
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih👍...
Pagi itu Raisa sudah berada di tokonya.
Hari ini tokonya mendapat pesanan membuat kue pengantin dari pelanggan tetapnya untuk acara pernikahan, dan ia sendiri yang akan mengambil alih untuk membuat kue tersebut atas permintaan pelanggan nya.
Sudah lebih dari 3 jam ia berkutat di ruangan nya, sementara pegawainya sibuk melayani pembeli di luar.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" Sambut ramah dari Rina yang berdiri di belakang meja pemesanan ketika melihat seorang pria memasuki toko.
"Aku ingin bertemu pemilik toko ini, apa dia ada?"
"Maaf, beliau sedang sibuk, apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Rina kembali.
Mata Nia membulat ketika melihat sosok pria yang tidak asing baginya berada di dalam toko.
Nia buru-buru menghampiri setelah sebelumnya meletakkan barang bawaannya di atas meja. "Maaf, mas nyari mbak Raisa yah? Mbak Raisa nya lagi sibuk tapi sebentar lagi selesai koq. Mas tunggu aja di sini," ujar Nia sambil menawarkan tempat duduk.
"Aku tidak bisa menunggu, ini penting jadi aku harus menemuinya sekarang, katakan saja dimana ruangannya?"
"Di sana," ucap Nia sambil menunjuk ke ruangan tempat dimana Raisa berada.
Rina menghampiri Nia yang masih berdiri disana. "Eh, loe kan tau mbak Raisa kalo lagi sibuk, dia gak mau di ganggu, kenapa malah loe suruh dia masuk? Loe mau di pecat?"
"Iya, gue tau, tapi yang ini mah beda urusannya," jawab Nia sedikit memelankan suaranya.
"Maksud loe apaan, gak ngerti gue?"
"Entar deh gue jelasin."
Bara membuka pintu ruangan dimana Raisa terlihat sangat fokus dengan pekerjaannya, sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Bara.
Bara berjalan sedikit memutar agar ia bisa berada tepat di belakang Raisa yang tengah sibuk mendekor sebuah kue yang sudah terlihat cantik meskipun belum rampung.
Bara mendekatkan wajahnya dari belakang lalu berbisik. "Aku merindukan mu...."
"Aaaa...!" Raisa terpekik sambil berbalik. "Bara..., kamu tuh ya!" Lalu Raisa kembali meneliti kuenya, khawatir jika ada hiasan yang rusak. "Kamu ngapain kesini sih!?" Tanya nya setelah memastikan kuenya baik-baik saja.
"Kan aku sudah bilang, kalo aku merindukan mu."
"Tapi kamu hampir aja merusak kue nya."
"Tapi kuenya baik-baik aja kan? Kuenya tetap cantik, tapi sayangnya tidak lebih cantik dari yang membuatnya."
"Kamu pikir ini main-main, kalo tadi ada apa-apa dengan kue nya bagaimana!?"
"Itu hanya kue, lagian kalo ada apa-apa aku gak akan biarain kamu menanggung semua nya sendiri,"
"Ini memang hanya sebuah kue, dan bagi orang kaya seperti kamu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi perlu kamu ketahui juga bahwa tidak semua menyangkut materi, tapi ini masalah kepercayaan! Dan inilah yang ingin selalu aku jelaskan kenapa aku menolakmu, kamu itu belum dewasa dan kamu gak akan faham dengan semua ini!" Jelas Raisa menggebu-gebu.
Bara terdiam sejenak, setelah mencerna kalimat tersebut. "Maaf...," hanya itu yang terucap dari bibirnya.
"Sepertinya aku sudah salah telah memberi mu kesempatan, sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah temui aku maupun Ricky," ucap Raisa seraya membelakangi Bara.
Bara pun duduk di salah satu bangku kosong di samping Raisa.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku gak akan ngulangi lagi, aku janji," Bara memohon.
"Percuma, kamu hanya akan membuang-buang waktu kamu aja, di luar sana ada banyak wanita, aku yakin kamu pasti bisa menemukan wanita yang lebih cocok untuk kamu."
__ADS_1
"Tapi aku sudah menemukan nya, dan hanya aku yang akan menentukan mana wanita yang pantas untuk ku."
"Baraa...,,aku gak pernah kepikiran buat pacaran, apa lagi dengan laki-laki seusia kamu."
"Siapa bilang aku ngajak pacaran? Aku pengen kita nikah, kita pacaran setelah menikah aja. Lagian kamu masih mau pacaran?"
😬😬
Raisa sangat malu dengan ucapannya sendiri hingga wajahnya memerah. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa dirinya sangat kekanakkan di hadapan Bara.
Kenapa lidahku bisa selalai ini!?
"Tapi aku gak bisa dua-duanya, baik pacaran ataupun menikah," ucap Raisa sambil berusaha meredam rasa malunya.
"Aku mohon beri aku kesempatan," lagi-lagi Bara berlutut sambil memegang kedua tangan Raisa.
Tok tok tok
"Mbak...,, udah waktu nya jam makan siang, mbak mau di beliin apa? Biar sekalian," panggil Nia dari luar.
Raisa panik, takut kalau tiba-tiba salah satu pegawainya akan masuk keruangan itu, sementara Bara masih berlutut di hadapannya.
