
Perkembangan mengenai kesehatan Ricky sudah lebih membaik. Ia juga sudah bisa berbicara dan bahkan ia sudah bisa membalas candaan para sahabatnya. Akhirnya mereka sudah bisa tertawa lepas setelah hampir dua bulan ini di rundung duka. Namun tidak bagi Kiara yang kini hanya bisa kembali menelan pil pahit setelah mengetahui bahwa Ricky kehilangan ingatannya tentang momen kebersamaan mereka setelah kecelakaan itu. Ricky hanya mengingat saat hari di mana ia menghadiri pernikahan Dimas. Dan ia mengira kecelakaan yang menimpanya itu terjadi setelah kepulangannya dari sana.
Ia tidak menyangka apa yang di ucapkan oleh Papanya beberapa waktu lalu benar-benar menjadi nyata. Ia bahagia dengan kesembuhan pria yang sangat di cintainya. Meski akhirnya ia harus berusaha kembali memadamkan api cinta yang ada di hatinya.
Seperti rencana awalnya. Ia berencana akan kembali ke London untuk mengambil pekerjaan di sana. Ia juga sudah bicara secara baik-baik dengan Arfan. Dan Arfan pun mengerti, ia tidak ingin membuat wanita yang sedang terpukul itu menjadi lebih tertekan lagi jika ia tetap memaksakan hubungannya.
Usman juga menyerah dengan keputusan putrinya itu. Ia tidak lagi ingin menghalangi jalan yang akan di ambil oleh Kiara.
Ricky sudah bisa pulang ke rumah. Ia tampak heran saat tiba di sebuah rumah yang menurutnya bukan kediamannya. "Ini rumah siapa?" Tanyanya.
"Sewaktu kamu berada di rumah sakit kemarin, kita pindah kesini. Ayo, masuk."
Ricky mengangguk lalu mengekor di belakang Mamanya.
"Kamu istirahat dulu. Kamar kamu ada di atas," titah Raisa.
Ricky menurut dan pergi ke lantai atas di mana kamarnya berada. Setelah beristirahat sebentar ia turun ke bawah untuk mebgambil air minum karena ia merasa haus. Seakan sudah mengetahui sebelumnya letak ruangan rumah tersebut, Ricky dengan lancarnya menuju ke dapur, membuka kulkas dan mengambil minuman dari sana. Ia sendiri bingung dan baru sadar kalau ia seperti sudah sangat hapal meski baru pertama kali menginjakan kaki ke rumah itu.
Beberapa hari ia terdiam diri di dalam rumah membuat Ricky di landa rasa bosan. Sementara waktu ia belum di ijinkan untuk keluar rumah selain berjalan-jalan di sekitaran rumah saja. Tiba-tiba Ia tertarik untuk mendatangi paviliun yang terletak di bagian belakang rumah utama tersebut. Di putarnya knop pintu, ternyata tidak di kunci. Perlahan ia melangkah masuk. Matanya mengitari setiap sudut ruangan yang menurutnya tampak tidak asing. Sambil mengingat-ngingat ia memasuki setiap ruangan yang ada di sana.
Apa sebelumnya aku pernah ke tempat ini? Tapi kapan? Apa Mama dan Bara membeli tempat ini dari orang yang pernah aku kenal sebelumnya? Ricky terus membatin dan bergelut dengan pikirannya.
Tiba-tiba ia merasa pusing lalu menuju sebuah sofa di salah satu ruangan tersebut. Menjatuhkan tubuhnya di sana untuk beristirahat sejenak. Ia teringat kembali nasihat Mamanya yang selalu mengatakan jangan terlalu banyak berpikir.
Jika di sinetron-sinetron, orang yang mengalami kecelakaan lalu kehilangan ingatannya, maka orang tersebut tidak di perbolehkan untuk berpikir terlalu keras. Seperti yang selalu di ucapkan Bara dan Mamanya setelah kepulangannya dari rumah sakit.
Apa gue mengalami amnesia seperti yang ada di sinetron-sinetron? Ricky menduga-duga.
__ADS_1
Setelah rasa pusingnya sedikit berkurang, Ricky kembali memeriksa ruangan dan tibalah ia di depan sebuh pintu kamar. Dan pintu kamar itu pun dalam keadaan tidak terkunci. Lagi-lagi ia merasa seperti pernah melihat ruangan tempat tidur itu. Tapi ia sulit untuk mengingat kapankah ia pernah kesana.
