Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 41


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak **dukungannya** sebelum membaca👍...


...Terimakasih🤗...


Pagi hari Raisa terbangun dan merasakan nyeri di bagian perut nya. Ia terkejut melihat ada bercak darah di tempat tidurnya saat ia beranjak dari sana.


Raisa buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Bara perlahan membuka matanya. Ia menatap ke arah pintu kamar mandi saat tidak menemukan Raisa di sampingnya.


Beberapa saat Raisa keluar dari sana seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.Ia kaget saat tiba-tiba Bara memluknya dari samping. "Sayang, buruan mandi, kamu kan harus ke kantor," ucap Raisa berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Beri bonus dulu," bisik Bara.


"Gak bisa sayang, aku..., aku lagi menstruasi," sahut Raisa.


"Kamu menstruasi? Berarti kamu belum hamil?" Tanya Bara seraya memutar posisinya mengahadap Raisa.


Raisa hanya meangguk sendu.


"Ya sudah gak pa-pa, itu artinya kita harus lebih sering lagi berusaha. Dan sepertinya kita juga harus meningkatkan level permainan nya lagi sayang," Bara lalu meraih tubuh Raisa ke dalam pelukannya🤭


"Udah, buruan mandi sana!" Ucap Raisa.


"Beri semangat dulu," Bara memajukan wajahnya.


"Jangan banyak tingkah! Buruan mandi."


Raisa mengarahkan Bara agar menuju ke kamar mandi.


"Ya sudah, kalo gitu aku aja yang kasi kamu semangat."


Setelah memberi kecupan singkat di pipi istrinya ia pun pergi ke kamar mandi.


Sementara Raisa pergi ke dapur setelah sebelumnya mengganti sprey yang kotor dengan yang baru.


Setelah mandi dan berpakaian, Bara bergegas menemui Raisa yang sedang menyiapkan sarapan pagi itu. "Sayang..., aku, aku harus pergi sekarang. Mama tadi telepon, katanya ada hal penting yang harus di bicarakan.Kamu gak apa kan?"


"Gak apa sayang, nanti aku hubungi Nia buat jemput. Tapi ada apa yah?" Tanya Raisa dengan wajah yang terlihat khawatir. "Apa mama mau menanyakan perihal promil yang di minta nya waktu itu?" Raisa menduga-duga.


"Udah, kamu gak usah mikir yang macem-macem, ini gak ada hubungannya dengan masalah kita. Mama hanya minta aku buat bantu mbak Tari nyelesein masalahnya," jelas Bara untuk menenangkan hati istrinya. "Ya sudah, aku mau berangkat dulu."


...***...

__ADS_1


Setelah beberapa hari bergelut dengan segudang pekerjaan yang sangat menyita waktu, sore itu Bara ingin mengejutkan Raisa dengan menjemputnya ke toko.


Begitu Bara tiba di toko, justru ia lah yang merasa terkejut saat melihat ada sosok pembeli yang sangat di ingatnya.


Pembeli yang ternyata adalah pria yang sempat adu mulut dengan nya tempo hari.


Bara tersenyum kecut seraya melewati pria yang duduk dan tampak sibuk dengan ponselnya tersebut.


''Sayaang..., biar aku saja," ucap Bara seraya mengambil alih kotak kue yang di pegang Raisa.


"Sayang, kamu udah pulang?" Raisa agak terkejut dengan kehadiran Bara yang tiba-tiba.


"Iya, aku sengaja pulang cepat, kebetulan hari ini aku lagi gak banyak kerjaan. Dan sepertinya aku datang di waktu yang tepat," ucap Bara.


"Ini pesanan dari nya kan?" Tanya Bara melihat ke arah Raisa seraya meletakkan kotak kue di hadapan pria yang sedang menunggu sejak tadi.


Pria itu pun menengadah ke arah Bara yang sudah berdiri di hadapannya.


Raisa kini mengerti apa yang membuat sikap Bara terlihat tidak biasa sejak tadi. Benar saja, suami bocahnya itu sedang cemburu.


"Sayang..., kalau kamu terus terusan bersikap seperti ini bisa bisa aku kehilangan pelanggan," ucap Raisa.


