
"Memangnya kenapa?" Adit jadi penasaran.
"Tadi aku melihat bu Kiara di antar laki-laki dan aku merasa kalau bu Kiara dan laki-laki itu seperti ada...--- " Nia tidak melanjutkan ucapannya namun Adit pasti bisa mengerti apa maksud ucapannya.
"Kamu yakin?"
"Ya itu pendapat ku, dan siapa pun yang melihat pasti mereka juga berpikiran sama. Terutama laki-laki yang mengantarnya aku yakin dia pasti mencintai bu Kiara.
Adit mencoba menelaah ucapan istrinya. Antara harus percaya atau tidak. Tapi tidak mungkin Nia berbohong. Atau mungkin Ricky sudah memutuskan untuk menolak Kiara sehingga kini Kiara bersama orang lain? Tapi kenapa Ricky tidak pernah bercerita padanya. Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepalanya.
Setelah usai makan malam Adit berjalan menuju teras sambil membawa ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi Ricky dan ingin berbasa-basi menanyakan kabarnya. Belum sempat ia menelpon ponselnya lebih dulu berbunyi. Dan ternyata Ricky yang menelpon.
"Panjang umur nih anak," ucapnya seraya menggeser layar smartphone nya. "Halo Rick, apa kabar?"
Hanya terdengar helaan nafas dari sahabatnya tersebut. "Gue baik," jawab Ricky pada akhirnya.
Hanya dengan mendengar dari cara berbicaranya saja Adit sudah dapat menebak kalau sahabatnya itu sedang ada masalah.
"Gue tau loe pasti lagi ada masalah,kan?" Tanya Adit.
"Bukannya loe sendiri yang bilang, mana ada manusia yang gak punya masalah di muka bumi ini."
"Iya, gue tau. Tapi apa loe gak pengen cerita ke gue? Meski kita udah beda tempat kerja, gue udah nikah tapi bukan berarti kita harus memberi jarak pada persahabatan kita yang udah sekian tahun terjalin,kan?"
Beberapa saat Ricky terdiam memikirkan ucapan Adit yang memang ada benarnya tersebut. Selama ini ia dan Adit hanya membahas masalah pelajaran atau bercerita masalah keluarganya waktu dulu ia mengetahui Bara yang mencintai Mamanya dan mengetahui bahwa ia juga bukan anak kandung. Tapi kali ini masalahnya berbeda, tidak ada pengalaman samasekali untuk menceritakan permasalahannya saat ini. Dan ia juga tidak tau harus mulai dari mana.
"Apa ini mengenai masalah hubunganmu dengan Kiara?"
Pertanyaan Adit membuyarkan lamuman Ricky yang sesaat.
"Bagaimana perkembangan hubungan kalian? Apa loe udah nolak dia?" Rentetan pertanyaan Adit semakin membuatnya bingung harus menjawab apa. Bagaimana cara menjelaskannya kalau ia telah menyesal sudah mengabaikan wanita yang sangat perhatian padanya. Dan kini wanita itu memilih pergi dari sisinya untuk berada di samping pria lain.
"Rick, loe baik-baik aja,kan?" Tanya Adit karena tidak ada jawaban dari Ricky.
"Gue baik, Dit. Tapi...--- "
"Iya, gue tau. Hati loe yang lagi gak baik. Ya udah, besok gue ke rumah loe deh."
__ADS_1
"Gak perlu, biar gue aja yang ke rumah loe. Sekalian biar gue tau tempat tinggal loe."
"Ya sudah, besok gue tunggu ya. Jangan lupa, kalo sampe gak datang gue talak loe," ancam Adit. Kemudian mematikan ponselnya seiring kedatangan Nia yang menyusulnya ke teras dengan secangkir kopi di tangannya.
"Terimakasih sayang," ucap Adit seraya mengambil alih cangkir kopi tersebut dari tangan istrinya.
"Kamu tadi bicara dengan Ricky?" Nia bertanya sambil ikut duduk di kursi sebelah Adit.
"Iya," jawab Adit lalu menyesap kopinya.
Nia tidak bertanya lagi setelah itu. Kelak suaminya pasti akan menceritakan sendiri kalau memang ada masalah serius mengenai sahabatnya tersebut.
"Bagaimana malam ini?" Adit bertanya.
