
...***Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya👍❤🎁...
...Terimakasih🤗***...
Beberapa hari sebelumnya Raisa sudah menghubungi Tari dan mertua nya agar datang ke rumah untuk sebuah acara makan malam bersama. Raisa juga mengundang Nia untuk menghadiri acara makan malam tersebut sekaligus membantunya di dapur.
Tak ketinggalan Adit dan juga Dimas. Mereka datang bersamaan ke rumah Ricky.
"Wahh.., ada acara apaan?" Tanya Dimas penasaran.
"Gue juga gak tau," jawab Adit.
"Bukan loe, tapi gue nanya si tuan rumah."
"Gak usah berisik, kalian masuk aja," sahut Ricky seraya mengajak keduanya masuk ke dalam.
Belum ada kejelasan tentang acara makan malam tersebut, namun baik Adit maupun Dimas tidak banyak bicara lagi. Mereka tengah asik menikmati hidangan makan malam yang banyak tersaji.
Adit terkejut saat tiba-tiba pandangannya menangkap sosok Nia yang tengah meletakkan beberapa hidangan tepat di hadapannya.
Sementara Nia hanya bersikap acuh. Setelah menyajikan beberapa hidangan, ia pun kembali ke dapur.
Khusus para sahabatnya Ricky sudah mengatur posisi agar mereka makan malam di taman belakang. Dan itu sudah ia persiapkan sejak sore tadi.
Tidak lama Bara pun ikut bergabung dengan para sahabatnya tersebut.
"Ini salah nih, bapak rumah tangga harusnya gak ngikut di mari," ujar Adit.
"Berisik loe!" Balas Bara seraya mengambil beberapa sajian dan meletakkan di atas piringnya.
"Ini acara apaan sih sebenernya?" Tanya Dimas makin penasaran.
"Ya acara makan-makan, menurut loe apa?" Jawab Bara sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ya gue juga tau ini acara makan-makan, tapi pasti ada tujuannya kan?"
"Gue tau tujuannya, biar kita pada kenyang!" Sahut Adit dengan mulut yang masih penuh dengan mengunyah makanan.
"Nah tuh, Adit pinter nebaknya," ucap Bara.
"Yah klo Adit mah pasti pinter klo soal makan," ujar Dimas.
"Ya udah, gue masuk dulu, biar anak gue yang gak dewasa ini yang menjelaskan."
Bara menepuk pundak Ricky lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam.
"Ada apaan sih Rick? Jangan bilang kalo loe beneran mau nikahin mbak Tari," ucap Adit sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Nyokap gue hamil."
"Uhuuk uhuukk...!! Dimas tersedak tanpa ampun hingga tenggorokan nya terasa perih.
Sementara Adit ternganga sejenak setelah akhirnya ia menepuk pundak Ricky dan mengucapkan selamat. "Selamat bro, sebentar lagi loe akan menjadi abang," ucapnya.
Ricky menarik nafas seraya melepaskan tangan Adit dari pundaknya. "Iya iya... terimakasih."
"Selamat ya Rick, gak lama lagi loe punya temen main," ucap dimas juga.
Flashback on
Bara mematikan laptop nya lalu menghampiri Raisa yang tampak sudah rampung dengan perawatan malamnya.
"Sayaang..., aku suka wangi kamu," ucapnya seraya beraksi seperti biasa.
__ADS_1
"Iya aku tau. Ayo tidur, ini udah malam banget, besok kamu harus ngantor."
"Sayang, aku pengen...kamu tau juga kan?" Bara mulai menyerang bi*ir lalu menyusuri setiap tubuh Raisa dengan sentuhannya.
D*sa*an yang keluar dari bibir Raisa membuat Bara semakin bergairah.
Setelah menyelesaikan beberapa level permainan, Raisa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun saat baru keluar dari sana ia merasakan mual yang sangat tiba-tiba. Ia kembali masuk dan memuntahkan isi perutnya.
Bara berdiri di depan pintu kamar mandi "Sayang!?" Bara memanggil seraya mengetuk pintu.
Setelah beberapa saat Raisa akhirnya membuka pintu tersebut. Terlihat wajahnya sedikit pucat.
"Kamu kenapa?"
"Tiba-tiba aja aku mual."
"Ya udah, kamu istirahat aja dulu, jangan terlalu memaksakan," ucap Bara.
Raisa melotot lalu mencubit perut Bara dengan gemas. "Sejak kapan aku yang memaksa?"
"Akhh!"
Pagi hari Bara terbangun lalu melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 07.00.
"Udah jam segini!?" Bara segera membangunkan Raisa yang masih terlelap di sampingnya. "Sayang...."
Bara terkejut saat tangannya menyentuh tubuh Raisa yang terasa hangat seperti orang yang sedang demam. Ia menaikan kembali selimut untuk Raisa lalu beranjak ke kamar mandi.
