Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 43


__ADS_3

Tari mempercepat langkahnya sambil sesekali melirik jam di tangannya.


"Tari!" Kamu gak sarapan dulu?" Tanya Mala.


"Nggak ma! Tari udah telat nih!" Jawab Tari yang terlihat begitu terburu buru.


"Emang kalo telat kenapa? Bara gak mungkin mecat kamu kan?"


"Tari tau, tapi kan Tari harus tetap profesional ma," ucap Tari seraya bercipika cipiki.


"Ya sudah..., kamu hati-hati di jalan!"


Beberapa saat Tari sudah berada di perjalanan menuju kantornya. Namun tiba-tiba mobilnya malah mogok di tengah jalan.


"Aduuh gimana nie!" Tari menengok kanan kiri barangkali ada yang bisa di mintai bantuan.


"Dit, itu mbak Tari, kan!?" Ucap Ricky seraya menunjuk tempat Tari yang sedang berdiri di samping mobilnya.


"Iya!" Sahut Adit.


"Mobil mbak Tari kayaknya lagi mogok tuh!"


"Wah, ini peluang buat gue!" Ucap Adit sambil melirik ke lampu merah. Ia sudah tidak sabar ingin menjadi pahlawan.


Pahlawan kesiangan wkwkwkwk...


Untung gk kemaleman ya guyyss🤭


Saat lampu hijau menyala, Adit buru-buru memacu motornya. Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di dekat mobil Tari yang sedang mogok tadi. Dari dalam mobil itu keluar seorang pria yang tak asing bagi mereka.


Adit menepikan motornya yang di iringi oleh Ricky yang ikut menepikan motornya juga.


"Itu kan Dimas!" Seru Ricky. "Wahh..., kalah cepet loe Dit! Sabar bro, mungkin bukan rezeki loe,'' ucap Ricky berusaha untuk menguatkan sahabatnya.


"Liat aja entar kalo gue udah jadi presiden, gue bakal ilangin tuh lampu merah!" Adit mengumpat.


"Terus loe mau ganti jadi warna pink atau ungu gitu!? Gak lucu, itu kan salah loe sendiri, dari kemaren loe kebanyakan teori doang, tapi gak ada pergerakan samasekali! Udah, mending kita cabut, udah telat nih!" Ujar Ricky seraya menjalankan motornya mendahului Adit.


"Terimakasih," ucap Tari kepada Dimas karena sudah mengantarkan nya ke kantor akibat mobilnya yang mogok barusan.


"Iya mbak, sama-sama," jawab Dimas lalu menyalakan mobilnya dan meninggalkan area kantor.


...***...


Raisa meraih ponselnya yang berbunyi lalu menerima panggilan tersebut.


"Iya sayang...."


"Kamu sibuk gak?" Tanya Bara dari seberang sana.


"Nggak terlalu sibuk. Kenapa?"


"Kamu ke kantor sekarang yah?" Ucap Bara dengan nada memohon.


"Buat apa? Aku gak mau ganggu pekerjaan kamu," tolak Raisa.

__ADS_1


"Gak lah sayang...,aku senang kalo kamu kesini, sekalian kita makan siang. Kamu mau yah?"


"Ya sudah, aku kesana."


Raisa pun pergi ke kantor Bara dengan taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya.


Tiba di kantor, Bara sudah menunggu di depan kantornya.


"Sayang, kita makan siangnya di sini aja ya?" Tanya Bara saat sudah tiba di ruangannya.


"Terserah kamu aja," jawab Raisa seraya mendudukan tubuhnya di sofa.


Bara menelepon sekretarisnya untuk memesankan makan siang untuk mereka berdua.


Beberapa saat Nina pun datang dengan membawakan makan siang yang di pesan oleh atasannya.


"Sayang, sekretaris kamu cantik yah?" Puji Raisa.


"Banyak perempuan cantik di dunia ini, tapi entah kenapa aku gak bisa berpaling dari kamu," ungkap Bara seraya mengusap lembut pipi istrinya.


"Udah ngerayu nya! Aku lapar!" Ujar Raisa.


Usai makan siang Raisa berniat kembali ke toko.


"Sayang, kamu jangan pulang dulu."


"Aku bosan kalo kelamaan disini, mending aku ke toko aja," jawab Raisa.


"Kamu tunggu di ruang istirahat aku aja gimana? Sebentar lagi aku nyusul," Bujuk Bara.


