
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
Sudah beberapa hari Bara menginap di apartemen nya, dan hari ini ia berniat untuk pulang karena selalu teleponi oleh Mamanya.
"Bara, mama mau bicara!"
Bara berhenti di anak tangga ketika mendengar suara yang cukup khas di telinga nya. Ia berbalik lalu mengikuti langkah mamanya yang berjalan menuju sofa ruang keluarga. "Iya ma, ada apa?"
"Sepertinya sudah waktunya kamu memiliki pendamping yang bisa mengurus kamu."
"Maksud mama apa?"
"Sudah waktunya kamu menikah dan mama sudah punya calon yang cocok buat kamu, lagi pula kan selama ini kamu juga belum pernah ngenalin teman wanita kamu ke mama," ucap Mala sambil memangku tangannya.
"Mama mau jodohin Bara? Maa..., udah gak zaman main jodoh-jodohan, Bara udah punya pilihan sendiri."
"Bagus, kalau begitu bawa dia ke rumah ini dan perkenalkan dia dengan keluarga kita."
"Bara pasti akan memperkenalkan dia dengan keluarga kita, tapi gak sekarang."
"Siapa namanya?"
"Maa...."
"Biar mama tebak, apa namanya Raisa? Apa dia ibu dari teman kamu?" Tanya Mala dengan menatap tajam.
Bara terdiam tidak bisa menyangkal, sambil berpikir bagaimana bisa mamanya mengetahui semua itu.
"Jawab Bara!?" Kali ini Mala benar-benar terlihat marah. "Apa tebakkan mama benar!?"
"Ma,"
"Tadi dia kesini mengembalikan barang kamu." Mala mengelurkan sebuah kotak dari belakangnya. Ponsel yang ia belikan untuk Raisa tempo hari.
"Ma..., Bara bisa jelasin --- "
"Apa selama ini kamu mengejar-ngejar dia? Apa itu benar? Bara, jawab mama!?"
"Iya itu benar! Dan Bara mau Raisa yang menjadi pendamping hidup Bara kelak!"
Plaakkk!!
Sebuah tamparan dari Mala melayang di pipi Bara. "Mama kecewa sama kamu! Mama udah kuliahin kamu jauh-jauh hingga kamu menjadi seperti ini, tapi apa balasan kamu ke mama!? Kamu malah naksir janda beranak satu yang ternyata ibu dari teman kamu sendiri!"
"Apa mama lupa, kalau mama lah yang memaksa Bara buat kuliah sehingga Bara harus ngelupain cita-cita Bara sendiri? Selama ini Bara selalu ngikutin apa yang mama mau, tapi kali ini Bara mohon biarkan Bara yang memilih pasangan hidup Bara."
"Dengan janda beranak satu itu!? Mama gak akan setuju! Mama yang akan menentukan calon yang lebih pantas buat kamu!"
"Ma...,ini bukan masalah pantas atau tidaknya, ini masalah perasaan Bara...."
"Perasaan kamu itu gak berdasar, saat kamu menikah nanti juga bakal hilang, kamu lihat mbak Tari, buktinya dia bahagia aja dengan pilihan mama."
"Itu karena mama terlalu egois, sehingga
__ADS_1
mama nggak bisa melihat penderitaan anak Mama sendiri!"
"Bara..., mama belum selesai bicara!" teriak Mala pada Bara yang pergi dari sana menuju anak tangga.
"Sebaiknya Mama tanyakan pada mbak Tari, apakah dia benar-benar bahagia, itu pun kalau mama peduli." Ucap Bara berbalik lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Kamu sudah benar-benar di butakan oleh janda itu!" Geram Mala.
Flashback on
Raisa mendatangi rumah Bara.
"Saya mau bertemu mamanya Bara," ucap Raisa pada pembantu yang membukakan pintu.
"Ada, sebentar saya akan panggilkan nyonya," pembantu itu pun masuk untuk memanggil majikan nya.
"Maaf ---?"
"Saya Raisa, orang tua dari Ricky, salah satu teman Bara," ujar Raisa memperkenalkan diri.
"Oh, saya Mala ibunya Bara," sambut Mala lalu mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa?" Tanya Mala.
"Nggak perlu repot-repot, saya hanya ada perlu sebentar," jawab Raisa.
"Baik, silahkan."
Mala bersedekap sambil menumpukan kakinya memandang lekat ke arah Raisa. "Saya tau kamu cantik dan terlihat menarik, tapi saya yakin anak saya tidak mungkin melakukan hal itu, dia sangat berpendidikan dan bahkan lulusan luar negeri, kenapa dia harus memilih wanita seperti kamu, apa lagi kamu itu adalah ibu dari temannya sendiri."
"Sama seperti anda, saya juga awalnya tidak percaya, bahkan kemarin dia juga datang ke rumah dan mengakui perasaannya di depan Ricky."
"Baik, anggap saja perkataan mu benar, meskipun saya masih belum mempercayai nya. Jadi apa tujuan kamu sebenarnya?"
"Sebenarnya Bara itu lebih dewasa dari anak saya Ricky, karena memang usia mereka terpaut beberapa tahun. Ada baiknya jika anda mencarikan pendamping untuknya, dan saya rasa Bara sudah pantas untuk menikah."
