Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 67


__ADS_3

"Aya di sini dulu ya, Abang mau nyelesain tugas," ucap Ricky seraya menurunkan Aya dan memberikan mainannya. Melihat sang adik sedang asik bermain Ricky pun merasa lega karena mungkin Mamanya akan lama jika sedang pergi bersama mbak Tari. Sudah bisa di tebak kemana tujuan kedua wanita itu pergi. Memanjakan diri di sebuah rumah kecantikan. Asal jangan ber'manja" dengan suami orang eaa...🀣🀣🀣


Tiba-tiba saja ia merasa haus. Di liriknya adiknya tengah asik memainkan mainannya. Ia pun pergi ke dapur sebentar untuk mengambil minum. Setelah mengambil minuman ia kembali dan di lihatnya lagi ternyata adiknya itu masih betah bermain.


"Ahh, gue lupa laptop gue masih di kamar," batinnya. Lalu ia pun pergi ke kamarnya untuk mengambil laptop nya. "Yang anteng ya," ucapnya seraya mengecup gemas pipi adiknya yang tengah asik bermain. Lalu beberapa saat ia kembali dengan menenteng laptop di tangannya. Ricky terkejut saat melihat Aya berlari mendekati tumpukan kertas berisi bahan skripsinya. Namun ia kalah cepat dan Ricky tampak panik ketika bahan skripsinya tersebut ketumpahan jus yang ia bawa dari dapur tadi. Ia buru-buru menjauhkan gelas jus tersebut khawatir akan pecah dan melukai adiknya. Ketika ia menjauhkan gelas dan berbalik ia melihat Aya sudah meremas kertas-kertas basah tersebut. Ricky pun akhirnya hanya bisa menatap pasrah. Ambyar wkwkwk


"Sorry, gue mules banget. Adek loe gak rewel, kan?" Tanya Bara dengan ekspresi lega karena telah selesai menunaikan hajatnya. Ricky tidak bisa berkata-kata lagi bahkan ia tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Bara. Meski ia tidak menjawab pun ia yakin Bara pasti bisa melihat secara langsung ulah dari adiknya itu.


"Rick, ini makalah loe kenapa?" Tanya Bara bingung. Sebelum Ricky menjawab ia melihat pada balitanya yang tengah asik bermain dengan percikan air jus yang tertumpah di lantai. Bara pun mengerti kalau malaikat kecilnya itu yang melakukan kekacauan tersebut.


"Sayang..., kamu udah buat tugas Abang mu rusak semua," Bara menggendong putrinya tersebut untuk membersihkan dan menggantikan pakaiannya karena jika Raisa datang dan melihat anak mereka dalam keadaan seperti itu pasti dia lah yang kena semprot oleh istrinya.


Tidak ada yang dapat di persalahkan dalam hal ini. Ricky hanya bisa berandai andai jika saja ia mengambil laptop lebih dahulu sebelum mengambil jus di dari dapur. Tapi itu semua hanya "andai". Waktu tak mungkin bisa di putar kembali, sebab kertas-kertas itu sudah menjadi bubur. Tidak ada pilihan baginya selain mengulang lagi dari awal.


"Sorry banget, Rick." Bara kembali menghampiri Ricky dengan menggendong biang kekacauan tersebut. Balita itu juga ikut berbicara dengan bahasanya. "Nanti gue bantuin buat nyelesain. Loe beresin dulu deh sebelum Nyokap loe datang," titah Bara.

__ADS_1


Ricky pun membersihkan sisa-sisa kekacauan tersebut sebelum Mamanya datang. Karena jika tidak maka ia siap-siap dengan rengekan Bara yang memohon padanya untuk membujuk Mamanya itu dari kemarahan. Setelah selesai ia pun duduk di sofa ruang tengah sambil memangku Ayara karena Bara pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang balita itu. Bik Jur pembantu mereka kebetulan sedang ijin pulang kampung untuk menjenguk keluarganya yang sakit. Jadi peran Bara dan Ricky sangat di butuhkan untuk saling membantu serta menjaga Ayara yang memang sedang aktif-aktifnya.


