Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 32


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Seperti janjinya, Bara akan menjemput Raisa ke toko setelah pulang kerja. Ia tampak berseri-seri saat mengemudikan mobilnya. Bagaimana tidak, hari ini adalah puasa terakhirnya setelah malam pertama yang gagal akibat cuaca buruk yang melanda.


"Sayang," Bara memberikan buket bunga yang sempat di belinya saat perjalanan pulang.


Raisa yang tengah sibuk memberesi beberapa barang di mejanya menoleh saat mendengar suara Bara yang khas di telinganya. Ia segera menyambut buket bunga tersebut.


"Terimakasih," ucap nya


"Hanya ucapan terimakasih?"


"Ayo kita pulang," ajak Raisa tanpa mempedulikan ucapan Bara. "Aku tau apa yang ada di otakmu," batin Raisa.


Tiba waktunya makan malam, Raisa pergi ke kamar Ricky untuk mengajaknya makan malam, selain itu ia juga penasaran kenapa Ricky belum juga keluar dari kamarnya dari tadi.


Tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Raisa menekan gagang pintu, dan kebetulan pintunya sedang tidak di kunci.


Raisa tersenyum kecil melihat Ricky nampak lelap di bawah selimutnya. Ia pun mengurungkan niatnya membangunkan Ricky.


"Kita makan duluan aja, Ricky masih tidur, mungkin dia kecapean," ucap Raisa menghampiri Bara yang sudah duduk manis di depan meja makan.


Raisa pun mulai mengambilkan nasi dan lauk kedalam piring Bara.


"Love you sayang...," ucap Bara terdengar imuet😂🤭


"Udah, jangan kebanyakan drama, entar nasinya keburu dingin," sahut Raisa yang sudah duduk ke kursinya dan mulai menyantap makan malamnya juga.


Usai makan malam Raisa berberes di dapur, sementara Bara sibuk memangku laptopnya di sofa ruang tengah. Ia sengaja duduk disana agar bisa memantau jika Raisa sudah selesai dengan pekerjaannya.


Beberapa saat Raisa pun sudah selesai beres-beresnya. Bara pun ikut menghentikan pekerjaannya dan mengikuti langkah Raisa menuju ke kamar.


"Sayang, aku mau ke kamar Ricky sebentar ya?Barangkali dia udah bangun," ujar Raisa seraya pergi meninggalkan kamar mereka.


"Jangan lama-lama," pesan Bara seiring menghilangnya Raisa di balik pintu.


Bara melakukan gerakan-gerakan kecil seperti orang yang sedang melakukan pemanasan sebelum berolahraga. Tidak lupa ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi sebelum tidur seperti pesan Raisa.


Beberapa saat menunggu Raisa tak kunjung datang, akhirnya ia pun memutuskan untuk menyusul ke kamar Ricky.


"Sayang...! Ricky lagi sakit, badannya panas benget!" Ucap Raisa tatkala melihat Bara sudah ada berdiri di depan pintu kamar yang memang terbuka.


Ini bayi jumbo kenapa lagi shi!?


pake acara sakit segala!


Bara bersandar di bibir pintu sambil bersedekap menatap gemas ke arah tempat tidur dimana Ricky berbaring imuet di bawah selimutnya. Ia pun melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur tersebut.


Bara meraba jidat Ricky, dan memang benar Ricky sedang demam.


"Sebentar yah, aku mau ambil obat sama air dulu," ucap Raisa.


Bara mendekati Ricky sambil bersandar di tempat tidur itu, ia mengusap kepala Ricky dengan gemasnya. "Loe pake acara sakit segala, gimana gue mau bikinin adek buat loe!" Ucapnya setengah berbisik.

__ADS_1


Sebenarnya Ricky bisa mendengar, hanya saja tubuhnya tidak punya daya untuk bergerak atau membalas ucapan Bara. Kepalanya terasa pusing dan berat, badannya pun terasa sakit semua.


"S*alan loe Bar!"


Ricky hanya bisa mengumpat di dalam hati, meskipun sebenarnya ia ingin sekali menyikut Bara yang ada di sampingnya.


"Gue pijitin deh, biar loe cepet sembuh."


Bara memijit bagian-bagian tubuh Ricky dari kepala lalu pundak dengan posisinya yang masih menyender di tempat tidur.


"Sayang, kamu ngapain? Kamu istirahat aja, biar aku yang jaga Ricky," ucap Raisa yang sudah kembali membawa obat untuk Ricky.


"Gak apa koq, biar Ricky cepat sembuh juga," sahut Bara sambil terus memijit tak tentu arah.


"Pinter banget loe nyari muka di depan nyokap gue! Awas aja loe!"


Ricky hanya bisa membatin.


"Sayang..., maaf yah? Aku harus nemenin Ricky dulu malem ini," ucap Raisa meminta ijin.


"Gak apa koq sayang, cuma malem ini aja kan?" Bara seperti sedang melakukan penawaran.


"Hm'm," angguk Raisa.


Tidak lama Bara kembali dengan membawa selimut dan bantalnya.