"Terimakasih," ujar pria itu seraya menyambut kotak kue tersebut lalu pergi.


"Ayo kita pulang," Ajak Bara seraya merangkul pinggang Raisa dari samping.


Setelah membereskan beberapa peralatan kerjanya ia pun menyusul Bara yang sudah menunggu di mobil.


"Gimana dengan masalah Tari?" Tanya Raisa.


"Semua berjalan lancar," jawab Bara. "Bagaimana dengan urusan kita?" Tanya Bara kembali, sambil melirik ke arah istrinya yang tampak masih kesal tersebut.


"Urusan apa? Apa kamu juga mau kita bercerai!?" Tanya Raisa ketus.


"Sayang..., bukan itu yang aku maksud. Yang aku maksud adalah kapan kita bisa buat adek untuk Ricky?"


"Kamu udah siap kan? Kita akan lebih keras lagi berusaha." ucap Bara menanayai istrinya yang masih tampak diam.


"Sayang, kamu fokus dong nyetirnya, nanti bisa-bisa nabrak!" Ucap Raisa mengalih kan pertanyaan Bara.


...***...


Semenjak Tari resmi bercerai dengan suaminya, Mala meminta Tari untuk kembali ke rumah.

__ADS_1


Meski kini statusnya sebagai single mother, Tari benar-benar bahagia menjalani hidupnya.


Dan untuk mengusir rasa bosannya kini Tari kembali mengurus salah satu anak cabang perusahaan.


"Kamu mau pergi kemana? Bukannya hari ini kamu gak ngantor?" Tanya Mala saat melihat Tari yang sudah rapi pagi itu.


"Justru itu Tari mau pergi, mumpung libur Tari mau pergi ke salon.Rencananya sih Tari pengen ngajakin Raisa juga," jawab Tari bersemangat. "Kalo gitu Tari pergi dulu yah ma."


"Iya, kamu hati-hati," pesan Mala.


Sebelum memutuskan untuk berpisah mereka sudah sepakat untuk tetap mengurus Alina bersama-sama. Dan di hari libur Alina akan menginap di rumah papanya.


Tari mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Raisa. Beberapa saat ia pun sudah tiba di halaman rumah tersebut setelah berupaya membelah kemacetan jalan pagi itu.


"Assalamualaikum," ucap Tari saat tiba di teras.


"Wa'alaikumsalam," sahut Ricky dan Adit bersamaan yang kebetulan sedang berada di teras pagi itu.


"Masuk aja Mbak. Mama ada di dalam," ucap Ricky yang terlihat enggan meninggalkan posisinya. Maklum, anak game emang rada-rada acuh kalo lagi asik maen.Itu pun untung-untungan bisa nyahut salam.


Tari pun langsung saja masuk ke dalam yang langsung di sambut oleh Bara.


"Eh mbak Tari, mbak sndiri aja?" Tanyanya.


"Iya, mbak kesini mau ngajak istri kamu sebentar, boleh kan?" Tanya Tari yang sebenarnya itu adalah sebuah keharusan jika dirinya harus mengijinkan istrinya pergi.


"Emang mau pergi kemana...?"


"Mbak mau ngajakin dia ke salon, kamu gak keberatan kan?" Ucap Tari seraya mendudukkan tubuh nya di sofa.


"Ya udah, mbak tunggu sebentar biar aku panggilin Raisa. Oiya, mbak mau aku ambilin minum?" Tanya Bara berbasa basi.


"Iya deh, mbak haus," jawab Tari.


Bara yang sebenarnya hanya berbasa-basi itu pun mau tidak mau harus pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Tari.


"Ambilin mbak minuman yang dingin yaa..., buruan! Mbak udah haus banget nih!" Teriak Tari sebelum Bara benar benar pergi dari sana.


......"Kapan lagi aku bisa mengerjai kamu seperti ini," batin Tari seraya tertawa puas....


"Tari...,kamu udah lama?" Tanya Raisa saat melihat Tari sedang duduk sendirian di ruang tamu.


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁Bila berkenan😚...


__ADS_2