
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca๐ Terimakasih๐ค...
Bara sedikit menunduk sambil mencubit kedua alisnya dengan siku yang bertumpu di meja. "Maaf...," lagi-lagi hanya itu yang terucap dari mulut nya.
Raisa sebenarnya tidak tega ketika melihat wajah Bara yang mendadak murung. Ingin rasanya ia meminta maaf, tapi egonya mengatakan kalau dirinya sudah benar.
Apa aku sudah keterlaluan?
Ada rasa iba menyelubungi hatinya, apa lagi mengingat Bara juga belum makan dari tadi.
"Makanlah, sisanya kita pikirkan nanti," ucapnya.
Terlihat senyum di wajah Bara ketika mendengar suara lembut Raisa.
"Apa kamu akan membuat kue untuk hari pernikahan kita juga?" Tanya Bara di sela suapan nya.
"Hanya karena aku perancang kue, apa aku juga harus merancang kue untuk pernikahan ku sendiri? Aku gak akan nikah kecuali mempelai pria yang merancang kue pengantinnya. Buruan, aku masih banyak pekerjaan," ucap Raisa.
"Baiklah, aku akan belajar membuatnya," sahut Bara optimis sambil menyantap makan siangnya yang hampir kesorean akibat kecerobohan nya sendiri.
Cepat sekali mood nya berubah!
Raisa sedikit menyesal karena telah bersikap baik seperti tadi.
-----*****-----
Raisa sudah mengirim pesan, dan Ricky pun sudah membacanya bahwa dirinya akan pulang sedikit terlambat.
Setelah mandi Ricky menuju meja makan, ia melihat ada bungkusan lalu membukanya. Saat ia mengeluarkan wadah dari bungkusan ada secarik kertas yang terjatuh dari sana.
Ricky mengambil kertas tersebut, ada sedikit tulisan disana.
Sorry ๐
Ricky mengerut membaca tulisan itu. "Mama koq lebay gini, pake acara nulis pesan pake kertas segala," gumamnya. Lalu ia meletakkan kertas tersebut dan mulai menyantap makanan nya.
Beberapa saat Raisa datang dengan wajah yang terlihat lelah. "Hey...,kamu udah makan?" Tanyanya sambil meletakkan tangannya di kepala Ricky yang asik dengan ponselnya.
"Udah. Pesannya juga udah Ricky baca," sahut Ricky tanpa menoleh.
Ngomong apaan sih, kebanyakan main game nih anak jadi ngawur.
Batin Raisa.
Setelah membersihkan dirinya Raisa menuju ke dapur sekedar memeriksa keadaan dapurnya tersebut. Karena, hanya malam hari saja ia punya waktu untuk berberes.
Setelah mencuci beberapa piring kotor, ia pun berniat kembali ke kamarnya untuk segera beristirahat, matanya menangkap sesuatu yang terletak di atas meja. Ia pun melangkah menuju meja dan mengambil benda itu yang ternyata secarik kertas lalu membaca tulisan disana, tulisan yang sama dengan yang di baca Ricky.
Raisa tersenyum geli tapi bukan karena tulisannya, sebab ingat bagaimana Ricky salah faham dengan pesan tersebut.
...Flashback on...
Bara menyuruh pelayan agar membungkus makanan yang berlebihan tersebut karena takut Raisa memarahinya lagi.
"Kamu bawa pulang aja," ujarnya seraya menyerahkan bungkus makanan.
"Kamu kan tau aku gak suka!" Tolak Raisa.
"Tapi Ricky pasti suka."
"Gak, Ricky juga gak akan suka."
Tapi nyatanya Bara sering memesan menu itu dan Ricky selalu memakan nya.
"Kamu lupa kalo aku ini ibunya? Jadi aku tau semua makanan kesukaan dia."
"Gini aja, kalo sampe Ricky gak nyentuh ini makanan aku gak akan ganggu kamu lagi, tapi kalo sampe dia makan, besok kita nikah, setuju?" Tantang Bara.
"Gak perlu pake taruhan segala, sini," Raisa menerima bungkusan itu lalu masuk kedalam dan meletakkannya di atas meja setelah itu ia kembali ke toko.
...Flashback off...
__ADS_1
"Dit, loe cari tau dong apa aja yang di sukai dan gak di sukai sama calon bini gue," pinta Bara melalui telepon.
"Calon bini? Loe sakit!?" Sahut Adit dari seberang sana.
"Gue serius."
"Kenapa loe gak nanya langsung aja?" Tanya balik Adit.
"Ya beda lah, kalo gue bisa tau sendiri kan gue bisa punya nilai lebih."
"Haha...,, lebay loe, ah,"
"Loe kan lebih sering maen sama Ricky, jadi loe bisa cari tau, kalo gue yang nanya ke Ricky kan gak mungkin."
"Oke, gue bantuin deh, tapi inget, kan --- "
"Iya iya..., gue tau, kalo gue udah nikah gue lunasin! Gue tunggu secepatnya, gue gak punya banyak waktu," Bara memutuskan panggilan.
"Busheet! Nih orang udah nyusahin main matiin aja, emang ya, kalo orang udah terdampak cinta buta!"
"Lama-lama gue juga bakal ikutan sakit!" Umpat Adit.
...-----***-----...
Seperti biasa, Bara akan datang saat jam makan siang ke toko. Sepertinya ia benar-benar memanfaatkan waktunya dengan baik.
Bara masuk tanpa canggung dan para pegawai toko pun sepertinya sudah sangat paham meskipun tidak ada penjelasan apapun dari atasan mereka.
