Entah karena panggilan jiwa dari Bara atau hanya kebetulan, Raisa terbangun dari tidur nya sambil memicing kan matanya menatap bayangan seseorang yang sedang ada di hadapannya.


Apa aku bermimpi?


Batinnya, sebelum akhirnya ia benar-benar membuka matanya.


"Kamu...!?"


"Ssstt....," Bara menempel kan satu jarinya di bibir Raisa. "Pelan-pelan, aku udah susah payah datang kesini," ucapnya.


"Kenapa kamu kesini!? Gimana kalo sampai Ricky liat!?" Raisa panik, beriringan dengan beban yang seakan hilang dari hatinya. Entah perasaan apa itu, ia juga tidak mengerti.


"Ricky di luar sama Adit, tadi aku bilang kalo aku mau ke belakang. Maaf, aku gak tau kalo kamu sakit, kenapa nomer kamu gak bisa di hubungi?"


Raisa menatap ke arah nakas sambil di iringi oleh tatapan Bara yang ikut melihat ke arah sana.


"Kita akan beli ponsel baru," ucap Bara.


"Jangan ngaco kamu, itu masih bisa di perbaiki!"


"Kelamaaan, aku kangen sama kamu dan aku gak punya banyak waktu berlama-lama di sini. Ya'udah, kamu istirahat aja, cepat sembuh ya?" Lalu mengecup puncak kepala Raisa.


Raisa terpana dengan aksi Bara tersebut, sampai tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun hingga Bara menghilang dari pandangan nya.


Oh tuhan...,,


Jangan biarkan aku menjadi tidak tahu diri!!


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁 Bila berkenan😚...


__ADS_2