
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
"Kenapa, koq muka loe pucet? Gak pengen ketawa loe!?"
"Gue balik dulu, loe siap-siap aja entar malam gue jemput." ucap Bara lalu masuk ke mobil dan menjalankannya.
"Oke, gue pasti siap koq!" Ucap Adit setengah berteriak.
Gue khawatir loe yang belum siap!
Batin nya.
Adit berjalan menuju pengkolan menemui preman suruhan nya waktu itu.
"Bang!" Panggil Adit pada dua preman yang sudah menunggu disana.
"Lama banget loe!?" Ucap salah satunya.
"Sorry bang, gue kedatangan tamu tadi," jawab Adit sambil menyerahkan uang yang telah di janjikan.
"Loe kan laki, masa iya kedatangan tamu? Bukanya perempuan yang biasa kedatangan tamu?" Seraya tergelak.
"Eet dah abang, bukan tamu yang itu... maksudnya tamu beneran, orang baang...."
"Oo..., kirain. Ya'udah kita cabut dulu, kalo perlu bantuan hubungi kita aja."
"Terimakasih bang, tapi kayaknya udah cukup!" Ucap Adit pergi berlawanan arah.
Malam nya Bara menjemput Adit di kostan nya.
"Lama loe!" Ucap Adit saat sudah masuk kedalam mobil.
"Gak usah bawel."
Bara melajukan mobilnya dan fokus menyetir.
Tidak ada perbincangan maupun perdebatan. Baik Bara maupun Adit diam menatap lurus ke jalanan. Namun sesekali Adit melirik ke arah Bara.
"Loe kenapa sih?" Tanya Bara merasa Adit terus mengawasinya.
"Loe kelihatan tenang banget, emang loe udah ikhlas ya kalo tante Raisa di lamar sama om Herman?"
"Kan baru di lamar, bukan nikah," sahut Bara tersenyum optimis.
Bara menghentikan mobilnya di halaman rumah Ricky, lalu mereka pun turun dari mobil berjalan menuju teras.
Ricky yang sudah ada di luar pun menyambut kedatangan kedua sahabatnya.
"Kita gak telat-telat amat kan?" Tanya Adit.
"Kalo gue bilang kalian telat banget emang waktu nya bisa di mundurin?"
"Gue sih gak telat, tapi supir gue yang telat jemput," Kata Adit.
"Enak aja loe ngatain gue supir!"
"Dimas gak ikut?"
"Gue udah kasi tau sore tadi, katanya dia akan usahain buat datang," jawab Bara.
__ADS_1
Tidak lama Dimas pun datang. "Panjang umur loe," tegur Adit dan Bara bersamaan.
"Sorry gue hampir lupa tadi," ucap Dimas menghampiri ketiga temannya.
"Sebenernya ada acara apaan sih?" Tanya nya.
"Kita juga gak tau, yang empunya acara gak kasi tau ada acara apaan," ucap Adit.
"Ngerayain ultah gue," jawab Ricky.
Mereka pun terpingkal bersamaan mendengar jawaban Ricky, tak ayal membut Ricky jadi kesal.
Ricky sudah menduga hal ini akan menimbulkan ledekan bagi teman-teman nya sebab itu lah ia enggan memberi tahukan jauh-jauh hari perihal hari ulang tahun nya yang bakal di rayakan meski dengan acara yang cukup sederhana.
"Tumben loe ngerayain ulang tahun, biasanya kan loe paling males?" Tanya Adit yang masih terkekeh mengingat dulu Ricky pernah kabur dari cafe tempat ulang tahun nya di rayakan.
"Sebenernya bukan gue yang ngadain acara, tapi nyokap gue yang pengen," jawab Ricky sambil mengajak para sahabatnya duduk di bangku terasnya yang sudah di tata rapi dengan meja yang sudah di penuhi sajian makanan dan minuman.
"Jadi loe cuman ngundang kita kita aja?" Tanya Dimas.
"Sebenernya sore tadi nyokap gue udah ngundang para tetangga sama ibu-ibu pengajian, jadi khusus malam ini buat kita-kita aja."
"Loe gak niup lilin dulu nih?" Ledek Adit.
"Apaan, emang gue anak TK pake acara tiup lilin segala!"
"Sebentar," Pamit Bara sambil berlalu pergi menuju mobilnya lalu kembali dengan sebuah benda berbentuk kotak di tangan nya."Ini buat loe," ucapnya seraya menyerahkan benda itu ke Ricky.
"Apaan nih? Harus nya loe gak perlu serepot ini juga. Tapi thanks banget," ucap Ricky saat menerima kotak tersebut. Bukan hanya Ricky, Dimas dan Adit pun penasaran."
"Loe liat aja sendiri nanti."
"Loe bawa beginian berarti loe udah tau dong?" Ucap Ricky sambil menimang kotak tersebut.
Adit menyibakkan sudut bibirnya melihat ke arah Bara dan Ricky bergantian.
"Loe gak tau aja, dia nyari perhatian buat ngincer nyokap loe!
Batin nya.
"Sorry, gue gak bawa apa-apa buat loe, selain do'a," ucap Dimas.
