Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 78


__ADS_3

Pagi dengan sedikit awan gelap yang menghiasi langit. Dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Ricky menatap jam di tangannya sambil beralih menatap jalan dan fokus mengemudikan mobilnya menuju kediaman Kiara.


Tiba di depan rumah Kiara ia turun dari mobil dan menghampiri security yang sedang berjaga.


"Apa Kiara nya masih ada?" Tanya nya.


"Non Kiara masih di dalam, mungkin sebentar lagi keluar." Karena sudah pernah melihat Ricky beberapa kali datang ke rumah majikannya akhirnya ia membiarkan mobil Ricky masuk.


Bara turun dari mobilnya lalu menekan bel pintu beberapa kali. Di luar dugaan, Papanya Kiara yang membukakan pintu pagi itu. Terlihat Usman juga sudah berpakaian rapi dengan seragam kantornya.


"Selamat pagi Om," sapa Ricky sedikit membungkuk kan badannya.


"Iya, ada perlu apa?" Tanya Usman seraya memperhatikan penampilan Ricky dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Saya Ricky temannya Kiara. Saya ada perlu dengan Kiara, Om."


Usman memanggil salah satu asisten rumah tangganya untuk memberitahukan kalau ada yang mencari Putrinya tersebut.


Tidak lama Kiara keluar. "Siapa Pa?" Tanya nya sambil membenarkan letak jam tangan yang baru di kenakannya.


Lagi-lagi ia di kejutkan dengan kedatangan Ricky sepagi itu.


"Ya sudah, Papa berangkat duluan ya. Tamunya nggak di suruh masuk dulu?" Ucap Usma sebelum berpamitan meninggalkan Kiara dan Ricky yang masih berdiri di luar.


"Mari aku antar ke kampus," tawar Ricky sebelum ada kata-kata yang terucap dari mulut Kiara.


"Aku bawa mobil sendiri," tolak Kiara.


Terdengar bodoh menawarkan bantuan pada seorang wanita mandiri seperti Kiara. Dulu dia lah yang bergantung pada wanita tersebut. Namun ia juga harus tetap berusaha untuk menarik kembali perhatian Kiara seperti saran Adit. Mulai lah dengan hal-hal kecil dulu sebelum memulai langkah yang besar.


"Aku juga masih ada urusan, sebaiknya kamu juga harus segera pergi ke kantor nanti kamu bisa terlambat."


Bagai mendapat sedikit harapan saat mendengar kata-kata Kiara yang terdengar sedikit memperhatikannya. Desakan Kiara agar ia segera pergi ke kantor tersebut bagai angin segar baginya.


"Non, maaf. Sepertinya mobil Non ada masalah dan harus di perbaiki. Dan membutuhkan waktu mungkin sekitar hampir satu jam," ucap sopir yang akhir-akhir ini selalu mengantar jemput Kiara. Setelah mengalami kecelakaan kemarin, ia belum di perbolehkan untuk mengemudi mobil sendiri.


"Siap kan mobil yang lain," titah Kiara.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf, Non. Mobil yang lain juga tidak ada karena sedang di gunakan untuk mengantar Bik Yani berbelanja ke pasar."


"Ya sudah, panggilkan taksi dan suruh menunggu di depan." Tidak kehabisan akal Kiara mencoba mensiasati agar tidak ada alasan baginya untuk pergi bersama Ricky.


"Tidak perlu, pak. Biar saya yang mengantar," ucap Ricky mencegah supir yang hendak pergi memanggil taksi.


"Biar aku naik taksi saja." Kiara bersikeras membuat sang supir jadi kebingungan.


"Kita tidak punya banyak waktu, dan mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Biar aku yang antar. Kali ini saja, aku mohon."


Untuk pertama kalinya Kiara mendengar Ricky berucap lembut dan menenangkan. Namun tak ingin kembali terhanyut ia buru-buru menepis perasaan-perasaan aneh yang kembali bergejolak di sana.


"Tunggu sebentar." Kiara mengalah dan bersedia di antar oleh Ricky.


