Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 33


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


Setelah dari kampus Adit pergi ke rumah Ricky. Ia ingin tau apa yang menyebabkan sahabat nya itu tidak pergi ke kampus.


"Eh, loe Dit?" Ucap Ricky yang melihat kedatangan Adit di kamar nya.


"Ya nengokin loe lah, emang loe gak suka? Yaudah deh gue balik!"


"Alaah, basi tau gak! Ricky tau Adit tidak serius dengan ucapannya.


Adit hanya cengengesan lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. "Rick, emang loe mau punya adek?"


"Emang kenapa?"


"Ya gue nanya aja, kali aja loe keberatan karena perhatian nyokap loe kan bakal kebagi buat adek loe."


"Kan ada loe yang setia sama gue! Ayok buruan, loe pasti laper kan makanya loe ngaco!?" Ricky beranjak sambil melemparkan bantal ke Adit.


"Loe tau aja! Eh, emang loe bisa berdiri?"


"Gue cuma demam, bukan lumpuh! Jangan kan berdiri, berlari juga gue masih bisa!"


Adit terkikik sambil mengikuti langkah Ricky menuju ke ruang makan.


Setelah makan mereka bersantai di teras. Dan Ricky pun sudah merasa jauh lebih baik.


"Loe kenapa malah duduk di luar? Udah baikan loe?" Tanya Bara yang baru pulang saat melihat Ricky tengah asik mengobrol dengan Adit.


"Udah, loe bisa liat sendiri."


"Bagus deh, kalo bisa jangan sakit lagi loe, bikin ribet aja," ujar Bara seraya masuk ke dalam. Beberapa saat ia pun kembali ke luar menemui Ricky dan Adit.


"Waduuh! Kebiasaan nie, setiap abis makan mau kebelakang bawaannya. Bentar deh!" Ricky buru-buru masuk kedalam.


"Gimana, loe udah gak puasa lagi kan?" Tanya Adit tersenyum jahil.


"Apaan shi loe!? Mau tau aja!"


"Kenapa loe gak bulan madu aja?"


"Gue juga maunya gitu, tapi masalahnya, tuh bayi jumbo gak bisa di tinggal," jawab Bara gemas.


Adit terpingkal mendengar curahan isi hati Bara. "Gue ada ide biar loe bisa berduaan sama tante Raisa."


"Loe serius!?" Tanya Bara cepat.


"Serius lah, gue gak pernah becanda kalo soal kerjaan!"


"Eh, loe malak mulu kerjaannya! Bingung gue punya temen kayak loe!"


"Temen ya temen, kerjaan ya kerjaan. Jangan loe sangkut pautin!" Sahut Adit.


"Jangan bilang kali ini loe minta di beliin mobil!"


"Uang bensin doang!"


"Ok deh, apaan dulu rencananya?"

__ADS_1


"Rencananya minggu depan gue nginep disini...."


"Ngapain loe pake nginep segala!? Mau ngintip loe!?"


"Loe dengerin gue ngomong dulu!"


"Iya iya, buruan!"


"Loe ajak aja tante Raisa nginep di apartemen, entar biar gue yang jadi baby sister buat anak tiri loe. Gimana?"


"Bagus juga ide loe, tapi gimana gue ngejelasinnya sama bini gue?"


"Itu urusan loe, masa gue juga yang harus ngebujuk bini loe!?" Adit menoyor kepala Bara.


"Gue setuju. Tapi loe jangan noyor kepala gue!"


"Abisnya gue gemes liat loe! Gak guna lulusan Amerika, otak loe pekat amat!" Adit beranjak pergi meninggalkan Bara yang masih terbengong di teras.


"Di Amerika mana pernah gue di ajarin cara mecahin masalah yang beginian," gumam Bara seraya masuk kerumah.


...***...


Malam itu Bara duduk bersandar sambil memikirkan bagaimana agar Raisa mau di ajak menginap di apartemennya.


"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih? Serius banget?" Tanya Raisa yang memperhatikan Bara lewat cermin meja riasnya.


"Nggak pa-pa koq sayang," jawab Bara masih ragu mengungkapkan.


"Terus kamu lagi mikirin apa?" Tanya Raisa lagi seraya menghampiri.


Bara mulai menyerang b*bir Raisa yang tampak menggoda.


"Sayaang! Kamu abis minum kopi yah!?" Tanya Raisa yang mengendus aroma kopi dari mulut Bara.


"Maaf...."


