
Seperti biasa Kiara akan menghubungi Ricky untuk menanyakan kemana mereka akan pergi di akhir pekan. Meski ujung-ujungnya Ricky akan menyerahkan semua kepadanya. Namun ia akan tetap menanyakannya agar ada alasan untuk bisa menghubungi pria dingin itu. Ia tidak mengerti, tidak pernah Ricky mengatakan sesuatu tempat yang mungkin ingin ia kunjungi karena selama ini dia lah yang selalu menentukan tempat kencan mereka. Meski sebenarnya tak layak di sebut sebagai kencan.
"Hai, apa ada rencana untuk besok?" Tanya Kiara berusaha bersikap selembut mungkin. Karena ia masih ingat beberapa waktu lalu Ricky terlihat sangat marah padanya.
"Yakin mau pergi sama aku? Ntar ada yang nyamperin." Terdengar nada sinis dari Ricky.
"Maksudnya?" Kiara bertanya dengan keheranan karena tidak mengerti maksud ucapan Ricky.
"Terserah kamu, bagaimana baiknya. Aku ngikut aja," ucap Ricky langsung mengakhiri telponnya.
Kiara hanya mengusap dadanya saja menghadapi sikap Ricky yang menurutnya susah di tebak itu.
Besoknya Kiara berpamitan pada Papanya untuk pergi tanpa berterus terang kemana tujuannya sebenarnya. Kemana lagi kalau bukan bertemu Ricky. Namun pada kencannya kali ini akan sedikit berbeda dari biasanya.
"Hai, tumben pagi-pagi banget. Ricky masih belum bangun tuh kayaknya," Sambut Raisa pada Kiara yang baru datang pagi itu.
Kiara mengekori langkah Raisa yang membawanya hingga ke paviliun tempat Ricky berada.
"Ricky, ini ada Kiara!" Teriak Raisa dari luar kamar Ricky.
"Udah, gak apa-apa, mungkin dia lagi capek. Lagian kita nggak ada rencana kemana-mana koq," ucap Kiara.
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya," pamit Raisa meninggalkan Kiara sendiri bertepatan dengan suara Bara yang terdengar memanggilnya.
Sepeninggal Raisa, Kiara pergi ke dapur lalu memeriksa isi kulkas barangkali ada sesuatu yang bisa ia buat dengan bahan-bahan yang ada di sana. Hanya ada sosis dan beberapa sayuran. Ia mengeluarkan bahan yang ada tersebut dan berencana untuk membuat nasi goreng.
__ADS_1
Ricky yang masih berada di tempat tidur itu menggeliatkan badannya seraya mencari posisi nyaman untuk ia melanjutkan tidurnya. Tiba-tiba ia teringat kebiasaan akhir pekannya yang selalu pergi bersama Kiara. Ricky meraih ponselnya lalu memeriksa barangkali ada pesan dari Kiara.
Ia membuang nafas lega ternyata tidak ada pesan apa pun lagi setelah obrolan terakhirnya kemarin. Mungkin dia lelah dan menyerah batin Ricky lalu ia kembali memejam.
Namun mata dan perutnya malah tidak sejalan. Dengan terpaksa ia beranjak dari tempat tidurnya lalu pergi ke dapur. Tujuannya ia ingin sekedar minum susu atau sereal untuk menghilangkan sebentar rasa laparnya lalu ia ingin kembali tidur.
Saat menuju ke dapur ia malah mencium aroma masakan yang semakin membuat perutnya meronta. Ia mendelik kaget lalu mengerjapkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Terlihat Kiara berdiri di dapur dengan aktivitas memasaknya.
"Ehmm...." Ricky mencoba bersuara untuk memberitahukan keberadaannya.
Kiara pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Selamat pagi," ucap Kiara yang tampak tersenyum.
Tanpa menjawab Ricky langsung menuju kulkas dan mengambil minuman.
Setelah puas membasahi tenggorokannya yang terasa kering, Ricky pun kembali ke kamarnya untuk mandi.
Setelah mandi dan berpakaian ia pergi menuju meja makan di mana Kiara sudah terlihat menata nasi goreng buatannya di sana.
"Ayo di makan dulu," ucap Kiara sambil memberikan sepiring nasi goreng buatannya.
