
...***Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membacaπ...
...Terimakasih π€***...
"Halo, RB CAKE disini, ada yang bisa kami bantu?" Nia menjawab telepon. "Halo...?"
T**uut tuut...
Tidak lama telepon kembali berdering.
"Halo... ada yang bisa kami bantu?"
Tuutt...tuut
"Apaan sih ni orang, iseng banget!" Nia pun merasa kesal dengan ulah si penelepon tersebut.
"Siapa?" Tanya Raisa.
"Gak tau nih mbak, orang iseng kali."
Telepon kembali berbunyi.
"Udah, biar saya aja yang jawab," ucap Raisa mengambil alih telepon.
"Halo, ada yang bisa kami bantu?"
"Halo...?"
T**uut tuut...
Raisa meletakkan telepon tersebut.
"Siapa mbak?"
"Mbak juga gak tau...," jawab Raisa yang juga tidak tau siapa dan apa tujuan si penelepon tersebut.
Bara meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya seraya menarik nafas dalam lalu menbuangnya.
Sudah tiga hari Bara libur menguntit di jalan itu, dan kali ini ia tidak bisa menahan lagi perasaannya untuk pergi kesana.
Karena tidak ada tanda-tanda orang yang ingin di lihatnya lewat di jalan itu, akhirnya ia pun memutuskan untuk langsung pergi saja ke toko kue.
"Selamat pagi..., ada yang bisa kami bantu?" Sinta yang menyambut.
"E hmm...," Bara bingung harus menjawab apa, karena sebenarnya ia sendiri belum memiliki alasan yang tepat mengenai kedatangannya.
Jika mengatakan ingin membeli kue pun ia tidak tau harus membeli kue apa, karena ia tidak mengerti masalah perkuean.
"Saya...."
Bara melemparkan pandangannya ke seseorang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Bara...?"
Raisa menghampiri. "Ada yang bisa Tante bantu?"
"i iya saya mau...----
"Oo..., kamu mau beli kue? Siapa yang berulang tahun, pacar kamu ya...?" Raisa tersenyum melihat wajah malu-malu Bara yang terlihat salah tingkah.
"Bu --- bukan, tapi untuk para karyawan," ide muncul ketika ia teringat paket cemilan di kantornya.
"Oo begitu, perlu berapa?"
"Ee... --- sekitar seratus."
"Baik. Kapan perlunya?"
__ADS_1
"Sekarang."
"Kalau untuk seratus paket mungkin akan membutuhkan sedikit lama. Tinggal kan aja alamat kantor kamu, dan akan segera di antar setelah semua siap."
"Gak, saya tunggu aja karena ini kejutan buat para karyawan saya yang lagi lembur, jadi saya yang akan membawa langsung" Bara mulai fasih meluncurkan kata-katanya.
"Oo, baiklah kamu duduk disana aja dulu sambil nunggu pesanan nya siap"
Bara berjalan menuju kursi yang di sudut ruangan tersebut. ia menunggu sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik ke pintu ruangan dimana punggung seseorang yang selalu ia perhatikan menghilang disana.
"Ini kamu minum dulu sambil nunggu pesanan kamu siap" Raisa datang membawa sebotol minuman kemasan dan memberikan nya ke Bara.
"Terimakasih."
"Bagaimana kabar mama mu?" Raisa coba mengajak berbicara agar Bara tidak bosan menunggu.
"Mama sehat-sehat aja, kalo pun sakit mama akan kembali sehat begitu teman-teman arisan nya datang," Bara meneguk minuman nya seakan tiada beban. Tapi entah kenapa Raisa merasa lucu dengan ucapan Bara barusan.
Raisa tertawa sampai harus menutup mulutnya sambil menunduk. Bara yang mendengar suara tawa tersebut seakan keluar dari Kegelisahan yang selama beberapa hari ini meliputi hatinya.
"Ya tuhan.... jangan buat aku semakin gila"
Bara memandang lekat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
...***...
Seperti biasa, akhir pekan Ricky dan Adit akan begadang untuk bermain game Online di rumah Ricky.
Ricky berjalan gontai menuju teras rumahnya berniat menunggu Adit disana.
belum sempat ia membuka pintu, bel rumahnya sudah berbunyi.
"Cepet bener tuh si chongor datengnya," gumam Ricky sambil membuka pintu.
"Eh, om Herman apa kabar om?" Sambil menyalami.
"Baik juga Om, silahkan masuk dulu."