"Bara, tolong hentikan, kenapa kamu selalu begini!?"
"Aku akan selalu seperti ini sebelum kamu maafin aku dan kasi kesempatan lagi buat aku."
"Baik, berdiri lah," perintah Raisa dalam kepanikan nya.
Bara berdiri seraya tersenyum seperti bocah yang mendapatkan permen. "Ayo kita makan siang di luar," ajaknya.
"Aku gak bisa, lagian apa kata orang-orang kalo liat kita di luar sana?" Tolak Raisa.
Bara mendekat sambil terus menatap wajah Raisa. "Kenapa sih kamu selalu mikirin orang-orang yang gak penting di luar sana, lagian gak ada yang nyangka kalo kita ini pasangan yang berbeda --- "
"Teruslah seperti ini, karena hati ini hanya milik mu," Bara menahan tangan Raisa disana.
"Aku lapar!" Raisa menarik tangannya.
"Ayo."
"Kamu duluan aja, tunggu aku di mobil," Perintah Raisa.
"Ok, jangan lama-lama, atau aku akan kembali kesini," jawab Bara, lalu ia meninggalkan ruangan tersebut.
"Dasar bocah!"
Lama-lama aku bisa tensi
Tidak lama Raisa keluar dari ruangan nya sambil menutup pintu. "Kalian silahkan istirahat, saya mau keluar sebentar," ucapnya.
"Iya mbak," sahut para pegawai nya.
Nia dan Rina saling menyenggol.
"Kalian kenapa sih? Kayak anak kecil aja?" Tegur Sinta pegawai senior di toko itu, bahkan Sinta juga senior dalam segi umur.
"Gak ada, entar juga mbak Sinta tau koq," balas Rina.
"Emang ada apa?"
__ADS_1
"Hehe...,, mau tau aja apa mau tau banget...?" Goda keduanya.
"Dasar ka**** kalian."
Bara menatap Raisa yang sudah keluar dari pintu toko dari balik kaca jendela mobilnya. Ia menatapi setiap langkah demi langkah yang terlihat indah di mata Bara.
Siapa sangka dia punya anak yang hampir seumuran sama gue.
Batinnya.
Bara keluar membukakan pintu untuk Raisa lalu kembali ke tempat duduknya dan mulai menyetir.
Sesekali Bara menatap ke arah Raisa sambil terus tersenyum,ia tampak bahagia sekali.
"Bara...,, fokus dong nyetirnya, entar nabrak lho! Kalo sampe kamu nabrak aku gak akan pernah mau ikut kamu lagi!" Ucap Raisa.
"Jadi kalo aku gak nabrak berarti kamu mau ikut aku terus dong?" Jawab Bara seraya menggoda.
Raisa tidak menggubris ucapan Bara, ia kembali diam sambil menatap lurus ke depan. Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah restoran.
Setelah memesan semua yang di inginkan, Bara menyodorkan ponselnya pada Raisa. "Masukkan no kontak mu."
"Apa harus?"
"Harus, kamu kan udah janji untuk ngasi aku kesempatan. Aku yakin orang bernama Herman itu pasti juga sudah punya kontak kamu, kan? Jadi kenapa aku tidak?"
Ia nampak terkejut melihat layar ponsel tersebut, ada foto Ricky yang mengenakan seragam SMP dan Bara yang menggunakan seragam SMA nya, mereka terlihat sangat lucu. Melihat foto tersebut Raisa pun tersenyum.
Tidak lama pelayan pun datang membawa menu yang di pesan.
"Ayo makan," ucap Bara setelah pelayan sudah pergi.
Raisa menatapi satu persatu hidangan di meja tersebut. "Kamu aja yang makan,"
"Kenapa, Bukannya tadi kamu bilang kamu mau makan?" Tanya Bara heran.
"Aku gak makan makanan ini semua...," jelas Raisa kesal.
"Kenapa gak bilang...?"
"Kenapa kamu gak nanya dulu aku maunya makan apa!? Kamu langsung main pesan aja!"
"Iya iyaa... maaf, aku lupa."
"Kamu tuh ya,, udah jauh-jauh ngajak makan kesini, yang di pesan malah makanan kesukaan kamu semua! Tau gini mending aku pesan makan di warung depan toko aja!"
"Yaudah, kita pesan yang lain aja terus kamu makan yah?" Bujuk Bara.
"Tapi ini kan banyak, terus mau di kemanain, mubazir...,!" Raisa mulai menaikkan nadanya.
"Sayanggg....,, cup cup cup, jangan marah-marah disini dong..., malu di lihat orang," ucap Bara berusaha menenangkan.
"Kamu panggil aku sayang!? Dari awal aja udah gak ada yang bener! Di toko kamu bicara seenaknya, ngajak makan tapi kamu gak nanya dulu aku maunya apa, terus makanan mau kamu buang-buangin. Bagaimana kamu berpikir aku akan mempercayakan hidupku sama kamu!?"
Bara sudah biasa memesan menu tanpa bertanya, dan teman-temannya pun tidak pernah ada masalah dengan menu yang di pesannya.
Tapi sepertinya ia harus merubah kebiasaan nya tersebut.
...👍...
__ADS_1
...❤...
...🎁 Jika berkenan 😚...