
...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...
...Flashback on...
Setelah menghadiri acara kumpul-kumpul sekaligus arisan di rumah salah satu temannya, pulangnya Mala singgah di salah satu mall, ia berniat ingin membelikan sesuatu untuk cucu kesayangannya karena sudah seminggu ini ia belum bertemu dengan cucunya itu.
Niat ingin memberi kejutan, malah ia yang mendapat kejutan dengan memergoki suami Tari bersama wanita lain.
"Indra!"
"E --- e...mama!?"
"Siapa wanita ini!? Apa dia selingkuhuhan kamu!?"
"I --- ini ---"
"Saya istri mas Indra," ucap wanita yang ada di samping menantunya tersebut.
"Apa! Jadi kamu udah menikah lagi di belakang Tari!?"
"Tari udah tau," jawab Indra.
"Keterlaluan!"
Mala pun segera pulang berniat akan membicarakan ini dengan Tari, tapi di perjalanan penyakit jantungnya kumat dan untungnya supir bertindak cepat dengan membawa majikannya ke rumah sakit.
...Flashback off...
Seminggu di rawat di rumah sakit akhirnya Mala sudah bisa pulang ke rumah, meskipun harus tetap chek up seminggu sekali.
"Ma, untuk saat ini Tari akan nginap dulu disini buat jagain mama," ucap Tari.
"Iya, mama senang koq, tapi...,bagaimana dengan suamimu?" Tanya Mala.
"Aku sama mas Indra itu udah gak ada apa-apa lagi ma, kalaupun Tari bertahan itu semata-mata demi Alina," jelas Tari.
"Kamu nggak mau memperjuangkan rumah tangga kamu? Apa kamu rela suami kamu di rebut oleh wanita itu!?"
"Ma..., mas Indra itu udah punya hubungan sama wanita itu sebelum kami menikah, wanita itu adalah kekasihnya Mas indra."
"Apa!? Berani sekali indra melakukan itu! Apa Bara tau tentang ini?"
"Bara udah tau, dan Tari juga udah kasi tau Bara tentang uang perusahaan kita yang di gunakan mas Indra. Tapi mama gak usah khawatir Bara sudah mengatasi semuanya."
"Ada masalah sebesar ini tapi kalian gak cerita ke mama!?"
"Ma..., kita hanya gak mau mama kenapa-kenapa, mama itu orangtua kami satu-satunya."
"Tari..., maafin mama yah. Seandainya dulu mama gak maksa kamu buat --- "
"Udah lah ma..., Tari gak pernah nyalahin mama koq, lagi pula kan mama juga gak tau kalau kejadiannya akan seperti ini. Tari gak menyesal samasekali dan Tari bahagia telah di karuniai seorang putri seperti Alina."
"Alina putri yang baik, sama seperti ibunya, terimakasih sudah jadi putri yang baik," ucap Mala mengecup kening Tari.
"Ma, Tari punya permintaan sama mama."
"Apa?"
"Selama ini Bara udah berbuat banyak untuk keluarga ini, dia juga udah ngorbanin cita-citanya, meskipun itu sudah menjadi kewajibannya sebagai anak laki-laki, tapi apa salahnya jika kita berbuat sama untuknya?"
"Maksud kamu?"
"Biarkan dia memilih jalan hidupnya, beri ia kesempatan untuk melakukan yang bisa membuatnya bahagia."
Mala menarik nafas dalam, ia tau arah pembicaraan Tari.
"Kebetulan mama sama mbak Tari ada disini," ujar Bara yang ikut duduk di sofa ruang keluarga.
"Ada apa?"
"Bara udah mutusin buat ngelanjutin kuliah Bara si Amerika, dan untuk masalah perusahaan akan Bara serahin dulu ke mbak Tari. Mbak gak perlu khawatir, Bara udah menunjuk seseorang yang akan membantu mbak dalam mengurus perusahaan nanti," jelas Bara.
Baik Mala maupun Tari sangat terkejut dengan keputusan Bara yang tiba-tiba itu.
"Nggak. Mbak gak mau! Mbak juga punya kesibukan!" Tari menolak.
"Kamu yakin?" Tanya Mala.
"Bara udah yakin, Bara udah mikirin ini selama berhari-hari, dan keputusan Bara udah bulat."
"Kamu nggak mau nikah?"
"Bara akan mengikuti kemauan mama setelah Bara udah menyelesaikan kuliah Bara disana," jawab Bara yang pasrah jika kelak ibunya akan memilih calon untuknya.
"Jadi kamu nggak mau ngelamar Raisa?"
"Maksud mama?"
__ADS_1
"Mama serahin semua ke kamu. Sepertinya udah cukup mama ikut campur dalam kehidupan kamu."
"Tapi semua udah gak ada gunanya ma, dia udah nolak Bara," ucap Bara seraya beranjak dari duduknya.
"Apa? Jadi dia nolak kamu!? Apa mama yang harus bicara!?"