Andai yang merusak pekerjaannya adalah orang lain mungkin ia akan mengahajar orang tersebut mengingat sudah beberapa hari ini ia sudah sangat berusaha untuk menyelesaikan tugasnya. Namun kenyataannya ia tidak berdaya terhadap balita yang ada di pangkuannya itu. Melihat tawa adiknya membuat Ricky sedikit melupakan kertas-kertas yang menjadi bubur tadi. Ia sangat menyayangi Ayara seperti adik kandungnya meski menurut silsilah mereka adalah sepupu. Tapi tak sedikit pun ia pikirkan hal itu.


Tidak lama Bara datang dengan membawa makan siang untuk putrinya. Bara pun mulai menyuapi Ayara yang sedang di pangku oleh Ricky.


Ricky memegangi Ayara dengan satu tangannya sementara tangannya lain memegang ponsel. Ia sedang membaca pesan dari Kiara yang beberapa hari ini abaikan dengan alasan sedang sibuk. Mungkin memang benar ia sibuk, tapi bukan berarti tidak memiliki waktu samasekali untuk sekedar membalas pesan atau mengangkat telpon. Ia hanya belum bisa membuka hatinya untuk Kiara. Dan selama setahun ini pun Kiara belum menyerah untuk mendapatkan hati pria yang berhasil membuat perasaannya terombang ambing itu. Bagaimana tidak, selama ini banyak pria yang medekatinya dan memuji kecantikannya bahkan tidak sedikit yang menawarkan hartanya agar ia mau di jadikan istri. Namun itu semua tak menjadikannya luluh karena Papanya sendiri adalah pemilik perusahaan yang cukup besar. Jadi ia tidak perlu itu semua. Lagi pula ia wanita yang cukup mandiri dan berpendidikan hanya saja ia menolak saat di berikan tanggung jawab untuk mengurus perusahaan Papanya. Karena cita-citanya sejak dulu adalah hanya ingin mengajar. Pada akhirnya Usman harus meminta bantuan orang lain untuk membantunya di perusahaan. Beruntung ia memiliki asisten pribadi yang sangat setia dalam mendampinginya selama puluhan tahun ini.


Melihat putrinya tak pernah membawa seorang laki-laki untuk di kenalkan sebagai calon suami, Usman sempat beberapa kali memperkenalkan anak dari rekan-rekannya berharap putrinya mau menerima salah satu anak dari rekannya tersebut. Namun jawaban Kiara tetap sama, belum ingin menikah.


Kiara masuk ke dalam kamar lalu kembali memikirkan ucapan Papanya. Ia juga tidak dapat menampik bahwa seseorang bisa tiada kapan saja di dunia ini. Namun ia sangat berharap Papanya bisa melihatnya bersanding kelak, dan tentunya bersama dengan orang yang ia cintai. Tapi kini ia masih berusaha meski usahanya tersebut terasa sangat sia-sia.


-


-

__ADS_1


-


Raisa menggendong putrinya tersebut dan menghujaninya dengan banyak ciuman. Beberapa jam meninggalkan Ayara membuatnya sangat merindukan putri kecilnya itu.


"Kamu nggak bandel,kan sayang...?" Raisa menanyai putrinya seolah balita itu bisa mengerti ucapannya. "Dia nggak rewel kan Pah?" Raisa menanyai suaminya yang mengekor di belakangnya. Panggilan Papah Mamah pun kini di berlakukan sejak Ayara hadir di kehidupan mereka. Bahkan Ricky sudah tidak memanggil nama Bara lagi melainkan Daddy Bara. Karena ia akan menjadi contoh bagi adiknya kelak. Ia sengaja memilih panggilan "Daddy" karena akan aneh rasanya jika dia ikut memanggil Bara dengan sebutan Papa. Daddy Bara menurutnya lebih keren dan Bara pun setuju. Hanya saja kadang mereka masih suka kelepasan.


Mungkin sedikit sulit untuk merubah kebiasaan mereka sudah mendarah daging itu. Tapi setidaknya mereka sudah berusaha untuk merubahnya.


-


-


-


**Terimakasih buat yang selalu dukung karya aku 😍😍

__ADS_1


Love you all😘😘**


__ADS_2