Kiara masuk ke dalam dan mengambil tas nya. Beberapa saat ia kembali lalu menghampiri Ricky yang sudah menunggunya dengan membukakan pintu mobil untuknya. Ia masuk tanpa berkata sepatah kata pun.


Dengan santai Ricky mengemudikan mobilnya hingga sampai di depan kampus yang dulunya juga menjadi tempatnya kuliah.


"Terimakasih," ucap Kiara hendak turun dari mobil. Ia menoleh saat tiba-tiba Ricky menahan lengannya.


"Mau kah melanjutkan waktu yang sempat tertunda?" Ucap Ricky dengan tatapan memohon.


"Please...."


"Semua sudah berakhir di hari saat kamu meminta aku menjauhimu tanpa memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


Ricky tertunduk di kemudi mobil yang di pegangnya sambil tangannya yang lain masih memegang lengan Kiara.


"Bagaimana rasanya memohon pada orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan darimu? Apa sakit?" Kiara menyindir dengan pertanyaan menumpahkan semua rasa sakitnya yang selama ini ia coba tahan.


"Maaf...." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Ricky.


"Apa hanya itu sifat dari kebanyakan lelaki? Menyakiti, lalu meminta maaf dan berharap semua selesai!?"


"Ya, aku salah, dan aku minta maaf karena terlambat menyadari semuanya. Tapi aku tidak ingin ini berakhir. Aku ingin terus bersamamu."


Kiara kembali membuang wajahnya. "Lalu sampai kapan? Sampai kamu sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya? Kamu tetap saja egois!" Sentak Kiara melepaskan lengannya dari genggaman Ricky lalu keluar dari mobil.

__ADS_1


"Kiara...! Bukan itu maksudku!"


Kiara mempercepat langkahnya tanpa mempedulikan teriakan Ricky.


Ricky menyadari begitu banyak kesalahannya pada Kiara. Bahkan dulu ia juga pernah melakukan hal yang sama pada Kiara. Tidak mempedulikan Kiara yang berteriak memanggil namanya bahkan itu sempat berulang beberapa kali dan terakhir Kiara masuk rumah sakit karena ulahnya.


Hujan pun turun dengan begitu derasnya seakan menggambarkan duka di hati keduanya. Ricky memacu mobilnya untuk menuju ke ke kantor tempatnya bekerja. Hujan yang begitu derasnya membuat pandangannya sedikit terganggu saat mengemudi. Mobil yang berlalu lalang tak hentinya membunyikan klakson secara bersahutan.


Karena faktor kelelahan selama beberapa hari ini membuat Ricky di dera rasa pusing yang tiba-tiba. Ia mencari tempat untuk berhenti sebentar karena menyadari berbahayanya jika ia tetap memaksakan untuk mengemudi.


Belum lagi ia sempat mencari tempat untuk menghentikan mobilnya tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang seperti sedang kehilangan kendali. Mobil tersebut sempat menabrak beberapa mobil yang ada di depannya setelah akhirnya menabrak mobilnya dari arah belakang dengan telak.


Kecelakaan itu pun tak bisa di hindari.


Sejak bangun pagi itu Raisa merasakan ada kegelisahan yang meliputi hatinya namun ia tidak mengerti apa arti dari kegelisahannya tersebut. Ia mendudukan tubuhnya di sofa ruang tengah sambil memperhatikan Aya yang sedang bermain meski sebenarnya ia tidak benar-benar fokus pada Putrinya tersebut.


Kringg...


Raisa mentap ke layar ponselnya. Ada panggilan dari nomer yang tak di kenalnya. Dengan hati yang masih bertanya-tanya ia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo...."


"Maaf, dengan keluarga dari saudara Ricky Setyadi?"


"Iya betul. Saya ibunya, ada apa?"


"Saya dari pihak rumah sakit dan ingin mengabarkan kalau anak ibu saat ini sedang di rawat karena kasus kecelakaan...--- "


-


-


-


Malam ini **Author up 3 bab nih...


jangan lupa like & komennya ya,,

__ADS_1


love you all...😘😘**


__ADS_2