"Kamu tidak perlu mengajari saya soal itu, saya tau bagaimana cara mengurus anak saya, dan saya pastikan Bara akan menikah dalam waktu dekat ini, dan kamulah orang pertama yang akan saya undang!"
"Baik, saya senang mendengar nya, dan saya akan usahakan agar bisa datang. Oo iya, ini saya mau mengembalikan barang Bara yang sempat tertinggal," sambil meletakkan HP yang telah di kirim Bara waktu itu. "Kalau begitu saya permisi."
Raisa beranjak meninggalkan rumah Bara.
Lebih cepat lebih baik, setidaknya akan ada pembatas di antara kita sebelum kita tenggelam lebih jauh lagi.
Di perjalanan pulang dengan susah payah ia membendung air matanya yang hampir tumpah. Ingin rasanya ia segera sampai di rumah dan menuangkan semuanya.
Flashback off
Bara mondar mandir di kamar sambil meremas rambutnya dengan kedua tangannya.Ia berhenti di depan cermin lalu meninju kaca itu hingga retak sebelum akhirnya jatuh menjadi serpihan. Luka kembali menghiasi tangan Bara untuk kedua kalinya, luka yang sengaja di buat untuk mengalahkan rasa yang ada di hatinya.
Ia keluar dari kamarnya dengan darah yang terus menetes dari lukanya. Mala terkejut melihat tetesan darah di lantai yang ternyata berasal dari luka di tangan Bara.
"Baraa...,apa-apaan ini!? Apa kamu melukai dirimu demi wanita itu!?" Pekik Mala.
__ADS_1
Bara tidak mempedulikan ucapan ibunya dan terus berjalan keluar dari rumah menuju mobilnya.
Ia kembali ke apartemen demi mengurangi beban pikirannya. Ia merasa tertekan jika terus berada di rumah itu.
Hingga malam hari Bara terus mengurung diri di kamar apartemennya, sampai akhirnya ia mendengar bel pintu berbunyi. Sebenarnya ia sudah mengabaikan nya, tapi sepertinya tamu tersebut juga enggan pergi dari sana.
"Mbak Tari, ngapain kesini?" Ucapnya ketika mengetahui siapa yang membunyikan bel dari tadi.
"Kenapa, kamu gak suka mbak datang kesini?"
Bara kembali kedalam di iringi Tari yang sudah menutup pintu. "Apa kamu marah sama mbak juga?" Ucap Tari yang sudah duduk di samping Bara.
"Jadi Mama sudah cerita?"
"Begitulah...," jawab Tari. "Ayo mbak obati lukamu dulu."
kemudian Tari mengambil kotak obat, lalu setelah mengobati dan membalut luka Bara ia kembali duduk ke posisinya. "Apa kamu gak ingin bicara sama mbak?"
"Apa yang harus Bara bicarakan? Mama pasti sudah cerita semuanya."
"Jadi semua itu benar? Tadinya mbak masih belum percaya, ayo kemari," Tari meraih tubuh Bara untuk di peluknya.
"Mbak, aku sudah dewasa," Bara melepaskan pelukan Tari.
"Baiklah, kalau begitu mbak pulang aja sepertinya kamu gak suka Mbak ada disini!" Tari ingin beranjak.
"Bukan begitu, Bara hanya nggak mau nyusahin mbak dengan masalah yang Bara hadapi saat ini."
"Jika mbak bisa berbagi masalah sama kamu, kenapa kamu gak bisa berbagi masalah kamu sama mbak? Apa kamu udah gak nganggap mbak lagi!?"
"Bara cerita pun juga gak ada gunanya mbak," Bara menatap kosong.
"Kalau begitu mbak akan nginap disini sampai kamu mau bicara?" Tari meletakkan tasnya lalu pergi ke dapur, setelah beberapa saat ia kembali dengan dua gelas kopi. "Ini, minum dulu," memberikan salah satu gelas kopi tersebut pada Bara.
"Bagaimana dengan Alina kalau mbak gak pulang?"
"Kamu yang akan memutuskan," jawab Tari sambil menyeruput kopinya.
Bara akhirnya mengalah dan menceritakan semua dari awal sampai akhir. Tari sempat syok mendengar, ia tidak menyangka Bara bisa melakukan hal senekat itu.
"Bara..., menurut mbak, yang dia lakuin itu sudah benar, jika mbak berada di posisi itu maka mbak juga akan ngelakuin hal yang sama. Tapi...,kamu juga gak salah, karena mencintai itu hal yang manusiawi."
"Mbak...,, apa selama ini Bara pernah menentang keinginan mama?" Tari hanya mejawab dengan gelengan kepalanya. "Bara hanya punya satu keinginan, dan itu pun mama ingin merenggut nya."
Tari seakan bisa merasakan sakit yang di alami ketika menatap wajah frustasi Bara.
Kita mewek dulu yahh... 😁
yang namanya kehidupan itu pasti ada naik, turun, dan belokan.
Kalau lurus-lurus aja itu namanya jalan TOL🤭
🙏🙏🙏
__ADS_1