Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 79


__ADS_3

Mendengar nama rumah sakit di sebutkan dan Putranya sedang di rawat di sana, membuat Raisa seakan kehilangan pijakan. Ponsel yang ada di tangannya tak terasa lolos dari genggamannya.


Suara ponsel yang terjatuh ke lantai tersebut menarik perhatian asisten rumah tangganya yang kebetulan sedang lewat membawa pakaian kotor.


"Nyah? Ada apa?" Tanya pembantu tersebut sambil menghampiri majikannya yang tiba-tiba panik dengan wajah yang nampak syok.


"Saya titip Aya, dulu. Saya harus pergi ke rumah sakit." Setengah berlari Raisa menuju ke luar menemui supirnya meminta untuk di antar ke rumah sakit yang telah informasikan.


Sepanjang jalan Raisa terus berdo'a agar Ricky baik-baik saja dan tidak ada luka yang serius menimpa Putranya tersebut. "Lebih cepat lagi Pak," titahnya pada sang supir.


"Iya Nyah," jawab supir.Ia mengerti ke khawatiran majikannya tersebut. Untuk pertama kalinya sang majikan menyuruhnya untuk mengemudi lebih cepat karena biasanya majikan selalu menyuruhnya pelan-pelan dan sangat berhati-hati.


Mobil yang membawanya pun sudah sampai di rumah sakit. Raisa langsung turun dan masuk ke ruangan rumah sakit menemui resepsionis. Setelah mendapatkan petunjuk ia langsung menuju ruang IGD tempat Ricky mendapatkan pertolongan.


Beberapa saat dokter yang menangani pun keluar.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Raisa menghampiri.


Dokter tersebut sempat merasa agak heran. Mungkin karena mendengar kata anak di sebutkan oleh wanita yang terlihat jauh lebih muda untuk ukuran ibu dengan anak sedewasa pasien yang di tanganinya saat ini. Namun karena ia seorang dokter bukan kapasitasnya untuk mengurusi hidup keluarga pasien. "Apa anda keluarga pasien?"


"Iya, saya ibunya."


"Pasien banyak kehabisan darah. Dan untuk saat ini rumah sakit kehabisan persediaan darah yang sama dengan golongan darah pasien."


Raisa semakin kebingungan tidak tau harus berbuat apa, karena dari awal dia sudah tau golongan darahnya dengan Ricky tidak sama. Golongan darah Ricky sama dengan golongan darah almarhum suaminya. Jika saja ia tau salah satu keluarga dari almarhum suaminya mungkin ia akan meminta bantuan tersebut untuk menyelamatkan anaknya. Tapi kenyataannya almarhum suaminya sekaligus mantan kakak iparnya tersebut hanya di besarkan di sebuah panti asuhan.


Ia berlari menuju meja resepsionis untuk meminta tolong agar bisa menghubungi suaminya karena ia bahkan tidak membawa apa-apa dari rumah.


Beberapa kali ponselnya berdering namun Bara masih mengabaikan panggilan tersebut karena ia sedang meeting. Raisa akhirnya menghubungi pembantunya di rumah dan memerintahkan untuk menghubungi suaminya di kantor dengan telepon rumahnya.


Tidak lama Bara datang dengan wajah yang juga terlihat panik karena mendengar kabar bahwa Ricky masuk rumah sakit karena kecelakaan.


Melihat kedatangan Bara di ruangan itu Raisa langsung menghambur kepelukan suaminya.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Ricky?" Tanya Bara.


Raisa menjawab dengan masih sesegukan. Mendengar penjelasan dari istrinya Bara langsung menghubungi orang di kantornya untuk meminta bantuan. Tidak lupa ia juga menghubungi kedua sahabatnya.


Beberapa saat ponselnya kembali berdering. Ia pun mengangkat panggilan tersebut berharap mendapat kabar baik dari orang suruhannya.


"Maaf, Pak. Di kantor hanya ada dua orang yang memiliki golongan darah O negatif. Dan saat ini mereka sedang cuti dan pergi berlibur di luar kota."


"Tetap cari orang yang memiliki golongan darah tersebut. Kabari aku jika sudah ketemu. Kalau perlu naikan bayarannya!" Titah Bara. Kemudian ia memasukan kembali ponselnya ke saku celananya.


