Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 50


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Nia berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang memiliki halaman yang cukup luas.Pohon-pohon yang ada di sekitar pekarangan rumah tersebut membuat suasana terlihat sangat teduh.


dengan ragu-ragu Nia pun memberanikan untuk mengetuk pintu dan mengucap salam.


Beberapa saat pintu pun terbuka. Tampak seorang pria paruh baya dengan ciri khas wajah yang tidak ramah.


Siapa lagi kalau bukan ayahnya Fitri.


"Mm... selamat siang Om," sapa Nia dengan terbata.Ekspresi wajah dari orang yang ada di hadapannya tersebut membuat nyalinya sedikit menciut.


"Ada perlu apa?"


"Nama saya Nia. Bisa saya ketemu dengan Fitri? Saya temannya," jawab Nia sekaligus memperkenalkan diri.


Tanpa menjawab ayah Fitri pun masuk ke dalam. Tidak lama seorang wanita dengan paras ayu berdiri di hadapannya. Ia yakin kalau wanita tersebut adalah Fitri.


"Maaf, mbak nyari saya?"Tanya Fitri agak heran karena merasa belum pernah kenal samasekali.


"Em... i --- iya," Nia menjawab gugup, sambil matanya melirik ke dalam rumah. Ekspresi dari wajah ayah Fitri masih membayanginya.


"Apa sebelumnya kita saling mengenal?" Tanya Fitri di iringi senyum ramahnya.


"Saya Nia. Temannya Mas Dimas," ucap Nia memperkenalkan nama seraya mengulurkan tangannya.


"Oh iya, nama saya Fitri. Silahkan masuk dulu mbak."


Nia pun masuk mengiringi langkah Fitri menuju ruang tamu.


Ia mengitari ruangan tersebut dengan ekor matanya. Meski sederhana ia takjub dengan ruangan yang tampak bersih dengan barang-barang yang tertata dengan rapi.


"Maaf, saya cuma ada teh sama kopi aja. Mbak mau minum apa? Biar nanti saya buatkan."


"Nggak perlu repot-repot, saya cuma sebentar. Tapi boleh saya minta air putih?"


"Boleh...," Fitri beranjak dan pergi ke dapur.


Tidak lama ia pun datang dengan membawa nampan yang berisikan segelas air putih.


Nia mengambil gelas yang berisi air putih itu lalu meminumnya sampai habis.


"Mau saya ambilkan lagi?" Tanya Fitri yang merasa kalau tamunya tersebut seperti sangat dahaga.


"Terimakasih, tapi ini sudah cukup," jawab Nia seraya meletakkan gelas di atas meja.


Sementara dari jarak beberapa meter dari rumah Fitri, terlihat Adit yang sedang mondar mandir.


Ia menoleh ke arah Nia yang setengah berlari menghampirinya.


"Gimana? Berhasil gak?" Tanya Adit tidak sabar ingin segera mendengar kabar dari Nia.


"Parah! Bokap nya sangar amat!" Ucap Nia seraya mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.

__ADS_1


"Jadi loe udah liat penampakan bokapnya?"


"Maksud loe? Jadi loe udah tau kalo bokapnya Fitri itu galak? Terus kenapa loe nggak ngomong dulu ke gue!?"


"Sengaja, biar jadi kejutan buat loe."


"Ihh..., loe masih aja becanda.Kalo loe kasi tau, gue kan bisa siapin mental lebih."


"Mental lebih? Perasaan mental loe udah kelewat lebih deh! Buruan, loe berhasil kagak!?"


"Iya, minggu depan dia bersedia di ajak keluar," jawab Nia.


"Ok, kerja bagus!" Balas Adit dengan perasaan senang.


"Buruan anterin gue balik ke toko! Gak enak nih sama mbak Raisa kelamaan!"


Setelah mengantar ke toko tempat Nia bekerja, Adit pun pulang ke kostan nya karena kebetulan hari itu ia juga sedang tidak ada mata kuliah.


Setelah sampai di kostan, Adit pun mengabari Dimas bahwa misi pertamanya berjalan lancar. Tinggal melaksanakan langkah berikutnya.


...***...


