Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 58


__ADS_3

Dimas bangun ketika alarm nya berbunyi. Dengan rasa malas ia bangun dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi. Ia hampir tak bisa tidur semalam karena selalu teringat ucapan Fitri tempo hari.


Setelah mandi dan mengenakan seragam kantornya ia langsung menuju ke meja makan untuk sarapan. Terlihat Mama dan Papanya sudah ada di sana.


"Pagi Ma, Pa...."


"Selamat pagi," sahut Wijawa. "Oiya, setelah sarapan kita akan pergi," ucap Wijaya.


Dimas menoleh ke arah Mamanya dan Papanya secara bergantian. "Mama sama Papa mau liburan?" Tanyanya, lalu melanjutkan makannya.


"Bukan, tapi kita yang akan pergi," ucap Wijaya.


"Kalau Mama sama Papa mau pergi ya pergi aja, aku gak bisa ikut. Lagi banyak kerjaan."


"Harus. Kamu harus ikut karena kamu nanti yang akan berbicara untuk melamar calon menantu Mama," ucap Rosma.


"Apa!?" Dimas menatap kedua orangtuanya secara bergantian. "Ma, Pa, aku kan udah bilang nggak mau di jodohin. Kenapa Mama sama Papa nggak ngerti juga...."


"Siapa bilang di jodohin? Ayo buruan nanti kita terlambat nggak enak sama keluarga calon kamu," ucap Rosma.


"Papa minta kali ini kamu temui dulu, setelah itu terserah kamu mau menolak atau menerimanya," jelas Wijaya.


Dimas pasrah pada keputusan kedua orangtuanya. Namun ia sudah siap dengan jawabannya untuk tidak menerima perjodohan itu karena hanya ada satu nama dalam hatinya saat ini yaitu Fitri. Sementara Rosma dan Wijaya saling bertukar senyum, mereka merasa puas telah mengerjai putra mereka sendiri.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam," jawab Fitri seraya membukakan pintu. "Eh bik Tini, silahkan masuk."


"Bibik datang kemari karena Ayah kamu yang manggil, katanya ada keluarga yang datang buat ngelamar kamu."

__ADS_1


Fitri juga tidak kalah terkejutnya ketika mendengar ada keluarga yang akan datang dan akan melamarnya.


"Kenapa sebelumnya Ayah nggak bicarakan dulu dengan Fitri...?" Ucap Fitri sambil menunduk. "Apa Fitri terlalu membebani Ayah. Maafin Fitri Yah...." Fitri pun menangis.


"Ayah tidak pernah samasekali merasa terbebani, bahkan Ayah sangat menyayangi kamu dan kamu tau itu. Tapi cepat atau lambat kamu akan tetap menikah dan Ayah ingin melihat kamu bahagia," jelas Pak Edy. "Tapi Ayah ingin lihat bagaimana keseriusan lelaki yang akan melamar kamu nanti. Kamu siap-siap mungkin sebentar lagi mereka datang." Usai berkata seperti itu Pak Edy meninggalkan Fitri untuk segera bersiap juga.


"Mari Bibik bantu," ucap bik Tini seraya mengelus pundak Fitri agar segera bersiap. Hanya dengan berdandan sedikit saja Fitri sudah terlihat sangat cantik karena pada dasarnya ia memang sudah memiliki kecantikan yang natural.


Beberapa saat sopir pun menghentikan mobil di halaman rumah Pak Edy. Karena sedari tadi di liputi rasa gelisah, Dimas tidak sadar bahwa mobil sudah berhenti.


"Ayo," ucap Wijaya mengajak anak dan istrinya turun dari mobil.


Dimas memperhatikan sekeliling dari tempat tersebut yang tidak asing lagi baginya.


"Ayo, katanya kamu mau melamar wanita yang kamu cintai," ucap Wijaya pada Dimas yang masih terlihat bengong.


"Ini,kan rumah Fitri?" Ucap Dimas.


"Kenapa Mama sama Papa nggak ngomong dari tadi biar aku bisa siap-siap," ucap Dimas antara bahagia dan gugup.


"Jadi kamu belum siap!?" Tanya Rosma mendelik ke arah putranya.


