Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 61


__ADS_3

Dimas dan Fitri kini sudah berada di kediaman orangtua Dimas. Rencananya Dimas akan mengajak Fitri untuk tinggal di apartemen nya, namun Rosma menolak untuk menyetujui ide putranya itu. Ia ingin merasakan berkumpul dengan menantunya barang beberapa bulan dulu. Lalu setelah itu semua keputusan ia serahkan pada anak dan menantunya. Fitri juga setuju dengan ide mertuanya itu, karena ia juga ingin merasakan kasih sayang dari seorang ibu walau hanya sekedar ibu mertua.


Setelah berbincang sebentar dengan kedua orangtua nya, Dimas mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar mereka. Fitri terkejut sekaligus takjub ketika ia memasuki kamar Dimas yang kini menjadi kamar mereka berdua. Kamar yang menurutnya hampir sama besarnya dengan rumahnya.


"Ayo masuk," ajak Dimas.


Fitri pun masuk ke dalam lalu menyimpan pakaiannya di tempat yang sudah di tunjukan Dimas.


Dimas menggeser pakaian nya yang memenuhi ruang lemari agar Fitri dapat menaruh pakaian nya juga di sana. Sebenarnya lemari itu sudah cukup besar, hanya barang-barangnya saja yang terlalu banyak hingga memenuhi lemari tersebut.


"Nanti kita akan membeli lemari yang baru," ucap Dimas.


"Nggak perlu, nanti kita keluarkan saja barang-barang yang tidak terpakai."


"Ya sudah terserah kamu saja, jika nanti ada yang kamu butuhkan tolong beri tahu aku ya?"


"Iya Mas," angguk Fitri.


"Oiya, gunakan ini saja jika kamu butuh sesuatu." Sambil Dimas mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya lalu memberikannya pada Fitri.


"Nggak perlu Mas, nanti aku minta jika aku perlu," tolak Fitri. Lagi pula ia juga bingung bagaimana cara menggunakan kartu tersebut.


"Kamu sekarang adalah tanggung jawab aku, ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang suami. Jadi kamu simpan saja ini."


Fitri mengangguk dan menerima kartu tersebut. "Terimakasih Mas."


Dimas merengkuh tubuh Fitri ke dalam pelukannya lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


"Nanti aja mesra-mesraannya. Ayo kita makan siang dulu, Mama tunggu kalian di bawah ya," ucap Rosma yang sedang berdiri di depan pintu.


Dimas dan Fitri terkejut dan jadi salah tingkah karena kepergok oleh Mamanya.


"Salah sendiri kenapa pintu nggak di tutup," ucap Rosma dalam hati saat sudah meninggalkan kamar anaknya.


Beberapa saat pasangan pengantin baru ini sudah menuju meja makan untuk makan siang bersama.


"Apa kalian nggak pengen bulan madu biar mesra-mesraan nya lebih khusyuk, dan Mama cepat dapet cucu?" Tanya Rosma.


"Uhuuk uhukk!"

__ADS_1


"Sayang, ini minum dulu," ucap Dimas seraya memberikan segelas air putih untuk istrinya.


"Iya, Mama kamu benar, dan Papa juga setuju," ucap Wijaya menimpali.


Dimas sebetulnya juga setuju dengan saran kedua orangtuanya, tapi ia juga tidak ingin memutuskan sendiri tanpa bertanya dulu dengan istrinya. Setelah meminta pendapat istrinya, maka mereka sepakat untuk pergi berbulan madu ke bali. Sebenarnya Dimas sudah menawarkan beberapa negara yang akan menjadi tempat bulan madu mereka, tapi Fitri lebih memilih untuk pergi ke bali saja. Karena selama ini ia hanya bisa melihat lewat gambar dan televisi saja mengenai keindahan pulau tersebut.


"Jadi kapan rencananya kalian akan pergi?" Wijaya menanyai.


"Mungkin minggu depan," jawab Dimas 😅


Usai makan siang mereka bersantai di ruang tengah sambil mengobrol dan sesekali mereka tertawa. Fitri sangat terharu dan merasa bahagia bisa berada di tengah kehangatan keluarga suaminya.


Wijaya dan Rosma kemudian pamit untuk beristirahat, tinggal lah Dimas dan Fitri di ruangan itu. Lalu Fitri mengutarakan ide nya untuk pergi mengunjungi rumah Bara dan Raisa agar bisa melihat langsung buah hati dari pasangan beda usia itu. Dimas pun setuju lagi pula tidak ada kegiatan yang bisa mereka lakukan karena masih dalam zona merah.


Sebelum tiba di rumah Bara, mereka mampir sebentar ke sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi. Setelah selesai memilih barang yang menurut mereka cocok untuk bayi perempuan lalu Dimas menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Ketika di parkiran tak sengaja mereka bertemu Kaira.


