Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 64


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya Nia langsung mengganti pakaiannya di ruang ganti lalu pergi menemui Adit yang sudah menunggu di luar cafe.


"Makasih banget, gue gak tau gimana nasib gue kalo dompet ini gak balik," ucap Nia ketika dompetnya tersebut sudah berada di tangannya.


"Iya. Tadi siang gue juga gak sengaja nemuinnya di kampus."


"Loe nemuin dompet gue di kampus?"


"Bukan, tapi di tukang loak." Adit memasang helm nya hendak pergi dari sana.


"Tunggu, kita makan dulu yukkk. Kali ini gue yang traktir ," ajak Nia.


Adit diam sejenak lalu melirik jam yang ada di tangannya. "Ini udah malam banget, apa sebaiknya loe pulang aja. Gak baik cewek berkeliaran malam-malam begini."


"Hanya sebentar, lagian ini belum malam banget koq. Setelah makan kita langsung pulang," ucap Nia.


"Ya iyalah, siapa juga mau nginap. Buruan," ucap Adit seraya menyalakan motornya.


Mereka pun beriringan menuju tempat makan terdekat yang masih buka. Sambil menunggu pesanan mereka datang Adit mencoba untuk bertanya apa yang di lakukan Nia di kampusnya siang itu.


"BTW loe ngapain ada kampus tadi siang?"


"Menurut loe?" Bukannya menjawab Nia malah balik bertanya.


''Yaile, nie cewek di tanya malah nanya balik,'' batin Adit.


"Loe sendiri kenapa ada di kampus?" Tanya Nia pada Adit.


"Ya kuliah lah,, masa dagang oncom."


"Gue juga sama," jawab Nia. Lalu makanan yang di pesan pun datang.


"Bukannya loe kerja di toko Mamanya Ricky?" Sambil menikmati makanannya Adit kembali bertanya.


"Gue masih kerja di sana, tapi setelah pulang kuliah. Gue juga bekerja di cafe tadi buat nutupin waktu yang setengah hari gue pake buat kuliah," jelas Nia. "Gue bukan terlahir dari keluarga kaya, jadi gue harus kerja keras buat ngelanjutin kuliah gue yang sempat tertunda tanpa menyusahkan orang lain."


Mendengar penjelasan Nia tersebut Adit merasa tersindir meski sebetulnya Nia tak ada niat untuk menyindirnya. Selama ini meski ia juga tinggal di kostan tapi orangtuanya masih rutin mengirimkan uang untuk biaya kuliahnya sehingga ia tak perlu repot-repot untuk bekerja.

__ADS_1


"Hm, apa orangtua loe nggak pernah kirim uang samasekali buat kuliah loe?" Tanya Adit.


"Ayah udah meninggal, ibu gue hanya buruh cuci di kampung. Sementara kakak-kakak gue juga punya kehidupan masing-masing. Mereka tidak bisa membantu sepenuhnya karena mereka juga sudah berkeluarga.''


Semakin kecil saja Adit di hadapan Nia. Ia tak pernah tau kalau perempuan yang sering adu mulut dengannya ini memiliki jiwa yang kuat bahkan tak ada apa-apanya bila di bandingkan dirinya yang selalu merasa kurang dengan uang yang selalu di kirimkan orangtuanya.


Setelah malam itu Adit terus saja kepikiran dengan ucapan Nia. Ia mulai berpikir untuk mencari pekerjaan tanpa mengandalkan teman-temannya. Ia berniat untuk menjadi lelaki sejati yang mandiri tanpa memanfaatkan orang-orang yang selama ini dekat dengannya.


Sudah beberapa hari ini ia memdatangi beberapa toko dan restoran tapi salah satu restoran maupun toko tersebut belum membutuhkan seorang pegawai baru, bahkan mereka mengatakan baru saja mengeluarkan beberapa pegawai karena tidak mampu membayar upah mereka. Semakin putus asa saja Adit jadinya. Meski banyak gedung-gedung yang menjulan tinggi di kota ini namun nyatanya tidak mudah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan apa lagi hanya bermodalkan sebuah ijazah SMA yang di pegangnya saat ini.


Di tengah kebingungan dan rasa lelahnya tiba-tiba Adit mendengar ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang. Terlihat Nia sedang berlari menuju ke arahnya.