Nia langsung menoleh pada Adit dengan wajah yang terlihat heran. "Bagaimana apa nya?"
"Apa masih bisa belah duren?" Tanya Adit tanpa sungkan. Nia yang di tanyai langsung membuang wajahnya karena malu.
"Apa masih sakit?" Tanya Adit lagi.
"Kalo cuma nanya gak apa-apa, yang penting ngelakuin nya jangan di luar. Ya malu lah...."
Kekonyolan Adit masih saja belum hilang meski mereka sudah menikah. Namun ini lah yang membuat Nia merasa sangat terhibur saat bersama dengan suaminya.
"Udah gak sakit?" Tanya Adit lagi.
"Sedikit," jawab singkat Nia dengan wajah malu-malu. "Tapi masih bisa koq belah duren," tambah Nia sambil melenggok masuk ke dalam.
Adit membelalak senang saat mendengar jawaban dari istrinya. Kemudian ia buru-buru menghabiskan sisa kopinya dan membawa masuk cangkir kopi yang sudah kosong tersebut. (Tuh, kan Author yg jadi bengek)
-
-
-
Penampilan Ricky yang terlihat rapi dan wangi malam itu menyita perhatian Raisa. Ingin ia bertanya ingin pergi kemana Putranya tersebut, namun ia belum ingin menyapa sebab ia masih ingin memberikan Ricky pelajaran.
__ADS_1
"Wangi banget loe Bang, mau kemana?" Bara bertanya mewakili pertanyaan yang ada di kepala Raisa.
"Mau pergi ke rumah kontrakan Adit," Ricky menjawab seraya membenarkan lengan kemejanya.
"Apa Adit lagi ngadain syukuran?"
"Nggak sih. Tapi kalo Daddy pengen nyumbang buat ngadain syukuran gue yakin Adit pasti gak akan nolak," sahut Ricky. "Gak ikut sekalian?"
"Nggak, gue di rumah aja," tolak Bara. "Kalo kalo ada waktu minggu depan aja kita adain acara!" Teriak Bara sebelum Ricky menghilang di balik pintu.
"Siiipp...." Ricky berbalik seraya mengacungkan jempolnya.
Sepeninggal Ricky.
Bara mendudukan tubuhnya di samping Raisa yang tampak fokus menyuapi Ayara. "Sayang...."
"Hmm, ada apa,'' tanya Raisa yang sedikit heran karena Bara memanggilnya dengan panggilan lama mereka.
"Sepertinya Ayara pengen di buatin adek biar ada teman main," jawab Bara dengan manja sambil merebahkan kepalanya di bahu Raisa.
"Kamu nggak liat Putri kita masih kecil dan masih butuh banyak perhatian." Secara tidak langsung Raisa menolak ide suaminya tersebut.
Ricky memperhatikan alamat yang di berikan Adit padanya sambil mencocokkan alamat tersebut dengan rumah kontrakan yang kini ada di hadapannya. Lalu ia memberanikan mengetuk untuk pintu rumah yang ia yakini benar itu kontrakan Adit.
Mendengar ketukan pintu dari luar Nia pun melihat dari kaca jendela untuk memastikan tamu tersebut. Setelah mematikan tamu yang datang Nia pun buru-buru membukakan pintu.
"Ricky, udah di tungguin sama Adit dari tadi. Ayo masuk," ajak Nia.
Tidak lama Adit datang dari dalam. "Akhirnya nyampe juga loe," sapa Adit lalu mereka saling merangkul.
Nia masuk ke dalam membuatkan minuman dan mengantarnya keluar.Lalu setelah itu ia meninggalkan kedua sahabat itu mengobrol.
Tanpa membuang-buang waktu Ricky pun menceritakan dari awal permasalahan yang akhir-akhir ini memenuhi otaknya. Setelah menceritakan semuanya Adit pun bisa memahami kondisi sahabatnya tersebut.
Adit menyemangati Ricky untuk tetap berusaha meyakinkan Kiara dan mendapatkan kembali cintanya. Adit juga memberikan solusi dan beberapa trik untuk memuluskan langkahnya.
Setelah cukup dengan curhat pertamanya, ia pun pamit pulang. Di sepanjang jalan ia teringat dulu sering mencibir kebiasaan sahabatnya tersebut. Di luar dugaan akhirnya ia memakai jasa Adit juga.
__ADS_1