Mencintai Ibu Sahabatku

Mencintai Ibu Sahabatku
Episode 42


__ADS_3

...Jangan lupa untuk memberikan jejak dukungannya sebelum membaca👍 Terimakasih🤗...


"Tari...,kamu udah lama?" Tanya Raisa dan ikut duduk di sofa.


"Nggak. baru aja koq."


"Ini mbak minum nya," ucap Bara seraya meletakkan minuman yang di minta oleh Tari.


"Kamu koq nggak ngasi tau aku sih kalo ada mbak kamu ke sini?" Ujar Raisa.


"Tadinya aku mau ngasi tau kamu, tapi mbak Tari minta di ambilin minum, jadi ya aku ke dapur dulu buat ambil minum," jawab Bara seraya ikut duduk di samping Raisa.


"Kan kamu yang nawarin, lagian kan emang udah seharusnya tamu itu harus di layanin!" Ujar Tari seraya meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja.


"Iya iya, gak usah ngomel entar ubanan," ledek Bara. "Mbak boleh ngajak istri aku pergi, tapi jangan lama-lama," pesan Bara.


"Emang kita mau pergi kemana?'' Tanya Raisa heran karena belum tau maksud kedatangan Tari.


"Aku ke sini mau ngajakin kamu pergi ke salon, kamu mau yah? Lumayan buat ngilangin stres karena kebanyakan ngurusin bocah," jawab Tari seraya melirik ke Bara.


"Ide bagus! Aku mau. Kebetulan aku udah lama banget gak pergi kesana," jawab Raisa menyetujui. "Sayang, kamu gak apa kan hari ini aku tinggal dulu?" Tanya Raisa kepada Bara yang langsung terlihat kurang bersemangat.


"Iya gak apa koq, lagian gak setiap hari libur kan mbak Tari ngajakin," sahut Bara memberikan ijin.


"Ya udah, aku ganti baju dulu."


Tidak lama Raisa kembali dengan pakaian yang sudah terlihat rapi dengan tas tangannya.


"Sayang, aku pergi dulu yah?" Pamit Raisa.


"Iya, kamu hati-hati ya sayang, jangan lama-lama, nanti aku kangen."


Bara memeluk Raisa seakan tidak rela.


"Lebay banget sih! Mbak cuma ngajak istri kamu ke salon, bukan pergi berperang!" Ujar Tari yang merasa sikap Bara terlalu berlebihan. "Ayo," Tari menarik Raisa dari pelukan Bara. Dan Bara pun merelakan Raisa di bawa pergi oleh Tari.


"Rick, mbak Tari cantik juga yah? Gue baru nyadar," ujar Adit saat mobil yang di kemudikan Tari pergi meninggalkan halaman rumah.


"Mbak Tari itu kan cewek, kalo cowok mana mungkin cantik," sahut Ricky tanpa menoleh dan tetap fokus ke layar HP nya.


"Eh, kalo gak salah mbak Tari udah pisah sama suaminya kan?"


"Sejak kapan loe salah? Loe kan selalu bener!"


"Berarti mbak Tari single dong?"


"Menurut loe?"


"Menurut gue ada baiknya gantian loe yang nikahin mbak Tari, biar pangkat loe naik jadi Mas," kekeh Adit.

__ADS_1


"Kenapa gak loe aja yang nikahin, biar Bara jadi hormat sama loe? Bara bakal manggil loe mas, mas Adit. Keren gak tuh?" Balas Ricky.


"Iya juga sih! Bara pasti bakal nurut banget sama gue!" Lalu mereka berdua pun terpingkal.


"Loe pada ngetawain apaan!?" Ucap Bara memecah kekonyolan kedua sahabatnya itu.


"Gue kan udah sering bilang, ini urusan anak muda, bapak rumah tangga di larang ikut campur," sahut Adit yang masih saja tergelak.


Sementara itu di tempat lain Raisa dan Tari benar-benar menikmati perawatan nya.


Usai melakukan perawatan, mereka keluar dari sana dengan tampilan yang lebih fresh. Senyum ceria pun menghiasi wajah mereka.


"Kita makan dulu yuk Rai, laper nih," ajak Tari.


"Ya udah, terserah kamu aja," jawab Raisa karena ia juga merasa lapar.


Mereka pun menuju ke cafe terdekat untuk mengisi perut mereka yang berseru sejak tadi.


Usai makan di cafe tersebut mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Apa lagi Bara sejak tadi terus mengirimi Raisa pesan dengan ungkapan-ungkapan kerinduannya. Lebay.


Saat mereka berjalan menuju ke tempat parkir, tanpa sengaja Raisa melihat Herman yang baru keluar dari mobilnya.