"Kamu benar! Aku mikirin bagaimana caranya biar Ricky cepet punya adek," ucap Bara berterus terang seraya menggenggam kedua tangan Raisa.


"Sayang kamu kan tau kita lagi di kantor!"


"Aku tau ini kantor sayang..., tapi kan ini kantor aku. Udah, kamu tunggu disana, aku ada rapat sebentar," ucap Bara lalu memberi kecupan di kening Raisa.


Raisa akhirnya masuk ke ruang istirahat Bara. Ia merebahkan tubuhnya di sana dan mulai tertidur.


Ia terbangun saat merasakan tangan Bara memeluknya dari samping.


"Kamu udah selesai rapatnya?


"Iya sayang. Dan kamu udah siap kan untuk rapat kita?" Ucap Bara mulai meraba daerah rawan gempa atau apa lah itu namanya.


"Sayang! Aa --- aku mau ke kamar mandi sebentar!" Ucap Raisa. Lalu ia masuk ke kamar mandi.Setelah beberapa saat ia kembali."Sayang, kamu gak capek?" Tanya nya.


"Kenapa harus capek? Kita kan harus cepat-cepat buat Ricky jadi abang, biar dia lebih dewasa," jelas Bara.


"Kenapa sih kamu selalu mengatas namakan Ricky?"


"Sayang...,sebagai papa tiri yang baik, aku harus memberi sebelum Ricky meminta. Ricky pasti pengen punya adek."


"Itu bisa-bisanya kamu aja, kan!?"


"Selagi aku bisa maka aku akan melakukan nya," ucap Bara sembari memulai aksinya.

__ADS_1


"Aahhh....," Raisa mendesis ketika tangan Bara mulai menyentuh bagian bagian inti.


"Kamu suka?" Bisik Bara. Raisa memalingkan wajahnya yang sudah terlanjur memerah seraya menggigit bibir bawahnya.


"Sayang, kamu udah selesai?" Tanya Raisa.


"Udah," jawab Bara dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kenapa masih disitu?" Ujar Raisa."Sayang minggir dong, badan kamu berat, aku susah bernafas!" Raisa berusaha menggeser tubuh Bara dari atasnya. Karena Bara tak kunjung menyingkir akhirnya Raisa mencubit punggung Bara.


"Aaa!" Pekik Bara sambil menyingkirkan tubuhnya.


"Aku mau mandi," ucap Raisa ingin beranjak.


"Biar aku mandikan."


Bara menggendong Raisa ke kamar mandi.


"Aku bisa mandi sendiri."


"Kita mandi sama-sama," ucap Bara.


Mereka pun mandi bersama.Bara mulai menyabuni punggung Raisa, sementara tangannya yang lain mulai meremas di daerah rawan longsor. Anggap saja begitu.


...RAPAT MENPORA SELESAI...


...***...


Sore itu Ricky dan Adit duduk di teras rumah Ricky untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliah mereka.


"Gue jadi kepikiran buat ngedeketin Mumun deh!" Celetuk Adit.


"Telat!" Sahut Ricky.


"Maksud loe!? Wahh, jangan bilang kalo loe juga naksir Mumun!?"


"Bukan gue! Tapi orang lain, minggu depan dia bakal nikah!"


"Serius loe!? Loe gak lagi ngerjain gue!?"


"Ngerjain orang bukan sifat gue, tapi sifat loe!"


"Harusnya gue yang ngelamar Mumun!"


"Gue kan udah bilang loe kebanyakan teori! Udah ah, gue jadi mules!" Ucap Ricky seraya beranjak dan masuk ke dalam.


"Ngelamar pake apaan loe? Motor aja hasil malak gue!" Sahut Bara yang sudah mendengar percakapan mereka berdua sejak tadi.


"Loe bener-bener gak ada belas kasihnya! Gue masih ingat ya waktu loe mewek depan gue!"


"Gue juga masih ingat waktu loe malak gue!" Balas Bara."Mending kelarin dulu kuliah loe,entar gue kasi pekerjaan biar loe bisa nabung buat nikah!"


"Ide bagus tuh! Gue pegang janji loe!"


Daaan... tiba-tiba mata mulai terasa berat, akhirnya Author memutuskan untuk tidur saja dulu.

__ADS_1


...Jangan lupa jejak dukungannya👍❤🎁Terimakasih🤗...


__ADS_2