Raisa semakin terisak saat mendengar belum berhasil menemukan pendonor untuk Ricky.


Dimas dan Adit tak kalah panik saat mendengar sahabatnya mengalami kecelakaan. Setelah mendapat kabar tersebut mereka pun datang ke rumah sakit.


Melihat Raisa yang terisak di pelukan Bara mereka dapat menyimpulkan bahwa keadaan Ricky pasti sangat serius.


"Gue juga sudah meminta bantuan untuk mencarikan pendonor untuk Ricky. Semoga secepatnya ketemu," tutur Dimas.


Melihat upaya kedua sahabatnya tersebut Adit hanya bisa berdo'a agar bisa secepatnya menemukan orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Ricky. Ia duduk di kursi ruang tunggu sambil tertunduk dengan kedua tangan meremas rambutnya. Ia teringat bagaimana Ricky semalam mendatanginya dan untuk pertama kalinya sahabatnya itu curhat masalah perempuan padanya.


Adit mulai menduga-duga karena pikirannya yang sedang kacau memikirkan sahabatnya yang sedang tidak sadarkan diri di salah satu ruang rumah sakit tersebut.


*Kriingg...


Adit mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Di lihatnya panggilan dari istrinya.


"Ya, sayang...?"


"Hari ini aku nggak ada kelas tambahan. Aku akan langsung ke tempat kerjamu untuk makan siang sama-sama."


"Maaf, aku gak bisa. Aku lagi di rumah sakit. Ricky mengalami kecelakaan dan sampai saat ini belum menemukan pendonor darah yang cocok."


"Ricky, kecelakaan!? Di rumah sakit mana?"

__ADS_1


Setelah mendapatkan alamat rumah sakit yang di kirimkan Adit, Nia langsung memacu motornya menuju ke rumah sakit tersebut.


"Siapa kah yang bertanggung jawab atas nama pasien?" Tanya dokter yang tadi menangani Ricky.


"Saya dok," Jawab Bara mewakili. Karena Raisa sejak tadi hanya menangis saja di pelukannya. Ia sampai tidak tau lagi bagaimana cara menenangkan istrinya itu.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Bara pun langsung mengiringi dokter tersebut masuk ke ruangannya.


"Bagaimana, apa bapak sudah mendapatkan pendonor yang cocok?"


"Belum dok?"


"Kami juga sudah berusaha menghubungi beberapa rumah sakit, tapi saat ini mereka juga tidak ada. Karena darah pasien memang tergolong langka. Sementara kita harus secepatnya mengambil tindakan untuk menyelamatkan pasien."


"Baik, dok. Saat ini saya juga sedang berusaha." Bara kembali mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menghubungi seseorang.


"Bagaimana, apa sudah menemukan pendonor yang cocok?"


 


"Bagaimana bisa!? Aku tidak mau tau! Secepatnya kamu harus bisa menemukan orang tersebut kalau kamu masih mau bekerja di perusahaan!" Bara mematikan ponselnya setelah memaki orang yang barusan di telponnya. Karena merasa panik ia jadi melampiaskan kemarahannya kepada orang tersebut.


Kemudian Bara kembali ke tempat di mana Raisa dan para sahabatnya tadi menunggu.


Melihat Raisa yang terus saja menangis menambah kepanikan Bara saja karena ia juga harus menenangkan istrinya itu.


Melihat raut wajah Bara saat keluar dari ruangan dokter tadi Adit dan Dimas dapat menebak kalau situasi saat ini memang sangat darurat. Mereka tidak banyak bicara. Dimas sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi beberapa rekannya berharap ada yang bisa membantu sahabatnya yang kini sedang bertaruh nyawa di sebuah ruangan rumah sakit tersebut.


Adit tampak tertunduk diam dengan posisinya yang sama. Ia juga sempat menghubungi beberapa rekan kerjanya namun sayang hasilnya juga sama. Tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Ricky.


Adit mengangkat wajahnya ketika melihat bayangan seseorang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Sayang...."


"Bagaimana keadaan Ricky?" Tanya Nia seraya duduk di samping Adit.


__ADS_2