"Sayang..., kamu ngapain!?" Tanya Raisa melihat Bara membentangkan selimut di lantai kamar.


"Nanti bisa bisa kamu yang sakit."


"Kalo aku sakit kan ada kamu yang rawat aku," jawab Bara seraya tersenyum manja😁


Raisa benar-benar di buat terharu oleh sikap Bara, meskipun Bara sudah sangat mengharapkan nya untuk malam ini.


Raisa terbangun menjelang subuh. Ia kembali meletakkan telapak tangannya di jidat dan pipi Ricky.


"Udah gak panas lagi," gumamnya.


Saat ingin turun dari tempat tidur, ia melihat Bara tampak tertidur pulas di atas selimut dengan posisi memunggungi.


Raisa tersenyum, lalu ikut merebahkan tubuhnya disana. Entah apa yang membuatnya merasa ingin memeluk suami bocahnya itu.


Bara memicingkan matanya saat merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Ia tersenyum di dalam kantuknya melihat tangan Raisa yang melingkar di pinggangnya. Dan lagi-lagi ketegangan terjadi saat ia merasakan ada gundukan yang menyentuh tubuh bagian belakangnya.


"Astaga!"


sabar sabar sabar...,,😂🤭


"Sayang, kenapa kamu ikutan tidur disini?" Tanya Bara seraya meletakkan tangannya di atas tangan Raisa yang sedang memeluknya.


"Kenapa? Apa aku gak boleh memeluk suamiku sendiri?" Ucap Raisa dan nafasnya pun terasa hangat di pundak Bara.


Bara sedikit meremas tangan Raisa demi menahan sesuatu yang kembali bergejolak.

__ADS_1


Raisa kaget tatkala melihat Ricky masuk ke kamar mandi. Ia buru-buru menarik tangannya lalu beranjak dari sana.


"Sayang...,kenapa?" Tanya Bara heran.


"Ricky udah bangun, gak enak kalo sampe dia liat kita," Sahut Raisa memelankan suaranya.


"Kenapa harus gak enak...? Ricky kan udah faham kalo kita ini suami istri...."


"Syukur lah kalo si bayi jumbo udah sembuh"


"Aku tau..., tapi gak harus di hadapan dia juga. Ayo buruan bangun, ini udah pagi!" Perintah Raisa.


Setelah menyiapkan sarapan dan memberikan obat untuk Ricky, kini Raisa pun kembali ke kamarnya untuk mengurus bocah satunya.


"Sayang..., kamu udah rapi," Raisa menghampiri Bara yang sudah berdiri di depan cermin dengan setelan jas kantornya.


Raisa merapikan bagian yang menurutnya masih terlihat sedikit berantakan, termasuk dasi. Raisa memang wanita yang mempunyai tingkat kerapian di atas rata-rata, jadi dengan refleks ia akan merapikan sesuatu yang menurutnya masih agak berantakan.


"Udah rapi," ucap Raisa seraya tersenyum membalas tatapan suaminya yang sedari tadi memandanginya.


Apalagi yang bisa di lakukan Bara. Ibarat musafir yang kehausan sementara danau ada di hadapannya.


Bara meraih pinggang kecil itu lagi, dan membawanya dalam dekapan. Bibirnya pun sudah me****t habis bibir Raisa.


C*um*n itu semakin larut hingga membuat sebuah kobaran panas dari keduanya. Raisa mulai mengimbangi setiap pa****n di bibirnya, ia berjinjit sambil melingkarkan lengannya di leher Bara demi menyamakan posisinya meskipun tetap saja Bara terlalu tinggi untuk di raih.


"Sayang...,"Bara memberi jeda seraya menatap Raisa dengan pancaran di matanya seolah memberi isyarat.


Raisa mengerti maksud tatapan itu, tapi ia masih bingung saat memikirkan Bara yang harus pergi ke kantor. Sementara ia juga benar-benar ingin mengabulkan permintaan suaminya.


"Kamu kan harus kerja?"


"Gak apa, siapa yang berani memecat suamimu ini?" Bara kembali menghujani Raisa dengan c**mannya. Raisa tidak menolak samasekali karena tidak ada alasan untuk itu.


Bara melepaskan dress tidur Raisa dengan mudah dan hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi bagian tubuhnya. Sementara ia sendiri sudah melepasnya jas dan kemejanya lalu membuangnya ke sembarang arah.


Saat Bara mulai melepaskan penutup terakhir dari tubuhnya, Raisa spontan menarik selimut lalu menutupi tubuhnya. Entah kenapa ia merasa malu meskipun ini bukan yang pertama baginya.


"Sayang..., kita gak perlu ini."


"Mmhhhh..."


D****an Raisa membuat naluri kelelakiannya semakin tak terkendali. Raisa memejamkan matanya tatkala Bara sudah memulai aksinya. "Tunggu, apa harus...?"


Akhirnya olahraga pagi itu pun berakhir dengan keduanya bermandikan keringat.


"Kita lanjutkan lagi nanti malam," bisik Bara seraya menjatuhkan badannya di samping Raisa.


...👍...


...❤...


...🎁Bila berkenan 😚...

__ADS_1


__ADS_2