"Nggak perlu ma..., Bara itu baru aja baikkan sama Ricky," jawab Bara lalu pergi menuju anak tangga.
Di kamar Bara mulai mengemasi barang-barangnya, lalu ia meraih ponselnya yang sedang berbunyi.
"Ada apa?"
"Loe dimana? Bisa temuin kita gak?" Tanya si penelepon yang ternyata adalah Adit.
"Nggak bisa gue lagi sibuk."
"Ya udah kita aja yang nyamperin, gimana?"
"Gue lagi sibuk nyiapin buat keberangkatan gue, jadi gue minta maaf banget."
"Loe mau kemana emang?"
"Gue mau ngelanjutin kuliah gue ke Amerika."
"Serius loe!?"
"Nggak, gue becanda!" Lalu Bara mematikan ponselnya.
"Gimana?" Tanya Ricky.
"Gak bisa, katanya dia siap-siap buat ngelanjutin kuliahnya di Amerika."
"Apa!? Kapan dia berangkat!?" Tanya Ricky.
"Gue juga nggak tau.Gue lupa nanyain."
"Ayo ikut gue," ucap Ricky menyalakan motornya.
"Kita mau kemana!?" Tanya Adit yang sedang di bonceng.
"Entar loe tau!" Jawab Ricky fokus menyetir.
Beberapa saat Ricky menghentikan motornya di depan toko ibu nya.
"Loe tunggu disini gue mau masuk bentar, dan tolong loe hubungi Bara sekali lagi tanyakan kapan dia berangkat," perintah Ricky yang segera pergi tanpa memberi Adit kesempatan untuk menjawab.
"Ricky, kamu koq kesini? Kamu udah pulang kuliah?" Tanya Raisa yang melihat kedatangan Ricky.
"Selama ini mama udah berkorban banyak buat Ricky, mama selalu memberikan apa yang Ricky minta."
"Ricky...,ada apa? Kenapa kamu ngomong seperti ini?"
"Tolong kabulkan keinginan Ricky sekali lagi. Ricky janji akan belajar buat teh sendiri, Ricky akan nyuci sepatu sendiri dan Ricky akan belajar masak."
"Tapi kenapa...!?" Raisa sangat bingung dengan tingkah Ricky.
"Tolong bahagia lah. Ricky mau Mama bahagia."
"Mama udah cukup bahagia memiliki kamu, Mama gak mau apa-apa lagi!"
"Apa mama suka sama Bara?"
Pertanyaan Ricky sangat menyulitkan bagi Raisa. "Ricky..., kenapa kamu menanyakan itu? Bara itu teman kamu."
"Kenapa kalo dia teman Ricky? Apa salah? Ricky hanya mau mama bahagia, dan Ricky gak akan menghalangi apa yang menjadi kebahagiaan mama," ucap Ricky bersungguh-sungguh.
Di luar toko
Adit menghubungi Bara seperti permintaan Ricky. Berkali-kali Adit menelepon tapi tidak ada jawaban.
"Kemana shi Bara!? Apa jangan-jangan dia udah pergi!?" Gumam Adit sambil mondar mandir dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Loe kalo jalan liat-liat. Barang gue jadi jatoh semua, kan!" Ucap Nia.
"Sorry sorry...,gak sengaja," balas Adit yang langsung membantu Nia memunguti barang-barangnya yang tercecer.
"Makanya kalo jalan jangan meleng, kan barang-barang saya jadi berantakan!"
"Kan, saya udah minta maaf," sahut Adit membela diri.
"Loe emang udah minta maaf, tapi barang saya jadi kotor semua nie!" Ujar Nia yang merasa kesal dengan permintaan maaf yang menurutnya alakadarnya saja.
"Eh, nie orang udah di bilangin gak sengaja masih aja nyolot!"
"Siapa yang nyolot, kan situ yang nabrak duluan!?" Balas Nia.
"Loe ngajak gue ribut!? Loe nya aja kali yang jalan pecicilan!"
__ADS_1
"Sembarangan loe bilang gue pecicilan, dan siapa juga yang pengen ngajak loe ribut!? Kalo gue mau ribut mending gue nyari artis tersohor biar gue ikut terkenal, ngapain gue ribut sama orang yang gak jelas asal usulnya!"
"Eh, loe bisa diem gak? Tenggorokan loe gatel banget, apa jangan-jangan loe abis nelen cicak ya, masih nempel tuh kayaknya di tenggorokan!"
"Bodo amat!" Ucap Nia lalu pergi dengan menenteng barang bawaannya masuk ke toko.
Beberapa saat Ricky keluar dari toko. "Gimana, loe udah hubungi Bara?" Tanya nya.
"Udah, tapi gak di anggkat," jawab Adit terlihat kesal.
"Loe kenapa? Kebelet?" Tanya Ricky.
"Nggak, gue jengkel aja!"