"Aku gak suka aroma kopi," Raisa terlihat seperti mau muntah. "Kamu gosok gigi dulu sana!" Perintah nya.


"Iya iya bentar yah sayang...."


Lalu Bara pun buru-buru pergi ke kamar mandi.


S*al! Kenapa Adit gak kasi tau gue soal kopi!?


Setelah selesai ia kembali ke tempat tidur dan melanjutkan aksinya.


"Sayaang...!" Raisa setengah memekik akibat aksi Bara yang kelewat aktif tersebut.


Tidak memerlukan waktu lama hingga keduanya sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Sementara Bara tidak henti-hentinya menghujani tubuh pol*s Raisa dengan kecup*n hingga meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya disana.


Entah berapa kali mereka mengulang adegan percintaan malam itu. Saat terbangun hari sudah pagi, Raisa beranjak perlahan dari tempat tidur agar tidak membangunkan Bara yang masih terlelap.


"Sayang...,kamu mau kemana?"


Raisa kaget saat mendengar suara Bara yang ternyata juga sudah terbangun. "Aku mau mandi dulu."


"Jangan mandi dulu."

__ADS_1


"Ini udah pagi, kamu juga harus berangkat ke kantor kan?"


"Sekali lagi."


"Apa!" Raisa tidak percaya Bara masih mau melakukannya. "Sayang, emang kamu gak capek!?"


"Apa kamu meragukan nya?"


Raisa benar-benar syok dengan kelakuan Bara.


"Sayang, kamu kan udah janji, kalo kita udah nikah aku boleh gak sopan sama kamu, apa kamu lupa?" Tanya Bara mendekati lalu memeluk pinggang Raisa. Bukan sekedar memeluk, tangannya pun mulai menjalar kemana-mana menyusuri setiap lekuk tubuh Raisa yang hanya menggunakan dress tidur dan ****** ***** tanpa memakai b*a


Bara memainkan pun*ak g*nung tersebut dari balik kain yang menutupinya.


"Sa... sayang...," Raisa ingin menghentikan, namun ia juga menikmati sentuhan tersebut.


Bara menyeringai senang, seakan menemukan sebuah kelemahan pada musuhnya.


Raisa membuang pandangannya demi menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah memerah.


Tanpa menunggu lagi, Bara pun kembali memulai aksinya.


Setelah mandi dan berpakaian Raisa pun menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Beberapa saat Bara juga terlihat sudah rapi dengan setelan jas kantornya. Ia menghampiri Raisa yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


"Sayaang, aku cuma bisa nyiapin roti aja, kalo buat yang lain takutnya kamu kesiangan," Ucap Raisa.


"Gak apa sayang, aku ngerti kamu kelelahan karena habis bekerja keras tadi," ucap Bara seraya mengecup kening istrinya.


Wajah Raisa kembali bersemu mengingat permainan mereka pagi itu.


"Kamu gak pergi ke toko?" Tanya Bara yang melihat Raisa hanya mengenakan dress rumahannya. Matanya kembali menyusuri setiap jenjang tubuh istrinya itu.


"Aku pergi agak siangan aja, nanti aku telepon pegawai aku buat jemput," jawab Raisa tanpa mempedulikan tatapan suaminya.


"Yaudah, beri aku semangat dulu," ucap Bara sambil memajukan wajahnya.


"Ricky sebentar lagi sarapan juga, kalo dia liat gimana?"


"Yaudah, aku akan tetap duduk disini nunggu kamu," Bara bersikeras seperti biasa.


Raisa kembali harus mengalah dengan kemauan Bara. Ia menghampiri Bara yang masih duduk di kursinya.


Bara tersenyum menyambut semangat yang di berikan. Namun Raisa kembali di kejutkan oleh aksi Bara yang tiba-tiba menaikkan dressnya.


"Sayaang! Kalo Ricky liat gimana!?" Raisa panik. Bukannya berhenti, Bara malah menyibakan penutup dua buah gun*ng disana dan mel*h*p salah satu puncak g*nung tersebut.


Mereka sama-sama panik ketika mendengar suara langkah kaki yang menuju ke ruangan itu.


Karena terlalu panik, Bara sampai mengalami kesulitan untuk melepaskan kepalanya dari dalam dress tersebut.


Cukup bersusah payah hingga akhirnya ia berhasil meskipun dengan wajah yang tampak memerah.


Silahkan ***kalo ada yang mau ketawa sambil guling-gulingan, atau mau jumpalitan, salto belakang, salto depan,,


yang jelas Author mau istirahat 😴

__ADS_1


__ADS_2