"Bukan begitu Ma..., maksudnya nyiapin mental buat berbicara dengan orangtuanya Fitri."


Kalau masalah siap buat nikah jangan di tanya, pasti udah siap lahir batin. Hehe


Mereka pun mengetuk pintu dan tak lupa mengucapkan salam. Bik Tini membukakan pintu lalu menyuruh mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


"Silahkan di minum dulu," ucap bik Tini seraya meletakan minuman di atas meja. Setelah membawa nampan ke dapur kemudian ia membawa Fitri untuk di ajak ke ruang tamu.

__ADS_1


Fitri hanya menunduk tidak mengangkat wajahnya samasekali untuk melihat para tamunya tersebut.


Melihat gadis pujaannya ada di hadapannya semangat Dimas pun semakin berkobar dan kembali teringat kata-kata Fitri "pria sejati akan meminta langsung bukan seperti kucing liar yang diam-diam mencuri"


"Saya Dimas Putra Wijaya datang kemari dengan bersungguh-sungguh ingin melamar putri Bapak. Dengan segala kerendahan hati saya mohon ijin untuk menikahinya," ucap Dimas dengan lancar.


Mendengar suara yang cukup di kenalnya Fitri pun mengangkat wajahnya untuk melihat orang tersebut. Jantungnya semakin berdetak tak karuan tapi kali ini ada rasa bahagia yang terselip disana.


"Apa yang membuat nak Dimas memilih Putri saya untuk di jadikan istri?"


"Sejauh yang saya kenal Fitri adalah wanita yang sangat baik dan sopan, selain itu dia juga sangat menghormati orangtua. Saya ingin wanita seperti Fitri yang akan menjadi pendamping dalam hidup saya dan menjadi ibu bagi anak-anak saya kelak." Jawaban Dimas membuat wajah Fitri semakin bersemu-semu.


"Saya faham maksud nak Dimas. Tapi Fitri ini adalah Putri saya satu-satunya, sebagai orangtua yang merawatnya sejak kecil, saya tentu ingin melihat dia selalu bahagia."


"Pak Edy tidak perlu khawatir..., kami akan menganggap Fitri sebagai Putri kami sendiri tanpa merebut hak Pak Edy sebagai orangtua kandung dari Fitri," tutur Rosma karena sangat faham apa yang di maksud Pak Edy.


"InsyaAllah saya bisa membahagiakan Fitri. Dan saya tidak akan menghalangi dia untuk menemui Bapak kapan pun dia mau. Walau bagaimana pun Fitri tetaplah putri Bapak," jelas Dimas berusaha lebih meyakinkan lagi.


Pak Edy mengehela sejenak. "Baik lah, saya yakin dan percaya pada nak Dimas. Tapi bagaimana pun keputusan akhir tetap Bapak serahkan ke Fitri? Bagaimana nak, apa kamu bersedia mendampingi nak Dimas untuk menjadi istrinya?" Tanya Pak Edy pada Fitri yang masih tertunduk.


Mendapat tatapan dari semua yang ada di ruangan itu membuat Fitri semakin gugup. Namun ia berusaha terlihat tenang.


"Fitri..., di tanya tuh sama Ayah kamu," ucap bik Tini yang sedari tadi hanya mendengarkan.


"E, i iya, Fitri bersedia," ucap Fitri seraya mengangguk dengan wajah malu-malu.


"Alhamdulillah...," ucap semua yang ada di ruangan itu. Kecuali Dimas, karena ia hanya mengucap di dalam hati 😁


"Oiya, sampai lupa," ucap Rosma seraya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya lalu menelepon seseorang. Tidak lama sopirnya datang membawakan buah tangan yang sudah ia persiapkan dari rumah.

__ADS_1


"Aduhh, kenapa repot-repot seperti ini...," ucap bik Tini.


"Bukan apa-apa..., hanya sekedar melanjutkan apa yang telah di terapkan orang tua terdahulu. Kurang afdhol rasanya jika kami datang dengan tangan kosong," jawab Rosma seraya tertawa. Lalu mereka pun mengobrol sesantai mungkin.


__ADS_2