"Apa gue kelamaan?"
"Bukan, tadi ada cewek nyebelin banget gue udah minta maaf gak sengaja nabrak dia, eh dia malah nyolot!"
"Loe ada-ada aja, cewek loe ladenin! Buruan kita ke rumah Bara," ujar Ricky yang langsung menyalakan motornya.
Mereka merasa lega saat sudah sampai di rumah Bara dan melihat mobil Bara masih ada di sana.
Adit pun langsung menekan bel, beberapa saat pintu terbuka.
"Kita nyari Bara mbak," ucap Adit sebelum pelayan tersebut menanyakan maksud kedatangan mereka.
Pelayan tersebut masuk dan tidak lama Bara pun keluar menemui mereka.
"Ada apa nie, kayaknya penting banget?" Tanya Bara yang melihat wajah kedua temannya sedikit agak tegang terutama Ricky.
"Ada yang gue mau omong sama loe," jawab Ricky.
"Ya udah, masuk dulu," ajak Bara.
"Nggak, kita disini aja," ujar Ricky.
"Ada apa?"
"Loe beneran suka sama nyokap gue?"
"Kalo gue bilang iya entar loe mukul muka gue lagi!"
"Tapi loe gak maen-maen kan? Bar, gue nggak keberatan kalo loe emang serius sama nyokap gue, dan gue udah ngeyakinin nyokap gue buat nerima loe," jelas Ricky.
"Tapi nyokap loe udah nolak gue Rick."
"Itu karena nyokap gue selalu mikirin perasaan gue ketimbang mikirin kebahagiaan nya sendiri. Sekarang giliran loe buat ngeyakinin dia."
"Udah, mending kita pulang aja gak ada gunanya kita ngebujuk dia, gue yakin masih banyak laki-laki yang mau nikah sama nyokap loe. Pulang dari sini sekalian aja kita mampir ke tempat om Herman!" Ujar Adit memotong pembicaraan keduanya.
"Eh, loe jangan ngomporin ya, siapa bilang gue nggak mau!?" Tunjuk Bara ke wajah Adit. "Gue ngambil kunci mobil dulu!"
"Ya udah kita duluan, telat dikit loe tau akibatnya!" Seru Adit.
Bara bergegas mengambil kunci mobilnya, ia setengah berlari menuruni anak tangga.
"Bara...!" Panggil Mala.
"Iya ma," sahut Bara.
"Semoga berhasil, jangan bikin malu keluarga kita, nggak lucu jika seorang anak dari keluarga Pranaja sampai di tolak janda!" Ucap Mala yang ternyata sudah mendengar obrolan ketiga sahabat itu.
Bara mengangguk sambil tersenyum ke arah Mala dan Tari yang tampak sudah siap menunggu hasil perjuangannya.
Bara mengemudikan mobilnya menuju toko karena ia yakin Raisa masih ada disana. Ia buru-buru keluar dari mobil saat tiba di sana dan melihat Raisa yang baru keluar dari tokonya.
Raisa terkejut melihat Bara sudah ada di hadapannya, tiba-tiba debaran itu muncul lagi, debaran aneh yang ada di dalam dadanya.
"Untuk terakhir kalinya aku mau jawaban darimu, apa kamu mencintai ku? Dan maukah kamu menikah denganku?" Tanya Bara langsung pada intinya.
Raisa membuang pandangannya sejenak lalu kembali menatap Bara. "Jika aku bilang iya maka aku akan dianggap tidak tau diri, tapi jika aku bilang tidak maka aku di anggap wanita yang tidak tau di untung, aku bisa apa dengan status ku saat ini?"
"Jangan pernah memikirkan apa kata orang. Ini hanya antara kita berdua, katakan apa kamu mencintaiku?" Tanya Bara lagi.
Raisa hanya diam membisu dengan jawaban yang hanya ada di dadanya.
"Baik sepertinya tidak. Aku akan melanjutkan pendidikanku dan aku tidak akan pernah mengganggumu lagi," ucap Bara dan ingin pergi dari hadapan Raisa.
"Tapi aku belum menjawabnya," ujar Raisa dan membuat Bara menghentikan langkahnya. "Aku mau menikah denganmu."
Bara berbalik seakan tiada percaya. "Boleh aku aku mendengarnya sekali lagi?"
"Aku mau menikah denganmu."
"Apa kamu juga mencintaiku?" Tanya Bara.
Raisa menjawab dengan anggukan. "Terimakasih...," Bara memeluk Raisa dan membuat tubuh Raisa nampak tenggelam dalam pelukan Bara karena tubuh Raisa yang memang terlihat mungil.
__ADS_1
Di tepi jalan di sebrang toko tampak dua pasang mata yang memperhatikan sejak tadi, yang tak lain adalah Ricky dan Adit.
"Selamat bro, bentar lagi loe bakal punya bokap tiri," ujar Adit seraya menepuk pundak Ricky.