Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 56


__ADS_3

"Menurut kamu Kiara orangnya gimana?"


"Baik," jawab Dimas seraya menuju ke kamarnya.


"Oh, baguslah," ucap Rosma seraya tersenyum.


Dimas merbahkan tubuhnya untuk beristirahat sebentar lalu pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Ia tak habis pikir kenapa Mama dan Papa nya sampai berniat menjodohkan nya dengan anak dari teman Papanya itu sementara Papanya sudah tau kalau ia mencintai gadis lain.


-


-


-


Matahari bersinar cerah melalui celah tirai yang terbuka. Raisa memicingkan matanya saat sinar tersebut mengenai wajahnya. Dengan sigap Bara menutupi sinar tersebut dengan tubuhnya.


"Tidurlah lagi" ucap Bara seraya merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Apa sebaiknya kamu pergi ke kantor aja?"


"Aku kan sudah janji buat selalu ada di sisi kamu hingga anak kita lahir nanti."


"Tapi, kan masih lama sayang...."


"Tapi aku nggak mau ada apa-apa sama kamu dan calon anak kita. Udah..., jangan banyak protes lagi atau aku akan...."


Raisa segera menghentikan aksi protesnya karena tau hukuman apa yang ia dapatkan jika ia terus bicara.


Sebagai suami wajar bila Bara khawatir karena di rumah hanya ada mereka bertiga, sedangkan Raisa menolak untuk memakai jasa asisten rumah tangga. Jika ia dan Ricky pergi maka hanya Raisa sendiri di rumah itu. Entah bagaimana nanti jika anak mereka sudah lahir, apakah Raisa memilih untuk mengurus segalanya sendiri atau akan menyetujui untuk memakai jasa asisten rumah tangga.


Sejak masa kehamilan Mamanya, Ricky pun kini sudah semakin mandiri. Pagi ini itu ia sudah bisa membuat sarapan sendiri meski hanya teh dan mengoles selai pada roti yang akan menjadi sarapannya pagi itu.


Setelah sarapan ia langsung pergi ke kampus dengan motor kesayangan nya. Terlihat Adit sudah menunggunya di depan kampus. Mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruangan mereka. Seperti biasa para wanita yang berpapasan akan langsung melirik kedua sahabat ini terutama Ricky yang selalu jadi perhatian karena sikapnya yang terkesan dingin dan cuek jika mengenai masalah perempuan.


-

__ADS_1


-


Kaira menatap dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilan nya sudah benar-benar sempurna karena hari ini adalah pertamanya untuk memulai pekerjaan nya. Setelah sudah yakin dengan penampilan nya ia pun turun ke bawah menemui Papanya yang sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.


"Ayo sarapan dulu biar kamu semangat untuk memulai pekerjaan kamu," ucap Usman pada putrinya.


Kaira mengambil gelas yang berisi susu lalu meminumnya. "Kiara berangkat dulu ya Pa," ucap nya seraya meletakan gelas susu yang sudah kosong.


"Nggak makan dulu...?"


"Udah cukup minum susu aja, ini hari pertama buat Kaira dan Kaira nggak mau jika sampai telat."


Padahal sarapan itu penting. Author pun nggak pernah lupa untuk sarapan agar kuat menghadapi kenyataan🤣🤣


Setelah berpamitan pada Papanya ia pun pergi mengendarai mobilnya sendiri. Selain cerdas, Kaira adalah gadis yang sangat mandiri. Ia akan melakukan semua yang ia bisa tanpa merepotkan orang lain meski ada banyak pelayan di rumahnya.


Setelah memarkirkan mobilnya ia pun keluar dan berjalan menuju ruangan tempatnya bekerja. Mengajar adalah keinginannya sejak dulu dan ini adalah hari pertamanya untuk mencoba kemampuannya tersebut.


Setelah mendapatkan petunjuk ia pun menuju ke ruangan tempat dimana ia akan mengajar. Perasaan yang campur aduk tentu ada di dalam hatinya. Namun tekad nya jauh lebih besar dari rasa itu semua.