"Ehhm...," kali ini Bara memberitahukan keberadaan nya di ruangan itu. Sepertinya ia sudah kapok saat tempo hari Raisa memarahinya.
Raisa menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Bara mengambil salah satu bangku dan meletakkannya bersebelahan dengan tempat duduk Raisa, lalu ia pun duduk disana.
"Aku udah pesan makan siang di warung depan, kita makan siang disini aja, kamu gak keberatan kan?"
"Hmm," gumam Raisa tanda setuju.
"Ternyata kamu bisa juga nanya. Kenapa kamu gak lakuin hal yang sama waktu di restoran?"
"Sekali lagi aku minta maaf, tapi aku janji aku gak akan ngulangi lagi," ucap Bara bersungguh-sungguh.
Tok tok tok!
"Mbak, ini ada yang kirim makan siang banyak banget, apa mbak yang pesan?" Tanya Nia di depan pintu yang memang terbuka.Raisa mengerut menatap ke arah Bara.
"Itu aku pesan sekalian buat mereka juga," ucap Bara menjelaskan sebelum ia kembali mendapatkan omelan.
"Ya udah, kamu bawa dua porsi kesini, dan selebihnya buat makan siang kalian aja," perintah Raisa.
Beberapa saat Nia kembali membawa bungkusan makan siang tersebut lalu meletakkan nya di meja yang berbeda.
"Ayo, kita makan dulu," ajak Bara.
Bara penasaran ingin segera membuka bungkusan itu dan mengetahui apa yang biasa Raisa makan.
Bara tersenyum.
Ini sangat mudah!
Ucapnya dalam hati ketika mengetahui isi makan siang tersebut.
"Setelah ini kita pergi nonton, kamu mau?" Tanya Bara di sela aktivitas makan nya.
"Emang kamu gak kerja?"
"Aku kerja, tapi untuk hari ini gak apa-apa kalo kita nonton aja dulu, mau yah?"
"Gak bisa, setelah ini aku akan pergi mengantar kue itu," Raisa mengarahkan wajahnya pada kue yang tadi di buatnya.
"Bukannya sudah ada orang yang khusus mengantarnya?" Tanya Bara seperti tidak rela.
__ADS_1
"Itu kue untuk ulang tahun anak temanku, jadi aku sendiri yang mengantarnya sekalian ngucapin selamat," jelas Raisa.
"Nanti kamu akan membuat kue untuk anak kita juga kan?" Ucap Bara dengan wajah berbinar.
"Itu kalo aku nikahnya sama kamu, bagaimana jika aku nikahnya sama orang lain? Jangan berpikir terlalu jauh," balas Raisa yang telah mengakhiri makannya.
Bagi Raisa mungkin kalimat itu biasa saja, tapi bagi Bara itu sebuah tantangan.
...-----***----...
Ini adalah hari ketiga Bara tidak datang ke toko setelah sebelumnya Raisa menerima pesan bahwa ia pergi selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan.
Raisa hanya membacanya tanpa membalas pesan tersebut.
Baguslah, setidaknya aku akan aman dalam beberapa hari ini.
Itu adalah kalimat yang ia ucapkan ketika membaca pesan, tapi berbeda dengan hari ini, ia tampak tidak fokus.
Ketidak fokusan Raisa tersebut tentu mengundang tanya di hati para pegawainya yang hampir tidak pernah melihat Raisa melakukan kesalahan.
"Ada apa dengan ku?" Gumamnya sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Beberapa saat ia keluar dari ruangannya."Nia anterin mbak pulang ya," katanya.
"Iya mbak," Nia pun bergegas mengantarkan Raisa dengan motornya.
"Mbak kayaknya kurang sehat," ucap Nia ketika sudah sampai di rumah.
"Gak apa-apa koq, mungkin kecapean aja, terimakasih."
Kemudian Raisa pun masuk kedalam.
Ingin rasanya Nia menanyakan pertanyaan yang lain tapi ia tidak berani.
Raisa langsung menuju kamarnya lalu menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Ia meraih ponselnya lalu kembali membuka pesan dari Bara yang masih ada disana. Berulang kali ia membaca pesan tersebut.
๐๐๐
*Selama beberapa hari ini mungkin aku gak akan datang ke toko dan menemani makan siangmu, karena aku sedang ada pekerjaan di luar.
Tolong doakan aku, doakan aku agar tidak terlalu merindukanmu*
๐๐๐
"Kenapa aku harus peduli!!" Raisa membanting ponselnya di atas kasur dan ponsel itu pun sempat memantul dan akhirnya terjatuh di lantai.
Praak...!!
Raisa beranjak memungut ponsel nya yang kini sudah tidak bisa menyala.
Ini adalah kesalahan kesekian kalinya yang telah ia lakukan. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi setelah sebelumnya meletakkan ponsel rusaknya di nakas.
Setelah mandi dan berpakaian ia kembali ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya.
Entah berapa lama ia tertidur, saat terbangun Ricky sudah ada duduk di samping tempat tidur dengan menggunakan bangku meja rias.
"Ricky, kamu disini?"
"Kenapa gak kasi tau Ricky kalo mama lagi sakit?"
"Mama gak sakit, cuma lagi tidur aja," Raisa tidak sadar bahwa tubunya panas karena demam.
"Tapi badan mama panas." ucap Ricky sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Raisa. "Mama juga tadi sempat kayak ngigau gitu."
Astaga, bicara apa saat aku mengigau tadi!?
Jangan sampai.....
...๐...
...โค...
__ADS_1
...๐Bila berkenan๐...