"Udah lah santai aja, yang penting kalian udah dateng."
"Gue juga Rick, gue gak tau loe bakal ngerayain ultah jadi gue --- "
"Alaah...,alasan basi loe. Gue udah tau koq," ucap Ricky yang langsung memotong kata-kata Adit.
Mereka pun berbincang bincang sambil sesekali tertawa bersama. Sampai akhirnya ada seseorang yang juga datang malam itu.
"Selamat datang om," sambut Ricky.
"Maaf om telat, selamat ulang tahun yah.'' kata Herman sambil memberikan sebuah paper bag yang ia bawa.
"Koq repot-repot gini om," ucap Ricky sambil menerima paper bag tersebut. "Masuk dulu om." Setelah di persilahkan masuk Herman pun duduk di sofa ruang tamu, sementara Ricky menemui Raisa di dapur.
"Ma, ada om Herman tuh! "
"Kamu temenin ngobrol dulu, sebentar lagi mama selesai," perintah Raisa.
__ADS_1
"Jangan lama-lama, teman-teman Ricky juga lagi ada di luar.
Deg!
Raisa berfikir sejenak, mengingat teman Ricky hanya ke empat orang tersebut termasuk Bara.
"Yaudah, sebentar lagi mama keluar."
Ricky pun kembali menemui teman-temannya di teras. "Sorry, gue manggilin nyokap gue dulu tadi." ucapnya.
Bara yang dari tadi hanya diam sejak kedatangan Herman, mulai menunjukkan rasa tidak nyaman.Ia coba meminum air di gelas yang ada di hadapan nya demi menenangkan perasaan nya. Tentu sikap Bara tersebut tidak luput dari pengawasan Adit.
"Eh Bar, gue punya kejutan juga buat loe, gue lupa kalo Mumun ada disini, dia lagi di belakang bantuin nyokap gue," ucap Ricky.
Uhuk uhuuk!! Bara pun tersedak.
"Wah, asik dong!" Celetuk Adit yang langsung menerima tatapan kemarahan dari Bara.
"Mumun, siapa Mumun?" Tanya Dimas heran.
"Anak tetangga gue yang lagi di incer sama Bara." sahut Ricky.
"Serius namanya Mumun!? "Dimas mulai tersenyum jahil.
Sementara Bara semakin terlihat kesal karena merasa terpojok.
"Gue panggilin yah?" Kata Ricky ingin beranjak.
"Tunggu, loe salah paham Rick, Bara emang suka sama Mumun, tapi si Mumun sukanya sama gue," ucap Adit buru buru meralat karena takut Bara akan mengamuk setelah pulang nanti. Bagaimana pun ide mengkambing hitamkan Mumun adalah idenya, jadi ia juga yang akan mengatasinya. "Udah, Mumun buat gue aja, biar gue lahap tuh si Mumun."
"Serius, darimana loe tau kalo si Mumun suka sama loe!?" Kekeh Ricky.
"Loe liat aja, Mumun bakal lebih milih gue."
"Terus Bara gimana? Patah hati dong!?" Ledek Dimas.
"Gak usah di pikirin, Bara udah ikhlas koq! Gue ke belakang deh nemuin Mumun." pamit Adit.
"Yaudah kita kebelakang aja sekalian sambil bakar-bakar jagung, gue udah beli banyak tadi," ajak Ricky pada Dimas dan Bara sementara Adit sudah pergi mendahului mereka.
Mereka pun mengekor di belakang Ricky menuju taman belakang rumah yang tidak terlalu luas tapi lumayan buat acara ngumpul mereka malam itu.
Dimas dan Ricky pun mulai menyalakan arang pembakaran, sementara Adit dan Mumun menyiapkan jagung sambil mengobrol.
Mereka hampir muntah mendengar Adit yang tidak henti-hentinya melontarkan kata-kata rayuan pada Mumun.
Di sisi lain Bara terlihat gelisah di tempat duduknya."Gue pergi ke depan bentar deh." Ucapnya sambil beranjak.
"Ok, tapi jangan balik duluan loe!" Sahut Dimas.
"Bar, loe gak apa-apa kan?" Tanya Ricky agak khawatir.
"Udah, biarain dia nenangin diri dulu, kalo kelamaan disini kasian Bara kepanasan, yang ada malah dia mateng duluan." ucap Dimas seraya terpingkal.
Bara masuk ke ruang tamu."Maaf, apa boleh saya duduk disini, saya agak pusing?" Tanpa menunggu ia pun menduduki sofa bagian ujung sambil bersandar.
Raisa menatap sekilas lalu kembali fokus pada teman ngobrolnya. Namun tidak bisa di pungkiri semenjak Bara ada di sofa itu ia menjadi sedikit gelisah.
Niat Herman ingin menanyakan jawaban Raisa tentang lamaran nya pun ia urungkan, karena situasi yang tidak memungkinkan.
__ADS_1
Alhasil ia pun pamit pulang.
Raisa mengantarkan Herman sampai di teras rumahnya lalu kembali ke dalam. Ia terkejut Bara sudah berdiri di hadapan nya.