Semua mata memandang pada dosen muda nan cantik yang ada di hadapan mereka. Terdengar decak kagum dari beberapa mahasiswa yang membuat sedikit kegaduhan di ruangan tersebut. Tak terkecuali Adit yang juga ikut terpana.


"Gilaa...,ini dosen apa bidadari," decaknya.


Setelah memperkenalkan namanya, tak mau membuang waktunya Kiara pun langsung mulai memberikan materi sesuai bidang kemampuan nya. Tanpa sengaja pandangannya berhenti pada salah satu mahasiswa yang tak asing baginya. Setelah usai menyampaikan materi dan membubarkan kelas tersebut ia pun kembali ke ruangannya. Di ruangannya Kiara kembali teringat sosok mahasiswa yang menyita perhatiannya namun mahasiswa tersebut tampak cuek meski sebelumnya mereka pernah bertemu.


"Rick, gue gak nyangka ada yang ngalahin kecantikan Bu Vita di kampus ini, bahkan berkali kali lipat," ucap Adit seraya merangkul bahu sahabatnya itu.


"Terus Bu Vita mau loe kemanain?"


Adit pun terkekeh. "Emang loe gak tertarik samasekali ya sama Bu Kiara yang menurut gue cantiknya kebangetan. Kalo iya, kayaknya loe mesti periksakan diri loe deh, gue khawatir jangan-jangan loe gak normal."


"Gue normal 100%, tapi gue gak kayak loe yang hampir semua cewek loe bilang cantik."


"Tapi, kan wajar kalo gue tertarik, bahkan bukan gue doang, yang lain juga memuji kecantikan Bu Kaira."

__ADS_1


"Kalo gitu loe siap-siap aja berurusan sama Dimas," ucap Ricky seraya mendudukan tubuhnya di dekat pohon tempat biasa mereka nongkrong menunggu makul selanjutnya.


"Maksud loe apaan? Apa hubungannya sama Dimas!!"


Ricky pun menceritakan tentang kedatangan Dimas bersama Kiara ke rumahnya.


"Loe serius!?" Adit seakan masih tak percaya. "Wahh..., gak bener nih. Gak bisa di percaya tuh orang!" Ucap Adit gemas dengan tingkah Dimas yang menurutnya telah membohonginya karena sebelumnya Dimas pernah berjanji akan berhenti dari sifat playboynya jika ia bersedia membantu untuk mendekati Fitri.


"Dimas emang gak ngenalin ke gue, tapi gue yakin Bu Kiara itu adalah cewek yang kemarin bersama Dimas," ungkap Ricky.


Adit langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menghubungi Dimas.


"Ada apa? Gue lagi sibuk!" Sahut Dimas.


"Sibuk apaan, sibuk ngecengin mangsa baru,kan!?"


"Maksud loe apa? Jangan ngawur!"


"Alaah..., gue udah tau gak usah berpura-pura loe!" Adit memutus panggilan tanpa Dimas tau apa maksud Adit sebenarnya.


Pulang dari kantor Dimas pun langsung menemui Adit di kostan nya. Ia juga ingin menumpahkan segala keluh kesah yang menghimpitnya selama beberapa hari ini. Tidak lupa ia juga membawa buah tangan 😅


Dimas pun menjelaskan pada Adit bagaimana kejadian sesungguhnya.


"Kalau masalah loe di jodohin itu udah di luar kuasa gue, mungkin udah waktunya loe berhenti berpetualang," tutur Adit.


Bukan jawaban seperti ini yang di harapkan Dimas. Ia sangat berharap Adit bisa memberinya ide


agar ia bisa keluar dari masalahnya.


"Tapi loe, kan tau gue cinta nya sama Fitri dan gue hanya mau nikah sama dia."


"Loe jelasin aja ke ortu loe, ya kali aja mereka mau ngerti."


"Papa gue udah tau, ya akhirnya dia berinisiatif buat jodohin gue sama anak temennya," terlihat sekali Dimas sangat frustasi.

__ADS_1


"kalo loe membantah, emang loe mau jadi anak durhaka?" Ucap Adit.


__ADS_2