"Loe lagi latihan maraton?" Ucap Adit saat Nia sudah berada di hadapannya dengan nafas yang tersengal 😅


"Harusnya gue yang nanya, loe ngapain dari tadi mondar mandir kayak orang kebingungan?" Tanya Nia dengan masih mengatur nafasnya.


Bukan seperti orang kebingungan, tapi nyatanya Adit memang sedang kebingungan saat itu.


Sebelum Adit menjawab Nia sudah faham ketika melihat map berisi berkas yang ada di tangan Adit.


"Iya," jawab Adit seraya mengalihkan pandangannya karena sebetulnya ia agak malu untuk mengakui kalau ia butuh pekerjaan. Hati kecilnya sendiri meneriakinya, " hai Dit, selama ini loe kemana aja? Dan mengapa baru sekarang loe kepikiran untuk berusaha mandiri?"


Pada dasarnya setiap orang memiliki batas pemikiran yang berbeda-beda. Ada seseorang yang berubah menjadi lebih baik karena mencontoh dari orang lain. Ada yang berubah karena ia memang ingin berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ada yang berubah setelah mendapatkan musibah atau setelah mendapatkan ujian. Tapi berubah itu tetap kembali pada kemauan diri masing-masing.


Asal jangan berubah karena udah ada yang lain eaa... 🤣🤣🤣


"Ikut gue," ajak Nia pada Adit yang terlihat bengong.


"Kemana?"


"Udah, ikut aja. Ntar loe juga bakal tau," sahut Nia.


Adit pun menjalankan motornya mengikuti motor Nia dari belakang. Ternyata Nia mengajaknya pergi ke cafe di tempat Nia bekerja.


"Ngapain loe ajak gue kemari?" Tanya Adit.


"Katanya loe butuh pekerjaan. Ayo." Adit pun hanya menurut saja dengan mengekor di belakang Nia. Lagi pula ia memang sangat butuh pekerjaan itu demi menaikan level harga dirinya. Jangan cuman naikin level di permainan game doang🤣🤣

__ADS_1


Setelah berbicara dengan salah satu rekannya di sana Nia langsung pergi menemui manager cafe tempat ia bekerja tersebut. Ia memperkenalkan Adit pada atasannya itu dan mengatakan kalau temannya sedang butuh pekerjaan. Dan memang kebetulan cafe baru itu sedang kekurangan tenaga kerja laki-laki jadi Adit langsung di terima dengan jam kerja yang sudah di sepakati. Setelah mendengarkan penjelasan tentang peraturan kerja dari manager cafe tersebut Adit dan Nia pun keluar dari ruangan itu.


Adit tersenyum untuk pertama kalinya kepada Nia. Senyum yang tulus dari biasanya. "Makasih banget atas bantuan loe," ucap Adit.


"Iya, gue juga seneng koq bisa bantu loe," balas Nia dengan senyuman tak kalah manis bahkan lebih manis dari pada madu.


"Ahh, kenapa gue baru nyadar kalo dia punya senyum semanis itu," batin Adit.


Siapa di sini yang nggak tahan liat yang manis2 hayoo...,, Hati2 lhoo...., yang manis itu belum tentu berasal dari madu atau gula,, bisa saja itu pemanis buatan🤣🤣🤣


-


-


-


Hari ini adalah hari pertama Adit bekerja di cafe. Tak ingin telat di hari pertamanya Adit pun langsung melajukan motornya agar segera tiba di sana. Setelah mengganti pakaiannya di ruang ganti Adit pun mulai bekerja sesuai arahan dari manager cafe yang telah menerimanya bekerja kemarin.


Dengan bekerja di cafe tersebut itu artinya Adit akan lebih sering bertemu dengan Nia. Jangan sampai Adit terkena diabet🤣🤣


"Hai, semangat ya untuk hari pertamanya," ucap Nia yang ternyata sudah lebih dulu berada di sana.


Adit hanya mengangguk sambil mengulas senyum saat Nia menyapa untuk menyemangatinya.


"Seandainya dia selalu tersenyum seperti itu," batin Nia yang memuji senyum Adit hanya di dalam hati.


Kalau memuji secara langsung gengsi doong...,,


-


-


-


**Makasih ya buat yang selalu mampir di karya aku 😍😍


Love you all😘😘**

__ADS_1


__ADS_2