Raisa memandangi Bara yang sejak tadi masih setia berkutat di depan laptop nya.


Tanpa sadar bibir nya menyungging kan sebuah senyuman.


Bara yang kebetulan menoleh pun di buat canggung karena nya.


Bara menutup laptop nya lalu menghampiri Raisa yang sedang berbaring di tempat tidur.


"Kamu bahagia?" Tanya Bara berbisik di telinga Raisa.


"Kenapa kamu nanya gitu? Kamu tau aku sangat bahagia," ucap Raisa seraya memiringkan tubuhnya ke arah suaminya.


"Iya, aku tau. Sebab itulah dari tadi kamu memandangi suami mu yang tampan ini kan?"


"Apa!? Sejak kapan kamu jadi kepedean gini!?"


"Sejak aku melihat istri ku terus memandangi aku."


"Kenapa? Apa aku gak boleh memandangi suamiku sendiri?"


"Tentu aja boleh. Mau yang lain juga boleh."


"Aku mau kelapa muda," sahut Raisa.


"Kelapa muda? Sekarang?"


"Ya, sekarang! Masa harus nunggu lahiran!" Jawab Raisa dengan wajah cemberut nya.


"Yakin gak mau yang lain?" Tanya Bara kembali menggoda.


"Kelapa muda dulu!" Jawab Raisa tanpa menoleh. Namun gurat senyum terlihat jelas di wajah nya.

__ADS_1


"Oke. Kelapa muda dulu baru yang lainnya," ucap Bara seraya beranjak cepat dari tempat tidur. Dan Raisa hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya.


Menurut nya permintaan Raisa kali ini tidak lah terlalu sulit. Karena ia sudah biasa melihat penjual kelapa muda di pinggir jalan.


Saking semangatnya Bara hampir menabrak Ricky yang baru datang dari arah berlawanan.


"Latihan lari loe!?"


"Nyokap loe pengen kelapa muda," sahut Bara.


"Tapi loe udah tau kan mesti nyari kemana?" Tanya Ricky .


"Udah..., loe tenang aja."


"Emang nyokap ngomong nya nyuruh buat nyari kelapa muda doang? Gak nyuruh klo harus metik dari pohon nya langsung, gitu?"


"Eh loe jangan nambah-nambahin, ntar kalo nyokap loe denger dan minta buat metik yang dari pohon langsung gimana...?"


"Gue cuman nanya. Ya udah, selamat mencari kelapa muda kalo gitu," sahut Ricky seraya berlalu melanjutkan langkahnya.


Tidak butuh waktu lama bagi Bara untuk mendapatkan kelapa muda yang di inginkan Raisa. Namun saat ia kembali ke rumah, Raisa sudah tertidur pulas.


...''Kenapa selalu seperti ini?''...


Karena merasa lelah, Bara pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Raisa dan tertidur.


Raisa membuka matanya setelah cukup lama tertidur. Ia menoleh ke samping dimana Bara ikut tertidur pulas disana.


Beberapa saat Bara juga ikut terbangun dan memeluk tubuh Raisa dari samping.


"Maaf, aku ketiduran," ucap Raisa.


"Dan kamu harus membayar lebih untuk itu," balas Bara dengan berbisik. "Akhh...! Bara memekik saat mendapatkan sikutan dari Raisa di bagian perutnya.


"Itu hukuman buat kamu."


"Aku rela di hukum dengan cara seperti itu. Tapi tolong, jangan hukum yang lainnya juga," lagi-lagi Bara berbisik nakal.


"Aku mau mandi."


"Nggak mau kelapa muda dulu?" Tanya Bara.


"Mandi dulu, kelapa mudanya nanti aja."


"Ya udah, aku mau minta bagian kelapa muda ku sekarang," ucap Bara seraya beranjak menyusul langkah Raisa ke kamar mandi.


Tidak ada penolakan sedikit pun dari Raisa. Karena percuma, meski ia menolak pada akhirnya ia akan tetap mengalah pada kemauan suaminya.


Tanpa sadar mata Author mulai terpejam dengan sendirinya 😴


...- 👍...


...- ❤...

__ADS_1


...- 🎁 Jika berkenan😚...


__ADS_2