"Herman,gimana kabar kamu!?" Sapa Raisa.


"Aku baik," Jawab Herman. "Kamu sendiri gimana? Maaf, aku gak bisa hadir di acara pernikahan kamu."


"Aku juga baik. aku mengerti bagaimana sibuknya seorang pengacara," ucap Raisa di iringi tawa kecilnya. Sementara Herman hanya tersenyum getir.


Tari dan Herman pun saling berjabat tangan. Setelah itu mereka melanjutkan tujuan masing-masing.


"Gimana Rai,apa udah ada tanda-tanda?" Tanya Tari menoleh sekilas ke arah Raisa sembari tersenyum. Lalu ia kembali fokus menyetir.


"Tanda-tanda apa?'' Tanya Raisa kembali.


"Tanda-tanda kalo aku bakal jadi tante," balas Tari tergelak.


Raisa hanya tersenyum kecil dan menatap lurus ke depan. "Belum," jawabnya singkat.


"Tapi kalian selalu berusaha, kan?" Tanya Tari. Kali ini dengan sebuah senyuman yang berusaha ia tahan.


Raisa pun lebih dulu tertawa yang kemudian di iringi oleh Tari. Ini pertama kalinya Raisa melihat sisi lain dari dalam diri Tari. Dan ia mulai merasa nyaman.


"Rai,aku boleh nanya gak? Tapi kalo pertanyaan aku menyulitkan, kamu gak harus jawab koq,'' ujar Tari.


"Sebisa mungkin aku akan jawab."


"Apa di pernikahan sebelumnya kamu tidak berusaha untuk hamil?"


Raisa menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Tari.

__ADS_1


"Udah, gak usah di pikirin, kan aku udah bilang kamu gak harus jawab," jelas Tari mencoba mengalihkan karena menyadari pertanyaan nya terlalu sensitif.


"Tapi aku mau menjawabnya," ucap Raisa mencoba tersenyum. "Mungkin sudah waktunya aku membicarakan hal ini dengan orang yang tepat," timpalnya.


Raisa menceritakan kisah hidupnya dari awal ia menikah dengan almarhum suaminya.Sambil mengenang bagaimana ia dan suaminya jarang sekali berbicara. Tapi ia sangat menyadari semua itu karena suaminya benar-benar belum bisa melupakan almarhumah istrinya yang tak lain adalah kakanya sendiri. Kalau pun ia berhubungan, itu hanya sebatas karena menghargai keberadaan nya saja.


"Aku salut sama kamu Rai, kisah hidup aku gak ada apa-apanya di bandingkan dengan kehidupan yang kamu jalani," puji Tari.


"Kamu juga wanita yang tangguh, aku mengagumi kedewasaan yang kamu miliki." Balas Raisa.


"Apa kamu sudah pernah cek ke dokter sebelumnya?" Tanya Tari.


"Belum," jawab Raisa menggeleng.


"Mau aku temenin?"


"Maksud kamu...?"


"Kamu mau periksa sekarang? Mumpung kita masih di jalan."


"Iya deh! Aku mau," ucap Raisa setuju.


Dengan cekatan Tari membelokan mobilnya untuk memutar arah menuju rumah sakit terdekat.Kebetulan temannya adalah salah satu dokter disana.


Sesampainya disana Raisa di periksa oleh dokter yang menangani. Dan mereka sama-sama senang karena Raisa di nyatakan subur dan tidak ada masalah apa pun. Mungkin harus lebih berusaha saja 😅😂 dengan senang hati Author akan membantu 🤭


Setelah dari rumah sakit Tari segera mengantar Raisa pulang.


"Sayang, apa benar kamu capek ngurusin aku?" Tanya Bara seraya memeluk pinggang Raisa yang sedang duduk di tepi tempat tidur malam itu.


"Siapa bilang? Emang aku ada ngomong gitu?" Tanya Raisa seraya mengenakan lotion di bagian tubuhnya.


..."Dia pasti mikirin apa yang di ucapkanTari tadi pagi" batin Raisa....


"Yang di ucapkan Tari itu benar, aku capek!" Ucap Raisa.


"Sayang...,aku minta maaf jika selama ini aku terlalu menyibukkan kamu."


"Aku capek, tapi aku bahagia!" Balas Raisa seraya berbalik membalas pelukan suaminya.


"Jadi kamu senang kalo aku bikin capek?" Tanya Bara bersemangat. Raisa hanya menjawab dengan anggukan. "Kamu udah siap aku bikin capek?"


"Hmm..., ahhh...! Sayang, pelan-pelan!"


...SENSOR...


...😴😴😴...


...👍...

__ADS_1


...❤...


...🎁Bila berkenan😚...


__ADS_2