Ricky pun menyantap nasi goreng tersebut tanpa mengeluarkan suara samasekali. Kiara tidak tau apakah nasi gorengnya cocok di lidah Ricky atau tidak, karena ia sendiri tidak berani bertanya karena Ricky dari tadi hanya diam saja. Tapi melihat piring Ricky yang sudah kosong, ia dapat menyimpulkan bahwa masakannya tidak lah buruk.
"Kemana kita hari ini?" Tanya Ricky seraya meletakan gelasnya yang sudah kosong di atas meja.
__ADS_1
"Hm, aku punya tempat yang spesial untuk kencan kita hari ini," jawab Kiara tersenyum lebar. "Ayo, nanti kamu juga pasti tau koq."
"Sebentar, aku ganti baju dulu." Ricky pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian sementara Kiara membersihkan meja dan piring kotor bekas makan.
Tidak lama Ricky keluar dari kamarnya dan Kiara pun sudah selesai dengan pekerjaannya tadi di dapur.
Ricky mengendarai mobilnya atas arahan dari Kiara untuk pergi ke tempat tujuan mereka. Ternyata Kiara mengajaknya berbelanja di sebuah pasar tradisional. Ricky mendengus kesal karena sepatunya menjadi kotor saat menyusuri lorong-lorong pasar tersebut. Belum lagi ia harus berdesak-desakan dengan ibu-ibu yang kebetulan sedang berbelanja di sana. Ia hanya bisa mengumpat dalam hati sambil terus mengikuti langkah Kiara yang sedang asik berbelanja kebutuhan dapur. Ia semakin kesal saat Kiara masih saja berusaha melakukan tawar menawar dengan salah satu pedagang. Menurutnya itu hanya akan membuang-buang waktu saja.
Akhirnya acara berbelanja yang cukup melelahkan itu selesai juga. Setelah meletakan semua belanjaan di bagasi mereka pun kembali pulang.
Sepanjang jalan menuju pulang Ricky tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya wajah dongkolnya saja yang ia perlihatkan sejak tadi.
Ricky memang type pria tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang-orang baru. Sebab itu lah ia hanya memiliki beberapa teman saja yang akrab dengannya. Dia pria manja yang sangat tertutup, ia hanya bercerita dengan orang-orang yang memang sudah sangat dekat dengannya. Sikap tertutup inilah yang membuatnya menjadi sangat sulit untuk di tebak. Ekspresinya pun selalu datar, entah sedang marah, sedih, atau gembira tetap terlihat sama saja.
Beberapa saat mereka pun sudah sampai. Masih tanpa bersuara Ricky membantu Kiara membawa barang belanjaannya.
Ya, Ricky memang laki-laki yang susah di tebak. Meski dalam keadaan marah ia tetap tidak membiarkan Kiara untuk membawa semua belanjaannya. Inilah yang membuat Kiara memiliki sedikit harapan pada pria dingin itu. Ia ingin terus menyelami dasar hati Ricky.
Setelah menyimpan semua barang belanjaannya Kiara mulai kembali beraksi di dapur. Sementara Ricky pergi ke kamarnya untuk mandi lagi karena ia merasa kotor.
"Pagi-pagi udah ada di dapur. Ngajakin pergi malah belanja ke pasar!"
Setelah mandi dan berganti pakaian Ricky pergi ke rumah utama. Tidak lama ia kembali lagi dengan menggendong Aya. Ia sedikit terhibur saat mendengar suara tawa Aya yang sedang asik bermain meski ia agak kerepotan karena Aya sedang aktif-aktifnya.
Beberapa saat Raisa dan Bara juga datang ke paviliun untuk sekedar ikut bersantai memanfaatkan hari libur mereka.
__ADS_1
Bara dan Ricky sedang mengobrol sementara Raisa pergi ke dapur membantu Kiara yang ternyata sedang memasak untuk makan siang. Ia juga membuat beberapa macam aneka cemilan.
"Ahh, tidak salah rasanya jika aku mempercayakan Ricky pada Kiara," batin Raisa. Selain bisa memasak, lagi pula Kiara sudah sedikit mengetahui kebiasaan-kebiasaan Ricky.