"Haii, kalian udah beli perlengkapan bayi?" Tanya Kaira pada kedua pengantin baru dengan ekspresi terkejut.


"Iya, kami ingin mengunjungi Bara, kemarin istrinya melahirkan," jawab Dimas.


"Oh, maaf aku pikir...."


"Kalau begitu, sampai kan ucapan selamat dariku untuk mereka, ya?" Kata Kaira.


"Kalau tidak sibuk, kamu boleh ikut kita aja sekalian?" Dimas menawari.


"Ok, aku bawa mobil sendiri aja," ucap Kaira. Lalu mereka pun beriringan menuju ke rumah Raisa dan Bara.


Raisa membangunkan Bara yang tengah terlelap ketika mendengar bel pintu yang di tekan berulang-ulang. Dengan muka bantal nya Bara pergi ke luar untuk melihat tamunya. Ia hampir tak bisa tidur semalam karena harus berjaga di rumah sakit menunggui istri dan buah hatinya.


"Heyy, pengantin baru udah keluyuran aja," ucap Bara pada Dimas lalu mereka saling merangkul. "Ayo masuk," ajak Bara.


"Muka loe udah mulai terlihat kayak bapak-bapak," kekeh Dimas.


"Bukan bapak-bapak, tapi gue itu suami sejati," sahut Bara.


"Bukan bapak-bapak idaman?" Lalu Dimas tergelak.


Tidak ada gunanya berdebat dengan sahabatnya itu, Bara pun segera memanggil bik Jur agar membuatkan minuman untuk para tamunya. Bik Jur adalah asisten rumah tangganya yang baru hari itu juga bekerja di rumahnya. Setelah sebelumnya membicarakannya dengan Raisa akhirnya mereka memutuskan untuk memakai jasa asisten rumah tangga agar Raisa fokus mengurus bayi mereka.

__ADS_1


Kemudian Bara pergi ke kamar untuk melihat anak dan istrinya. Di lihatnya Raisa tengah tertidur sementara bayinya terbangun dan tampak menggeliat-geliat lalu menangis.


"Cup cup sayang..., ini Papa," ucap Bara menenangkan buah hatinya. "Oh, kamu pasti nggak nyaman ya, sebentar ya Papa ganti popok kamu dulu."


Setelah mengganti popok bayinya Bara menggendong dan membawanya untuk menemui tamunya.


Fitri sempat menggendong sebentar bayi mungil itu lalu mengembalikannya pada Bara karena bayi bernama Ayara itu sepertinya sedang haus dan Bara pun segera membawanya ke kamar untuk segera di susui oleh Raisa. Setelah itu ia kembali menemui tamunya yang langsung berpamitan untuk pulang.


Saat mereka sudah berada di depan rumah kebetulan Ricky datang dan Dimas pun sekalian berpamitan pada Ricky. Sementara Kiara sudah siap dengan senyumnya berharap Ricky juga akan menyapanya. Namun ia kecewa, karena Ricky bahakan tidak menoleh ke arahnya samasekali.


Malam itu Bara mendekati Raisa yang sedang menyusui Ayara lalu ia menceritakan tentang Dimas yang akan pergi berbulan madu ke pulau bali.


"Apa sebaiknya kita juga berbulan madu?" Tanya Bara seraya mengecup punggung istrinya.


"Kamu itu ngomong apa...? Kamu kan tau kita sekarang udah nggak perlu lagi berbulan madu, ada yang lebih memerlukan perhatian kita sekarang." Raisa sambil memandangi wajah putri kecilnya. "Biarkan mereka menikmati masa-masa mereka, dan semoga setelah itu mereka bisa segera menyusul seperti kita," ucap Raisa.


"Tapi kelak aku tetap ingin kita berbulan madu," sahut Bara seraya memeluk tubuh istrinya. "Sayang...?


"Hmm, ada apa?" Tanya Raisa pada suaminya yang tiba-tiba bermanja pada dirinya, padahal ia sedang menyusui putri mereka.


"Apa masih lama?" Tanya Bara yang menyembunyikan wajahnya di belakang Raisa.


"Mending kamu mandi sana," ucap Raisa seraya menyikut pelan perut Bara.


"Auww!" Pekik lebay Bara.


😅😅


-


-


-


**Author ;


Sebetulnya Author ingin mempercepat alur cerita dari novel ini agar segera bisa tamat. Kesibukan di RL sangat lah membatasi untuk bisa meneruskan cerita ini. Tapi Author akan tetap usahakan untuk up meski hanya satu bab perhari.


Terimakasih untuk yang selalu meninggalkan jejak like/komen nya 😘😘**

__ADS_1


__ADS_2