Beberapa saat ia sudah selesai dengan mandi dan berpakaian. Di lihatnya Raisa masih tampak terlelap di bawah selimut nya.
Ia melihat ke arah pintu saat ada yang mengetuk.Ia membuka pintu dan siapa lagi kalau bukan Ricky.
"Nyokap lagi sakit, loe pergi aja," ucap Bara yang sudah memahami maksud Ricky.
Setelah melihat keadaan ibunya, Ricky keluar meninggalkan kamar. Ada keraguan yang terlihat di wajahnya.
"Gak usah khawatir, loe ngampus aja, kan ada gue yang jagain."
"Iya. Tapi masalahnya uang jajan gue udah abis."
Bara mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dan memberikannya ke Ricky. "Loe pake ini aja dulu."
Ricky mengambil ATM tersebut lalu melangkah pergi.
"Jangan jajan sembarangan loe, entar kalo loe yang sakit gue makin ribet!" Pesan Bara menasehati Ricky bak ayah profesional.
Bara pergi ke dapur dan membuat teh untuknya, lalu setelah itu ia kembali ke kamar. Di lihatnya Raisa tidak ada di tempat tidur.
Beberapa saat Raisa tampak keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang, aku khawatir kamu kenapa-kenapa."
"Nggak perlu, mungkin aku cuman kecapean aja," Raisa kembali ke tempat tidur.
"Aku kan udah bilang buat udahan aja kemaren, tapi kamu malah maksa," ucap Bara yang masih saja berusaha menggoda istrinya.
"Ihh...,kan kamu ya selalu ngajakin! Aku gak pernah maksa!" Sahut Raisa kesal dengan ulah suaminya tersebut. "Kamu gak ngantor?" Tanyanya.
"Nggak. Aku kan harus jagain kamu," Bara mencium kening istrinya. "Kamu mau sarapan apa?"
"Emang kamu mau masak buat aku?"
"Maksudnya biar aku pesenin."
__ADS_1
"Aku pikir kamu mau masakin aku."
Raisa merubah posisinya memunggungi Bara.
"Sayang..., kamu beneran mau aku yang masakin?" Tanya Bara dengan rasa heran di hatinya. Tidak biasanya Raisa bersikap seperti itu.
Raisa berbalik dan tersenyum. "Aku mau," ucapnya.
"Ya sudah, aku ke dapur dulu," Bara pun beranjak ke dapur.
Apa pun yang di masak Bara yang jelas itu adalah menu sayuran yang di sukai Raisa.
Setelah puas bergelut dengan menu masakan nya, Bara menatanya di atas piring tidak lupa membuat kan teh untuk Raisa dan membawanya ke kamar. "Untung gue pernah masak dulunya," Bara sambil bergumam meski ia masih ragu apakah masakannya itu cocok di lidah istrinya.
"Sayang, ayo makan dulu."
Raisa mengubah posisi nya dengan bersandar di tempat tidur. Ia bisa mencium aroma masakan Bara yang membuat lidahnya ingin segera mencicipinya.
"Mau aku suapin?" Tanya Bara.
Raisa mengangguk persis seperti anak kecil. Dan Bara pun dengan sabar menyuapi.
"Ternyata kamu pinter masak."
"Kamu suka?"
"Hm'm," angguk Raisa.
Bara merasa senang meski ia juga heran dengan tingkah Raisa yang sedikit berbeda dari biasanya.
Tiba-tiba Raisa kembali merasakan mual. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi dan memuntahkan semua yang telah ia makan barusan.
"Sayang, kita ke rumah sakit aja. Dan kamu gak boleh nolak," ucap Bara seraya mengusap lembut punggung Raisa.
"Aku siap-siap dulu."
"Mau aku bantu?"
"Aku bisa sendiri."
Setelah berganti pakaian Raisa pun menemui Bara yang sudah menunggu di luar.
Kemudian Bara menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit terdekat.
Setelah menunggu beberapa saat tibalah giliran Raisa. Setelah menerangkan dan menjawab beberapa pertanyaan dari dokter mengenai kesehatan nya Raisa pun di periksa oleh dokter yang menangani.
Usai di periksa Raisa pun kembali duduk ke kursi pasien. Sementara Bara harap-harap cemas mengenai kesehatan istrinya, karena sejak tadi dokter belum menjelaskan mengenai penyakit Raisa.
"Bagaimana dok?" Tanya Bara.
"Istri anda baik baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ini biasa terjadi pada awal awal kehamilan."
"Apa saya hamil? Tanya Raisa.
"Betul, ibu sedang hamil dan sudah memasuki minggu kelima," jelas dokter tersebut.
"Jadi istri saya hamil!?" Tanya Bara kegirangan. Ia meraih tubuh Raisa ke dalam dekapannya dan berkali-kali mengecup puncak kepala Raisa.
Flashback off
...👍...
...❤...
__ADS_1
...🎁Bila berkenan😚...