Setelah mempersilahkan duduk ia pun ikut duduk di sofa ruang tamu tersebut.
"Oiya, mau minum apa Om?"
"Gak usah repot-repot Rick, Om udah minum koq."
"Gak koq om, sebentar ya," Ricky beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur. di lihatnya mamanya masih disana mencuci beberapa piring kotor.
"Ma...."
"Iya Rick..., ada apa?" Jawab Raisa tanpa menoleh.
"Bkinin minum, Ricky gak tau."
"Belajar dong Rick..., kan kamu sendiri yang bilang kalo kamu udah dewasa," Raisa menoleh sekilas lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Bukan buat Ricky, tapi buat om Herman. kalo Ricky yang buatin takutnya asem."
"Jadi di luar ada om Herman? Koq kamu gak bilang?"
"Ya ini Ricky udah bilang...."
"Ya sudah kamu keluar aja dulu temui om Herman, gak enak kalo tamu di tinggal lama."
"Bikinin minumnya dulu ma..., Ricky gak enak karena Ricky tadi bilang mau bikinin minum buat om Herman."
Raisa hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu membuat secangkir.
"Makanya kamu jangan kebanyakkan main game aja, sesekali belajar bikin minuman paling gak buat kamu sendiri," sambil menyerahkan nampan ke Ricky.
__ADS_1
"Nanti deh, kapan-kapan," Ricky berlalu membawa nampan berisi gelas minuman tersebut ke ruang tamu dan meletakkannya di meja.
"Silahkan Om."
"Iya. Terimakasih Rick, Om jadi merepotkan kamu."
"Gak koq om, tapi maaf cuma minum doang."
"Ini juga udah cukup koq Rick," sambil menyeruput minumannya.
"Udah lama Her...?" Tanya Raisa kepada teman lamanya itu.
"Gak juga, baru koq. Ricky udah makin dewasa ya, udah pinter buat minum," Puji Herman.
Mendengar pujian tersebut Ricky salah tingkah sambil cengar cengir.
"Iya, Ricky emang udah dewasa tapi...."
"Ma, Ricky keluar dulu ya kayaknya Adit udah dateng, permisi om," Ricky pun buru-buru keluar.
Sebenarnya Ricky hanya mencari alasan, tapi kenyataannya Adit memang sudah ada di sana.
"Loe udah ada disini aja?" Ujarnya sambil duduk di samping Adit.
"Iya, tapi gak lama koq, gue gak enak aja manggil loe karena gue liat lagi ada urusan keluarga kayaknya."
"Ngaco loe."
"Emang siapa sih tuh di dalem? Calon bokap loe ya?" Adit jadi antusias.
"Bukan, dia teman nyokap gue waktu SMA namanya om Herman."
"Oo..., emang loe yakin dia cuma temen nyokap loe? Apa jangan-jangan dia suka lagi sama nyokap loe? Penyakit receh Adit pun mulai kumat.
"Ya gak lah...,ya mana gue tau, emang gue paranormal."
"Eh Rick, kalo misalkan dia suka ama nyokap loe gimana? Loe bersedia gak nerima dia jadi bokap tiri loe?"
"Koq jadi ngebahas itu sih, jadi maen gak nie?" Ricky mulai kesal dengan kerecehan Adit.
"Iya iya sorry, tapi gue haus nih loe ambilin minum dulu sana."
"kebiasaan loe," dengan berat hati Ricky pun beranjak.
"Rick, apa perlu kita panggil Bara sama Dimas, kali aja mereka bisa ikut gabung," usul Adit.
"Terserah loe deh kalo mereka gak sibuk," Jawab Ricky sambil berlalu pergi menuju dapur.
Kayak nya ini ide bagus!
Gue mau mastiin kalo dugaan gue ini salah!
Adit pun mengirim pesan ke Bara.
Adit: Gue lagi di rumah Ricky, loe ikutan gak?
Bara: Kayaknya minggu ini gue libur dulu, gue capek mau istirahat π΄
Adit: Ya udah loe istirahat aja, padahal si Ricky mau ngenalin calon bokap tirinya ke kita. Tapi kalo loe gak bisa nanti aja deh sekalian kenalan di pelaminan.
Bara: Serius loe!?
Adit sengaja tidak membalas pesan tersebut. Namun ia terkekeh dalam hati.
..._ π...
..._ β€...
__ADS_1
..._ π Bila berkenan π...