Apa gue sedang berhalusinasi tentang tempat ini? Batinnya.
Bik Jur berlari menghampiri majikannya yang baru selesai menidurkan putrinya.
"Ada apa bik. Kenapa lari-lari seperti itu?" Raisa bertanya keheranan.
"Anu Non, pintu paviliun kok kebuka, ya? Apa jangan-jangan ada maling yang masuk, ya." Bik Jur terengah-engah.
"Apa? Kok bisa!?"
Sebelumnya Raisa sudah memerintahkan agar paviliun tersebut di kunci kembali setelah di bersihkan. Ia khawatir kalau Ricky sampai masuk kesana dan melihat semua barang-barang yang mungkin bisa mengganggu masa pemulihannya. Sepertinya salah satu pembantunya yang bertugas membersihkan tempat itu lupa untuk menguncinya kembali.
Raisa masuk ke dalam paviliun yang pintunya sedang terbuka lalu memeriksa, berharap bahwa tidak ada orang di dalam selain pembantunya yang mungkin sedang bersih-bersih.
Raisa mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru ruangan tersebut. Lalu ia memeriksa beberapa ruangan, hingga kemudian ia melangkah menuju ke kamar yang dulu di tempati Ricky.
Di lihatnya Ricky sudah duduk di tempat tidurnya dengan beberapa barang yang sepertinya baru saja di keluarkan dari tempat bersembunyiannya.
"Ricky, kamu nggak apa-apa?" Raisa menghampiri putranya yang tampak duduk dengan wajah yang tertunduk.
Melihat Ricky yang hanya diam tidak menjawab pertanyaannya, Raisa kembali memanggil. "Ricky, kenapa kamu ada di sini? Kamu harus banyak istirahat. Ayo...," ajak Raisa seraya mengusap punggung putranya.
Ricky masih diam lalu memegangi kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. "Ma..., apa Ricky telah melewatkan sesuatu?"
"Maksud kamu apa? Kamu tidak boleh terlalu banyak berpikir. Keadaan kamu belum benar-benar pulih," bujuk Raisa. Di lihatnya beberapa foto yang tergeletak di lantai. Foto-foto yang di ambil ketika Ricky di lantik menjadi seorang sarjana.
__ADS_1
Terlalu keras berpikir membuatnya merasa pusing dan kepalanya terasa sakit. Melihat Ricky yang tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, Raisa langsung panik. Ia memerintahkan bik Jur agar segera memanggil supir untuk membantu Ricky membawanya ke rumah sakit.
Bara yang mendapat telepon dari asisten rumah tangganya pun langsung datang ke rumah sakit tempat Ricky di bawa.
"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Bara pada dokter yang memeriksa keadaan Ricky.
"Pasien hanya sedikit terguncang saja. Sebaiknya pasien di jaga dengan baik agar jangan terlalu keras berpikir, yang akan mempengaruhi proses kesembuhannya saat ini," jelas dokter.
"Baik, dok saya mengerti," jawab Bara.
Mendengar Ricky kembali di rawat di rumah sakit, membuat para sahabatnya kembali merasa cemas. Baik Dimas mau pun Adit, langsung pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ricky.
"Apa yang terjadi?" Tanya Dimas pada Bara dengan wajah yang terlihat cemas.
"Nggak ada yang serius, dia hanya terlalu banyak menguras pikirannya untuk mengingat hal-hal yang sempat hilang dari ingatannya," jelas Bara.
"Syukurlah jika tidak ada masalah yang serius."
-
-
-
Esoknya Kiara bergegas menuju ke rumah sakit setelah mendengar bahwa semalam Ricky kembali masuk rumah sakit. Meski dirinya hanya di ingat sebagai seorang dosen oleh Ricky, tapi dirinya mana mungkin melupakan pria yang masih sangat di cintainya itu. Jika saja boleh memilih, ia juga ingin mengalami hal yang sama dengan Ricky, agar ia juga bisa melupakan rasa cintanya.
Saat ingin melangkah masuk Kiara mendengar suara wanita dari arah dalam ruang perawatan Ricky. Terdengar juga suara Dimas dan yang lainnya sedang berbicara dengan Ricky yang sepertinya sudah membaik. Tapi suara wanita tersebut, siapa? Jelas itu bukan suara Raisa maupun Tari yang sudah biasa ia dengar. Wanita tersebut terdengar cukup akrab saat berbicara dengan Ricky.
__ADS_1